Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 43


__ADS_3

"Hai, sweety. Good morning," ucap seseorang itu membuat mata Shenina terbelalak dan reflek mundur ke belakang. Teras rumah yang kecil dan tanpa pagar membuat Shenina nyaris saja jatuh ke tangga bila tidak ada sepasang lengan kekar yang menahannya.


"Hati-hati, Sweety," ucapnya cemas.


"K-kau, ke-kenapa bisa ada di sini?" pekik Shenina terkejut yang justru membuat seseorang itu terkekeh geli.


"Kenapa aku di sini? Ya supaya bisa berdekatan dengan kalian, calon istri dan anakku," jawab Rainero acuh tak acuh.


Mata Shenina terbelalak, "sepertinya Anda mulai kurang waras. Apa setelah kepergian ku waktu itu Anda mengalami kecelakaan?" ejek Shenina. Setelahnya ia pun segera berlalu. Ia hendak menjemput Gladys yang ternyata mereka berdua telah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Ternyata bukan hanya ada Gladys dan Adisti di sana, tapi juga ada Axton dan Mark. Sepertinya mereka telah bersekongkol untuk mendekatkan dirinya dan Rainero.


Shenina menggeram kesal. Tapi marah-marah pun percuma. Akhirnya, Shenina pun berjalan mendahului mereka tanpa menggubris mereka semua.


Flashback on


Beberapa jam yang lalu, tepatnya pukul 1 dini hari sepulangnya Rainero dan Axton dari bar, Rainero tampak melamun. Memikirkan cara untuk meluluhkan hati Shenina agar mau memaafkan dan memberikan kesempatan untuknya menebus segala kesalahannya.


Rainero lantas membuka foto-foto Shenina yang dikirimkan orang-orangnya. Tiba-tiba saja Rainero memikirkan sesuatu dan menelepon Axton yang tidur di kamar sebelah bersama Mark.


"Halo Ton," ucap Rainero.


"Ck ... kita baru saja berpisah sebentar, apa kau sudah merindukanku lagi?" seloroh Axton kesal sebab ia baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tapi Rainero sudah menghubunginya lagi.


"Cih, kau pikir aku gila? Aku masih normal, tidak seperti kau yang belum terbukti kenormalan mu," ketus Rainero membuat Axton seketika terduduk dengan mata melotot.


"Apa kau bilang? Apa kau harus menghamili seorang perempuan dulu baru aku bisa membuktikan kalau aku normal?" omel Axton kesal.


Mark yang telah tertidur di ranjang satunya sontak saja terbangun karena suara Axton yang meninggi.


"Terserah kau mau membuktikan dengan cara apa. Tapi menurutku, lebih baik kau segera temukan perempuan dan kau nikahi. Tapi jangan sembarang perempuan juga. Eh, tapi kenapa aku jadi bahas ini? Ck ... ini gara-gara kau."


"Kenapa aku yang jadi kau salahkan."


"Ck ... sudah, tak perlu dibahas lagi. Aku menelepon mu hanya ingin bertanya, apa kau tahu nomor ponsel teman Shenina yang tinggal di kontrakan sebelahnya?"


"Oh, maksudmu Adisti?"


"Entahlah, aku tak tahu. Apa mau punya nomornya?"


"Untuk apa? Jangan bilang mau tertarik dengan gadis itu?"


"Rrr ... jangan gila! Aku ada perlu dengannya, jadi kirimkan sekarang juga nomornya," pungkas Rainero yang segera menutup teleponnya.


Tak lama kemudian, ponsel Rainero berdenting, sebuah pesan masuk yang berisi nomor ponsel Adisti. Rainero pun segera menghubungi Adisti. Adisti yang hanya memahami bahasa Inggris pasif, jelas saja kebingungan saat ingin menjawab permintaan Rainero yang memintanya agar menyewakan kontrakan gadis itu padanya. Bahkan Rainero bersedia membayar sewa satu tahun full sebagai gantinya.


Jelas saja Adisti tertarik. Kapan lagi ia bisa memiliki uang yang sangat banyak, pikirnya. Apalagi tak ada salahnya juga, pikir Adisti sebab menurut cerita Gladys, Rainero sedang berusaha meminta maaf pada Shenina dan ingin memperjuangkannya pun dengan anak yang ada di dalam kandungan Shenina.


Ya, Adisti tahu tentang siapa itu Rainero dari Gladys Sementara Gladys mendapatkan cerita itu dari Axton. Axton menceritakan hal tersebut agar sewaktu-waktu bila ia meminta bantuan, Gladys bersedia membantunya.


"1 bulan satu juta, dikali 12, jadi 12 juta. Huaaaa ... aku mau aku mau mas Bule," seru Adisti kegirangan.

__ADS_1


"Hah, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti?" Rainero kebingungan saat mendengar jawaban Adisti yang menggunakan bahasa Indonesia.


"Itu ... anu ... duh gimana ya cara ngomongnya? Lidahku kok berbelit-belit kayak gini. Aku ngerti Mas Bule ngomong apa, tapi aku nggak bisa jawab ."


