Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
56. Mencoba Membela Dan Melindungi.


__ADS_3

***Mansion Keluarga Fardhan***


…Nitami Adreena Saila…


Flashback on…


Aku tidak ingin menerima keputusan yang di ucapkan oleh Davin, aku tidak ingin menjadi istrinya untuk 5 tahun ke depan. Itu akan menyiksa diriku, walaupun rasa cintaku pada Davin masih terpendam di dalam hatiku. Namun aku tidak sudi tersakiti seperti ini, aku tidak ingin menjadi istri yang tidak di harapkan, di duakan, di sakiti dan juga di jadikan sebuah tumbal di keluarga Fardhan.


Semua itu aku menolaknya dengan sangat keras, tetapi ternyata tidak semudah aku membalikkan telapak tanganku. Terbukti dari penolakan Davin saat diriku meminta cerai darinya. Davin memberikan sebuah jawaban yang tidak pernah ada di dalam bayanganku.


"Aku tidak ingin hidup seperti ini, ceraikan aku sekarang juga." Pintaku sedikit keras kepada Davin, dengan tatapan yang sudah terluka melihat mereka berdua.


"Tidak semudah itu." Balasnya dengan senyum yang meremehkanku, dan aku benci melihat itu.


Ku kepalkan tanganku kuat, menahan rasa kesal dan marah. Ingin rasanya aku menghajarnya sekarang juga.


"Baik, jika kau tidak ingin melakukannya. Aku yang akan menggugat kau terlebih dahulu." Balasku tidak ingin di remehkan olehnya. Sudah tidak penting lagi jika aku berbicara tidak sopan padanya, itu tidaklah penting bagiku.


Bukannya menjawab perkataanku. Davin merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Terdengar Davin menghubungi Max dan memerintahkan Max membawa sebuah berkas kontrak kepadanya.


Beberapa menit kemudian Max datang dengan sebuah map coklat di tangannya.


"Ini tuan." Ucap Max datang dan langsung menyerahkan map tersebut kepada Davin.


Davin menerimanya, dia hanya melihat sekilas map tersebut. Lalu dengan kasarnya Davin melemparkan map itu ke hadapan wajahku, namun dengan sigap aku menangkapnya.


"Baca baik-baik dan mengerti semua isi kontrak itu." Perintahnya dengan tegas. Aku mengerutkan keningku melihatnya. Aku sungguh tidak mengerti maksudnya, ada perasaan yang tidak nyaman dengan tiba-tiba aku rasakan.


Dengan cepat aku membuka map itu lalu membaca semua yang ada di dalamnya. Mulutku terbuka, mataku membulat sempurna. Aku terkejut tidak percaya dengan apa yang aku baca saat ini? Itulah sebuah kontrak pernikahan yang akan mengikatku selama 5 tahun untuk rela menjalankan pernikahan yang tidak aku inginkan lagi.


Sejak kapan itu ada? aku merasa tidak pernah menandatanganinya. Jadi ini semua tidak benar, karena aku merasa tidak pernah melakukan kesepakatan kontrak itu bersama Davin.


"Ini tidak benar. Ini omong kosong. Aku tidak pernah memiliki ataupun setuju dengan kesepakatan kontrak ini." Ungkapku tidak ingin menerimanya begitu saja.


"Jika kau tidak setuju, bagaimana bisa tanda tanganmu ada di atas materai itu?" Tanyanya dengan berdiri menantang dengan berkacak pinggang di hadapanku.


Aku melihat tanda tanganku yang dia maksudkan, benar itu tanda tanganku di atas materai. Aku mencoba melihatnya sekali lagi, sembari mengingat kapan aku pernah membubuhkan tanda tanganku pada berkas ini.


Terlintas ingatan saat pengesahan pernikahan kami, pada saat itu aku banyak menanda tangani beberapa lembar berkas. Apakah pada saat itu? jika itu benar, itu artinya aku sudah di jebak oleh rencana yang mereka buat.


Rahangku mengeras karena menahan amarah, tatapan mataku kini tajam menantang melihat ke arah Davin.


"Kalian licik." Ucapku dengan menekan perkataan ku.


"Kalian selipkan berkas kontrak ini, di antara berkas pernikahan waktu itu. Iyakan." Ucapku kesal dengan nada yang sedikit meninggi.


"hahaha." Davin tertawa. "Kini kau ingat, jadi sudah jelas kau sendiri yang setuju dan mau menanda tanganinya."


