
Ponsel Ambar berbunyi, melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat Ambar gugup. Ambar yang sedang duduk di depan televisi bersama Harold pun pura-pura masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu.
Di dalam kamar, Ambar pun segera mengangkat panggilan itu.
"Halo," ucap Ambar pelan sambil memperhatikan pintu kamar. Khawatir Harold tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Halo Sayang, ini sudah dua hari berlalu, kau tidak lupa kan dengan permintaanku?" ujar seseorang di seberang sana.
Gigi Ambar bergemeletuk, ia benar-benar kesal mengapa bisa kembali dipertemukan dengan Julian setelah bertahun-tahun lamanya ia menghilang.
"Aku belum punya uangnya, brengsekkk. Semenjak pemberitaan itu, minimarket sangat sepi."
"Aku tak peduli. Yang aku mau uangku."
"Kau bisa bersabar, tidak? Kau pikir mudah mengeluarkan uang sebanyak itu? Jangan membuatku kesal. Sabar atau tidak sama sekali," ketus Ambar.
"Jangan pernah mengancam ku, Sayang. Kau tahu sendiri kan apa akibatnya," ancam Julian membuat Ambar menelan ludahnya. Ia sangat tahu bagaimana perangai Julian yang bukan hanya emosional, tapi juga ringan tangan. Oleh sebab itulah, ia memilih berpisah dengan laki-laki tersebut. Ia tak ingin tak ingin terlibat permasalahan dengan Julian.
"Aku mohon, beri aku beberapa hari lagi. Untuk saat ini, aku benar-benar tidak memilikinya," ujar Ambar berusaha mengulur waktu. Ia akan melakukan sesuatu pada laki-laki itu. Ia tak mau terus-terusan diancam.
"Oke, aku beri kau waktu beberapa hari lagi. Tapi bila kau masih saja tidak mau memenuhinya, maka jangan salahkan aku mengambil tindakan," ancam Julian. "Oh ya, kapan kau akan mempertemukan aku dengan putri kita? Bagaimanapun aku adalah ayahnya dan aku ingin menemuinya."
"Jangan banyak tingkah, Julian. Apa kau selama ini sudah bersikap layaknya seorang ayah pada Jessi? Tidak. Jessi justru mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari laki-laki lain, sementara kau? Kau hanya sibuk dengan duniamu sendiri."
"Jangan kau lupa, tanpa bantuan ku, kau tak akan memiliki posisi seperti ini dan Jessi pun takkan pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Semua ada andilku. Tanpa aku, kau dan anakmu itu akan selamanya jadi pelayan, kau ingat?" desis Julian yang mulai emosi.
"Kau benar, tapi ... "
Ambar yang sedang menghadap jendela kaca seketika terperangah saat melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman mereka. Diikuti beberapa mobil lainnya di belakang membuat tanda tanya di benak orang-orang, begitu pula Ambar.
"Aku tutup dulu panggilan ini," ujarnya yang kemudian langsung memutuskan panggilan itu tanpa menunggu jawaban Julian. "Mobil siapa itu?" gumam Ambar yang kemudian segera bergegas keluar hendak memberitahu Harold mengenai keberadaan mobil-mobil mewah itu.
__ADS_1
Setelah memberitahu Harold, mereka berdua pun segera keluar. Keterkejutan mereka berganti menjadi kekesalan saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil itu.
Dia adalah Rainero. Setelah memutari mobil, ia pun membukakan pintu undang istri. Shenina turun dalam mobil seraya tersenyum manis. Wajah Ambar seketika masam saat melihat penampilan Shenina saat ini. Ia benar-benar tampak cantik dan elegan. Dengan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya, belum lagi pakaian brand ternama, sepatu, perhiasan, jam tangan, semua yang melekat di tubuhnya benar-benar membuat Ambar iri. Ia sedikit menyesal mengapa tidak bersikap baik dengan Shenina saat mengetahui kehamilannya tempo hari. Setidaknya, bila saat itu ia berhasil mencuri simpati Shenina, pasti saat ini ia pun akan bergelimang harta. Hidupnya akan kian bahagia karena dikelilingi segala kemewahan.
"Ada apa kau datang kemari, hah? Belum cukup kau membuat keonaran sehingga semua orang mencemooh kami?" sentak Harold tiba-tiba yang begitu marah saat melihat keadaan Shenina yang justru baik-baik saja, berbanding terbalik dengan dirinya yang kian menyedihkan.
Penjualan barang di minimarket bukan hanya merosot tajam, tapi nyaris tak ada pembeli. Mungkin kalau barang-barang atau bahan makanan yang memiliki masa kadaluarsa cukup panjang bisa bertahan, tapi untuk bahan konsumsi yang memiliki masa kadaluarsa hanya beberapa hari seperti roti-rotian dan makanan yang cepat membusuk seperti buah-buahan tak bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Alhasil, barang-barang tersebut membusuk percuma, membuat kerugian kian membesar.
Belum lagi tagihan listrik dan air yang harus terus dibayar, bila tak ada pembeli, bagaimana ia bisa membayarnya. Bisa-bisa minimarket tersebut benar-benar gulung tikar dan itu karena ilah Shenina, seperti itulah pikiran Harold.
"Aku? Membuat keonaran?" sinis Shenina. Tak ada lagi Shenina yang diam saat disalahkan seperti ini. Sudah cukup baginya untuk mengalah. Kini saatnya ia bangkit menjadi sosok yang baru yang tidak mudah ditindas. "Apa Anda tidak salah bicara, tuan Harold?" Shenina tersenyum miring membuat mata Harold dan Ambar melotot tajam.
"Jangan sombong kau! Baru menjadi istri orang kaya saja sudah belagu."
