Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
42. Menyembunyikan Perasaan.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Davin merasa tidak puas akan jawaban Aldi yang sungguh tidak bisa mendukungnya. Davin kini tidak dapat berbuat apapun? untuk memisahkan Nitami dan Nicolas agar tidak menjadi seorang dokter dan pasiennya.


"apa tidak ada yang bisa di lakukan? agar kau tidak menjadi dokter dari tuan Nicolas itu?" tanya Davin pada akhirnya, dia menatap lekat wajah Nitami yang menatapnya dengan kerutan alis yang melihatnya heran.


Aldi dan Max tahu apa maksud pertanyaan dari Davin? mereka berdua menahan senyum pada bibir mereka, Davin saat ini merasa keberatan akan kedekatan Nitami dan Nicolas, lebih tepatnya lagi cemburu akan kedekatan Nitami dengan pria lain selain dirinya.


"apa maksud anda tuan?" tanya Nitami pada akhirnya.


Davin gelagapan, tidak mungkin Davin akan jujur jika dirinya merasa keberatan dan cemburu melihat Nitami dekat bersama Nicolas atau pria lain selain dirinya. Davin melirik ke arah Aldi yang pura-pura memalingkan wajahnya ke arah lain, untuk menghindari pertanyaan dari Nitami.


Sedangkan Nitami jelas tahu apa maksud dari perkataan Davin? terlihat jelas jika Davin selalu menghalangi dirinya untuk tidak menjadi dokter yang menangani Nicolas saat ini. Nitami tahu jika Davin tidak suka melihat dirinya dekat bersama dengan Nicolas.


'dia tidak suka melihatku menjadi dokter dari tuan Nicolas, untuk apa dia merasa keberatan? apa dia cemburu? tidak…tidak mungkin dia cemburu…!' gumam Nitami di dalam hatinya, sembari mengerutkan keningnya melihat heran ke arah Davin.


"pasien mu sudah terlalu banyak, mana bisa di tambah pasien lain lagi. Di sini juga banyak dokter yang bisa menanganinya. Mengapa mesti kau? lalu apa pekerjaan mereka." ucap Davin mencari alasan yang tepat.


"Aldi kau seharusnya menangani salah satu pasien VVIP yang sedang di rawat oleh Nitami. Jadi kau saja yang menjadi dokter dari tuan Nicolas." ucap Davin menatap tajam Aldi yang masih terlihat cuek saja.


"Mana bisa seperti itu, aku ini dokter umum bedah saraf, mana bisa menangani tuan Nicolas. Lagi pula bukan aku yang menjadi dokter pilihan dari tuan Nicolas, dan bukan aku yang menjadi dokter pertama yang menanganinya. Jadi tidak bisa." tolak Aldi dengan berbagai alasan yang mungkin bisa saja di terima oleh Davin.


Davin tidak puas dan tidak terima akan penolakan Aldi yang tidak bisa mendukungnya sama sekali.


"lalu apa pekerjaanmu di rumah sakit ini jika tidak ada pasien bedah saraf? apa kau memakan gaji buta." ucap ketus Davin masih tidak terima penolakan dari Aldi.


Aldi sontak terkejut akan perkataan Davin, yang mengatakan jika dirinya tidak ada pekerjaan di rumah sakit ini dan memakan gaji buta. Sedangkan dia setiap hari penuh di datangi pasien dengan penyakit saraf, lalu pekerjaan seperti apa lagi yang harus Aldi lakukan? agar dia terlihat sibuk.


"jangan sembarang bicara kau Davin, aku hampir setiap hari banyak kedatangan pasien dengan penyakit saraf, dan tidak sedikit dari pasien yang setiap harinya harus aku operasi. Jadi aku tidak pernah makan gaji buta." ungkap protes Aldi tidak terima akan ucapan Davin terhadap dirinya.


"kalau begitu cari dokter lainnya, pasti banyak dokter di rumah sakit ini." ungkapnya masih berusaha untuk mencegah kedekatan Nitami dan Nicolas.


Aldi terdiam, tidak ada gunanya menggunakan seribu alasan kepada Davin. Satupun tidak ada yang akan dia terima, Davin hanya menerima jika Nitami jauh dari Nicolas saat ini.


