Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 119


__ADS_3

Sepanjang malam baik Mark maupun Adisti tidak bisa tidur. Pikiran mereka sibuk menerawang pada kejadian yang yang baru beberapa waktu lalu terjadi. Sebuah lamaran yang indah, namun sayang tidak berakhir seindah harapan.


"Orang tua ya? Benar juga. Bagaimana kalau padre dan madre tidak mau menerima Adisti sebagai calon istriku?" gumam Mark. "Bagaimanapun aku tak ingin membuat Adisti semakin terpuruk. Ah, daripada menduga-duga tak jelas seperti ini, lebih baik aku segera hubungi Padre dan Madre," gumam Mark yang segera mengambil ponselnya.


Namun, baru saja Mark hendak menghubungi kedua orang tuanya, tiba-tiba ia tersadar kalau jarum jam sudah menunjukkan waktu dini hari. Mark pun mengurungkan niatnya menghubungi kedua orang tuanya sebab ia tak ingin mengganggu waktu istirahat mereka.


Sama seperti Mark, Adisti pun gelisah. Seandainya Mark masih sopir biasa seperti dahulu, mungkin ia akan mempertimbangkan lamarnya. Tapi, setelah mengetahui kalau Mark bukanlah orang sembarangan, Adisti mendadak insecure. Terlalu banyak yang menjadi bahan pertimbangannya dan ia tak ingin mengulang kejadian yang sama sebab ia tak yakin setelah ini ada seseorang yang mampu menyelamatkannya bila lagi-lagi harus mengalami penghinaan dari orang-orang kaya.


Keesokan harinya, Adisti tetap bekerja seperti biasa. Begitu pula Mark. Tapi hari ini Mark tidak menjemput Adisti sebab ia harus datang pagi-pagi sekali ke kediaman Rainero.


"Mark, bisa kita bicara sebentar?" tanya Axton pada Mark.


Mark pun mengangguk, "silahkan, tuan. Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Mark heran.


Lalu Axton pun mengajaknya ke ruangan Rainero agar mereka bisa berbicara lebih santai.


"Begini Mark, sekarang sedang heboh masalah perusahaan Alv Company yang menarik semua investasinya di perusahaan milik orang tua Jevian. Bukankah Alv Company milik keluargamu? Apa kau tahu kenapa Alv Company tiba-tiba menarik investasinya?" tanya Axton saat melihat yang begitu penasaran. Apalagi Jevian adalah sahabatnya, membuatnya bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi?


Mark menghela nafas panjang, "itu atas permintaanku sendiri."


"Apa? Kenapa? Apa kau memiliki masalah dengan Jevian?" cecar Axton kian penasaran.


"Ya, masalah yang cukup besar. Ini akibat arogansi keluarganya sendiri. Jadi tanggung sendiri akibatnya. Aku sudah memperingatkan mereka, tapi mereka tetap saja berlaku semaunya. Jadi jangan salahkan aku kalau mereka mengalami semua ini. Segala sesuatu ada konsekuensinya, bukan." Mark memaparkan dengan santai. Membuat Rainero yang tadi duduk di kursi kebesarannya pun ikut penasaran.


"Memangnya apa yang telah keluarga mereka lakukan hingga kau bertindak sejauh ini?" tanya Rainero akhirnya.


"Ibunya, bibinya, bahkan hampir semua anggota keluarganya telah merendahkan Adisti. Menghinanya secara terang-terangan di hadapan semua orang. Apakah aku harus diam saja saat mereka melakukan perbuatan tercela itu pada Adisti?" Terdengar geraman dari mulut Mark. Bahkan sorot matanya merah, tampak berapi-api menunjukkan betapa besar kemarahan Mark akan apa yang Adisti alami.


Rainero dan Axton tercengang. Bila ia di posisi Mark, mereka pun takkan tinggal diam. Apalagi Adisti sudah seperti anggota keluarga mereka sendiri. Pantas saja beberapa hari ini Jevian tak menunjukkan batang hidungnya. Ia seperti menghilang ditelan bumi. Mungkin ia malu bertemu dengan Rainero dan Axton. Apalagi Jevian tahu seperti apa hubungan antara Adisti dengan Shenina dan Gladys.


"Tapi yang membuatku penasaran, kenapa kau sampai mau bertindak sejauh ini? Apa kau memiliki hubungan spesial dengan Adisti?" Axton kembali bertanya.


Senyum kecil terbit di bibir merah kehitaman Mark, "ya, aku menginginkan Adisti menjadi istriku."

__ADS_1


Axton melotot, sedangkan Rainero tampak begitu tenang sebab sudah sejak lama memang ia menaruh curiga pada Mark. Beberapa kali Rainero memergoki Mark yang menatap Adisti dengan penuh arti. Jelas ia tahu arti tatapan itu.


...***...


"Hello Madre, apa kabar?" sapa Mark saat panggilannya diangkat sang ibu.


"Setelah lebih dari dua tahun menghilang dan tak kunjung pulang, akhirnya kau menghubungi Madre lagi? Apa kau sudah sembuh dari amnesiamu?" omel ibu Mark.


Mark terkekeh, "sorry, Madre. I Miss you so much."


