Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 182 (S3 Part 25)


__ADS_3

Sejak kepulangan dari pertemuan dengan pihak Admark Investments, sejak itu pula Jevian banyak termenung. Seperti saat ini, ia sedang termenung di balkon kamarnya. Dengan sebatang rokok terselip di sela bibirnya, matanya menerawang. Padahal Jevian bukan termasuk seorang perokok, tapi bukan berarti ia tidak suka merokok. Ia suka, tapi hanya sesekali. Saat pikirannya sedang kacau saja. Kalau ia sudah benar-benar frustasi, baru ia melampiaskannya ke alkohol. Tapi ia hanya akan meminum alkohol di apartemen atau mansionnya saja. Ia tak mau terlibat sesuatu yang akan membuat masalahnya makin berat saja karena mabuk. Baginya mabuk merupakan sumber masalah bila dilakukan di luar. Tapi berbeda bila di kediamannya sendiri. Setidaknya hal itu bisa membuat pikirannya tenang meskipun hanya sejenak.


Asap mengepul di udara membentuk cincin-cincin. Tanpa ia sadari, ada seorang perempuan dari balkon ujung sana yang memperhatikannya dengan dahi mengernyit.


"Ku kira Anda bukan seorang perokok," sela seseorang membuat Jevian terperanjat dan mencari sosok tersebut.


"Kau ... kau belum tidur?" tanya Jevian saat mendapati Roseline yang sedang bersandar di pagar pembatas balkon kamarnya.


Karena jarak mereka cukup jauh, ada balkon kamar Jefrey membentang di antara mereka, jadi mereka pun berbicara dengan suara yang sedikit dikeraskan.


"Seperti yang tuan lihat, aku ada di sini, artinya belum tidur," jawab Roseline diplomatis yang tanpa sadar membuat Jevian tersenyum geli membenarkan.


Jevian menekan ujung rokoknya yang menyala di asbak lalu membuang puntungnya. Setelahnya, tiba-tiba Jevian memanjat pagar balkonnya membuat Roseline membulatkan matanya.


"Hei tuan, apa yang kau lakukan?" seru Roseline khawatir.


Bagaimana tidak, kini Jevian sedang merayap di dinding persis cicak sambil berpegangan pada dinding yang lebih menonjol. Ia merayap perlahan kemudian melompat ke balkon kamar Jefrey. Setelah itu, Jevian kembali memanjat balkon kamar Jefrey dan merayap menuju balkon kamar Roseline. Mata Roseline kian membulat sempurna saat Jevian kini sudah melompat ke balkon kamarnya.


Melihat ekspresi speechless Roseline, Jevian terkekeh.


"Aku hanya ingin mengajakmu mengobrol, tidak masalah kan?"


"Apa Anda sudah gila? Memanjat balkon sementara ada pintu dan bisa kau ketuk lalu masuk kemari tanpa perlu bersusah payah? Beruntung kau tidak jatuh, bagaimana kalau jatuh? Kau ingin membuat Jefrey bersedih? Anda bukan Spiderman, ingat itu!" omel Roseline yang sudah bersungut-sungut membuat Jevian mengulum senyum. Senang rasanya ada yang mengomeli seperti ini.


Seketika Jevian mengingat Adisti. Adisti pun kerap mengomel kalau ia melakukan sesuatu sesukanya.


"Sepertinya otak Anda sedang bermasalah, bukannya sadar, justru tertawa."


"Iya, iya, maaf. Aku hanya spontan tadi. Adrenalin ku rasanya terpacu setelah melakukannya."


"Anda benar-benar gila."


Bukannya marah, Jevian justru tergelak kencang. Mendengar omelan dan melihat ekspresi Roseline ternyata cukup menghibur sampai-sampai ia bisa sedikit melupakan kegalauannya.


Kemudian Jevian pun ikut bersandar di pagar balkon. Namun pandangannya lurus ke depan. Roseline melirik, ia bisa merasakan kalau Jevian sedang tidak baik-baik saja.


"Apa ada masalah? Sejak pulang tadi, Anda terlihat seperti banyak pikiran," tanya Roseline.


