Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
143. Season 2....Penjelasan Dan Perasaan Teo.


__ADS_3

…Season 2…


***Mansion Kediaman Orlando***


Lily menatap lekat layar ponsel yang sedang di pegang erat oleh Nitami, wanita itu berdiri tepat di hadapan Lily yang masih setia pada senjata api di tangannya. Nitami perlahan mencoba untuk mendekati Lily dan ingin Lily menerima ponsel yang ia pegang.


"Katakan sesuatu padanya. Kau bisa bertanya apa pun kepada asisten Teo." Ucap Nitami mencoba berbicara ramah terhadap Lily.


Nitami tahu jika Lily adalah nona yang baik hati dan lembut. Hanya keadaan dan pengaruh lingkungan di sekitarnya yang menjadikannya wanita yang begitu dingin, arogan dan terkadang bersikap kejam kepada siapa saja yang tidak ia sukai.


"Aku tahu kau lebih percaya pada asisten Teo dari pada semua yang akan aku jelaskan." Sambung Nitami kembali.


Semua yang hadir di sana terdiam dan tidak bergerak sedikit pun. Levi perlahan mendekati Alvira yang berdiri tidak jauh di sampingnya, lalu bertanya karena merasa khawatir.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Levi khawatir melihat Alvira yang terkejut akan kehadiran dan ancaman dari kakak perempuannya.


Alvira melihat ke arah Levi yang sudah berdiri di sampingnya. Tatapan mata Alvira masih jelas terlihat takut, cemas, dan terkejut secara bersamaan.


"Saat ini aku baik-baik saja, tapi tidak dengan kakakmu." Balas Alvira melihat sejenak ke arah Levi, kemudian melihat ke arah Lily yang masih setia menodongkan senjata apinya ke arah Nitami.


Levi tahu maksud dari Alvira mengenai kakak perempuannya tersebut. Levi adalah seorang dokter yang juga tahu betul bagaimana kondisi emosi yang tidak stabil, karena rasa trauma yang melekat beberapa tahun ini pada Lily.


"Apa benar pria itu adalah asisten Teo?" Tanya Levi mulai mengerti situasi mereka saat ini.


"Iya. Pria yang sangat merasa kehilangan sosok nona Lily karena besarnya rasa cinta asisten Teo kepada kakakmu itu." Balas Alvira sembari menunjuk ke arah Lily dengan ujung matanya.


Levi tahu dan semakin mengerti. Pria itu tahu jika Alvira yang ia cintai tidak akan berkata bohong. Levi percaya jika apa yang telah menimpa kakaknya dan asisten Teo, hanyalah salah paham seperti yang di katakan oleh Nitami beberapa saat yang lalu.


"Apa rasa traumanya begitu parah dan besar?" Tanya Alvira melihat emosi Lily yang terlihat tidak stabil dan meledak-ledak, karena rasa marah dan dendamnya terhadap Alesha dan Nitami akan kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Iya. Saat ini lebih terkontrol jika di bandingkan beberapa tahun yang lalu. Di saat dia merasa marah dan sedih kehilangan pria dan cintanya dalam satu waktu yang bersamaan." Jelas Levi, masih lekat dalam ingatannya bagaimana kondisi Lily pada saat itu. Hampir gila karena depresi yang tidak dapat ia kendalikan.


Alvira melihat ke arah Levi yang masih memandang jauh sang kakak. Terlihat jelas raut kesedihan dan kekhawatiran dari wajah Levi saat ini. Begitu sangat ia menyayangi sang kakak dan menginginkan semuanya yang terbaik untuk saudara perempuannya itu.


"Kak Lily hampir menjadi gila...tidak, dia sudah menjadi gila pada saat itu. Keadaannya membuat kami begitu sedih, kehilangan, dan putus asa untuk membuatnya kembali kepada kami seperti sedia kala." Jelas Levi. Alvira diam menyimak dan melihat lekat pria yang ia cintai, terlihat sedih memandang wanita yang menjadi saudaranya itu.


"Cukup lama dan sulit bagi kami, apa lagi bagi mama dan papa yang begitu menyayangi kak Lily. Kami terus berusaha dengan berbagai cara dan pengobatan untuk membawanya kembali seperti Lilyana Massimo yang ceria, kuat, penuh aura positif bagi sekitarnya dan yang lebih penting lagi." Ucapnya, melihat ke arah Alvira yang masih lekat memandangnya lalu berkata.


