
Pagi-pagi sekali Jevian sudah tampak bersiap menuju sebuah ballroom hotel mewah tempat diadakannya pertemuan dengan pihak Admark Investments. Besar harapan Jevian agar ia bisa mendapatkan investasi dari perusahaan tersebut. Apalagi prospek yang ditawarkan benar-benar menggiurkan. Menurut kabar pemiliknya adalah seorang pengusaha muda ternama dari negara tetangga. Ia membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek bagus, baik perusahaan besar, kecil, maupun yang baru berkembang. Ia harap, perusahaan-perusahaan tersebut bisa berkembang tanpa terkendala modal.
Jevian keluar kamar sambil menenteng tas yang berisi berkas dan laptopnya menuju ruang tamu. Di sana ternyata sudah ada Jefrey yang sedang bersenda gurau dengan Roseline. Hati Jevian seketika menghangat. Lora memang sudah satu tahun bekerja sebagai Nanny Jefrey, tapi perempuan itu seperti menjaga jarak agar tidak begitu dekat meskipun ia tetap perhatian. Berbeda dengan Roseline yang seolah meruntuhkan tembok tinggi antara majikan dan bawahannya. Ia menjaga Jefrey sepenuh hati. Bahkan interaksi mereka tampak begitu akrab. Seolah Jefrey sudah mengenal Roseline cukup lama. Seolah Roseline merupakan keluarga dekatnya. Sudah lama ia ingin melihat interaksi seperti ini, tapi sayang Eve tidak pernah tergerak sedikitpun untuk melakukannya. Entah terbuat dari apa hatinya sehingga tidak bisa menyayangi putranya yang sangat menggemaskan ini.
"Daddy," pekik Jefrey yang segera turun dari pangkuan Roseline menyongsong sang ayah agar mendekat ke arahnya. Jevian pun gegas meletakkan tasnya dan berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya.. Jefrey pun segera masuk ke dalam pelukan sang ayah sambil tersenyum lebar.
"Morning, Boy," ucap Jevian sambil mengecup dahi Jefrey.
"Morning too, daddy," ucapnya penuh semangat. "Daddy tidak memberikan ucapan selamat pagi pada Aunty?" tanya Jefrey dengan wajah polosnya.
Jevian menautkan alisnya kemudian menatap Roseline yang justru salah tingkah dengan menggaruk dahinya.
"Oh, maaf, Daddy lupa. Hai Seline, morning," ucapnya dengan tersenyum simpul.
Roseline menarik kedua sudut bibirnya paksa hingga membentuk senyuman yang aneh di mata Jevian. Tapi justru itu terlihat menggelikan. Sesulit itukah untuk Roseline tersenyum padanya? Berbeda dengan Jefrey, perempuannya itu bisa tersenyum begitu lebar dan terlihat tulus. Bahkan senyuman itu begitu manis.
"Selamat pagi juga, Tuan."
"Kalian sudah sarapan?" tanya Jevian.
"Belum daddy. Kata Aunty, Jefrey harus menunggu Daddy untuk sarapan bersama."
Jevian tersenyum lebar. Ternyata Roseline mengajarkannya hal-hal yang sederhana, tapi berefek besar pada putranya.. Sebelumnya, Jefrey selalu sarapan terlebih dahulu. Ia pun sarapan bukan di meja makan, melainkan di luar. Bukan karena ajaran Lora, tapi keinginan Jefrey sendiri dan Lora tidak bisa melarang. Keinginan Jefrey ibarat perintah baginya.
Kini Jefrey dan Jevian sudah berada di meja makan. Roseline tampak melayani Jefrey makan. Jevian tak henti-hentinya memerhatikannya sampai-sampai ia lupa mengisi piringnya sendiri.
"Dad, daddy mau diambilkan makan juga? Daddy mau sarapan dengan apa? Biar Aunty ambilkan, iya kan Aunty?" tanya Jefrey yang sudah menatap Roseline. Roseline menggaruk ujung hidungnya sambil mengangguk. "Ayo dad, daddy mau apa? Sandwich, pancake, bacon, oatmeal, atau omelette?"
"Memangnya ada oatmeal? Sepertinya tidak ada," ujar Jevian sambil memperhatikan isi mejanya.
__ADS_1
Jefrey terkekeh, "memang tidak ada. Tapi kalau daddy mau, aunty pasti bau membuatkannya, iya kan aunty?" lagi-lagi Roseline terjebak dengan permintaan bocah 3 tahun itu.