"Hallo, kamu yang di sana, kamu sebenarnya ngomong apa? Maaf, saya tidak mengerti."


"Emmm ... yes, yes, iya yes, yes, i agree, Mas Bule. I agree," jawab Adisti gugup berharap Rainero mengerti akan apa yang ia katakan.


Rainero menyeringai. Ia senang karena Adisti menyetujui permintaannya. Untuk menjalankan rencananya, Rainero meminta bantuan Mark untuk membantunya berbicara dengan Adisti. Adisti juga tak lupa meminta bantuan Gladys agar ia bisa pindah ke kontrakan yang terletak di ujung. Kebetulan kontrakan itu baru ditinggal beberapa hari yang lalu. Untung saja Gladys malam itu mudah dihubungi. Sehingga, sebelum fajar menyingsing, Rainero telah berhasil pindah ke kontrakan yang ada di samping kontrakan milik Shenina.


Flashback off


Dengan perasaan kesal, Shenina melangkahkan kakinya dengan cepat membuat Rainero khawatir


"Shen, pelan-pelan! Ingat, kau sedang hamil. Ingat, keadaanmu baru membakar," sergah Rainero saat Shenina melangkah dengan cepat di depannya.


Tak Shenina yang kadung kesal masa bodoh, ia terus melangkah sampai tiba-tiba perutnya terasa keram.


Malu karena mengabaikan peringatan Rainero sehingga membuatnya kesakitan sendiri, ia pun segera mencari tempat duduk di sekitar sana. Ia duduk sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


'Sepertinya kalian senang sekali ya mengerjai Mommy. Apa kalian memihak Daddy kalian, hm?' monolog Shenina.


"Minumlah." Tiba-tiba Rainero menyodorkan sebotol air mineral pada Shenina. Shenina sebenarnya haus, tapi dia gengsi untuk menerima air minum tersebut.


Rainero geleng-geleng kepala melihat sikap Shenina yang acuh tak acuh. Tapi Rainero tidak mempermasalahkannya. Ia justru membukakan botol minuman itu dan menyodorkannya ke mulut Shenina membuat perempuan itu mendelik tajam.


"Aku bisa sendiri," ketus Shenina sambil merebut botol air minum dari tangan Rainero yang justru membuat Rainero terkekeh.


"Nggak usah ngegombal, nggak mempan." Nasih dengan tingkat keketusan yang sama.


"Aku serius, Shen. Mana pernah aku ngegombal."


"Ck ... kau pikir aku percaya dengan Cassanova sepertimu," sindir Shenina membuat Rainero menghela nafasnya.


"Shen, kapan kau bersedia berbicara denganku?" tanya Rainero dengan raut wajah penuh kesedihan.


"Apa lagi yang mesti kita bahas? Bukankah segalanya telah usai sejak kau ... " Mata Shenina memerah. Luka itu kembali menganga membuatnya meneteskan air mata. Rainero paham, luka yang telah ia goreskan pasti begitu dalam. Shenina bukan hanya mengalami rudapaksa olehnya, tapi juga penolakan dan pengusiran di saat perempuan itu tengah hamil.


"Maaf. Aku tahu seribu kata maaf pun takkan bisa mengembalikan segalanya. Oleh sebab itu, berikanlah aku kesempatan untuk berbicara hanya berdua denganmu. Aku ingin menebus ... "


"Apa yang ingin kau tebus? Sudahlah, sebaiknya kau pergi. Kekasihmu lebih membutuhkanmu apalagi saat ini dia tengah hamil anakmu," ucap Shenina tiba-tiba membuat Rainero melongo.


"Kekasih? Hamil anakku?" beo Rainero.


Shenina kembali mendelik tajam, "tak usah berkelit. Bukankah kau sedang mengalami sindrom cauvade karena kehamilan kekasihmu itu. Jadi lebih baik kau pergi. Anggap saja kita tidak saling mengenal," ucapnya dingin yang justru membuat Rainero terkekeh geli.


"Kabar dari mana itu? Aku yakin, itu hanya asumsimu sendiri, benar bukan?" Rainero kembali terkekeh, "dengar ini dan simpan dalam otak cantikmu ini." Rainero menunjuk kepala Shenina membuat perempuan hamil itu melotot padanya. "Pertama, aku tidak memiliki kekasih. Kedua, ya aku akui aku mengalami sindrom cauvade, ketiga, yang hamil itu bukanlah kekasihku apalagi wanita-wanita bayaran yang pernah aku tiduri, dan keempat, dengarkan ini baik-baik, aku ... mengalami sindrom ini sebagai efek kehamilanmu. Entah kau percaya atau tidak, tapi aku sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, saat aku bisa memakan bakso krispimu itu dengan lahap aku merasa heran sebab sudah dua bulan ini aku kesulitan untuk makan. Apa kau tidak menyadari, aku kini tampak kurusan?" Rainero mendekatkan wajahnya membuat Shenina gelagapan sampai reflek menjauh. Rainero pun terkekeh. Saat tahu bakso krispi itu buatanmu, akhirnya aku sadar, kalau aku hanya bisa makan makanan yang dibuat dengan tangan cantikmu ini saja. Bahkan yang aku pun tidak bisa berdekatan dengan lawan jenis, tetapi denganmu ... aku bukan hanya bisa, tapi merasa nyaman. Jadi, kau tak perlu khawatir, tak pernah ada perempuan lain yang mengandung anakku. Hanya kau dan mungkin hanya kau satu-satunya yang bisa dan boleh mengandung anakku."


