
***Mansion Keluarga Fardhan***
Tatapan dingin Nitami melihat intens ke arah Davin yang juga melihatnya, ketidak sukaan Nitami semakin besar terhadap pria yang masih berstatus suaminya tersebut.
Davin dapat merasakan aura tidak suka dari dinginnya tatapan mata Nitami, ia tahu jika tatapan dingin itu pasti berhubungan dengan semua bukti kebusukan Fransisca. Nitami seakan marah karena telah di khianati dan di permainkan olehnya, padahal Davin tidak ingin melakukan itu. Kali ini Davin tulus terhadap perasaannya kepada Nitami, rasanya ia ingin meraih Nitami dan menjelaskan semuanya.
"Davin jelaskan semua ini." Pinta tuan Markus, wajahnya tampak merah karena menahan amarahnya.
Davin dan Nitami yang awalnya saling pandang kini tersadar, jika mereka masih ada pada ruangan yang semakin terasa panas. Mereka pun mengalihkan pandangan ke arah lainnya, Nitami ke arah ponsel yang ia genggam, sedangkan Davin melihat ke arah tuan Markus.
"Semua yang papa lihat itu, adalah benar." Balas Davin membenarkan semua bukti kebusukan Fransisca yang ia miliki.
"Semua bukti itu adalah benar. Fransisca bukan wanita yang seperti papa lihat selama ini, dia bahkan lebih buruk dari seorang p*l*cur." Ungkap Davin dengan nada yang ia tekan pada akhir kalimatnya.
Genggaman kuat tangan tuan Markus terlihat jelas, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang akan meledak sebentar lagi.
"Dia bahkan bukan seorang manusia, dia wanita iblis yang juga tega menghilangkan nyawa yang tidak bersalah, nyawa yang hadir atas perbuatan bejatnya sendiri bersama banyak pria. Dia tega menggugurkan bayinya sendiri." Ucap Davin kini benar benar terlihat marah.
Fransisca menggelengkan kepalanya, matanya membulat dengan sempurna karena terkejut. Davin tahu semuanya, bagaimana mungkin?
'Tidak. Dia tidak mungkin tahu, ini pasti salah. Davin hanya asal menebaknya saja.' Gumam Fransisca di benaknya.
Fransisca tidak ingin mempercayai ucapan Davin, walaupun semua itu benar. Dia hanya menganggap jika Davin hanya asal menebaknya saja, dan tidak tahu yang sebenarnya. Davin tidak tahu semua perbuatannya selama ini.
Tidak, Fransisca tidak ingin Davin tahu akan semua perbuatannya. Jika benar semua itu terjadi, dia akan semakin membenci dirinya sendiri. Membenci dirinya yang sudah terlalu kotor, namun masih mengharapkan Davin ada di sisinya, hanya untuknya.
"Tidak. Semua itu bohong." Teriak Fransisca menolak semua tuduhan Davin kepadanya.
"Kau pasti salah Davin. Aku tidak mungkin berbuat seperti itu." Ucap Fransisca masih menolak semua tuduhan yang sudah memiliki bukti sangat jelas.
Davin tidak terima akan penolakan Fransisca, yang jelas-jelas sudah memiliki bukti. Bagaimana ada seorang wanita seperti dirinya? Menolak semua bukti atas perbuatannya sendiri, dan sangat jelas semua bukti itu adalah asli tanpa rekayasa. Davin semakin marah di buatnya.
Davin berbalik dan langsung mencekik leher Fransisca, dia geram sekaligus marah.
"Bagaimana kau bisa mengatakan, jika aku yang sudah salah menuduhmu." Ucapnya dengan nada marah.
Semua orang yang hadir di sana, hanya diam menyaksikan Davin tengah mencekik leher Fransisca. Terlihat jelas wajah Fransisca langsung memerah karena kekurangan oksigen, dia berusaha melepaskan tangan Davin dari lehernya.
"Cukup Davin." Ucap nyonya Sandra bangkit dan berusaha melepaskan tangan Davin dari leher Fransisca.
Nyonya Sandra bukan ingin membela Fransisca, namun dia hanya seorang ibu yang tidak ingin anaknya menjadi seorang pembunuh. Jika Davin terus mencekik leher Fransisca hingga kehabisan oksigen. Dia hanya tidak ingin Fransisca tewas di tangan Davin, putranya.
