
Shenina baru saja memejamkan matanya. Namun seketika ia tersentak saat sekelebat ingatan mampir di benaknya.
"Ada apa, Sweety? Apa kau bermimpi?" tanya Rainero yang segera meletakkan laptop di atas meja dan menghampirinya. Meskipun matanya terfokus pada layar segi empat di depannya, tapi hal itu tak membuat ia abai akan segala pergerakan Shenina yang tertidur di atas ranjang rumah sakit.
Nafas Shenina terengah. Peluh sebesar biji jagung mengalir di dahinya.
"Rain," panggil Shenina sambil menarik nafas panjang.
"Hmmm? Kenapa? Apa kau bermimpi buruk?" tanya Rainero khawatir. Bahkan ia sudah duduk di samping Shenina dan mendekapnya
"Rain, seingat ku saat aku di sekap, daddy sempat datang. Apa yang terjadi padanya? Dimana dia? Apa penculikan itu ada hubungan dengannya?" cecar Shenina penasaran dengan apa yang ayahnya lakukan di gedung tua itu. Meskipun ia sedikit mendengar perkelahian antara Harold dan Hose, tapi ada tetap saja ia tidak bisa mengambil kesimpulan. Benarkah ayahnya ingin menyelamatkannya? Atau semua itu hanya sekedar sandiwaranya saja.
Rainero yang mendengar pertanyaan itu pun menghela nafas panjang. Mungkin inilah saatnya ia mengatakan yang sebenarnya.
"Ya, malam itu Daddy-mu memang ada di sana. Tapi penculikan itu tidak ada hubungan sama sekali dengannya. Tuan Harold tidak terlibat sama sekali. Justru sebaliknya, ia mencoba menyelamatkanmu. Bahkan, berkat tuan Harold lah aku bisa menemukanmu," singkat cerita Rainero.
Shenina mengangguk. Ia tidak terharu sedikitpun. Mungkin inilah yang dinamakan mati rasa. Meskipun ia telah mendengar kalau ayahnya mencoba menyelamatkannya, tapi ia merasa biasa saja.
"Lantas, dimana dia?" tanya Shenina hahya sekedar ingin tahu.
"Dia ... Ada di rumah sakit yang sama denganmu."
Shenina mengerutkan keningnya, "maksudnya?"
"Dia sempat terkena tusukan di punggungnya. Jadi ia mendapatkan perawatan di sini."
Mata Shenina seketika terbelalak. Ia benar-benar terkejut, tak menyangka kalau ayahnya tengah dirawat di rumah sakit yang sama dengannya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya sekarang? Dia ... baik-baik saja kan?" tanya Shenina memastikan. Meskipun ia kecewa dan telah hilang rasa pada sang ayah, namun ada sepercik kepedulian padanya. Entah karena khawatir atau hanya rasa tak enak sebab Harold mengalami itu karena berusaha menyelamatkannya.
Rainero tersenyum lembut, "sebelumnya, selepas operasi tuan Harold memang sempat tak sadarkan diri, bahkan berjam-jam membuat dokter menyatakan kalau ia koma. Tapi setelah beberapa jam kemudian, atau lebih tepatnya sore tadi tuan Harold sudah sadarkan diri. Jadi kau tak perlu khawatir lagi, Sweety. Semua telah baik-baik saja. Bahkan orang-orang yang berusaha menyakitimu dan mommy telah ditangkap. Tak ada yang bisa membebaskan mereka selain diriku sendiri. Jadi kau tenang saja, oke?" ujar Rainero menenangkan. Lalu ia kembali memeluk Shenina sambil mengecupi puncak kepalanya tanpa merasa bosan sama sekali. Bagi Rainero, Shenina lebih dari candu. Tidak bisa melihat dan mendengar suara Shenina satu hari saja, bisa membuatnya nyaris gila. Gila karena rindu.
Sementara Rainero terus memberikan kecupan demi kecupan di puncak kepala Shenina, Shenina justru sedang termangu. Masih ada rasa tak percaya kalau ayahnya bisa melakukan hal seperti itu. Mencinta menyelamatkannya. Bagaimana ia tidak meragu sebab selama bertahun-tahun, Harold tak pernah sekalipun menunjukkan rasa kasihnya pada Shenina. Tak pernah Harold peduli apa yang ia alami dan rasakan. Bahkan saat Shenina sakit sekalipun, Harold tidak pernah peduli.
Shenina putri dari Harold, tapi ia sudah seperti orang asing di mata laki-laki paruh baya itu. Hal itu jua yang membuat Harold terasa asing bukan hanya di mata, tapi juga di hati Shenina. Seatap tapi tak dianggap.
Dulu sekali, Shenina pernah berharap kasih sayang dan perhatian dari sang ayah, tapi ayahnya tak pernah sekalipun memberikan apa yang ia harap. Sejak saat itu, Shenina menutup hatinya rapat-rapat.
Keesokan harinya, Shenina dan Rainero pun berkunjung ke ruangan dimana Harold dirawat. Rainero tidak mengizinkan Shenina berjalan. Jadi ia meminta Shenina duduk di atas kursi roda dan mendorongnya.
