Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
50. Dukungan Aldi.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Nitami masih memandang tajam dan tidak suka mendengar penjelasan yang di ucapkan oleh Davin. Dia tidak percaya, jika Davin tega terhadap para pasien yang kurang mampu dalam biaya pengobatan yang menggunakan kartu kesehatan mereka.


"kesehatan seorang pasien anda pakai sebagai ladang bisnis untuk menambah kekayaan anda. Cukup tidak memiliki hati." ungkap Nitami dengan menekan setiap kata-katanya.


Semua orang yang hadir cukup terkejut akan perkataan Nitami yang berani akan ucapannya, sekaligus kritikan pedas untuk Davin.


Davin bukannya marah, dia malah tersenyum dan menampilkan senyum yang sungguh dingin dengan tatapan tajam terhadap Nitami.


"aku pembisnis. Aku bukanlah dinas sosial yang harus membantu semua orang susah, yang hanya membuat rumah sakitku rugi dan tidak mendapatkan keuntungan sama sekali." jawabnya. Membuat Nitami tercengang akan jawaban Davin.


Sungguh Davin tidak memiliki perasaan iba terhadap sesama.


"jika kau keberatan dan kasihan kepada mereka. Mengapa tidak kau saja yang membantu mereka?" ucap Davin kembali.


"kau bantulah setiap pasien yang memakai kartu kesehatan, dengan membayar biaya pengobatan mereka. Bukankah itu solusi yang bagus untuk mu, tanpa harus merubah keputusanku." ungkap Davin dengan menekan setiap kata-katanya.


Nitami mengeraskan rahangnya dan kepalan tangannya kuat karena menahan amarah akan ucapan Davin. Sungguh Davin tidak punya hati nurani terhadap sesama. Bukannya solusi tetapi penekanan yang yang di berikan Davin terhadap Nitami. Bukan itu yang Nitami inginkan, tetapi sedikit melunaknya hati Davin. Itu demi para pasiennya yang sering datang menggunakan kartu kesehatan mereka.


"kemana hati nurani anda tuan?" tanya Nitami dengan dinginnya.


"menjalankan sebuah bisnis, tidak memerlukan hati nurani. Jika kau terlalu memakai hati yang lemah, semua bisnis yang kau jalani akan hancur dengan cepat." jawabnya dengan semudah dia membalikkan telapak tangannya.


Nitami tersenyum getir dan dingin ke arah Davin. Nitami tahu jika keputusan Davin tersebut, tidak akan dapat di rubah. Dalam pikirannya, dia terpaksa akan mencoba menggunakan sebuah trik sedikit. Sekaligus ingin membuktikan semua ucapan Aldi dan sahabatnya yang mengatakan, jika Davin memiliki perasaan suka terhadapnya.


"apa kalian juga setuju dengan peraturan ini?" tanya Nitami menatap satu persatu semua orang yang hadir di ruangan tersebut.


Nitami ingin mencoba mencari dukungan dari yang lainnya, dia masih berharap jika keputusan Davin itu akan bisa di rubah. Namun semuanya hanya diam tanpa mau berbicara atau mengeluarkan pendapat mereka.


Nitami menatap ke arah direktur dan dokter kepala rumah sakit Golden Healthy. Setidaknya ada dukungan dari kedua pejabat tertinggi yang ada di rumah sakit itu. Namun mereka berdua juga hanya diam saja, dengan pandangan yang tidak ingin melihat ke arah Nitami.


"pak direktur, dokter kepala. Mengapa anda diam saja? Tolong katakan sesuatu, ini semua tidak benar!" ucap Nitami melihat direktur dan dokter kepala secara bergantian.


Nitami masih berharap dukungan dari dua petinggi rumah sakit tersebut. Sedangkan Davin diam dan memberikan Nitami kesempatan untuk berbuat sesuka hatinya, mencari dukungan kepada dua petinggi rumah sakit, yang bahkan tidak akan berani melawan Davin sama sekali.