__ADS_1
Namun Davin masih terus melancarkan aksinya, tanpa mau mendengarkan sang mama.
"Davin, lepas…dia bisa mati karena kehabisan nafas. Lepas Davin, mama mohon." Ucap nyonya Sandra berusaha melepaskan cekikan tangan Davin.
"Jangan mengotori tanganmu seperti ini nak. Wanita ini bahkan tidak pantas menjadi menyebab kau memiliki masalah yang lebih buruk lagi." Bujuk nyonya Sandra.
"Max…tarik tuanmu." Perintah tuan Markus tahu maksud dari sang istri.
Max yang mengerti, segera menarik tubuh Davin. Sedangkan nyonya Sandra masih berusaha melepaskan tangan sang putra dari leher Fransisca yang sudah nampak memerah.
Begitu tangan Davin lepas, Fransisca tumbang ke atas lantai dengan terbatuk dan memegangi lehernya yang sakit.
Nitami masih duduk pada posisinya menyaksikan sebuah live keluarga yang selama ini ia alami juga. Dalam hatinya terbesit kepuasan akan sikap kejam Davin kepada istri tercintanya tersebut, sebuah tindakan kasar yang dulu selalu Nitami dapatkan dari Davin, kini Fransisca juga dapat merasakannya.
'Nikmati semuanya saat ini, Fransisca. Ini baru permulaan untuk mu.' Gumam Nitami di dalam hatinya, dia juga manusia biasa yang bisa merasakan nikmatnya dari balas dendam yang selama ini dia harapkan.
"Kau wanita br*ngs*k yang tidak tahu malu." Umpat Davin masih pada rangkulan max yang terus menghalanginya mendekati Fransisca yang tumbang di atas lantai.
"Jangan ada yang berani mendekatinya." Ucap peringatan nyonya Sandra, saat asisten pribadi Fransisca ingin membantu sang majikan.
Pria itu diam seketika, peringatan dari nyonya Sandra cukup tegas. Diapun melihat ke arah Fransisca, kini dirinya berada pada pilihan yang sulit. Di antara perintah nyonya Sandra atau menolong Fransisca sebagai majikannya.
Nitami melihat itu, dia tahu jika Jimmy adalah kaki tangan Fransisca selama ini. Anak buah kepercayaan Fransisca yang tahu segalanya tentang Fransisca. Nitami juga tahu jika Jimmy selalu di perlakukan tidak baik oleh Fransisca, hanya karena berhutang banyak uang kepadanya yang membuat pria itu patuh atas semua perintah Fransisca.
Nitami tahu sebenarnya Jimmy adalah pria baik yang hanya tertekan karena keadaan yang di alaminya sekarang. Fransisca saja yang bodoh sudah memperlakukan Jimmy selayaknya binatang yang harus mematuhi tuannya. Tanpa Fransisca sadari Jimmy cukup memiliki kemampuan yang tersembunyi.
Nitami mengetik sesuatu pada ponselnya, lalu memandang kembali ke arah Jimmy yang terlihat bingung harus bagaimana? Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk, Jimmy melihatnya sekilas. Lalu ponselnya pun berdering, hanya beberapa detik kemudian langkahnya mundur dan menjauhi Fransisca.
Fransisca menatap tajam ke arah Jimmy sang asisten yang memilih mendengarkan perintah dari nyonya Sandra, Jimmy tidak membantu dirinya sama sekali. Jimmy tahu tatapan membunuh Fransisca tertuju padanya, namun dia tidak gentar dan takut sama sekali pada tatapan tajam Fransisca mulai sekarang.
"Jimmy, kau…!!" Tunjuk Fransisca di sela sela menahan rasa sakit pada lehernya.
"Maaf nona. Hutangku padamu sudah lunas, jadi otomatis kontrak kerja di antara kita juga sudah tidak berlaku lagi." Ungkap Jimmy tahu maksud Fransisca menunjuk ke arahnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Fransisca mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Bagaimana Jimmy bisa berkata seperti itu? Di saat seperti sekarang ini. Tidak mungkin Jimmy akan meninggalkan dan mengkhianatinya sekarang. Jimmy cukup banyak menyimpan rahasianya, dan cukup berbahaya jika Jimmy pergi darinya. Fransisca tidak ingin kepergian Jimmy akan menambah masalah baginya.
