Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 228 (S3 Part 70)


__ADS_3

Seperti yang Shenina, Adisti, dan Gladys katakan, malam ini mereka akan melakukan me time dengan tidur bersama. Tentunya tanpa para suami mereka masing-masing. Rainero berkali-kali membujuk Shenina agar tidak meninggalkannya hanya dengan si kembar Earth dan Sky, serta si bungsu Cloudy, tetapi Shenina tetap dengan pendiriannya.


Rasanya sudah lama sekali mereka tidak menikmati waktu hanya bertiga saja dengan para sahabatnya itu. Ia sangat merindukan hari-hari saat mereka baru saling mengenal satu sama lain lalu menghabiskan waktu bersama mulai dari makan, nonton, berbagi cerita sambil tidur-tiduran. Sesekali para ibu muda memang memerlukan quality time dengan melakukan apa yang mereka suka. Begitu pula Shenina, ia tidak muluk-muluk meminta hal yang berlebihan, hanya dengan berkumpul dengan para sahabat terbaiknya saja ia sudah senang sekali. Begitu pula dengan Gladys dan Adisti.


Hal itulah yang membuat Rainero, Axton, dan Mark merasa bangga. Meskipun kini status sosial mereka sudah tinggi, tapi mereka tidak lantas berubah menjadi sombong. Bahkan ketiganya masih rendah hati bahkan senang berbagi dengan sesamanya.


"Sweety, kau serius mau meninggalkan suamimu ini tidur hanya berempat dengan anak-anak?" tanya Rainero dengan memasang ekspresi memelas.


Di hotel itu, Rainero memesan kamar presidensial suit khusus dirinya. Di dalam kamar itu, ada 2 kamar lagi. Satu kamarnya dan Shenina, sedangkan kamar yang lain untuk si kembar dan si bungsu.


Shenina yang sedang merapikan riasannya pun melirik ke arah Rainero dari cermin.


"Tentu saja, memangnya kenapa? Apa kau tidak mengizinkan?" Kini Shenina yang memasang ekspresi sendu seolah-olah menjadi istri yang tersakiti.


"Bu-bukan begitu, hanya saja kau tahu kan aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu," ucap Rainero jujur.


Shenina menganggukkan kepalanya. Lalu ia mengambil jubah tidurnya dan memasangkannya di bantal guling.


"Ini, anggap bantal ini adalah aku," ucap Shenina sambil menepuk-nepuk bantal guling yang sudah dipasangnya jubah miliknya. "Aku yakin, kau akan tidur dengan nyenyak, Suamiku. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku mau jalan-jalan dengan Gladys dan Adisti dulu sebelum menghabiskan waktu kami di kamar. Selamat bersenang-senang. Cup ... " ucap Shenina sambil mengerling genit dan mencium bibir Rainero.


Rainero mengacak rambutnya frustasi. Gara-gara keusilannya pada Jefrey membuat dirinya harus tidur bertemankan bantal guling.


"Vanilla, kau tidur dengan daddy dulu ya malam ini, tidak apa-apa kan?" ucap Gladys pada anak perempuannya.


"Tidak perlu khawatir, Mom. Vanilla akan baik-baik saja, ya kan Dad?" Tentu saja Vanilla suka bila hanya bersama ayahnya saja sebab apapun yang Vanilla minta pasti akan Axton berikan. Tidak seperti Gladys yang sering membatasi. Apalagi seperti yang ia dengar pagi tadi, Mommy-nya, mommy Sky, dan Daddre Arquez akan tidur bersama. Ayah mereka ditugaskan menjaga para anak-anak, artinya ia bisa mengajak ayahnya main ke kamar Sky alih-alih bermain dengan Earth.


"Sayang, kamu cuma mau ngobrol-ngobrol saja kan dengan mereka? Saat mau tidur, kau akan kembali ke kamar kita kan?"


"Oh, sayangnya tidak. Sampai berjumpa esok lagi, Daddy. Love you. Cup ... " Sebelum keluar kamar, Gladys mencium pipi Axton. Bukannya senang, laki-laki itu justru memasang wajah masam.

__ADS_1


Begitu pula dengan Mark, laki-laki itu terus membujuk Adisti agar tidak tidur dengan Shenina dan Gladys.


"Sayang, jangan pergi, please!" melas Mark.