__ADS_1


Bagaimana bisa seorang direktur dan dokter kepala yang juga di gaji besar oleh Davin? akan berani melawan Davin sebagai pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Itu sama halnya mereka hanya akan mempertaruhkan pekerjaan mereka, jika mereka berani berbuat seperti itu. Mereka harus siap-siap untuk di keluarkan dari rumah sakit Golden Healthy.


"kalian diam saja." ucap Nitami sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah yang kecewa menatap kedua petinggi rumah sakit yang seharusnya menjadi satu-satunya orang yang akan membela mereka yang lemah dan tidak bersalah.


Namun apalah daya, tidak ada yang berani melawan kuasa kuat yang di miliki oleh seorang Davin Attala Fardhan.


"apa yang kau lakukan? hanyalah sia-sia saja." celetuk Davin di sela-sela kekecewaan Nitami.


Nitami menatap tajam dan dingin ke arah Davin, Davin hanya tersenyum melihat Nitami terlihat geram dan marah kepadanya, Davin ingin Nitami mengalah dan mengikuti semua keinginannya. Jika Nitami melakukan itu, Davin akan sedikit melunak dan tidak akan melakukan apapun seperti sekarang ini?


'jika saja kau tidak menentangku, ini semua tidak akan aku lakukan. Sampai mana kau akan bertahan untuk melawanku?' gumam Davin di dalam hatinya menatap Nitami dengan tatapan kemenangan.


'hanya membuang tenagamu saja, dengan mencari dukungan kepada mereka semua yang bahkan tidak berani sedikit pun melawan atau menentangku.' gumamnya kembali di dalam hati. Davin masih berharap jika Nitami mau mengalah dan mengikuti aturan mainnya.


Tiba-tiba Aldi menggenggam kepalan tangan Nitami, Nitami melihat sentuhan tangan Aldi pada tangannya. Lalu dia melihat ke arah Aldi, sorot mata Aldi seakan mengatakan jika dia mendukung Nitami dengan sepenuhnya.


Nitami pun membuka kepalan tangannya, agar Aldi bisa menggenggam tangannya. Perbuatan mereka berdua, terlihat jelas oleh Davin, Max dan semua orang yang hadir di sana.


"aku juga keberatan dengan keputusan anda, tuan Davin." ucap Aldi dengan memandang tajam Davin.


Davin diam dengan pandangan matanya masih mengarah pada genggaman tangan Nitami dan Aldi. Hatinya meradang melihat tindakan mereka, Davin tidak suka melihat genggaman tangan Nitami dan Aldi. Mereka terlihat seperti memiliki hubungan yang sangat dekat.


Kepalan kuat terlihat dari genggaman tangan Davin hingga buku-buku jarinya memutih, karena menahan amarahnya yang mulai merayapi hatinya. Davin benar-benar tidak suka dan cemburu melihat pemandangan tersebut. Tangan wanitanya di sentuh dan di genggam erat oleh pria lain di hadapannya.


Aura Davin terlihat menggelap karena amarah yang ia tahan, rahang yang mengeras dan kepalan tangan yang tidak sedikitpun terlihat melonggar sama sekali. Max dan yang lainnya pun dapat merasakan aura gelap yang mengerikan tersebut.


Sedangkan Aldi dan Nitami sengaja melakukan hal tersebut, mereka ingin tahu bagaimana reaksi Davin? Mereka juga ingin tahu sampai di mana Davin akan bertahan dengan keputusan dan sikap keras kepalanya, yang mementingkan keegoisannya sendiri.


'ini tidak baik, dokter Aldi apa yang sedang anda lakukan?' gumam Max di dalam hatinya melihat khawatir tuannya yang sedang menahan amarah dan perasaan cemburu yang kini timbul di dalam hati tuannya.


"apa yang bisa kau lakukan Aldi?" tanya Davin dengan tatapan tajam menusuk melihat ke arah Aldi. Rahangnya masih mengeras menahan gejolak di dalam hatinya.


"aku akan mendukung dokter Nita. Apa yang sudah anda putuskan tidaklah benar, tuan Davin." balas Aldi tidak takut sama sekali akan tatapan tajam membunuh Davin padanya.