Jimmy perlahan mendekati Fransisca yang masih terduduk di atas lantai, dia menunjukkan ponselnya ke arah Fransisca. Di mana sebuah bukti transaksi transferan sejumlah uang yang cukup fantastis jumlahnya, masuk ke dalam rekening Fransisca sekarang. Itu menandakan semua hutang Jimmy telah lunas, dan di bayarkan oleh seseorang yang akan menjadi bos barunya mulai sekarang.
"Dari mana kau bisa mendapatkannya?" Tanya Fransisca tidak percaya.
__ADS_1
"Dari seseorang yang akan menjadi bos baru untuk ku, nona." Balas Jimmy dengan senyum tipis yang cukup membuat Fransisca geram.
"Kau tidak bisa berbuat seperti ini, Jimmy." Balas ketus Fransisca tidak bisa menerimanya. Jimmy terlalu berbahaya jika lepas darinya, karena Jimmy satu satunya orang yang mengetahui semua tentangnya.
"Maaf, nona. Sudah cukup saya mengabdi kepada anda. Sudah cukup saya menahan diri agar tetap bersabar melayani mu, nona Fransisca." Ucapnya.
"Satu hal lagi nona. Jangan pernah mengancam saya lagi dengan menggunakan nama adik saya. Sebab adik saya sudah aman di suatu tempat yang tidak akan bisa nona jangkau." Ungkap Jimmy cukup tegas.
Jimmy seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Fransisca sekarang? baru saja ia ingin mengancam Jimmy dengan menggunakan adiknya yang ada di dalam sandranya.
Bagaimana mungkin adik Jimmy lepas dari semua anak buah yang menjaganya?
Jimmy memperlihatkan sebuah video, jika sang adik kini sudah berada di tempat yang aman bersama seseorang yang menutupi wajahnya. Terlihat jelas wajah gadis manis itu tersenyum dan menyapa sang kakak, dan berkata jika dirinya kini baik baik saja bersama orang sudah menolong untuk lepas dari markas anak buah Fransisca, tempat di mana gadis itu di kurung selama ini.
"Sialan, br*ngs*k kau Jimmy…" Umpat Fransisca murka sembari ingin melayangkan sebuah pukulan ke arah wajah Jimmy.
Namun sayangnya Jimmy menangkap dan mencengkeram kuat tangan Fransisca, lalu menghempaskannya dengan keras. Jimmy bangkit dan berdiri menantang di hadapan Fransisca, tidak ada rasa takut apalagi tunduk pada Fransisca lagi.
"Nikmati semua hasil dari perbuatan mu selama ini, nona Fransisca. Silahkan mencari orang lain untuk mendukung mu mulai sekarang." Balas Jimmy dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Fransisca menatap tajam, benci dan membunuh ke arah Jimmy. Ingin rasanya ia menembak mati Jimmy, namun sayangnya saat ini keadaannya saja memprihatinkan.
Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Siapa yang sudah membantu Jimmy saat ini? Rahangnya mengeras menahan amarahnya, satu persatu semua masalah berdatangan, kini anak buah kepercayaan yang tahu semua rahasianya pun pergi meninggalkannya.
Bukan Jimmy tidak setia pada tuannya, dia terpaksa tunduk dan mengikuti semua perbuatan Fransisca selama ini karena terlilit hutang dan ancaman dari Fransisca dengan memakai sang adik. Ketidak setiaan Jimmy bisa seperti itu, di pacu oleh sikap Fransisca yang tidak pernah berlaku baik pada Jimmy, dia kini sudah tidak tahan lagi. Dia ingin meninggalkan Fransisca dan semua perbuatan yang hanya berbuat dosa.
'Br*ngs*k, siapa yang sudah membantunya.' Gumam Fransisca di dalam hatinya.
'Aku tidak memiliki musuh yang bisa membantu Jimmy, dengan dana uang sebanyak itu. Uang 10 milyar untuk melepaskan seorang Jimmy dan adiknya, orang itu cukup kaya dan gila untuk mengeluarkan uang banyak begitu saja.' Gumam Fransisca berbicara pada hatinya sendiri.
Namun ada satu nama yang terbesit di pikiran dan hatinya, dia mencurigai sesuatu yang belum tentu pasti. Namun saat melihat senyum tipis yang seakan meremehkan dirinya, Fransisca tahu kecurigaannya itu benar. Rahangnya mengeras, kepalan kedua tangannya kuat, dan tatapan devil Fransisca mengarah pada satu orang yang ada tidak jauh di hadapannya.
...****************...
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1