
Kini keluarga Sanches sedang berkumpul bersama setelah melakukan makan malam di kediaman Ranveer. Di saat berkumpul itu juga, Reeves menceritakan mengenai Rose yang telah diperdaya Hose. Hose sendiri ternyata ayah kandung Rose, sebuah fakta tak terduga yang begitu mengejutkan keluarga Sanches.
"Jadi bagaimana Mom, apa Mom akan memaafkan kesalahan Rose? Seperti yang kita tahu, Rose sebenarnya tidak bersalah dalam hal ini. Ia hanya termakan tipu daya Hose yang dendam terhadap daddy," tanya Rainero.
Delena diam sejenak, kemudian ia tersenyum tipis.
"Rose memang tidak bersalah sepenuhnya, tapi tetap saja dia telah melakukan kesalahan dengan menculik mommy, Shenina, dan Gladys. Beruntung kami berhasil diselamatkan, bila tidak? Memaafkan itu memang perlu, tapi bukan untuk mencabut laporan kita. Itu adalah konsekuensi dari perbuatannya. Ia melakukan kejahatan itu dengan sadar, jadi iapun harus mendapatkan hukuman secara sadar. Tapi mungkin Mommy akan meminta keringanan hukuman. Semoga setelah ini Rose bisa bersikap lebih bijak."
Reeves yang mendengar jawaban Delena mau tak mau menambah rasa kekagumannya. Apalagi setelah kejadian itu, Delena tidak pernah sama sekali menyalahkannya. Reeves sampai merasa malu sendiri. Karena perbuatannya di masa lalu, nyawa istri tercintanya dan juga menantunya nyaris saja melayang. Seharusnya Delena marah padanya, tapi nyatanya tidak. Reeves merasa begitu menyesal, mengapa dulu pernah menyia-nyiakan Delena demi perempuan seperti Levinson. Beruntung ia masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, bila tidak, mungkin ia akan hidup dalam penyesalan seumur hidup.
"Bagaimana Reeves menantu pilihan Daddy? Apa kau masih mau menyia-nyiakannya?" tanya. Ranveer membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Reeves terperanjat mendapatkan pertanyaan tersebut.
"Dad, Daddy tahu kan aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan istriku. Aku sadar, istriku adalah perempuan terbaik untuk menjadi pendampingku. Sejak hari itu, aku sudah benar-benar berubah. Aku takkan menyia-nyiakan apalagi mengecewakannya. Reeves yang benar-benar mencintai Delena dan Reeves berjanji hanya akan setia pada Delena seorang," ucap Reeves penuh kesungguhan.
Ranveer mengangguk. Lalu pria tua itu mengarahkan pandangannya ke arah Rainero dan Shenina juga Justin dan Delianza.
"Kalian, Grandpa harap bisa menjaga keutuhan rumah tangga kalian. Setiap orang memang memiliki masa lalu. Namun terkadang ujian itu tak melulu berasal dari orang masa lalu, kadang ada juga orang yang baru datang dan berusaha memporak-porandakan keutuhan rumah tangga kalian. Namun grandpa harap, kalian bisa terus menjaga keutuhan rumah tangga kalian ini. Jadikan kejadian yang menimpa Reeves dan Delena sebagai pelajaran. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pertengkaran dan perselisihan itu wajar dalam berumah tangga, tapi jangan jadikan hal tersebut kelemahan kalian. Ingat, kejujuran, kesetiaan, dan sikap saling pengertian merupakan pondasi dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga dan Grandpa harap kalian bisa mempertahankan itu," nasihat Ranveer pada anak dan cucunya.
"Baik, Dad."
"Baik, Grandpa."
Sahut semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
...***...
Kini Rainero dan Shenina telah berada di kamar Rainero di kediaman Ranveer. Mereka memang diminta menginap semalam di sana. Keduanya kini tengah duduk sambil menonton televisi di kamar yang begitu luas tersebut.
"Sweety, tadi aku mendapatkan kabar dari orang-orang ku kalau ayahmu berkeliling mencari pekerjaan."
