
"Sebenarnya apa yang Grandpa kerjakan di Bali? Apalagi tanpa sepengetahuan kami semua?" Mata Rainero memicing curiga. Pun kedua orang tuanya yang memang belum sempat menanyakan tujuannya terbang jauh-jauh ke Bali. "Jangan bilang Grandpa ingin mencari Granny baru?"
Ranveer seketika melotot dan melemparkannya sandwich yang tadi sedang disantapnya ke wajah Rainero sehingga selai cokelatnya mengotori wajah tampan Rainero.
"Grandpa, what are you doing?" seru Rainero kesal.
"Kau itu, apa kau lebih suka Grandpa mu ini mengurung diri di kamar terus? Seperti anak perawan saja. Anak perawan saja zaman sekarang doyan jalan-jalan masa Grandpa tidak boleh bepergian ke mana-mana," omel Ranveer yang sudah bersungut-sungut.
Delena dan Reeves menahan tawanya. Sudah lama mereka tidak melihat pemandangan seperti ini. Lebih tepatnya semenjak kandasnya hubungan Rainero dan Delianza. Masa lalu kelam itu memang membuat Rainero berubah hampir 180°.
"Bukan tidak boleh, hanya aneh saja. Grandpa juga sudah tidak mengurusi perusahaan lagi. Ingat Grandpa, aku tidak ingin memiliki Granny baru. Apalagi yang masih muda. Aku tidak ingin memiliki paman atau bibi baru yang masih bayi," sungut Rainero membuat Reeves dan Delena melepaskan tawanya. "Kalau sampai itu terjadi, liat saja, Rain akan berdoa supaya Granny mendatangi Grandpa dan menghantui Grandpa terus," imbuhnya lagi membuat mata Ranveer seketika melotot.
"Heh, apa kau pikir Grandpa sudah gila? Yang Grandpa nantikan itu cicit baru, bukan anak baru. Apa katamu tadi, kau ingin mendoakan supaya Granny mu mendatangi Grandpa, memangnya bisa? Kalau bisa, Grandpa akan memberikanmu resort Grandpa yang ada di sini untukmu," ujar Ranveer bersemangat.
"Memangnya Daddy punya resort di sini? Kenapa Reeves tidak tahu?" tanya Reeves pada sang ayah.
"Tentu saja punya. Daddy baru saja membelinya dari adik ipar salah seorang kenalan Daddy. Dia ayah dari pemilik hotel ini, bagaimana? Daddy hebat kan?"
"Benarkah? Wow, ternyata Daddy hebat juga. Tapi untuk apa Daddy membeli resort di sini? Kenapa tidak membeli di negara yang tidak terlalu jauh dari negara kita?" imbuh Delena yang ikut bertanya.
"Inilah yang namanya investasi. Investasi itu bisa dalam bentuk apapun dan dimana pun. Investasi tidak melulu untuk menghasilkan uang, tapi bisa juga untuk memberikan kesenangan dan ketenangan. Bukankah enak, bila kita sedang penat terhadap segala rutinitas kita, lalu kita melakukan liburan bersama-sama ke suatu tempat yang tidak biasa. Untuk itulah Daddy membelinya," jelas Ranveer. "Jadi Rain, bagaimana yang Grandpa tanyakan tadi? Apa benar kau bisa membuat Granny mu mendatangi Grandpa?" tanya Ranveer kembali ke pertanyaan awal. Rainero menelan ludahnya kasar, padahal ia hanya asal bicara, tapi kenapa kakeknya seperti begitu menginginkan bertemu sang nenek.
Rainero mengerti, mungkin ini karena Grandpa-nya sudah begitu merindukan mendiang istrinya. Rainero sampai menyesali mulutnya yang asal bicara tadi.
...***...
__ADS_1
Shenina tak henti-hentinya tergelak saat mendengar cerita Rainero mengenai kakeknya. Ranveer sampai merajuk karena merasa dipermainkan oleh cucunya.
"Makanya Rain, jangan asal bicara. Kalau Grandpa memang ingin menikah lagi, pasti sudah sejak lama ia lakukan. Kau sendiri yang bilang Grandpa telah ditinggal Granny-mu sejak belasan tahun yang lalu, tapi Grandpa tetap memilih sendiri. Itu artinya, Grandpa-mu tipikal laki-laki setia. Tak peduli harus hidup sendiri selama bertahun-tahun, tapi ia tetap berusaha setia. Kalau laki-laki lain, huh ... aku yakin, belum kering pusara sang istri, dia sudah akan sibuk mencari pengganti," ujar Shenina seraya mengemas barang-barangnya. Rencananya, malam ini ia, Rain, dan kedua orang tua Rainero akan melakukan penerbangan kembali ke negara asal mereka. Tapi kali ini, pasukan mereka akan bertambah sebab Shenina berhasil membujuk Adisti agar mau ikut dengannya. Apalagi Adisti tidak memiliki siapa-siapa di sini. Hanya dirinya dan Gladys teman dekat gadis itu. Adisti pun akhirnya bersedia. Rain juga bersedia membantu Adisti agar memiliki pekerjaan selama di sana.
