
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Tuan Markus melihat ke arah Fransisca, karena panggilan darinya. Davin mengepalkan kuat tangannya menatap Fransisca, sedangkan Nitami masih berdiri dengan tenang melihat apa yang akan di lakukan oleh Fransisca dan Davin?
'Kehancuran kalian sudah di mulai. Davin, ternyata kau sudah mengetahui apa yang selama ini di lakukan oleh Fransisca? Apa karena itu sikapmu saat ini berubah padaku?' Gumam Nitami sembari melirik sekilas ke arah Davin yang ada di sampingnya.
Wajah Nitami di buat setenang mungkin, dirinya tidak ingin gegabah saat ini. Masih ada hal penting baginya untuk di lakukan, dari pada harus terus meladeni orang orang dari keluarga Fardhan yang tidak berguna baginya. Inilah hidupnya sekarang, secara perlahan semua akan Nitami raih dan dapatkan.
"Iya sayang, ada apa?" Tanya tuan Markus menatap sang menantu kesayangan, yang tidak ia ketahui jika Fransisca yang sangat dia percayai, telah berkhianat.
"Pa…" Ucap Fransisca menatap tuan Markus, lalu beralih melihat Davin dan Nitami secara bergantian.
"Apa papa tahu rapat hari ini, untuk membahas tentang apa?" Tanya Fransisca menatap intens sang mertua.
Tuan Markus mengerutkan keningnya melihat Fransisca dengan teliti, dia menangkap sesuatu yang ganjal akan perkataan dari Fransisca.
"Apa maksudmu? Katakan terus terang." Balas tuan Markus balik bertanya.
Fransisca tersenyum ke arah tuan Markus, lalu dia melihat ke arah belakangnya. Di mana ada direktur rumah sakit yang masih berdiri di belakang mereka.
"Mungkin direktur bisa menjelaskannya." Ucap Fransisca sebagai perintah pada sang direktur.
Tuan Markus kini beralih melihat ke arah belakangnya, di mana direktur sedang berdiri di sana. Sang direktur yang di pandang, malah melihat ke arah Davin. Membuat tuan Markus juga ikut melihat ke arah Davin.
Tanpa banyak bertanya, tuan Markus melangkah dan duduk pada kursi di samping kursi Davin tadi duduk. Tuan Markus memandang lurus ke depan dan berkata dengan sangat jelas.
"Bagi yang berkepentingan di dalam rapat ini, silahkan masuk dan duduk pada kursi yang sudah ada. Bagi yang tidak berkepentingan silahkan keluar." Ucap tuan Markus dengan tegas dan jelas dapat di mengerti oleh semua orang.
Fransisca ikut duduk di samping kursi tuan Markus, di ikuti oleh Max, Aldi, direktur, dokter kepala, dua dokter yang ada, Davin , dan juga Nitami. Mereka duduk pada kursi mereka masing-masing.
"Max, tunjukan bahan rapat hari ini." Perintah tuan Markus, langsung pada intinya.
Max melihat ke arah Davin yang segera menganggukkan kepalanya, isyarat untuk Max agar mengikuti apa yang papanya inginkan?
Max bangkit dan menyerahkan beberapa lembar berkas laporan bahan rapat hari ini. Tuan Markus dan juga Fransisca melihat dan membaca semuanya.
"Apa ini Davin?" Tanya tuan Markus sembari melempar kertas bahan rapat yang ia pegang ke atas meja.
__ADS_1
Tatapan mata tuan Markus mengintimidasi, seakan meminta pertanggung jawaban kepada Davin putranya.
"Di sana sudah tertulis sangat jelas." Balas Davin dengan sikap tenang.
"Kau merubah beberapa aturan, apa alasanmu?" Tanya tuan Markus tidak puas akan jawaban Davin.