Semenjak hari dimana Rainero mengungkapkan fakta kalau dia mengalami sindrom cauvade sebagai efek kehamilannya, membuat Shenina selalu kepikiran. Seminggu telah berlalu, tak sehari pun Rainero menyiakan kesempatannya untuk meluluhkan hati Shenina. Tapi wanita hamil itu masih acuh tak acuh.

__ADS_1


Bahkan pagi ini, demi meluluhkan hati sang pujaan hati, Rainero rela memasuki pasar yang becek dan dipenuhi semerbak berbagai aroma.


"Huek ... "


Rainero merasakan perutnya bergejolak. Bukan hanya karena aneka aroma jualan yang menyeruak memenuhi rongga hidungnya, tapi juga aroma para perempuan yang tanpa malu menggodanya di tengah pasar.


"Wah, ada bule ganteng masuk pasar euy! Hai mas bule, boleh kenalan dong!"


"Mas Bule, belanja di sini aja! Entar saya kasi diskon deh."


"Kesini aja mas Bule ganteng, entar aku kasih diskon plus bonus deh," goda salah seorang pedagang sambil mengerlingkan matanya membuat Rainero bergidik ngeri.


Rainero yang didekati para perempuan yang entah masih gadis atau sudah jadi ibu-ibu itu pun merasa risih. Entah berapa kali ia hampir memuntahkan isi perutnya karena mereka yang berusaha mendekat.


"Shen, pulang yuk! Aku udah nggak tahan, please! Hmmmmppp ... huek ... "


"Siapa suruh ikut denganku!" jawab Shenina acuh tak acuh pada Rainero yang mengekor di belakangnya.


"Shen, honey, body, sweety, my lovely, pulang yuk!" rengek Rainero yang kini memepet tubuh Shenina. Ia mencoba meredam rasa mulnya dengan mencium aroma rambut Shenina.


"Pak Rainero, kamu ngapain sih? Jauh-jauh sana."


"Shen, aku ... hmmmmppp ... mau muntah. Biarin aku dekat kamu biar aku nggak mual lagi. Mencium aroma tubuhmu justru membuat perasaanku nyaman dan rasa mualku hilang," melas Rainero.


Shenina tersenyum mengejek, ia tidak percaya ucapan Rainero.


Hingga tiba-tiba ada perempuan yang menarik tangannya dan berusaha memeluknya, Rainero pun tak mampu lagi menahan rasa mualnya dan mengeluarkan semua isi perutnya.


"Huek ... huek ... huek ... "


"Aaakh ... kang bule jorok. Uuuu ... bau ... " pekik perempuan itu yang sontak membuat Shenina yang sedang memilih sayuran menoleh.


Matanya membulat saat melihat Rainero tak henti-henti memuntahkan isi perutnya. Shenina pun reflek menjatuhkan belanjaannya dan mendekati Rainero sambil memijat tengkuknya.


"Shen, aku udah ... nggak kuat lagi."


"Hah, pak, jangan macam-macam! Jangan coba-coba pingsan! Dengar!" sentak Shenina reflek. Memangnya pingsan bisa dicegah apa.


"Ta-tapi, Shen ... "


"Ya sudah, kita pulang sekarang!" ucap Shenina kesal sebab acara belanjanya jadi gagal karena ulah Rainero.


Shenina memapah Rainero, alhasil Rainero bisa menghidu aroma tubuh Shenina yang begitu menenangkan di indra penciumannya. Seorang ibu-ibu yang baik hati pun ikut membantu membawakan belanjaan Shenina yang terjatuh tadi. Setelah mengucapkan terima kasih, Shenina meminta kang ojek yang ada di sana mengantarkan mereka pulang dengan dua motor yang berbeda.


Sesampainya di kontrakan, Shenina membantu Rainero berbaring. Dalam hati Rainero memekik kegirangan, ternyata mual muntahnya pun bisa menjadi berkah baginya.


'Apa benar dia mengalami sindrom cauvade karena kehamilanku? Tapi kenapa bisa? Hei twins, apa kalian selama ini juga mengerjai Daddy kalian? Kalau benar, kalian memang benar-benar pintar,' monolog Shenina dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri membuat Rainero yang mengintip sambil pura-pura tertidur jadi salah tingkah. Ia pikir, Shenina sedang memikirkannya. Ge'er.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2