Nitami pun sama, tingkat laku dan sikap serta perkataan Davin membuktikan secara jelas, jika Davin tidak suka dirinya dekat bersama dengan Nicolas. Nitami jadi ingin mencoba memancing Davin, ada terselip celah untuknya membalas perlakuan Davin padanya selama ini.


"apa anda tidak mengerti apa yang dokter Aldi jelaskan tadi?" tanya Nitami tiba-tiba, setelah sekian lama dia hanya diam menyaksikan perdebatan Davin dan Aldi.


Davin melihat ke arah Nitami. "apa maksudmu?" tanyanya.


"dokter Aldi sudah sangat jelas mengatakan jika aku adalah dokter pilihan langsung oleh tuan Nicolas, dia adalah pasien VVIP yang tidak bisa aku tolak, dan aku adalah dokter bedah yang mengoperasinya. Jadi aku bertanggung jawab penuh atas kesembuhannya. Apa anda tidak bisa mengerti itu tuan?" tanya Nitami dengan nada dan wajah sedatar mungkin.


Penjelasan Nitami dapat menyelamatkan Aldi yang sudah kehabisan akal menghadapi sikap keras kepala Davin saat ini. Beginilah tingkah seorang pria yang sedang jatuh cinta dan cemburu, namun tidak sadar akan dirinya sendiri.

__ADS_1


Davin menatap Nitami yang terlihat serius akan perkataannya. Davin tahu Nitami tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya. Namun dia tetap tidak suka melihat Nitami berada dan bersama dekat dengan pria lain, apalagi Nicolas yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya terhadap Nitami, itu terlihat dari sorot matanya yang hangat dan teduh memandang Nitami.


"aku menjalankan tugasku pada rumah sakit anda ini dengan penuh tanggung jawab. Apa yang menjadi masalah anda tuan?" tanya Nitami yang membuat Davin mati kutu, apa yang akan menjadi jawaban Davin?


Aldi menahan senyumnya, Aldi tahu Davin kini terjebak pada ulahnya sendiri. Sedangkan Max menahan dirinya dengan sikap sedatar mungkin. Max tahu tuannya sedang terjebak pada apa yang di buat olehnya? Dan Nitami hanya mengembangkan jebakkan tersebut.


'mati kau Davin, jawaban apa yang akan kau katakan?' gumam Aldi di dalam hatinya.


'tuan anda sudah salah jalan saat ini. Anda belum sadar juga jika nyonya Nitami sudah tahu tujuan anda bersikap seperti ini?' gumam Max di dalam hatinya sembari menggelengkan kepalanya melihat ke arah punggung tuannya yang ada di hadapannya.


"aku…" ucap Davin melirik ke arah Aldi.


Aldi mengedikkan kedua bahunya, dia seolah mengatakan 'aku tidak tahu apa-apa.'


"aku tidak ada masalah." ucapnya setelah tahu Aldi tidak akan membantunya.


'awas kau Aldi, kau sahabat yang tidak setia kawan.' gumam Davin kecewa dan marah pada Aldi yang tidak ingin membantunya kali ini.


"jika seperti itu, tidak ada alasan lagi jika aku menjadi dokter dari tuan Nicolas." ucap Nitami mencoba memancing Davin kembali.


Davin terdiam, tetapi genggaman kuat pada tangannya terlihat menahan sesuatu yang ada di hatinya. Davin masih tidak rela Nitami berada dekat bersama Nicolas.


"Max, atur jadwalku untuk besok. Katakan kepada direktur rumah sakit dan kepala dokter di sini. Aku ingin mengadakan rapat mengenai kinerja semua dokter di rumah sakit ini." ungkap Davin memberikan perintahnya.


Tatapan tajam dan dingin kini mendominasi wajah Davin menatap Nitami.


"katakan kepada mereka untuk mengumpulkan semua laporan kinerja semua dokter di rumah sakit ini. Jika ada dokter yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan dariku, pecat semua." ucap Davin secara tegas dengan tatapan yang masih datar dan dingin memandang Nitami.


Nitami terdiam, sedangkan Aldi menatap keduanya secara bergantian. Inilah Davin yang sebenarnya. Dia akan bersikap tegas dan kejam dengan memakai kekuasaan yang ia miliki, jika semua apa yang dia inginkan tidak terpenuhi?


"Davin apa kau yakin akan hal itu?" tanya Aldi ingin memastikan.


"tentu saja. Apa ada masalah denganmu?" tanya balik Davin dengan menatap tajam ke arah Aldi.


