
Pagi-pagi sekali tampak Harold, Ambar, dan Jessica telah bersiap untuk pindah. Ada rasa anggan Harold ingin meninggalkan rumah itu, tapi karena bodyguard Rainero sudah datang sejak semalam untuk memastikan mereka akan segera pindah hari ini juga membuatnya terpaksa bersiap lebih awal.
"Mom, sebenarnya kita aka pindah kemana? Aku tidak mau kalau rumahnya kecil. Lagipula, kenapa harus pergi pagi-pagi sekali sih? Tunda sedikit siang kenapa? Aku masih mengantuk," ujar Jessica sambil menguap lebar. Ia pulang hampir dini hari, oleh sebab itu ia masih sangat mengantuk.
"Tak usah banyak bicara. Lebih baik segera cuci wajahmu dan bersiap," ucap Harold datar. Kalau bisa, ia ingin segera pergi dari sana sebab ia sudah benar-benar muak harus bertemu dengan orang-orang Rainero dan Shenina.
Tanpa merespon dengan jawaban, Jessica pun bergegas masuk kembali ke kamarnya dengan jalan menghentak.
Harold acuh tak acuh dengan sikap Jessica yang mungkin kesal karena harus pindah mendadak. Tiba-tiba ponsel di genggamannya bergetar. Ternyata ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Awalnya Harold acuh tak acuh. Bahkan ia lebih memilih mempersiapkan barang-barang yang akan diangkut di depan pintu.
Harold lantas duduk di sofa yang ada tepat di tengah-tengah ruang tamu. Dipindainya sekeliling rumahnya. Rumah yang menorehkan banyak kenangan mulai dari pernikahan pertamanya hingga pernikahan kedua yang ia yakini akan menjadi pernikahan terakhirnya.
Harold membuka layar ponselnya. Tiba-tiba ia penasaran dengan pesan video yang dikirim oleh seseorang yang tidak dikenalnya itu. Tanpa berpikir macam-macam, ia pun mengunduh video itu dan mulai memutarnya.
Mata Harold terbelalak. Tangannya terkepal, nafasnya memburu, dan rahangnya mengeras saat melihat video yang tengah diputarnya itu. Tubuhnya benar-benar bergetar, tidak menyangka kalau perempuan yang ia nikahi itu bisa berbuat sedemikian hina. Harold masih mengingat pakaian yang dikenakan salah satu pemeran dalam video itu. Pakaian itu merupakan pakaian yang dikenakan Ambar kemarin. Itu artinya kemarin Ambar pergi untuk menemui laki-laki yang tidak Harold kenali itu.
Ditontonnya video itu sekali lagi. Diperhatikannya lamat-lamat laki-laki yang ada dalam video itu. Harold seperti mengenal laki-laki itu, tapi siapa? Mungkin karena kejadian itu telah berlalu hampir 20 tahun yang lalu membuatnya sedikit lupa dengan wajah sang pemeran pria dalam video itu.
"Suamiku, mobilnya sudah ... "
plakkkk ...
Sebuah tamparan tepat mengenai pipi kiri Ambar membuat Ambar terhenyak. Bahkan sudut bibirnya telah berdarah karena tamparan tak terduga itu.
"Aaaarghhh ... suamiku, apa yang kau lakukan?" pekik Ambar dengan wajah merah padam. Tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba saja Harold menamparnya.
Bukannya menjawab, Harold lantas tergelak kencang.
"Kau yang seharusnya menjelaskan, apa yang kau lakukan di belakangku, hah? Apa yang kau lakukan di belakangku?" pekik Harold membuat Ambar terkesiap. Seumur hidup, baru kali ini ia mendapatkan perlakuan kasar dan bentakan yang begitu keras. Jessica yang berada di dalam kamar sampai berlari keluar karena penasaran apa yang membuat ayahnya begitu marah.
"Mommy, daddy, apa yang terjadi?" jerit Jessica saat melihat kedua orang tuanya bersitegang. Melihat Ambar memegang pipinya, Jessica pun segera menghampiri. "Mom, wajahmu kenapa? Apa Daddy yang melakukan ini? Jawab, Dad!" pekik Jessica dengan nada tinggi.
"Seharusnya kau tanyakan pada Mommymu ini, apa yang dia lakukan di belakang Daddy," jawabnya dengan nafas memburu.
__ADS_1
"Mom, memangnya apa yang mommy lakukan sampai daddy begitu marah?"
Ambar menggeleng cepat, "Mommy pun tidak mengerti. Daddy-mu tiba-tiba saja marah dan menampar daddy."
"Tidak tahu kau bilang?" Harold terkekeh sinis membuat Jessica dan Ambar bergidik ngeri. "Katakan dengan jujur, kemana kau kemarin? Bisa?" ucapnya dengan suara rendah tapi terdengar dingin.
"Kemarin?" Ambar tiba-tiba saja gugup. "Bukankah aku sudah mengatakannya kemarin kalau aku pergi untuk berobat. Tapi dokter langgananku tidak datang. Lalu aku bertemu ... "
Sreekkk ...