"Beberapa aturan rumah sakit perlu untuk di rubah, karena sudah tidak layak lagi di pakai. Semua dokter di sini mempunyai potensi yang berbakat. Semua dokter memiliki haknya mendapatkan rollingan untuk berada pada posisi yang belum pernah mereka dapatkan. Apa aku salah papa?" Tanya Davin menatap serius sang papa. Dirinya adalah pemilik rumah sakit itu, dan papanya hanyalah sebagai penasehat yang tidak bisa 100% mengatur Davin atas semua keputusannya saat ini.
"Menggantikan beberapa dokter yang kurang pada kinerjanya, bukan berarti aku ingin menyingkirkan mereka. Mereka akan aku pindahkan pada beberapa rumah sakit cabang yang aku miliki." Ucap Davin menjelaskan.
Sontak Nitami dan yang lainnya melihat ke arah Davin. Sebab keputusan Davin saat ini, tidak ada pada pembahasan mereka tadi. Mereka berpikir akan terjadi pemecatan secara berkala dan banyak dari beberapa dokter serta perawat yang masuk ke dalam daftar akan terancam di perberhentikan.
'Apa maksudnya ini? Apa Davin memiliki rencana lain?' Gumam Nitami di dalam hatinya melihat ke arah Davin, yang sekilas melihatnya dengan tatapan teduh dan tenang.
Nitami lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang ada di hadapannya, dia tidak ingin menarik perhatian dari semua orang yang hadir di ruangan tersebut, apalagi saat ini ada tuan Markus yang tidak pernah menyukainya sama sekali.
"Lalu bagaimana dengan pasien yang memakai kartu kesehatan mereka? Kau tahu mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dan masyarakat tidaklah hal yang mudah. Mengizinkan kartu kesehatan di gunakan pada rumah sakit ini, cukup menarik simpati pemerintah dan masyarakat setempat. Agar nama baik dan kemajuan dari rumah sakit ini tetap terjaga. Apa kau tahu itu Davin?" Ungkap tuan Markus tidak setuju jika Davin mentiadakan lagi program kartu kesehatan bagi masyarakat.
"Aku tahu itu tuan Markus. Tentu sudah aku pikirkan tentang itu semua." Jawab Davin merasa kecewa, dirinya kini mendapat masalah dari keputusan yang akan dia buat dan ingin di pakai untuk menjebak Nitami.
'Semua jadi kacau, Fransisca ini pasti ulahmu semua. Kau yang pasti membuat papa datang ke sini, dan ingin mengacaukan semua rencanaku hari ini.' Gumam Davin melihat tajam ke arah Fransisca yang tersenyum senang ke arahnya.
"Jika kau tahu itu, mengapa kau masih ingin melakukannya?"
"Aku mencoba menaikan levelnya khusus pada rumah sakit Golden Healthy, untuk menjadi rumah sakit VVIP terbaik di kota ini. Semua pasien yang menggunakan kartu kesehatan mereka, akan aku alihkan pada rumah sakit cabang, rumah sakit Savior Healthy." Ucapnya.
Sukses kembali membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, melihat kembali ke arah Davin. Mereka tahu rumah sakit cabang Savior Healthy, rumah sakit yang sama besar dan setara dengan rumah sakit Golden Healthy. Bisa di katakan jika rumah sakit Savior Healthy adalah rumah sakit besar kedua yang di miliki oleh Davin Atalla Fardhan.
"Apa kau yakin? Bukannya rumah sakit itu yang akan kau jadikan sebuah rumah sakit khusus VVIP? Mengapa sekarang keputusan mu berubah?" Tanya tuan Markus ingin menyakinkan sang putra.
Davin memiliki keinginan untuk menjadikan rumah sakit keduanya itu, sebagai rumah sakit khusus VVIP. Davin pernah membicarakan tentang masalah ini kepada tuan Markus, namun kini semuanya berubah begitu saja.
"Tentu saja aku sangat yakin. Mengikuti arti dari nama rumah sakit itu, Savior yang artinya penyelamat. Akan bertujuan untuk membantu mereka yang kurang mampu, dan tentunya memberikan fasilitas alat serta obat yang cukup berkualitas, sama seperti yang di miliki oleh rumah sakit Golden Healthy. Hanya saja berbeda dalam fasilitas ruangan, pelayan dan dokter spesialisnya saja." Ungkap Davin menjelaskan.