Davin benar-benar menahan gejolak amarah yang sudah mulai memuncak di dalam hatinya.

__ADS_1


"dukungan apa yang bisa kau berikan? semua keputusan ada di tanganku?" tantang Davin kepada Aldi, dia ingin tahu. Aldi bisa berbuat apa untuk membantu Nitami?


"semua dukungan yang bisa aku berikan, akan aku berikan. Semua tindakan anda itu tidak lah benar, tuan Davin." jawab Aldi dengan keteguhan hatinya membantu Nitami dan sahabatnya tersebut.


Aldi tahu tindakannya tersebut, sudah pasti membuat sahabatnya itu meradang dan cemburu. Namun dia hanya ingin membantu sang sahabat yang sudah salah jalan, untuk menaklukkan hati Nitami. Wanita yang mulai di sukai oleh Davin, wanita yang menjadi istri pertama Davin. Istri pertama yang sudah lama di lupakan dan di abaikan oleh sahabatnya tersebut.


Aldi terpaksa melakukan hal itu, agar Davin tidak menyakiti hati Nitami lebih jauh lagi. Bagaimana bisa dia menaklukkan Nitami dengan cara seperti ini? Nitami yang merasa dirinya tidak bersalah apapun? Akan tetap pada pendiriannya yang memang benar akan tetap membela dan mendukung yang lemah tidak bersalah.


Aldi sangat tahu Davin berbuat seperti itu, karena merasa cemburu Nitami berada dekat bersama Nicolas, seorang pasien VVIP yang terlihat tertarik dengan Nitami. Nitami menentang keputusan Davin, karena dia hanya mengikuti aturan rumah sakit yang sudah ada sejak pertama kalinya dia bekerja di sana sebagai seorang dokter bedah umum.


Rasa cemburu Davin lah yang menyebabkan Davin berbuat seperti itu. Dan Aldi sebagai seorang sahabat, tidak ingin sahabatnya tersebut salah jalan yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari.


"apa kau tahu dan sadar, akan apa yang kau lakukan saat ini Aldi?" ucap Davin menekan setiap kata-katanya, dengan rahang yang masih mengeras dan gigi yang menggeretak.


"tentu saja aku sadar. Aku hanya mendukung dokter Nita yang berkata benar, tindakan dokter Nita yang sedang membela dan mendukung mereka yang akan di rugikan akan keputusan anda ini." ucapnya sembari mengangkat dan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Nitami.


Aldi dengan sengaja memperlihatkan genggaman tangan mereka kepada Davin. Semua orang yang ada di dalam ruang tersebut, hanya bisa diam dan melihat saja.


"walaupun itu membahayakan dirimu sendiri?" tantang Davin ingin tahu apakah Aldi serius akan tindakannya tersebut?


"tentu saja. Walaupun itu akan membahayakan diriku sendiri, setidaknya aku membela dan mendukung orang yang tidak bersalah." balas Aldi tidak kalah sengitnya.


Nitami masih diam mengikuti aturan main yang sedang di mainkan oleh Aldi saat ini. Dia melihat jelas jika Davin terlihat marah dan tidak suka melihat genggaman tangannya bersama Aldi. Hatinya pun bertanya, apakah sikap marah Davin ini karena Davin sedang cemburu? Itulah yang ada di dalam pikiran Nitami saat melihat aura gelap dan marah Davin melihat Aldi.


"walaupun kau harus di pecat dari rumah sakit ini karena berani menentangku, dokter Aldi…?!?" ucap Davin tegas, kembali dengan tekanan pada setiap kata-katanya.


Aldi terdiam dengan sikap tenangnya, sedangkan Nitami seketika menatap ke arah Aldi yang di berikan pilihan oleh Davin. Nitami rasa mereka berdua kini serius saling melawan, Nitami masih berusaha mempelajari situasinya.


Semua orang yang hadir termasuk Max, merasa ada persaingan di antara dua pria yang kini saling menatap intens dengan pandangan mata mereka masing-masing. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? apa yang akan menjadi jawaban Aldi terhadap pilihan yang di berikan oleh Davin kepadanya?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2