"Membuat dia percaya akan masa depannya akan kembali cerah dan nyata masih berjalan seperti yang ia inginkan. Menemukan kebahagiaan yang akan dapat menutupi rasa sakitnya saat itu. Kami berusaha membawanya kembali dengan begitu banyak yang telah di korbankan. Perasaan hati, kehilangan banyak teman, kedudukan dan harta yang tidak sedikit hilang perlahan dari keluarga kami." Jelasnya.


Alvira mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti beberapa ucapan Levi yang tadi pria itu katakan. Sedangkan Levi tahu jika penjelasan mengenai Lily akan sangat panjang lebar, dan bukan waktu yang tepat saat ini untuk ia menjelaskan cerita panjang itu kepada Alvira. Mengingat kondisi mereka saat ini yang tidak mendukung.


"Ceritanya sangat panjang. Yang jelas, kak Lily tahu bagaimana mengendalikan dirinya sendiri dan sekitarnya. Dia tahu harus seperti apa? Dia adalah wanita yang kuat, cerdas dan tidak mudah bertindak gegabah. Setidaknya itulah yang masih aku yakini tentang kakakku itu." Ucap Levi mencoba tersenyum tipis melihat raut bingung sang pujaan hati. Ia tidak ingin membuat Alvira semakin bingung akan penjelasan singkatnya tadi.

__ADS_1


Alvira mencoba untuk mengerti penjelasan Levi.


"Aku harap kamu tidak akan takut pada kakakku dan bisa mengerti keadaannya." Tatapan mata Levi seolah memintanya untuk mengerti keadaan mereka saat ini.


"Tentu saja. Aku mengerti." Balas Alvira tersenyum tipis untuk meyakinkan Levi bahwa dirinya mengerti pada situasi yang sedang mereka hadapi. Lebih jelasnya lagi, Levi berharap jika Alvira percaya dan tidak akan takut pada Lily dengan kemarahan dan kebencian wanita itu saat ini terhadap seluruh anggota keluarga Larzo.


"Terima kasih." Levi mencoba tersenyum walau sejenak.


Mereka kembali fokus pada Nitami yang berusaha untuk mendekat pada Lily. Wanita yang tadi marah dan murka akan kehadiran Nitami dan Alvira, kini mulai tenang dengan pandangan mata yang berangsur-angsur teduh melihat ke arah layar ponsel di hadapannya.


"Lily....!!" Panggil Nitami dengan lembut sembari terus melangkah mendekati Lily.


Lily masih terpana pada ponsel di hadapannya, seakan layar itu adalah fokus dan hidupnya ada di dalam sana. Nitami kini berdiri beberapa senti di hadapan Lily. Mereka mencoba melihat dan memperhatikan setiap tingkah laku keduanya. Waspada pada apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Nona Lily...katakan sesuatu kepada asisten Teo." Ucap Nitami sembari menelan salivanya, untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering akan situasi menegangkan mereka saat ini.


Lily tidak bergeming walaupun dia cukup jelas mendengar setiap perkataan lembut Nitami. Dalam hatinya mulai merasakan rasa nyaman sekaligus rasa lega. Seakan semua beban di dalam hidupnya kini terangkat semua.


"Asisten Teo, tolong katakan sesuatu!! Nona Lily hanya diam saja." Ucap Nitami ingin ada perkembangan pada situasi menegangkan mereka saat ini.


Teo tahu harus berbuat apa. Dia melihat jelas Lily sedang menodongkan senjata apinya ke arah Nitami. Terlihat jelas saat Nitami mengarahkan layar ponsel menghadap ke arah Lily.


"Lily...Aku masih hidup dan berusaha mencari keberadaanmu selama beberapa tahun ini." Ucap Teo terdengar jelas oleh mereka. Ada ketulusan dari nada suaranya. Sedangkan Lily tidak bergeming sama sekali, masih sama pada posisinya tadi.


"Aku merindukanmu Lily." Kata Teo jujur dan tidak ingin lagi menyembunyikan perasaannya. Walaupun pria itu tidak tahu situasi di dalam keluarga Orlando yang sedang berkumpul di sana dan dapat mendengarkan semua perkataannya tadi.


Lily masih diam pada tempatnya dengan posisi masih menggenggam erat senjata apinya, tetapi matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Perkataan jujur dan tulus Teo sangat menyentuh hatinya. Mata dan pandangannya masih melihat lekat wajah Teo yang ada di dalam layar ponsel milik Alvira.


"Lily...apa kamu baik-baik saja. Jangan diam saja, katakanlah sesuatu untukku." Ucap Teo tidak puas melihat Lily hanya diam saja dengan tatapan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Mereka yang hadir di sana dapat melihat dengan jelas jika ada cinta yang tulus dan besar di dalam hati Lily untuk Teo, terlihat jelas dari sorot mata Lily yang penuh akan cinta serta kerinduan untuk pria yang bertahan dan bertahta di dalam hati wanita cantik itu.