"Tidak. Kalian licik, aku tidak pernah menyetujui apapun tentang kontrak ini? Ini semua melanggar hukum, dan akan aku laporan ini semua."


"Hahaha…kau pikir kau bisa. Baca baik-baik isi kontrak itu!!!" Perintahnya.

__ADS_1


Akupun mengikuti perintah yang Davin katakan, tanganku meremas kertas itu. Aku bukan orang bodoh yang tidak tahu apa arti dari semua isi dari kontrak itu? Sudah jelas apapun yang ingin aku lakukan? itu hanyalah sia-sia saja. Aku terdiam dengan menatap benci ke arah Davin yang melangkah mendekatiku.


"Jadilah istri pertama yang patuh pada suaminya. Tapi ingat jangan berharap terlalu tinggi, kau cukup menjadi istri simpanan, istri pajangan dan istri yang di tumbalkan." Ungkap Davin dengan senyum liciknya.


Davin melangkah kembali ke arah Fransisca yang ada di belakangnya.


"Istriku yang sebenarnya hanyalah Fransisca." Ucapnya dengan memeluk Fransisca dari arah belakang, dan mencium mesra pipi Fransisca dengan tatapan licik menghina ke arahku.


"Kalian kejam, akan aku ingat ini semua sampai kapanpun. Suatu saat nanti akan aku balas semua perlakuan licik kalian ini. Di saat itu tiba, kalian akan merasakan apa yang aku rasakan dua kali lipat."


"Hahahaha…kau mencoba mengancam ku. Sebelum itu terjadi, selamatkan dirimu terlebih dahulu."


"Kenapa, kau takut akan ancamanku." Tanyaku tersenyum tipis ke arah mereka.


Cukup sudah, aku bukan orang yang lemah seperti yang mereka pikirkan. Akan aku buktikan setiap kata-kataku kepada mereka. Di sini siapa yang akan menjadi tumbal? siapa yang kalah dan siapa yang menang? Waktu yang akan membuktikannya.


"Silahkan lakukan apapun yang ingin kau lakukan? Sebelum itu terjadi, aku harap kau masih hidup." Ucap Davin dengan berdiri tegak menantang, sedangkan Fransisca menggandeng mesra lengan Davin.


"Sayang jangan ladeni wanita sampah ini. Hanya akan sia-sia saja, tidak ada gunanya." Ucap Fransisca dengan sikap mesra kepada Davin, namun tatapan matanya benci dan remeh ke arahku.


"Kau benar sayang." Balas Davin dengan tersenyum ke arah Fransisca.


"Oya…mulai hari ini, keluar dari kamarku. Dan kau akan tinggal di rumah yang ada di belakang mansion." Ucapnya.


"Akupun tidak sudi berada satu kamar denganmu." Balasku tidak mau kalah.


"Bagus jika kau mengerti." Balasnya kembali. "Ayo sayang, nanti kita terlambat." Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sejak saat itu, neraka yang sesungguhnya datang silih berganti. Melihat pernikahan megah Fransisca dan Davin. Melihat kemesraan mereka hampir setiap hari, dan dengan sengaja mereka memperlihatkannya kepadaku. Semua hinaan dan kebencian mereka kepadaku mulai mereka lakukan setiap mempunyai peluang.


Bahkan sikapku kepada nyonya Sandra yang mulai aku panggil mama, tidak sehangat dulu. Aku selalu dingin padanya, dan tidak ingin berbicara serta bertemu dengannya lagi. Melihat wajah nyonya Sandra akan mengingatkan aku akan awal mula pernikahanku bersama Davin.


Flashback off…


...--------------------------------...


***Rumah Sakit Golden Healthy***


…Nitami Adreena Saila…


Di saat Davin masih memelukku, di saat itu kenangan datang silih berganti. Kebencian dan kemarahan itu datang lagi ke dalam hatiku. Saat aku ingin melepaskan diri dari pelukan Davin, di saat itu kami di kejutkan oleh kedatangan seseorang.


"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Fransisca saat membuka kasar pintu ruang rapat, di mana kami masih ada di dalam sana.


Aku melihat Fransisca dari balik pelukan Davin padaku, suara teriakkan Fransisca tidak membuat Davin sama sekali melepaskan pelukannya. Aku yang malah gelagapan untuk berusaha keluar dari pelukan Davin, karena di belakang Fransisca ada dokter kepala, direktur, dan dua dokter yang aku kenal.