Jevian tersenyum tipis, "ya, kau benar sekali. Aku memang sedang banyak pikiran saat ini. Entahlah, terkadang aku merasa tak sanggup. Andai tak ada Jefrey, mungkin sudah lama aku menyerah," ucap Jevian tiba-tiba.


"Kalau Anda merasa sedang tertekan, Anda bisa bicara padaku. Aku akan menjadi pendengar yang baik."

__ADS_1


"Benarkah?"


Roseline mengangguk saat Jevian melirik ke arahnya.


"Sepertinya tawaranmu tidak buruk."


"Terkadang bercerita bisa mengurangi sedikit beban di hati dibandingkan memendam. Siapa tahu, setelahnya Anda akan menemukan jalan keluar. Kalaupun tidak, setidaknya, tekanan itu tidak seberat sebelumnya," ujar Roseline bijak.


"Boleh minta tolong?"


"Ya."


"Sepertinya kita butuh wine untuk menemani kita bercerita."


Roseline mengangguk setuju.


"Baiklah, aku akan mengambilkannya."


Roseline pun segera berlalu dari sana. Tak butuh waktu lama, Roseline sudah kembali lagi dengan sebotol wine dan dua buah gelas kecil.


Jevian mengambil botol wine itu dan menuangkannya ke dalam gelas mereka berdua. Jevian lantas mengajak Roseline meminum wine tersebut. Roseline mengangkat gelasnya kemudian mereka pun saling mendentingkan gelas mereka.


Setelah menenggak wine di gelas, Jevian pun segera memulai bercerita.


Jevian lantas menuang lagi wine kee gelasnya. Kemudian ia kembali menenggaknya hingga gelas itu kembali kosong.


Bukan hanya pertemuan dengan Mark yang ia khawatirkan, tapi juga Adisti. Entah bagaimana kabarnya saat ini. Terkadang Jevian merasa penasaran. Tapi Jevian selalu berusaha menguatkan hatinya agar tidak kembali berkubang dengan masa lalu. Padahal 4 tahun telah berlalu, tapi entah mengapa rasa cinta itu masih saja ada. Membuatnya merasa begitu lemah tak berdaya.


Roseline tidak tahu mengenai kejadian penculikan Adisti sebab saat itu ia sudah di penjara. Ia juga tidak mengenal baik orang-orang di lingkaran Rainero, salah satunya Jevian. Fokusnya saat itu hanyalah keluarga Sanches atau yang dekat dengan keluarga Sanches seperti Axton yang memang kesehariannya tak jauh dari keluarga Sanches. Axton bahkan terkadang jadi mata-mata Delena saat diperlukan.


Apalagi Jevian adalah sahabat berbeda negara. Hanya saja beberapa tahun kemudian, keluarga Jevian pindah ke negara yang sama dengan Rainero. Tapi pusat perusahaan keluarga Jevian masih ada di negara asal mereka sehingga Jevian dan ayahnya lebih sering berada di negara asal mereka. Namun setelah peristiwa penculikan itu, anak perusahaan Jevian di negara tempat Rainero tinggal dinyatakan pailit. Setelah mendapatkan suntikan dana dari Tobey, Jevian lebih memfokuskan dirinya pada perusahaan utama.


"Anda mau mendengar saran saya?" tanya Roseline.


"Hmmm ... Bagaimana menurutmu? Apa yang harus aku lakukan?"


"Jujur, menurutku Anda harus tetap maju. Mungkin berat, tapi masa lalu harus dihadapi. Apalagi saat ini Anda sedang terdesak. Anda membutuhkan uang bukan hanya untuk perusahaan Anda, karyawan Anda, tapi juga Jefrey. Kalau perusahaan Anda pailit, bagaimana Anda bisa membiayai pengobatan Jefrey. Lagipula, yang membuat kesalahan kan bukan Anda, tapi ibu Anda. Hadapi. Siapa tahu, dengan begitu Anda bisa menghapus perasaan Anda. Justru kalau Anda mundur lah Anda akan dianggap pecundang. Dan satu lagi yang pasti, istri Anda dan mertua Anda akan bersorak bahagia melihat kehancuran Anda. Anda tidak ingin kan hal itu terjadi?"


