Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 167 (S3 Part 10)


__ADS_3

3 tahun kemudian


"Mau kemana lagi kau?" tanya Jevian yang baru pulang ke rumah setelah lembur di kantornya.


"Ck ... bukan urusanmu," ketus Eve yang makin hari sikapnya makin acuh tak acuh. Bahkan setelah mengetahui anaknya memiliki penyakit kelainan jantung pun tak menggugah perasaannya sama sekali. Ia justru makin tidak menyukai anak laki-laki yang wajahnya bagai duplikat dari wajah sang ayah.


"Kau ... " belum sempat Jevian meluapkan kekesalannya, teriakan sang anak membuat Jevian mengurungkan niatnya tersebut.


"Daddy," pekik Jefrey girang saat melihat kepulangan sang ayah.


Melihat sang putra berlari ke arahnya, Jevian pun segera berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya.


"Hati-hati!" seru Jevian yang sebenarnya khawatir saat melihat Jefrey berlarian seperti itu. Bagaimana pun jantung Jefrey tidak baik-baik saja. Dalam 3 tahun ini saja, entah sudah berapa kali Jefrey masuk dan keluar rumah sakit. Anak yang mengalami kelainan jantung rentan mengalami kebocoran jantung dan hal itulah yang dikhawatirkan Jevian. Oleh sebab itu, ia selalu menjaga pola makan Jefrey agar selalu sehat. Jefrey juga harus selalu menjalani imunisasi lengkap.


Biasanya ibu yang anaknya mengalami gejala kelainan jantung, kehamilannya terlihat baik-baik saja. Begitu pula saat sang anak lahir, hanya terlihat kelainan jantungnya saja. Gejala kebocoran jantung tidak akan langsung terdeteksi. Namun seiring bertambahnya umur, gejala itu akan mulai tampak apalagi bila sistem imunnya pun pola makanan yang tidak terjaga dengan baik.


Faktor risiko penyakit jantung bocor bawaan lahir ini terkait dengan kondisi ibunya selama hamil, pertama adalah terkena infeksi tertentu yang biasanya ini lebih cenderung ke infeksi virus. Kedua, terpapar zat-zat kimia, misalnya asap rokok. Kemudian, konsumsi alkohol. Ibu hamil itu kadang kadang ada yang nekad minum alkohol dan obat-obatan tanpa resep dokter. Dan penyebab utama Jefrey mengalami kelainan jantung ini memang terkait dengan kebiasaan Eve yang kerap mengkonsumsi alkohol selama masa kehamilan.


Hal inilah yang membuat Jevian yang awalnya ingin belajar mencintai Eve, justru berbalik membencinya. Karena kebiasaan Eve inilah, putranya jadi mengidap penyakit yang berbahaya. Dan akan makin mengkhawatirkan bila sampai jantung Jefrey mengalami kebocoran.


"Daddy, Jef rindu, daddy," ujar Jefrey setelah berada dalam pelukan Jevian. Eve yang melihat adegan ayah dan anak itu tidak tersentuh sama sekali. Ia justru mencibir dan segera pergi dari hadapan anak dan suaminya.


...***...


Jevian baru saja selesai mandi. Setelah berpakaian, ia pun langsung menghampiri Jefrey yang sudah menunggunya di atas tempat tidur.


"Daddy, gendong," seru Jefrey sambil tersenyum lebar.


"Oke boy!" Jevian pun gegas mengangkat Jefrey ke dalam gendongannya. "Langsung tidur, oke! Sudah malam," ujar Jevian sambil mencubit kecil cuping hidung Jefrey.


Jefrey mengerucutkan bibirnya, "no, Jef belum mengantuk, Daddy," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Tapi ini sudah malam, Sayang," bujuk Jevian sebab jarum jam memang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam

__ADS_1


"Tapi Jef masih rindu, Daddy. Jef mau main sama Daddy," ujar Jefrey dengan wajah sendunya. "Mommy sibuk, daddy juga sibuk, Jef kesepian," imbuhnya mengeluarkan unek-uneknya.


Jevian lantas membaringkan tubuh kecil Jefrey ke atas ranjang di kamar bocah 3 tahun itu.


"Kan ada Sus Lora."


"Tapi Jef maunya sama mommy dan daddy."


"Nanti akhir pekan kita jalan-jalan, bagaimana?"


"Really?"


Jevian mengangguk.


"With mommy?"


Jevian sebenarnya ragu, tapi ia menganggukkan kepalanya. Ia akan mencoba bicara dengan Eve. Meskipun ia tak akur dengan Eve. Bahkan sudah 3 tahun mereka pisah kamar, tapi tetap saja mereka adalah orang tua Jefrey. Tumbuh kembang Jefrey adalah tanggung jawab mereka berdua.


"Yeeppyyy yeeppyyy yeay. Thank you, Daddy. I love you," seru Jefrey senang.