Aldi menatap heran Davin, lalu beralih ke arah Nitami yang masih setia pada sikap diam dan datarnya. Mereka berdua pasangan yang sangat cocok, selalu tampil datar dan dingin. Itulah pandangan Aldi pada Nitami dan Davin.


"aku tidak ada masalah. Aku hanya tidak yakin. Sebenarnya mereka atau kau yang mempunyai masalah?" ungkap Aldi segera bersikap tenang dan melihat ke arah Nitami yang masih pada posisinya semula.


"apa maksudmu Aldi?" tanya tegas Davin menekan setiap kata-katanya.


"aku tahu kau mengerti Davin, terserah padamu saja. Aku mengikuti alurnya saja." ungkap Aldi bangkit dari duduknya.


Aldi merasa sudah tidak ada yang bisa di bicarakan lagi bersama Davin, yang kini sedang berada pada mode tidak nyaman. Davin saat ini sedang marah dan kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi, dan memakai jalan lain untuk mendapatkan keinginannya agar terwujud.

__ADS_1


Nitami menatap ke arah Aldi dan Davin secara bergantian. Nitami semakin yakin ada yang aneh pada Davin saat ini. Davin menatap Nitami sejenak, lalu bangkit dari duduknya. Dia juga merasa tidak ada lagi yang akan di bicarakan, sudah sangat jelas jika Nitami tidak akan mendengarkan apa yang menjadi keinginannya?


Davin dan Aldi ingin melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Namun perkataan Nitami sontak membuat mereka diam terpaku dari langkah mereka.


"apa hati anda merasa tidak nyaman tuan? apa anda cemburu tuan?" tanya Nitami secara terus terang. Davin diam di tempatnya berdiri membelakangi Nitami.


Aldi menatap ke arah Nitami dan Davin secara bergantian, perkataan Nitami sangat beterus terang. Aldi ingin tahu apa yang menjadi jawaban Davin saat ini?


Nitami masih memandang punggung Davin yang ada di hadapannya. Davin diam terpaku, Nitami tahu apa yang ia rasakan saat ini? tetapi dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Nitami.


Tanpa menjawab pertanyaan Nitami, Davin melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan meninggalkan Nitami begitu saja, dengan perkataannya yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Davin?


Aldi masih diam pada ruangan tersebut. Pandangan matanya beralih kepada Nitami yang masih duduk di balik meja kerjanya.


"perkataanmu terlalu terus terang, dokter Nita." ucap Aldi dengan senyum tipisnya.


"aku tidak pernah tahu, kau ternyata lebih berani bersikap jujur terhadap orang lain." ucapnya.


"sikapnya terlalu terlihat jelas, semua orang akan tahu itu." jawab Nitami dengan sedatar mungkin.


"kau benar, dia terlalu egois untuk mengakui perasaannya." ungkap Aldi yang membuat Nitami mengerutkan keningnya melihat Aldi.


Perasaan…?! perasaan siapa? apakah perasaan Davin? kepada siapa? Itulah pertanyaan di dalam hati Nitami saat ini.


Aldi tersenyum ke arah Nitami, Aldi merasa lucu terhadap kedua sahabatnya tersebut. Sebenarnya keduanya memiliki takdir yang terikat kuat, namun sama sama kuat mempertahankan untuk menyembunyikan perasaan mereka masing-masing.


"Rasakan apa yang ada di dalam hatimu dokter Nita. Kau akan merasakan apa yang ada di hatinya?" ungkap Aldi memandang Nitami dengan senyum tulusnya kepada Nitami.


"selamat malam dokter Nita. Sepertinya besok hari yang akan sangat melelahkan untuk kita, akibat ulah seseorang yang sangat bodoh tidak bisa jujur akan perasaan di dalam hatinya." ungkap Aldi, dan berlalu dari ruangan Nitami sembari melambaikan tangannya dan menutup pintu ruangan tersebut.


"kau tidak akan tahu dan mengerti dokter Aldi. Setidaknya dia harus tahu dan merasakan apa yang aku rasakan dulu?" gumam Nitami pelan menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat.


Semua akan di mulai, Davin dan Nitami tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang akan di tentukan oleh takdir mereka di masa depan? Hanya bisa menjalaninya dengan mengikuti alurnya saja, itulah yang akan Nitami jalani dan lakukan untuk hidupnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2