Sarah tahu dan mengerti bagaimana perasaan putri sulungnya itu, terhadap pria yang kini berhasil membuat Lily menunjukkan cinta di dalam sorot matanya yang terlihat teduh dan hangat. Sarah menangis haru melihat putrinya kembali utuh seperti dulu lagi, hangat dan penuh akan cinta.


"Lily aku mohon, katakanlah sesuatu padaku." Kata Teo masih ingin kejelasan dari wanita itu.


Beberapa detik telah berlalu, Lily masih betah pada diamnya. Hatinya kini merasakan banyak perasaan yang bercampur aduk menjadi satu di dalam sana, hingga ia tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya yang tertahan di tenggorokannya.


"Maaf jika aku terlalu lancang untuk mengungkapkan perasaanku padamu." Kata Teo terdengar putus asa.


"Tidak masalah jika kamu hanya akan diam saja. Aku senang, lega dan bahagia mengetahui keadaanmu baik-baik saja saat ini." Teo tersenyum getir dan hanya Lily yang dapat melihatnya.


"Terima kasih kamu sudah baik-baik saja. Senang dapat melihat mu lagi. Aku berharap, kamu selalu sehat dan bahagia." Ucap Teo terdengar putus asa, tetapi pria itu berusaha untuk tersenyum kepada Lily.

__ADS_1


"Nona Nitami, apa Anda masih ada di sana." Tanya Teo ingin mengakhiri panggilan itu karena tidak mendapatkan respon apa pun dari Lily.


Nitami merasa aneh akan sikap diam Lily, sedangkan dia melihat jelas ada kerinduan dan binar cinta pada sorot mata Lily untuk Teo. Semua yang hadir di sana juga dapat melihatnya dengan jelas, dan merasa aneh sama seperti Nitami. Lily hanya diam saja pada tempatnya.


Tanpa mereka ketahui, jika Lily sebenarnya bahagia, lega, dan hatinya menghangat mengetahui pria yang ia cintai selama ini masih hidup dan juga merindukan dirinya.


"Nona...apa anda masih di sana?" Tanya Teo kembali karena Nitami hanya diam saja.


Nitami melihat ke arah Lily yang tidak ada perubahan pada posisinya sama sekali. Dia pun menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Iya aku masih di sini asisten Teo." Balas Nitami pada akhirnya merasa iba pada Teo yang tidak mendapatkan respon apa pun dari Lily.


Nitami menarik ponsel itu untuk mengarah kepadanya. Kini Nitami dan Teo dapat saling melihat melalui layar ponsel tersebut.


Saat Lily tidak dapat lagi melihat wajah Teo, ia pun tersadar. Pandangannya yang seakan kehilangan fokus di dalam hidupnya, dengan cepat melihat ke arah Nitami yang sedang mengarahkan ponsel itu ke arahnya.


"Maafkan aku asisten Teo, nona Lily hanya diam saja." Kata Nitami merasa tidak nyaman kepada Teo yang tidak mendapatkan respon apa pun dari Lily.


"Tidak masalah nona. Terima kasih." Balas Teo mencoba untuk mengerti.


Ucapan terima kasih Teo untuk pertemuannya dengan Lily yang telah membuat hatinya kini lega dan seakan lepas dari beban yang selama ini ia pendam dalam hatinya.


Nitami tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis untuk menanggapi perkataan Teo.


"Baiklah nona, saya akan tutup sambungan ini." Kata Teo yang sukses membuat adanya perubahan dari wajah Lily.


Lily tidak rela sambungan itu terputus. Ia kembali merasakan rasa takut kehilangan jika sambungan itu terputus yang membawa serta Teo untuk pergi menghilang lagi dalam hidupnya.


"Tidak......!!!" Histeris Lily tiba-tiba saat Nitami akan menjawab Teo dan memutus segera sambungan telepon mereka.


Kembali semua orang terlihat heran akan sikap Lily yang berubah. Nitami melihat ke arah Lily yang juga melihat ke arahnya. Ada sorot kesedihan dan ketakutan di dalam mata Lily saat melihat ke arahnya.


"Jangan, jangan di tutup....!!!" Ucap Lily dengan nada suara yang terdengar lirih dan memohon.


Perubahan yang sangat drastis dari sikap marah dan murka Lily tadi kini berubah iba, takut dan memohon. Nitami tahu itu dan mencoba untuk mengerti bagaimana perasaan Lily saat ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2