__ADS_1
Shenina yang tadinya menyandarkan kepalanya di dada Rainero segera mendongakkan kepalanya.
"Lalu ... bagaimana? Apa ... Daddy berhasil mendapatkan pekerjaan?" Ada rasa tak tega di benak Shenina mendengar sang ayah justru berkeliling mencari pekerjaan. Bukankah semestinya di usia tuanya ayahnya itu beristirahat. Tapi ... Shenina sadar, mungkin kebutuhan hiduplah yang mendesak Harold melakukan itu. Apalagi selama ini ia hanya bekerja di minimarket jadi ia nyaris tak memiliki pengalaman apapun selama puluhan tahun ini.
Rainero menggeleng, "usia ayahmu sudah terlalu tua jadi ia kesulitan mendapatkan pekerjaan."
Shenina menghela nafas panjang. Ia lantas berpikir, "sayang, bagaimana menurutmu kalau aku meminta daddy mengelola minimarket itu lagi?"
Rainero tersenyum, "terserah padamu. Minimarket itu sekarang milikmu. Tapi seperti yang kita tahu, selama ini ayahmu telah mendedikasikan dirinya untuk minimarket tersebut jadi tidak ada salahnya kalau kau ingin melakukan itu."
Shenina tersenyum ceria. Sebenarnya Shenina telah memaafkan kesalahan ayahnya, tapi memaafkan bukan berarti melupakan. Apa yang Harold lakukan selama ini telah menorehkan luka begitu dalam pada Shenina. Oleh sebab itu, ia belum mampu bersikap selayaknya ayah dan anak. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Kadangkala menjaga jarak lebih baik daripada terpaksa mendekat namun hati tak nyaman karena ingatan masa lalu. Oleh sebab itu, Shenina pun menyerahkan segalanya pada Rainero. Ia meminta Rainero menemui ayahnya dan memintanya kembali mengelola minimarket seperti dahulu. Namun dengan pengaturan yang Rainero lakukan. Bila dahulu keuntungan seratus persen masuk ke kantong Harold, maka kali ini akan ada pembagian hasil.
Sebenarnya Rainero tidak membutuhkan uang dari minimarket tersebut. Shenina bahkan tak pernah mengambilnya meskipun minimarket tersebut telah ada di tangannya dari beberapa bulan yang lalu. Apalagi dibandingkan dengan keuntungan yang ia dapatkan dari perusahaannya, uang yang minimarket itu hasilkan hanyalah nol koma sepersekian persen. Tapi tetap saja Rainero melakukan itu untuk mengajarkan Harold akan arti tanggung jawab. Keuntungan tersebut mereka kumpulkan dan akan mereka sumbangkan ke lembaga-lembaga sosial yang membutuhkan seperti panti asuhan dan panti jompo yang ada di sekitar sana.
...***...
Harold tergugu saat Rainero menemuinya dan memintanya mengelola minimarket peninggalan mendiang istrinya itu. Ia tidak menyangka kalau secara diam-diam Shenina dan Rainero memperhatikan dirinya. Ingin rasanya Harold menemui dan memeluk putri kandungnya tersebut sambil mengucapkan sejuta kata maaf atas luka yang selama ini ia torehkan. Tapi sayang, putrinya masih belum sanggup bertemu dengannya. Harold tak apa. Ia maklum sebab ia sadar betapa besar luka yang ia torehkan pada putri semata wayangnya tersebut.
"Rain, panggil saja aku Rain."
"Ah, iya, Rain. Katakan pada Shenina, terima kasih." Rainero mengangguk, kemudian Harold kembali berbicara. "Lalu katakan padanya, daddy minta maaf. Mungkin kata maaf saja tak bisa menebus segala kesalahan Daddy. Namun hanya itu yang bisa daddy lakukan. Daddy benar-benar menyesal. Maafkan daddy."
Harold terisak. Air matanya menetes. Ia benar-benar menyesali semua kesalahan dan kebodohannya.