Sebenarnya Shenina masih enggan bertemu dengan Harold. Rasa sakit yang Harold berikan padanya selama bertahun-tahun sepertinya sulit untuk ia sembuhkan meskipun Harold sudah mencoba menyelamatkan Shenina dari penculikan. Namun karena rasa kemanusiaannya yang besar, ia pun menyanggupi keinginan Harold tersebut.
"Kau siap?" tanya Rainero saat mereka telah berdiri di depan ruangan Harold.
Harold yang sedang melamun dengan tatapan terarah ke langit-langit kamar, seketika tersentak saat terdengar suara pintu terbuka. Matanya seketika terbelalak. Kaca bening pun langsung muncul di kedua netranya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ada rasa sedih, takut, khawatir, malu, semua rasa menjadi satu saat melihat wajah anak yang selama ini tak pernah ia anggap dan ia sia-siakan masuk ke dalam ruangannya.
"Shenina," panggil Harold dengan bibir bergetar. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu, atau lebih tepatnya setelah mengetahui fakta kalau Shena tidak bersalah, Harold ingin sekali bertemu dengan Shenina. Tapi ia malu. Benar-benar malu. Kesalahannya begitu besar membuatnya benar-benar malu untuk bertemu dengan putri kandungnya itu. Ia sadar, ia tak pantas untuk mendapatkan pengampunan sebab apa yang ia lakukan selama ini sudah sangat-sangat keterlaluan.
"Ada apa tuan ingin bertemu dengan saya?" tanya Shenina datar. Harold tertegun mendengar pertanyaan bernada datar dan formal itu keluar dari bibir sang anak. Rasa asing itu membuat dadanya sesak. Harold sadar, ini semua adalah buah kesalahannya.
"Daddy hanya ingin ... "
"Bila Anda ingin menanyakan keadaanku, aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah mencoba menyelamatkanku." Shenina mengucapkan itu sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Harold sampai tertegun di tempatnya. Ternyata jarak yang terbentang antara dirinya dan Shenina begitu luas membuatnya kesulitan untuk menjangkau putrinya sendiri.
"Kalau tak ada yang ingin Anda sampaikan lagi, saya permisi," ucapnya sambil meminta Rainero memutar kursi rodanya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Rainero pun melakukan apa yang Shenina minta. Mereka keluar, meninggalkan Harold yang kini tergugu dalam kesendirian.
"Shenina, maafkan Daddy," lirihnya dengan mata memerah. Sekali kedip, air mata itupun luruh. Ia tak dapat membendung segala rasa, ia benar-benar menyesal telah mengecewakan putrinya sedemikian dalam.
Sementara itu, sepanjang Rainero mendorong kursi roda, hanya ada keheningan. Rainero paham, hati Shenina tidak baik-baik saja. Meskipun Shenina mengatakan ia telah mati rasa, namun ikatan batin antara anak pada sang ayah itu masih ada. Dada Shenina pun sesak saat berkata seperti itu. Apalagi saat melihat sorot mata sang ayah yang ia tahu penuh dengan rasa penyesalan. Tapi Shenina hanya manusia biasa. Ia bukanlah orang yang suci yang bisa begitu saja memaafkan perbuatan sang ayah padanya. Bukan satu dua hari atau satu dua bulan ayahnya mengabaikannya, tapi bertahun-tahun. Ia yakin, siapapun itu pasti akan merasakan hal yang sama bila mengalami apa yang ia alami selama ini. Sakit dan kecewa.
"Rain, apa sikapku tadi sangat keterlaluan?" tanya Shenina dengan tatapan kosongnya.
Rainero tidak mau menghakimi sikap Shenina. Baginya wajar jika Shenina bersikap seperti itu setelah apa yang ia alami selama ini. Jadi ia pun menggenggam tangan Shenina untuk menguatkannya.
"Aku tidak menyalahkan sikapmu itu. Aku serahkan segalanya padamu. Aku tak bisa memaksamu memaafkan tuan Harold. Sebab aku sendiri yakin bila aku yang berada di posisimu, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Yang penting sekarang, jangan banyak pikiran. Ingat, sekarang kau memiliki tiga bayi yang butuh perhatian dan kasih sayangmu itu."
"Hah, tiga bayi? Bukankah bayi kita kembar dua? Kenapa bisa tiba-tiba menjadi 3?" tanya Shenina bingung. "Apa sebenarnya aku telah melahirkan 3 orang anak?" imbuhnya lagi.
Rainero tersenyum lebar, "tidak. Kau hanya melahirkan dua orang anak."
"Lalu ... Kenapa bisa jadi 3?"
"Karena aku bayi satunya. Hahaha ... " seloroh Rainero membuat Shenina mendelik.
"Bayi tua, huh? Dasar gila."
"Iya, aku memang sudah gila. Gila karena cintamu," ujarnya sambil memainkan kedua alisnya. Shenina mendengus, lalu ikut terkekeh geli. Rainero pun segera mendekap tubuh Shenina dan mengecup dahinya dengan penuh cinta.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1