Adisti berdecak, "kau sudah seperti mau aku tinggalkan berminggu-minggu, berbulan-bulan saja. Padahal hanya satu malam saja. Ayolah, Sayang, kami juga tidak sering-sering melakukan ini. Kebetulan saja kita sedang di sini jadi apa salahnya aku melakukan quality time dengan Mbak Bule dan Gladys. Apalagi tak lama lagi aku melahirkan, pasti aku akan fokus dengan anak kita. Jadi kapan lagi aku bisa merasakan quality time dengan mereka. Lagipula kita kan masih satu hotel, jadi kalau ada apa-apa kan, kita masih di satu tempat yang sama. Hanya berbeda kamar saja," tukas Adisti panjang kali lebar.


Mark menekuk wajahnya. Bibirnya mengerucut membuat Adisti terkekeh geli.


"Aku pergi dulu ya, Suamiku. Ti amo. Cup ... "


Akhirnya, untuk pertama kali setelah menikah, para papa muda ditinggal para mama muda dengan anak-anak mereka. Kepala mereka makin pusing saat anak-anak mereka tak ada satupun yang menurut. Mereka tidak mau disuruh tidur. Mereka hanya bermain. Earth bermain dengan Vanilla yang selalu curi-curi pandang dengan Sky. Arquez sibuk bermain play station dengan Jefrey. Sementara Sky sibuk dengan tabletnya.


Lalu dimana pasangan pengantin baru?


Yah, seperti permintaan Jefrey, Jevian tengah menabur benih sekaligus memberi pupuk agar benih-benih Jevian tersemai dengan baik dan tumbuh subur secepatnya. Sama seperti Jefrey, Jevian dan Roseline pun tak sabar menunggu kabar kehadiran calon anggota keluarga baru mereka. Baby mungil yang akan makin mengeratkan tali kasih diantara mereka.


Setelah benih disemai dengan sempurna, Jevian menundukkan kepalanya dan mengecup perut ramping Roseline.


...***...


Dua hari kemudian,


"Kalian benar-benar ingin pulang siang ini?" tanya Jevian pada Rainero and the gank. Sementara Delena dan sudah pulang lebih awal.


Rainero pun mengangguk, "perusahaan lagi sibuk-sibuknya, jadi aku harus segera kembali," jawab Rainero.


"Tapi kan kau bisa menyuruh Axton pulang lebih dulu dan mengurus pekerjaanmu di sana. Jadi kau bisa tetap bersenang-senang di sini beberapa hari," tukas Jevian membuat Axton mendelik tajam.


"Heh, enak saja. Mentang-mentang aku asisten pribadi jadi aku mau disuruh-suruh terus. No, aku pun ingin berlibur, bukan dia saja," omel Axton tidak terima atas saran Jevian.

__ADS_1


Jevian terkekeh, "yang penting kan gaji dan bonus tetap mengalir lancar. Bahkan lebih lancar dari aliran sungai Mackenzie," seloroh Jevian.


"Kalau masalah itu aku tidak meragukannya, tapi tetap saja aku tidak terima. Rain di sini, aku tetap di sini, kalau Rain pulang, baru aku akan pulang. Aku pun ingin liburan. Siapa tahu setelah ini akan ada kabar baik kehadiran adik Vanilla."


"Membuat adik Vanilla kan bisa dimana saja. Bahkan di dalam mobil pun bisa," ucap Jevian membuat wajah Axton merah padam. Axton jadi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Karena ulah rival bisnisnya, Axton akhirnya terpaksa melakukannya di dalam mobil. Ada yang menjebak Axton dengan memberikan afrosidiak sehingga ia tak bisa menahan gejolak dalam dirinya. Beruntung saat itu Gladys sedang berada di mall yang dekat dengan restoran dimana ia dijebak jadi ia pun segera meminta Gladys datang ke basemen hotel sebab restoran itu ada di hotel. Tak ada waktu untuk check in hotel jadi ia pun terpaksa melakukannya di basemen hotel. Jevian sudah mengetahui hal ini dari Rainero. Oleh sebab itu ia menyindir Axton dengan kejadian itu.


"Shittt! Jangan bahas itu lagi, brengsekkk!" umpat Axton membuat Jevian tergelak.


"Jaga bicaramu, Axton! Aku tidak ingin anak-anak meniru ucapanmu!" omel Rainero membuat Axton bungkam.


"Ya sudah, kalau begitu kami berangkat. Sampai jumpa!"


Mereka pun akhirnya berpisah di bandara.


"Bye Ice Cream. I will miss you," pekik Jefrey ke arah Vanilla.


Vanilla mencebik, "i'm not ice cream!" delik Vanilla.


Earth terkekeh, "bye Jefrey. See you next time."


"See you too, Earth."


...***...


Lupa terus mau promoin cerita baru othor.


Mampir yuk! Tapi jangan loncat kek kodok atau ditabung yak, entar retensinya ambyar. Bisa bikin othor nangis kejer lho. 🥺🥺🥺


__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2