Tanpa Harold sadari, Shenina melihat sekaligus mendengar permintaan maaf Harold. Rainero dan Harold bertemu di cafe yang berada tepat di sebelah minimarket. Shenina duduk membelakangi Harold agar laki-laki itu tidak menyadari keberadaannya. Memang semua itu telah direncanakan Shenina dan Rainero.
Dalam diam, Shenina pun ikut meneteskan air mata.
"Maafkan aku, Dad karena aku belum siap menemui mu," lirih Shenina pelan sambil mengusap kasar air matanya.
...***...
__ADS_1
Di lain tempat, tampak Adisti turun dari ranjangnya dengan perlahan. Hari sudah cukup larut, namun Adisti tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Ia tidak seorang diri di kamar itu. Ada seorang perawat yang dipekerjakan Eleanor untuk menjaganya. Sedangkan Eleanor menemani Mark di ruangannya.
Diliriknya suster yang usianya tak jauh berbeda dengannya itu telah tertidur pulas. Adisti lantas dengan perlahan membuka pintu dan keluar dari dalam sana. Tujuannya tak lain adalah ruangan Mark. Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Mark.
Ceklek
Adisti membuka pintu kamar Mark secara perlahan. Adisti melirik ke sekitar, ternyata Mark sendirian di dalam sana. Adisti tersenyum lega saat tidak mendapati Eleanor di dalam sana. Artinya ia bisa memiliki banyak waktu berdua dengan Mark.
Adisti lantas duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Dipandanginya Mark yang matanya masih terpejam. Lalu ia meraih telapak tangan Mark dan menggenggamnya.
"Mark, sampai kapan kau akan terus memejamkan matamu? Apa kau tidak merindukan aku?" lirih Adisti yang memang belum tahu kalau Mark sebenarnya telah sadarkan diri. Bahkan ia telah dinyatakan baik-baik saja. Hanya kakinya saja yang masih memerlukan perawatan dan terapi agar bisa kembali berjalan seperti sedia kala.
"Mark, bangunlah. Aku merindukanmu," ucap Adisti lagi.
"Mark, katanya mau mencintai aku? Kalau iya, kenapa kau tidak bangun-bangun juga? Apa kau ingin aku menikah dengan Jevian? Oh ya, siang tadi Jevian menemui ku. Dia meminta maaf atas perbuatan ibunya yang telah membuat kita celaka. Kau tahu Mark, aku kasihan sekali dengannya. Karena ulah ibunya, semua keluarganya menjauhinya, ayahnya terkena serangan jantung, dan perusahaannya nyaris gulung tikar. Keadaannya tidak baik-baik saja, tapi ia tetap berusaha bersikap tegar di hadapanku. Aku jadi tidak tega. Dia sendirian sekarang. Aku jadi berpikir, bagaimana kalau aku menikah dengannya saja. Biar dia tidak sendiri lagi. Kau juga tidak mau membuka matamu sama sekali. Bagaimana Mark, tidak masalah kan kalau aku menikah dengannya?"
"TIDAK BOLEH! YANG BOLEH MENIKAH DENGANMU HANYALAH AKU," seru seseorang dengan suara begitu lantang membuat Adisti seketika terperanjat. Apalagi saat matanya bersirobok dengan netra laki-laki yang tadinya memejamkan mata itu.
"Mark ... Kau ... "
"Kita akan segera menikah. Kalau perlu besok agar kau tidak memiliki kesempatan untuk menikah dengan laki-laki lain," putus Mark tiba-tiba membuat mata Adisti seketika melotot.
"Mark ... "
"Tak ada bantahan. Because you are mine. Dan akan selalu begitu."
...***...
Sebenarnya sedang gk mood nulis soalnya ada yang laporin karya othor karena katanya gk sesuai inilah itulah. Hmmm ... bikin down aja. Belum lagi ada yang rate 1 bintang padahal bukan pembaca, entah apa sebabnya. πππ
__ADS_1
...HAPPY READING π₯°π₯°π₯°...