"Tuan lepaskan."Ucapku melihat ke arah Davin. Davin hanya menatapku intens.


"Apa kau sudah tenang?" Tanyanya, dan aku hanya mengangguk tanda agar Davin bisa melepaskan pelukan eratnya padaku. Sungguh aku malu, seperti tertangkap basah karena ketahuan mencuri sesuatu.


Davin melonggarkan pelukannya, dengan cepat aku melepaskan diri dari tubuh Davin dan menjauh beberapa langkah darinya. Dengan langkah cepatnya Fransisca mendekatiku, lalu ingin melayangkan tamparannya kepadaku. Tetapi Davin menangkap pergelangan tangan Fransisca. Aku terkejut tidak percaya dengan apa yang aku lihat? Davin menghalangi tamparan Fransisca.

__ADS_1


"Lepaskan." Ucap Fransisca menekan perkataannya, sembari berusaha menarik tangannya yang di pegang oleh Davin.


"Jangan pernah menyentuhnya." Ucap Davin dengan tatapan tajam marah ke arah Fransisca.


Aku tidak percaya akan ucapan Davin. Davin membelaku di hadapan Fransisca yang setahuku sangat ia cintai. Ada apa ini?


Fransisca menatap tajam ke arah Davin.


"Kau membela wanita j*l*Ng ini Davin." Teriak Fransisca ke arah Davin.


"Turunkan nada bicaramu." Peringatan dari Davin. Lagi lagi aku terkejut tidak percaya. Ada apa dengan Davin?


"Aku istrimu Davin, dan dia hanya wanita j*l*Ng, wanita rendahan yang tidak tahu diri, pelacur perebut suami orang. Kau membelanya." Ungkap Fransisca dengan sebuah teriakan yang dapat di dengar oleh orang orang yang hadir di sana.


Mereka mulai berbisik karena melihat dan mendengar semua yang terjadi. Entah apa tanggapan mereka, akupun tidak tahu?


Davin kini berdiri di depanku, dia berusaha menjadi penghalang agar Fransisca tidak dapat meraihku. Semua ucapan Fransisca tidak Davin dengarkan, entah apa yang terjadi pada Davin? akupun tidak tahu, ini semua terjadi begitu saja. Satu yang aku tahu, Davin mencoba membela dan melindungi ku saat ini.


"Davin. Apa yang terjadi padamu? Apa yang sedang kau lakukan ini tidak benar, Davin." Tanya Fransisca mencoba mencari tahu, apa yang terjadi pada Davin sebenarnya?


"Benar tidaknya itu urusanku, bukan urusanmu!!"


"Davin."


"Cukup Fransisca. Ini rumah sakit, bukan mansion tempatmu seenaknya berbuat dan berteriak."


"Seharusnya ini yang aku katakan padamu. Ini rumah sakit, bukan untuk kalian bisa bersikap mesra sembarangan. Apa kau mencoba mengkhianatiku Davin bersama wanita ini."


"Aku tidak pernah mengkhianatimu Fransisca, justru itu yang seharusnya aku katakan kepadamu."


"Apa maksudmu, Davin?"


"Apa maksudku? hanya kau yang tahu." Ucap Davin dengan tatapan tajam dan dingin menatap intens Fransisca.


Tatapan mesra dan hangat Davin terhadap Fransisca dulu, kini telah berubah dan aku tidak mengerti karena apa? Tidak mungkin perubahan Davin, karena diriku. Itu tidaklah mungkin.


"Kau yang telah mengkhianatiku dan berselingkuh dengan wanita j*l*Ng ini. Mengapa kau balik menyerangku, Davin?" Teriak Fransisca tidak dapat mengontrol emosinya.


"Ingat satu hal Fransisca, aku tidak pernah memiliki niat untuk berselingkuh dengan siapapun? Kau harus ingat siapa wanita yang kau panggil j*l*ng ini." Ucap Davin menunjuk ke arah Fransisca.


"Apa kau lupa siapa dia? Apa harus aku yang mengingatkannya kepadamu?" Ucap Davin menekan setiap kata-katanya.


Fransisca Terlihat menelan salivanya, namun tatapan matanya tajam melihat ke arahku yang ada di belakang Davin. Genggaman tangan Fransisca kuat sampai buku-buku jarinya memutih, dia terlihat menahan amarahnya yang terlihat dari wajahnya yang mulai merah padam.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2