
Mobil yang ditumpangi Jevian, Roseline, dan Jefrey akhirnya tiba di perusahaan J Company. Jevian turun terlebih dahulu, kemudian dengan segera ia membukakan pintu untuk Roseline disusul oleh Jefrey setelahnya.
Jelas saja hal itu menjadi perhatian hampir semua orang yang ada di sana. Otak mereka sibuk menerka-nerka, jangan-jangan perempuan itu adalah ...
Jevian pun segera menggandeng tangan Roseline. Roseline sampai terpaku melihat telapak tangannya dalam genggaman hangat tangan Jevian.
"Jev, lepas! Malu ih!" bisik Roseline.
Jevian lantas menoleh, "malu? Kenapa? Memangnya aku menggandeng istri orang jadi aku harus malu?"
Roseline mencebikkan bibirnya, ada saja jawaban laki-laki itu.
"Tapi semua karyawan kami jadi merhatiin kita. Nanti apa kata mereka kalau ... "
"Tak perlu pikirkan kata-kata orang. Yang mau sama kamu itu aku. Yang mau menjalin hubungan dengan kamu juga itu adalah aku. Kalau aku mau menggandeng tangan kamu, memangnya kenapa? Salahnya dimana? Toh kau adalah ... " Jevian lantas mengikis jarak hingga wajah mereka nyaris tak berjarak. "... calon istriku."
Blusshhh ...
Wajah cantik Roseline seketika memerah. Karena jarak yang terlalu dekat, membuat pergerakan mereka terlihat ambigu. Bahkan dari posisi lain tampak kalau mereka sedang berciuman.
"Aaaakkk ... Pak Jev kok jadi romantis sekali seperti itu sih? Beruntung sekali perempuan itu," pekik beberapa karyawan J Company yang mengira kalau Jevian tengah mencium Roseline.
Padahal di antara mereka ada Jefrey, tapi keberadaan bocah kecil itu seakan tak terlihat membuatnya mencebik kesal.
"Daddy, dari tadi ganggu mommy terus. Kapan kita sampainya. Katanya nanti Jefrey akan memiliki banyak teman, mana?" omel Jefrey membuat kedua orang itu terkesiap kemudian terkekeh.
"Ooops, sorry. Oke, boy, kita let's go!" seru Jevian membuat dahi Roseline berkerut.
"Jev, kamu bilang ke Jefrey kalau dia akan memiliki banyak teman, disini? Jangan membiasakan membohongi Jefrey. Memangnya ini taman bermain jadi dia bisa bertemu banyak teman."
Jevian tersenyum penuh arti, "memang dia akan bertemu banyak teman kok. Kau tidak percaya?"
Roseline mengedikkan bahunya acuh. Malas mendebat Jevian jadi ia memilih diam.
Jefrey barusan dibawa sekertaris Jevian entah kemana.. Sungguh Roseline bingung dengan sikap Jevian kali ini.
__ADS_1
"Semuanya sudah siap, Tuan," lapor Matson membuat mata Roseline membulat.
"Kau sudah sehat, Matson?"
"Sudah, Nyonya. Semua berkat anda dan tuan."
"Memangnya aku kenapa?" beo Roseline lagi-lagi bingung.
"Jadi semua sudah rampung?" potong Jevian yang diangguki Matson. "Kalau mereka?"
"Mereka sudah menunggu di ruang meeting, Tuan."
Jevian mengangguk, "ayo!" ajak Jevian pada Roseline.
"Kau ada rapat? Lebih baik aku tunggu di ruangan mu saja atau ruang tunggu biar aku tidak ... "
"Ayo, ikutlah denganku!"
"Tapi ... "
Jevian tersenyum penuh arti saat ia dan Roseline telah berdiri di depan pintu ruang meeting. Sungguh, Roseline benar-benar bingung dengan sikap Jevian hari ini. Ia diminta ikut ke perusahaan. Jefrey diminta ikut sekretarisnya. Lalu ia yang dibawa ke ruang rapat. Apa karena ia beberapa kali membantu menyelesaikan pekerjaan kantor laki-laki itu jadi ia pun ingin meminta bantuannya menghadapi kliennya? Tapi kenapa tidak berkata terus terang saja? Mengapa ia justru ...
Roseline mematung. Matanya mengerjap polos seperti seorang anak kecil yang terkejut melihat kejutan luar biasa di depannya. Ada rasa percaya dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Benarkah orang-orang yang dilihatnya saat ini nyata?
"Ya ampun, Rose, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi," seru Delena yang sudah mendekat ke arah Roseline kemudian menggenggam kedua tangannya.
"Nyo-nyonya ... Ini ... benar-benar Anda?" cicitnya ragu sekaligus bingung. Segala rasa campur aduk memenuhi benaknya saat ini.