Shenina terkekeh, "memangnya salah? Tidak kan. Yang penting yang aku pamerkan milikku sendiri. Pemberian suamiku. Bukan hasil mencuri."
"Apa maksudmu? Lekas pergi dari sini kalau kau hanya ingin membuat keributan," bentak Harold geram.
"Jangan coba-coba membentak istriku kalau kau tak ingin lidahmu ku potong lalu ku berikan alligator peliharaanku!" bentak Rainero dengan sorot mata tajam. Harold dan Ambar menelan ludahnya kasar. Membayangkan lidahnya dipotong dan diberikan kepada predator air itu membuat keduanya bergidik sendiri.
"Hak? Hak apa? Jangan sembarangan mengaku-ngaku."
Terlalu lama menikmati peninggalan ibu mertua dan istri pertamanya membuat Harold lupa akan fakta kalau rumah yang mereka tempati adalah milik Shenina. Begitu pula minimarket yang menjadi sumber penghasilannya selama ini. Dulu sebelum menikah memang Harold bekerja di kantor, tapi setelah menikah ia diminta menjalankan minimarket yang sebelumnya dijalankan oleh ibu Shenina. Ibu Shenina ingin fokus dengan rumah tangganya sehingga ia menyerahkan minimarket itu pada sang suami untuk diurus.
Shenina terkekeh sinis dan membuka kacamatanya, "Anda tentu tidak lupa kan siapa pemilik rumah dan minimarket itu?"
Harold dan Ambar terhenyak. Bagaimana Shenina bisa mengetahui fakta itu. Sementara sudah sejak lama hal itu mereka tutupi. Harold sejak lama ingin membalik nama surat kepemilikan rumah dan minimarket itu, tapi sayang ia tak kunjung menemukan surat-surat berharga itu. Ia sudah mencarinya ke segala penjuru rumah, tapi ia tak juga menemukannya.
Harold tergelak, "tentu saja pemiliknya adalah aku, siapa lagi."
Shenina menggelengkan kepalanya. Kemudian seorang anak buah Rainero maju ke depan dan menyodorkan map berisi kepemilikan rumah dan minimarket ke dada Harold. Harold pun membuka map itu dan matanya terbelalak. Ambar merebut berkas itu dan ikut terbelalak saat melihat isinya.
__ADS_1
"Bohong. Ini pasti palsu. Kau pikir bisa mengambil rumah dan minimarket itu, hah? Takkan aku biarkan."
Harold lantas merebut kembali map itu dan merobek-robeknya hingga menjadi potongan terkecil. Rainero dan Shenina tergelak melihatnya.
"Apa Anda pikir dengan merobek berkas itu dapat mengubah fakta kepemilikan rumah dan minimarket peninggalan mendiang nenek Shenina, begitu? Dasar bodoh," ejek Rainero.
"Kau, tidak usah sok ikut campur dengan urusan kami."
"Kenapa? Ini hakku. Sudah aku katakan segala hal yang menyangkut Shenina juga adalah urusanku. Dan aku akan membantu Shenina memperjuangkan haknya."
"Hak, hak, hak, sejak tadi kau bilang hak. Tapi kau lupa, aku suami dari Shena jadi tentu saja rumah dan minimarket itu sudah menjadi hakku sebagai suaminya."
"Suami siapa? Jangan bilang kau mengakui kalau kau adalah suami dari Ibuku? Berhenti menjadi pecundang. Kau bahkan mengabaikan ibuku, berselingkuh di belakangnya, mengabaikan aku yang juga merupakan darah dagingmu, lalu kau ingin menguasai peninggalan ibuku, jangan harap. Sudah cukup kalian menikmati peninggalan ibuku. Sekarang saatnya kembalikan apa yang semestinya jadi milikku. Aku beri kalian waktu 3 hari untuk segera angkat kaki dari sini. Jika tidak, ku pastikan kalian akan menyesal," tegas Shenina dengan nada mengancam.
Mata Ambar dan Harold melotot, tentu saja ia tidak terima dengan perlakuan Shenina yang mengusirnya begitu saja dari rumah itu.
"Apa hakmu mengusir kami, sialan. Rumah ini dan minimarket itu adalah milikku, bukan kau."
Shenina mengulurkan tangannya ke samping, seseorang yang berdiri di sampingnya lantas menyerahkan sebuah map kepada Shenina.
"Baca itu. Kepemilikan rumah dan minimarket telah beralih kepadaku, pewaris sah Mommy Shena jadi yang tidak berhak atas rumah dan minimarket itu adalah kalian. Jadi segera angkat kaki dari sini, sebelum aku mengusir kalian secara paksa!" tegas Shenina membuat wajah Harold merah padam.
"Dasar anak sialan. Kau pikir kau bisa mengancam kami, hah! Aku tidak takut. Menyesal aku membiarkanmu hidup. Seharusnya aku sudah mencekik mati dirimu sejak dulu, menyusul ibumu yang jalaang itu," amuk Harold sambil berusaha ingin memukul Shenina.
Tapi anak buah Rainero bergerak cepat dan menghalanginya.
Rainero yang tidak terima dengan kata-kata kasar dan makian Harold pun meminta orang-orangnya menghajar Harold. Shenina yang mendapatkan makian itu berusaha menelan rasa sakit hatinya. Bersikap acuh tak acuh, Shenina segera membalikkan badannya untuk pergi dari sana.
Sementara Ambar, ia sibuk menjerit meminta orang-orang Rainero menghentikan pukulannya, tapi mereka tidak menggubris. Setelah melihat Harold terkapar tak berdaya mereka pun menghentikan pukulan mereka.
"Turuti perintah tuan kami, kalau tidak kami akan berbuat yang lebih kejam dari ini!" bentak anak buah Rainero sebelum membalikkan badannya meninggalkan Harold yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...