Jevian terdiam. Ia tampak mencerna ucapan Roseline yang menurutnya benar sekali.


"Apakah Anda masih mencintai perempuan itu?" tanya Roseline tiba-tiba.

__ADS_1


"Jujur, aku belum bisa melupakannya."


"Saya paham. Tidak mudah melupakan seseorang yang kita cintai, terlebih dengan cara seperti itu."


"Em, kalau boleh tahu, apa kau memiliki kekasih?"


"Tidak," jawab Roseline cepat. "Tapi aku memiliki mantan kekasih," imbuhnya lagi.


Tiba-tiba Jevian jadi penasaran akan sesuatu, "apa kau masih mencintainya?"


"Entahlah."


"Mengapa kalian berpisah?"


"Kenapa Anda jadi seperti menginterogasi saya?" Mata Roseline memicing membuat Jevian berdecak kesal.


"Aku hanya bertanya. Kalau kau tidak ingin bercerita, ya tidak masalah."


Roseline tersenyum simpul, "karena kasta kami berbeda," jawab Roseline tiba-tiba.


"Hah! Maksudnya?" tanya Jevian bingung.


Roseline menarik nafas dalam-dalam, "kasta berbeda. Saya hanya orang miskin, sementara ia orang berada. Orang tuanya tidak setuju dan memaksanya menikah dengan wanita pilihan mereka. Saya sadar diri dan memilih mundur."


Ya, dulu Roseline sebenarnya memiliki seorang kekasih. Mereka menjalin kasih semenjak masa sekolah Senior High School. Setelah mereka sama-sama tamat sekolah, kekasihnya membawanya bertemu dengan orang tuanya. Laki-laki itu bukan sekedar ingin mengenalkan, tapi ingin meminta restu agar mereka bisa menikah. Sebab satu bulan ke depan, ia akan menempuh pendidikan di negeri lain. Jadi ia ingin menikahi Roseline untuk mengikatnya.


Tapi orang tua sang laki-laki menentang. Mereka marah dan mengusir Roseline. Oleh sebab itulah kebencian Roseline pada keluarga Sanches kian menyala. Apalagi setelah tahu kalau Rainero begitu disayangi orang tuanya. Roseline menganggap hal itu tak adil. Rainero bisa hidup bahagia dan bergelimang harta, berbanding terbalik dengan dirinya yang hidup dalam kemiskinan dan caci maki serta penolakan.


Hose memang sudah menanamkan kebencian pada dirinya terhadap keluarga Sanches sejak kecil. Namun kebencian itu baru berkobar setelah ia ditolak oleh keluarga laki-laki yang ia cintai hanya karena status sosialnya. Hingga akhirnya membuatnya tenggelam pada dendam yang salah. Dendam yang tak seharusnya ada karena semua hanya rekayasa sang paman yang ternyata dialah ayah kandungnya yang sebenarnya. Sungguh, sampai sekarang Roseline masih tenggelam dalam rasa penyesalan. Ia benar-benar menyesal telah mengkhianati wanita sebaik Delena.


Jevian cukup terkejut. Ternyata Roseline pun memiliki masa lalu yang tak kalah menyedihkan darinya. Bahkan permasalahannya pun hampir sama, tapi bedanya posisi Roseline seperti Adisti. Namun Adisti masih lebih beruntung sebab ia langsung menemukan laki-laki yang mencintai dan dicintainya. Sementara Roseline, entahlah. Jevian belum benar-benar tahu masa lalu Roseline yang sebenarnya.


"Sepertinya masalah kita tidak jauh berbeda. Menggelikan."


Jevian terkekeh. Roseline pun ikut terkekeh.


"Sepertinya saranmu tadi akan aku pertimbangkan. Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesah ku."


"Sama-sama, tuan. Lain kali, kalau ada masalah, tak perlu sungkan untuk bercerita. Siapa tahu aku bisa membantu Anda."


Jevian tersenyum. Ia kembali menuangkan wine ke gelas masing-masing dan meminumnya. Karena hari sudah semakin larut, akhirnya mereka pun kembali ke kamar masing-masing dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

__ADS_1


...****...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2