Delena tersenyum lembut, "apa kau tidak merindukan ku?"
Mendengar kata-kata itu, Roseline merasa ia seperti dalam mimpi. Bahkan kini ia memperhatikan kedua tangannya yang digenggam Delena. Hangat dan nyaman. Semua tampak nyata. Bukan mimpi seperti yang ia duga.
"Jadi ini ... benar-benar Anda?" cicitnya serak. Bahkan mata Roseline kini sudah diselimuti awan berkabut.
Delena mengangguk. Matanya pun berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akhirnya bertemu kembali dengan Roseline, mantan asisten pribadinya yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.
__ADS_1
Delena lantas merentangkan kedua tangannya, kemudian Roseline pun segera masuk ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama. Roseline pun benar-benar tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Delena, mantan atasan yang pernah ia khianati. Ia yang sebelumnya merasa amat sangat malu bertemu dengan Delena, seketika merasakan haru yang luar biasa. Bagaimana bisa ada seseorang yang begitu baik seperti ini. Setelah ia khianati, tapi ia masih mau menerimanya dengan baik seolah tak pernah terjadi sesuatu apapun dengan mereka sebelumnya.
Kini Roseline dan Jevian tengah duduk di ruang meeting. Di sana bukan hanya ada Delena, tapi juga ada Reeves, Rainero, Shenina, Axton, Gladys, Mark, dan Adisti. Kepalanya tertunduk. Ia merasa malu. Ia sudah seperti di ruang sidang saat ini.
"Kenapa kau terus menundukkan kepalamu? Apa kau melihat uang di bawah sana? Bukankah calon suamimu punya banyak uang?" seloroh Delena yang ingin memecah kecanggungan di ruangan tersebut.
"Nyonya, aku ... aku hanya ... "
"Kami mengerti. Kami paham. Kau merasa malu dan canggung, bukan? Rose, kau memang pernah bersalah, tapi semua bukan salahmu sepenuhnya. Lagipula semua sudah berlalu. Kami semua sudah memaafkan mu," ujar Delena.
"Apa yang Mommy katakan benar, Rose. Bagaimana kalau kita membuka lembaran baru mulai saat ini. Jadilah bagian dari kami, jadi teman, sahabat, saudara, bahkan keluarga, kami akan senang sekali Rose kalau kau mau menjadi bagian daripada kami," timpal Shenina membuat Roseline akhirnya mengangkat kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Ka-kalian tidak membenciku?"
"Tidak," seru semua orang membuat Roseline tidak dapat menahan buncahan haru.
Sementara itu, sejak tadi Mark tampak menggenggam tangan Adisti posesif. Meskipun ia tahu Jevian akan segera menikah dengan perempuan bernama Roseline, tapi masih ada ketakutan di dalam benaknya. Bagaimana kalau Roseline hanya merupakan pelarian Jevian dari Adisti? Bagaimana kalau sebenarnya Jevian masih memiliki rasa pada istrinya? Jelas saja Mark khawatir.
Namun sepanjang perbincangan hangat dan haru di ruang meeting itu berlangsung, tak sekalipun Jevian menoleh ke arah Adisti. Matanya hanya terfokus pada Roseline seorang. Mark diam-diam memperhatikan gestur tubuh Jevian. Perlahan lengkungan senyum tercipta di bibirnya.
'Sepertinya dia sudah benar-benar move on. Baguslah, jadi aku tak perlu khawatir lagi.'
Setelah perbincangan hangat itu terjadi, tiba-tiba para wanita berdiri dan menarik tangan Roseline.
"Ayo ikut kami!"
"Kemana?" tanya Roseline bingung sebab Delena, Shenina, Adisti, dan Gladys menarik tangan kanan dan kirinya memintanya segera berdiri.
"Rahasia. Ayo ikut!"
Kemudian mereka pun menarik Roseline ke sebuah ruangan yang masih tersambung dengan ruang meeting. Lalu ia didudukkan di sebuah kursi tepat menghadap ke cermin.
Bingung. Itu yang Roseline rasakan. Namun akhirnya ia bungkam. Selain karena tak ada seorang pun yang mau menjelaskan, tapi juga karena ada seorang perempuan yang sepertinya seorang MUA yang mulai menarikan perlengkapan make up nya di wajahnya. Entah apa maksud semua ini, Roseline sendiri tidak bisa menarik kesimpulan maupun menduga-duga. Jadi ia hanya pasrah saja mengikuti setiap apa yang ingin mereka lakukan padanya.
...****...
__ADS_1
Mau ngetik panjang, tapi othor lagi capek banget. Jadi maaf, segini dulu ya kak. Kan yang penting, othor update tiap hari. Ini pun biar dikata pendek, tetap lebih dari 1.000 kata. 😄
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...