Tiba-tiba saja Harold menarik kasar pakaian Ambar sehingga mengekspos tubuh bagian atasnya yang dipenuhi jejak kemerahan yang sudah mulai membiru. Jejak yang sangat mudah ditebak bagaimana proses terjadinya.
"Ini ... jelaskan padaku, perbuatan siapa ini, hah? Katakan!!!" bentak Harold dengan wajah yang benar-benar menggelap.
"Ini ... ini tidak seperti yang kau pikirkan, suamiku." Ambar mencoba untuk berkelit.
"Jadi apa? Berhenti untuk membodohiku , bajingaan!" bentak Harold yang kini tangannya telah mencengkeram rahang Ambar.
"I-itu benar, Sayang. Ini tidak seperti yang kau pikirkan."
Harold tertawa terbahak-bahak dengan kepala menengadah ke atas sampai ekor matanya berair. Menertawakan dirinya yang tidak tahu kebusukan istrinya selama ini. Harold sampai mengumpat dalam hati, mengapa ia sampai dikhianati istrinya untuk kedua kali. Apa salah dan dosanya, pikir Harold. Padahal ia sudah berusaha setia, tapi kenapa balasannya justru pengkhianatan.
Lalu ia mengambil ponsel yang sempat ia lemparkan ke atas meja dan membuka kembali video yang tadi sempat ia tonton. Kemudian ia memutar video itu tepat di depan wajah Jessica dan Ambar.
"Lihat! Perhatikan baiki, siapa wanita yang ada di dalam video ini?" Apa kau masih mau berkilah, hah? Katakan bajingaan, siapa laki-laki itu! Katakan!!!" raung Harold dengan amarah yang meletup-letup.
Brukkk ...
"Maafkan aku, Suamiku. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku ... aku terpaksa. Dia yang memaksaku. Dia ... dia sebenarnya adalah Julian, mantan suamiku," dusta Ambar. Tak apalah dirinya mengungkap siapa Julian. Pikirnya Harold pasti sudah lupa dengan laki-laki yang pernah ia pergoki keluar dari dalam kamar Shena, mendiang istri pertama Harold.
"Hahahaha ... kau pikir aku bodoh, jalaang sialan!"
Plakkk ...
__ADS_1
Harold kembali menampar Ambar. Merasa kurang puas ia menjambak rambut Ambar hingga kepalanya mendongak ke atas.
"Daddy ... " pekik Jessica panik saat melihat Harold memperlakukan ibunya dengan benar-benar kasar.
"Aaaakh ... suamiku, lepaskan aku! Aku mohon. Aku tidak berbohong. Aku benar-benar ... "
"Benar-benar apa? Benar-benar menikmati, iya?" Harold makin mengeratkan cengkraman di rambut Ambar. Wanita paruh baya itu sampai meneteskan air matanya karena rasa sakit yang luar biasa. "Ya, aku bisa melihat bagaimana kau begitu menikmati percintaan kalian itu. Bahkan kau terlihat sangat luar. Cih ... kau benar-benar jalaang. Aku tidak menyangka, istri yang ku kira setia dan akan mendampingiku hingga tutup usia ternyata seorang wanita murahan. Dasar bajingaan!"
Brakkk ...
Harold yang tak mampu mengontrol emosinya lantas mendorong Ambar hingga membentur dinding. Ambar memekik kesakitan, sedangkan Jessica memekik seraya menangis. Tak kuasa melihat sang ibu disiksa sedemikian menyakitkan oleh ayah tirinya.
"BERHENTI! ANDA TIDAK BERHAK MENYAKITI MOMMY KU," pekik Jessica dengan mata memerah.
"Mommy mu? Ya, memang dia ibumu. Kau dan dia sama. Sama-sama jalaang. Pantas saja kau bisa bermain gila dengan suami orang karena kau menuruni sifat murahan ibumu. Dasar pelacur!"
Mata Ambar dan Jessica terbelalak mendengar makian dan hinaan Harold.
"Tutup mulutmu, sialan! Kau pikir kau siapa bisa merendahkan anakku, hah!" balas Ambar nyalang. Bila tadi ia mencoba mengalah, namun tidak kali ini. Ia takkan membiarkan orang lain merendahkan anaknya meskipun itu adalah suaminya sendiri.
"Aku siapa? Kau bilang aku siapa? Ah, aku sekarang paham, jadi selama ini kalian hanya menjadikan ku sumber keuangan bagi kalian, begitu? Karena itu kalian menganggapku bukan siapa-siapa," ucapnya sambil tersenyum getir.
Brakkkk ...
Harold mengambil vas bunga besar yang ada di dekat sofa dan melemparkannya asal sehingga menimbulkan bunyi yang begitu berisik.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi berhenti di depan rumah mereka. Disusul suara ketukan kasar di depan pintu membuat ketiganya kebingungan. Hingga beberapa saat kemudian, pintu pun dibuka kasar. Beberapa petugas berseragam kepolisian masuk sambil mengacungkan senjata membuat ketiganya membelalakkan mata dengan binar ketakutan.
"Nyonya Ambar, Anda ditahan karena kasus pembunuhan berencana," tukas salah seorang petugas polisi yang kini telah berdiri di hadapan Ambar.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1