Sementara Gladys, gadis itu tidak bisa ikut sementara waktu ini. Walaupun sebenarnya ia pun ingin ikut, tapi banyak hal yang masih menjadi pertimbangannya.
Di negara itu, meskipun apa-apa serba mahal, tapi ia bisa bebas dari kejulidan orang-orang. Tidak seperti di sini, ia kerap dikatai perawan tua hanya karena belum juga menikah padahal usianya sudah hampir 30 tahun. Pertanyaan kapan menikah pun hampir setiap hari ia dengar. Sungguh sangat memuakkan. Kalau jodohnya belum bertemu, ia bisa apa? Ia tak mau menikah asal menikah saja lalu berakhir menderita. Ia hanya ingin menikah sekali saja dalam seumur hidup.
"Shen, apa bila aku mati duluan, kau akan menikah lagi?" Shenina sontak melotot dengan wajah garang ke arah Rainero, membuat laki-laki itu bergidik ngeri.
"Apa katamu? Jadi kau ingin pergi lebih dahulu, begitu? Apa kau tidak menyayangi aku dan anak-anak kita, hah?" sentak Shenina kesal. "Ya, aku akan menikah lagi? Kenapa? Aku masih cantik. Pasti akan banyak pria yang bersedia antri untuk menikahi ku," jawabnya sambil menyunggingkan senyum sinis.
Mata Rainero seketika melotot tajam saat mendengar pernyataan Shenina, "TIDAAAAK!!! POKOKNYA AKU TAKKAN BIARKAN ITU TERJADI. KAU MAUPUN ANAK-ANAK HANYALAH MILIKKU. INGAT ITU, MILIKKU. KALAU SAMPAI KAU MENIKAH LAGI, DENGAR INI, TAK PEDULI AKU SUDAH BERADA DI NERAKA, AKU AKAN BANGKIT LAGI UNTUK MENGHABISI LAKI-LAKI ITU!" ucap Rainero menggebu-gebu. Bagaimana ia tidak emosi, dia saja baru bisa mendapatkan Shenina setelah perjuangan yang tidak sedikit. Itupun belum benar-benar memiliki, mana mungkin ia akan melepaskan Shenina dan anak-anaknya begitu saja.
"Makanya, kalau bicara itu jangan asal. Dasar menyebalkan!" sungut Shenina yang kembali merapikan barang-barang bawa'annya.
"Kau pikir aku mau berjualan."
"Kalau kau mau berjualan, aku akan membeli satu mall untukmu jadi kau bebas ingin menjual apa saja di sana."
"Lama-lama otakmu makin gila, Rain."
"Namanya juga cinta. Aku akan melakukan apapun demi membahagiakanmu."
Shenina yang awalnya jengkel dengan Rainero seketika tersenyum malu-malu. Rainero tersenyum lebar melihatnya.
__ADS_1
...***...
Malam harinya,
"Gladys, aku pasti akan merindukanmu," ujar Shenina sambil memeluk Gladys. Mata ke-tiga perempuan itu memerah karena menahan tangis.
"Aku juga, Shen. Semoga aku nanti bisa segera menyusul kalian. Jangan lupakan aku ya!" ujar Gladys yang akhirnya menumpahkan air matanya.
"Tenang saja Mbak Gladys, Disti dan Mbak Bule nggak akan pernah melupakan mu. Sering-seringlah menghubungi kami, oke?"
"Hemmm ... apa yang Disti katakan benar. Kabari kami kalau kau ingin ke sana, kami pasti akan menyambut mu dengan suka cita," timpal Shenina.
Tak lama kemudian, Shenina, Rainero, Adisti, Ranveer, Reeves, dan Delena pun naik ke pesawat pribadi keluarga Sanches. Gladys melambaikan tangannya saat pesawat mulai meninggalkan landasan. Ia menghela nafasnya setelah pesawat itu benar-benar menghilang.
Sementara Rainero dan yang lainnya sedang dalam perjalanan udara, di keluarga besar Sanches yang lain tampak heboh setelah mendapatkan kabar dari Ranveer kalau cucu kebanggaannya akan segera menikah. Jelas saja Justin tidak suka mendengarnya. Justin yang baru saja masuk ke dalam kamarnya melihat Delianza yang tengah melamun di depan cermin hias.
"Kenapa? Kau menyesal meninggalkannya?" ejek Justin membuat Delianza mendelik tajam.
"Jangan asal bicara! Bukannya kau yang tak suka mendengar kabar baik ini?" balas Delianza sinis.
"Kau ... " Tangan Justin terkepal erat, tapi sedetik kemudian ia tersenyum lebar. "Hah, apa bangganya menikah kalau tidak bisa memberikan keturunan. Aku yakin perempuan itu hanya memanfaatkan Rainero saja. Mana ada perempuan sehat dan baik-baik mau dengan laki-laki mandul seperti mantanmu itu. Bahkan kekasihnya saja memilih meninggalkannya karena kekurangannya itu, benar kan?" balas Justin telak. "Tapi tak apa. Bukankah itu bagus. Artinya kau tak akan memiliki kesempatan untuk kembali padanya, iya kan! Hahahah ... "
Rahang Delianza mengeras, 'bagaimana ia tahu rencanaku?'
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...