Usia boleh masih kecil, tapi kecerdasannya sungguh sudah seperti anak berusia 10 tahun. Entah apa tujuan Jefrey, sejak tak ia menjebak Roseline dengan permintaan-permintaan yang berhubungan dengan sang ayah. Namun Roseline tidak marah sama sekali. Ia justru makin gemas dengan tingkah anak asuhnya itu.
Roseline mengangguk membuat Jefrey tersenyum lebar. Jevian menggeleng dengan senyum merekah di bibirnya.
"Tidak. Tidak perlu repot-repot. Daddy makan apa yang sudah terhidang di meja saja."
"Jadi daddy mau apa?"
"Daddy mau pancake saja dan segelas kopi."
"Aunty, bisa buat kopi?"
"Jef, jangan merepotkan Aunty. Ingat, aunty belum benar-benar sehat. Lagipula itu bukan tugas aunty, ingat itu," sergah Jevian tak ingin anaknya terus-terusan menyuruh Roseline. Apalagi ia mempekerjakan Roseline untuk menjaga anaknya, bukan menjadi pelayan yang melakukan berbagai hal.
"Tapi kan ... "
"Saya tidak apa-apa, Tuan. Hanya membuat kopi kan? Itu hal yang mudah. Apalagi semua bahan tersedia jadi tak masalah."
Setelah mengucapkan itu, Roseline pun bergegas menuju pantry yang tak jauh dari sana. Dengan gesit, Roseline membuatkan Jevian secangkir kopi. Asap mengepul diikuti semerbak aroma khas kopi yang nikmat membuat Jevian tak sabar untuk menikmati minuman berwarna hitam pekat tersebut. Sebenarnya Jevian biasanya meminum jus buah di pagi hari. Namun karena ia akan menjalani hari yang super sibuk hari ini, jadi ia butuh kopi untuk menyegarkan otak dan matanya.
"Terima kasih, kopinya nikmat," puji Jevian setelah menenggak satu tegukan kopi yang masih begitu panas itu.
"Sama-sama, Tuan," jawab Roseline singkat.
Jevian melirik jam di pergelangan tangannya, tampak hari sudah pukul 8 pagi. Sementara pertemuan dimulai pukul 10. Jevian pun segera berdiri untuk segera bersiap berangkat menuju lokasi pertemuan.
Jevian meraih tasnya. Kemudian ia segera berjongkok di hadapan Jefrey untuk berpamitan pergi bekerja. Setelahnya, Jevian pun gegas berdiri.
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Tolong jadi jaga Jefrey!" ucapnya sambil menganggukkan kepalanya. Namun baru saja Jevian membalikkan badannya, tiba-tiba Roseline menghentikannya.
"Tunggu, Tuan!"
"Ya. ada apa?" tanya Jevian penasaran.
"Tuan, dasi Anda."
"Ya."
"Itu ... dasi Anda ... " Roseline pun segera beranjak dan berdiri di depan Jevian dan segera membenarkan dasi Jevian. Setelah selesai, Jevian pun bergegas pergi sebab ia sudah ditunggu Matson.
Jarum jam sudah tepat pukul 10, akhirnya acara pun dimulai. Namun aneh, sampai acara dimulai pun sang pemimpin perusahaan tak kunjung menampakkan diri.
Sat persatu dari mereka yang mewakili perusahaan masing-masing masuk ke sebuah ruangan untuk mempresentasikan proposal mereka. Jevian dan Matson mendapatkan giliran ke 23. Sungguh melelahkan, tapi melihat antusiasme para pengusaha membuat semangatnya terus berkobar. Hingga akhirnya giliran mereka lah yang dipanggil, Jevian maju sendiri untuk mempresentasikan segala ide-ide yang tertuang dalam proposalnya.
Tampak antusiasme penguji membuat Jevian kian semangat. Namun sampai akhir acara pun sang pemilik tak kunjung muncul.
"CEO Admark Investments akan datang di hari pengumuman," ujar salah satu tim pendengar.
Pengumuman pemenang akan diumumkan satu Minggu lagi sebab yang mengikuti pertemuan ini tidak sedikit. Bahkan hampir 50 perusahaan yang mengikuti. Waktu pertemuan pun berlangsung hingga hampir tengah malam. Sungguh melelahkan.
Saat acara selesai, mata Jevian tertuju pada kerumunan perwakilan Admark Investments. Tiba-tiba mata Jevian membulat saat melihat salah seorang yang ia kenali.
"Tidak. Itu tidak mungkin dirinya. Tapi ... Bagaimana kalau ... "
Perang batin dimulai. Tetap maju atau mundur teratur. Hanya dua itu pilihannya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...