"Kalau kau memang merindukan wanita tua ini, kenapa tidak kunjung pulang, hah? Apa isi baru akan kembali setelah mendengar berita kematianku?"


"Madre, please, jangan bicara seperti itu!" melas Mark merasa bersalah karena pergi begitu saja kemudian menghilang.


"Beberapa hari yang lalu kau bisa menelpon Padre, tapi kenapa Madre tidak kau hubungi, heh?"


"Aku sedang ada urusan dengan Padre. Urgent."


"Cih, menyebalkan! Kenapa kau menghubungi Madre? Tak perlu berbasa-basi," ketus ibu Mark.


Ibu Mark sontak tercengang dengan pertanyaan out of the box dari sang putra.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu? Atau jangan-jangan ... " Senyum ibu Mark pun seketika merekah.


"Doakan saja, Madre. Semua tergantung kalian. Karena itu, beritahu aku kriteria calon menantu kalian?"


Ibu Mark terkekeh, "kau tahu, baik Madre maupun Padre tidak memiliki kriteria khusus. Namun poin pentingnya adalah gadis itu baik, jujur, dan bertanggung jawab serta setia. Masalah cantik, asal ada yang semua perempuan pun bisa jadi cantik."


"Kalau status sosial? Bagaimana kalau gadis itu kalangan biasa? Yatim piatu? Miskin?"


"Kita sudah kaya, Mark, untuk apa lagi mencari gadis dari keluarga kaya? Kau sendiri, tanpa perlu repot bekerja, uangmu sudah mengalir tanpa jeda, bukan. Hanya kau saja yang senang bermain-main di luar sana. Di Indonesia kau malah menjadi patung manusia silver, lalu tukang ojek online. Terakhir sopir taksi hingga bertemu dengan tuan muda keluarga Sanches yang kemudian dijadikannya sopir pribadi. Kau ini ... Benar-benar ... " gigi ibu Mark bergemeletuk kesal, tapi ia tidak bisa melarang. Yang penting anaknya tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum pikirnya. Ia membiarkannya saja. Apalagi ia tahu hal itu merupakan cara Mark untuk mengobati patah hatinya sehingga ia memilih melakukan hal-hal yang aneh untuk menghilangkan kegabutannya. Mark hanya terkekeh. Ia sudah tidak heran kalau ibunya mengetahui segala yang ia lakukan. Bukan tidak mungkin, ibunya pun sudah tahu tentang Adisti.


"Ekhem, kita lanjut lagi. Kau bilang tadi, bagaimana kalau ia yatim piatu? Kalau ia yatim piatu, artinya tugas Madre dan Padre lah yang memberikannya kasih sayang untuk menggantikan kedua orang tuanya. Kita tidak boleh memandang rendah orang lain, Mark. Karena roda itu tidak selalu di atas. Jangan kau tiru keluarga Austin itu. Madre justru bangga atas tindakanmu. Mereka memang harus mendapatkan pelajaran agar tidak semena-mena di kemudian hari," tukas ibu Mark yang juga sudah mendapatkan cerita dari sang suami kalau Mark memintanya mencabut semua investasi di perusahaan Austin. Walaupun belum mendapatkan informasi yang lebih lengkap karena orang-orang suruhannya hanya bertugas mengawasi dari jauh, tapi secara garis besar ia telah mengetahuinya.

__ADS_1


Marquez Alvernon atau lebih sering disapa Mark itupun tersenyum lebar. Dapat ia simpulkan kalau orang tuanya akan menerima Adisti dengan tangan terbuka tanpa memedulikan status sosial maupun asal usulnya.


"Thank you, Madre. Kau memang yang terbaik."


"Ya, ya, ya, tapi Madre tidak butuh pujianmu."


"Lantas, apa yang Madre mau?"


"Ingat perjanjianmu dengan Padre?"


Ya, Mark memang memiliki perjanjian pada sang ayah. Salah satu syarat agar sang ayah mau membantunya menarik investasi di perusahaan milik Austin, ayah Jevian adalah dengan segera kembali ke negaranya dan mau memimpin salah satu perusahaannya. Mark pun setuju, tapi tidak dalam waktu dekat sebab ia masih memiliki tujuan yang belum tercapai. Tentu para pembaca dapat menebak apa itu?


"Madre tenang saja, bila tujuan Mark telah tercapai, Mark akan segera kembali."


Setelah berbincang beberapa saat, Mark pun segera menutup panggilannya.


...***...


Adisti baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Kini ia tengah bersiap untuk pulang. Karena jarak restoran dan gedung apartemennya tidak begitu jauh, pun hari belum terlalu gelap, Adisti pun memilih pulang dengan berjalan kaki.


Namun saat sedang berjalan di sebuah jalan kecil, tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya dari belakang. Tiba-tiba Adisti kehilangan kesadarannya. Lalu seseorang yang membekapnya itu memasukkan Adisti dengan kasar ke dalam mobil. Setelahnya, mobil pun dilajukan sekencang mungkin ke suatu tempat.


"Bagaimana?"


"Saya sudah mendapatkannya."


"Bagus. Lakukan sesuai rencana. Ingat, jangan sampai meninggal jejak!"


"Baik."


Klik ...


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2