...***...


Jevian yang sedang mengerjakan di kantor tiba-tiba melihat ponselnya berdering. Dahi Jevian berkerut saat melihat nama pemanggil di ponselnya adalah Suster Lora. Suster Lora merupakan pengasuh Jefrey sejak bocah itu masih bayi. Suster Lora yang sudah berusia 40 tahun, memiliki dedikasi yang tinggi terhadap anak-anak sehingga itulah yang membuat Jevian mempekerjakannya.


"Ya ada apa?" jawab Jevian.


"Tuan, tadi nyonya mengatakan ingin menjemput Jefrey sekolah. Tapi sampai sekarang Jefrey belum diantar pulang," adu Suster Lora yang khawatir atasannya marah saat mengetahui sang anak belum pulang juga.


"Apa?" seru Jevian. Lantas ia melirik jarum jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore. "Apa kau sudah menghubungi nyonya?"


"Sudah tuan, tapi tidak diangkat."


"Ck ... " Jevian berdecak kesal. "Baiklah. Biar aku yang mencoba menghubungi Nyonya. Tolong kabari bila Jefrey sudah diantar ke rumah."

__ADS_1


"Baik, tuan."


Panggilan pun ditutup.


Jevian pun gegas mencoba menghubungi Eve, tapi panggilannya tak kunjung diangkat.


"Ck, sialan! Sebenarnya kau bawa kemana anakku? Awas saja kalau terjadi sesuatu pada Jefrey! Aku bersumpah takkan pernah memaafkanmu!" desis Jevian dengan rahang mengeras. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Jefrey saat ini. Apalagi tidak pernah sebelumnya Eve memedulikan anaknya, lantas apa motif Eve sampai menjemput anaknya dari preschool tempatnya bersekolah.


Sementara itu, di sebuah hotel, ada seorang anak kecil yang kebingungan mencari keberadaan sang ibu. Tadi ia datang ke hotel tersebut dengan sang ibu. Bahkan ibunya sempat mengajaknya makan siang di restoran hotel tersebut dengan temannya. Namun tiba-tiba saja sang ibu menghilang entah kemana. Anak kecil yang tak lain adalah Jefrey itupun kebingungan. Ia melangkahkan kaki kecilnya ke segala arah hingga tanpa sadar ia sudah berada di pinggir jalan depan hotel tersebut.


Cuaca yang begitu terik, ditambah ia belum sempat tidur siang sebab sepulangnya sekolah, ia langsung diajak sang ibu pergi membuat tubuh kecilnya kelelahan.


Nafasnya menderu. Dadanya mendadak terasa nyeri. Jefrey memang tidak boleh kelelahan sebab dapat memicu sakit di jantungnya.


Kaki kecil itu melangkah tanpa arah. Ia ingin menghubungi sang ayah, tapi ia tidak memiliki ponsel. Dengan wajah merah padam, Jefrey terus melangkah.


Tanpa sadar, kini kaki kecil itu sudah melangkah ke tengah jalan. Namun tiba-tiba dadanya makin terasa sesak. Kaki kecil itu akhirnya tak mampu lagi berjalan. Ia terjatuh di tengah jalan, di saat bersamaan terdengar decit ban mobil yang direm paksa berhenti tepat di hadapannya. Jantung Jefrey berdegup begitu kencang. Mata Jefrey tiba-tiba menggelap. Perlahan , kesadaran Jefrey pun menghilang. Yang di saat bersamaan ada sepasang tangan yang menyambut tubuh kecilnya.


"Nak, hei, bangun!" seru seseorang yang sudah menangkap tubuh kecilnya.


"Nyonya, bagaimana keadaan anak itu?" tanya sang sopir khawatir. Ia terkejut saat melihat sesosok anak kecil tiba-tiba di tengah jalan saat mobilnya sedang melaju. Untung saja kecepatannya tidak begitu tinggi jadi sang sopir bisa langsung mengerem mendadak dan berhenti beberapa senti tepat di hadapan anak itu.


"Momdre, ada apa?" seru seorang anak kecil yang baru keluar dari dalam mobil.


"Anak ini pingsan. Luke, tolong antar aku ke rumah sakit. Aku takut anak ini kenapa-kenapa," ujar sang nyonya yang sudah meraih Jefrey ke dalam gendongannya.


"Nyonya, biar saya yang menggendong anak itu. Bagaimana kalau kandungan Anda ... "


"Aku tidak apa-apa. Ayo, buruan," seru perempuan itu. "Arquez, cepat masuk!" seru perempuan itu pada anak laki-lakinya yang seusia Jefrey.


"Baik, Momdre!" jawabnya yang segera ikut masuk ke dalam mobil.


Setelah memastikan sang majikan dan putranya serta Jefrey masuk ke dalam mobil, sang sopir pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang ada di sana.

__ADS_1


...****...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2