Dia terpaksa mengatakan itu semua, agar semua masalah yang ia rencanakan tidak bertambah rumit. Jebakkan yang ingin ia gunakan untuk menjebak Nitami kini tidak berhasil dia gunakan, dia harus memikirkan cara lainnya. Namun rencana perpindahan rumah sakit itu, adalah rencana yang sudah Davin pikirkan dengan serius.
Memang Davin berniat untuk menjadikan rumah sakit keduanya itu sebagai rumah sakit khusus pada pasien yang memakai kartu kesehatan mereka. Itu sebenarnya hanyalah gertakkan semata untuk Nitami agar luluh dan mengikuti aturan Davin. Namun semuanya kacau dan itu semua karena Fransisca.
__ADS_1
Sedikit tidaknya tindakan Fransisca, telah membantu Nitami mencari solusi terbaik bagi masalah yang Nitami dan Aldi pikirkan dari tadi. Tahu begini, mereka berdua tidak harus melakukan sandiwara dan berusaha keras menentang Davin. Semua telah terjadi dan mengalir begitu saja.
Semua terdiam akan penjelasan dari Davin, sedangkan Aldi dan Max hanya tersenyum tipis. Mereka berdua tahu rencana Davin untuk menjebak Nitami kacau balau karena ulah Fransisca. Davin menatap tajam ke arah asisten pribadi dan sahabatnya itu, mereka berdua senang di atas penderita Davin. Tapi Davin memang layak mendapatkan ini semua, tidak semua yang Davin inginkan bisa ia dapatkan dengan mudah.
"Lalu bagaimana dengan ini?" Tanya tuan Markus menatap tajam sang putra.
"Apa maksudmu, dokter ini akan di keluarkan dari daftar dokter VVIP dan menjadi dokter pribadi keluarga Fardhan?" Ungkap tuan Markus melihat ke arah Nitami.
Tatapan tajam dan bencinya terlihat jelas.
"Dokter Nita hanya akan menjadi dokter cadangan, jika dokter Aldi memiliki kesibukan dan tidak bisa datang sebagai dokter pribadi keluarga Fardhan." Jawab Davin dengan tegas.
"Aku keberatan."
"Jika anda keberatan tuan, silahkan jangan menghubungi dan jangan menggunakan jasa dari dokter Nita. Keputusan ku yang satu ini tidak bisa di ganggu gugat." Ucap Davin dengan tegasnya.
Kali ini Davin akan mempertahankan Nitami agar tetap menjadi dokter pribadi keluarga Fardhan, khususnya dokter pribadi baginya. Bagaimana juga Davin berpikir? Jika dia berhak atas diri Nitami sebagai seorang suami. Itulah yang ada di dalam pikiran Davin saat ini.
"Apa ini kepentingan pribadi mu?" Tanya tuan Markus dengan serius. Dia ingin tahu maksud jelas dari putranya itu.
Davin terdiam sejenak, namun tidak dengan Nitami dan yang lainnya. Mereka semua penasaran akan jawaban yang akan di utarakan oleh Davin.
"Iya. Ini kepentingan pribadi ku, bagaimana juga dokter Nita pernah menyelamatkan ku dari kematian." Balas Davin menjadi alasannya.
"Itu sudah kewajibannya sebagai seorang dokter." ketus tuan Markus menatap tajam Nitami.
"Bukan begitu, dokter Nita?" Ucap tuan Markus melihat intens ke arah Nitami.
Nitami menatap tuan Markus tanpa rasa takut, raut wajahnya masih datar dengan sikapnya yang tenang. Perkataan yang di ucapkan oleh tuan Markus kepadanya sudah sangat jelas, jika tuan Markus masih tidak setuju akan keputusan Davin. Dia hanya akan mengikuti alur permainan dari sepasang papa dan putranya tersebut.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.