
***Mansion Keluarga Larzo***
Makan malam masih berlangsung saat ini, percakapan mengenai pergi bersama yang di inginkan oleh Angel masih menjadi topik pembicaraan mereka.
"Angel sayang…!" Panggil Alesha dengan lembut kepada Angel yang kini tengah tertunduk lesu akan penolakan Nitami.
Angel yang di panggil oleh Alesha mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Alesha.
"Tante akan mengatur jadwal untuk Angel pergi bersama tante Nitami dan Uncle Nico. Jadi Angel jangan sedih, oke sayang." Ucap Alesha memberikan sebuah janji yang akan membuat Angel tidak sedih lagi.
Nitami menatap tajam ke arah Alesha, dia tahu maksud janji Alesha kepada Angel bisa terwujud dengan mudah, karena mulai besok ia adalah dokter khusus yang di miliki oleh Alesha. Jadi tidak akan mungkin untuk Nitami menolak lagi apa yang akan di rencanakan oleh Alesha.
Ucapan Alesha adalah angin segar bagi Angel. Namun dia yang masih terlalu kecil tidak mengetahui jika Nitami akan bekerja bersama Alesha. Wajahnya pun masih terlihat murung.
"Bagaimana bisa tante Alesha, tante cantik tidak dapat libur bekerja." Balas Angel murung melihat Alesha dan Nitami secara bergantian.
Sungguh terlihat kasihan bagi mereka yang melihat wajah Angel, untuk pergi jalan-jalan saja penuh usaha yang tidak mudah.
"Tante janji akan mengatur jadwal libur tante cantik, karena mulai besok tante adalah atasan tante cantik. Jadi mudah bagi tante untuk mewujudkan keinginan Angel." Balas Alesha dengan senyuman yang penuh akan arti, lalu tatapan matanya melihat sekilas ke arah Nitami yang menatapnya tidak suka.
"Maksud tante Alesha, tante cantik bisa libur kapanpun dan tante Alesha akan memberikan hari liburnya…!" Ucap Angel ingin memastikan.
"Iya sayang, kapanpun Angel ingin pergi bersama tante cantik, tante akan siap memberikan hari libur untuk tante cantik, bahkan bila perlu cuti panjang sekalipun." Ucapnya dengan senyum merekah melirik Nitami yang memasang wajah kusutnya mendengar ide Alesha.
Sedangkan yang lainnya tersenyum melihat wajah kusut Nitami yang terlihat tidak suka akan ide Alesha, begitu juga Nicolas yang tahu arah pembicaraan Alesha. Inilah janji yang akan di berikan oleh Alesha ketika mereka sepakat menjalin kerjasama.
Alesha akan senang hati membantu mendekatkan Nicolas kepada Nitami. Alesha tahu jika Nicolas menyukai Nitami sejak lama, dan Alesha setuju jika sang sahabat bersama dengan Nicolas.
"Janji tante…" Ucap Angel tersenyum senang.
"Janji sayang." Balas Alesha tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Angel.
Tidak ada komentar lagi dari Nitami saat dia melihat senyum bahagia Angel, marahnya hilang begitu saja. Sungguh sederhana kebahagiaan gadis kecil di sampingnya tersebut, cukup dengan jalan-jalan dan pergi bersama membuat gadis kecilnya begitu terlihat bahagia.
Bagaimana bisa Nitami akan menghancurkan kebahagiaan itu? Dia pun akan mengikuti apa yang menjadi rencana atau ide Alesha, asal senyum bahagia Angel akan terus berada di wajahnya setiap saat.
"Tante cantik dengar kan…" Seru Angel melihat ke arah Nitami dengan senyum bahagia masih setia pada wajah mungilnya.
Nitami menatap wajah cantik itu dengan intens, dia tidak kuasa menghilangkan kebahagiaan di wajah Angel.
"Iya sayang tante dengar, apa Angel bahagia?" Tanya Nitami dengan senyum yang juga merekah.
Nitami tidak peduli lagi dengan siapapun dia pergi, yang lebih penting saat ini adalah gadis kecilnya akan selalu bahagia.
"Iya tante, Angel bahagia bisa pergi bersama Uncle Nico dan juga tante cantik." Balasnya.
Di dalam lubuk hati Angel yang paling dalam, Nitami dan Nicolas mengingatkan dirinya kepada sosok mama dan papanya yang sudah tiada. Kerinduan akan aktivitas yang dulu selalu ia lakukan bersama kedua orang tuanya adalah pemicu keinginannya untuk pergi bersama.
"Baiklah, sekarang Angel habiskan dulu makan malamnya ya sayang." Balas Nitami.
"Iya tante." Patuhnya.
__ADS_1
Mereka pun makan malam dengan bahagia, begitu juga Nicolas yang merasa sangat bahagia dan tidak sabar menantikan hari di mana mereka akan pergi bersama.
...--------------------------------...
…Beberapa jam kemudian…
Nitami sudah berada di mansion keluarga Fardhan, malam ini adalah malam terakhirnya bersama keluarga Fardhan.
Beberapa anak buah Alesha yang tengah menyamar, dengan setia berjaga untuk mengawasi dan mengamankan situasi pada mansion tersebut. Mereka mendapatkan perintah untuk membantu Nitami menghadapi masalahnya malam ini.
"Nitami, bisakah kita bicara sebentar…!" Ucap Davin menghalangi jalan Nitami menuju ke rumah putih.
Nitami melihat intens Davin yang ada di hadapannya.
"Sepertinya sudah sangat jelas, tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan sekarang." Balas Nitami dengan raut wajahnya yang datar.
Nitami tahu pembicaraan apa yang akan di bahas oleh Davin? Mengenai perceraian yang tidak di inginkan oleh Davin, namun sudah bulat keputusan Nitami untuk mengakhiri pernikahan kontrak mereka berdua.
"Nitami aku mohon, pikirkan lah kembali. Aku rasa kita bisa mulai dari awal lagi." Ucap Davin masih berusaha untuk kembali bersama Nitami.
"Mulai dari awal lagi…!" Ucap ulang Nitami.
"Iya." Angguk Davin.
"Setidaknya pikirkan lah nasib Angel, anak itu masih membutuhkan kita berdua sebagai pengganti kedua orang tuanya yang telah tiada." Ucap Davin ingin membujuk Nitami dengan menggunakan nama Angel.
"Angel akan baik-baik saja bersamaku. " Ucap tegas Nitami.
"Jangan pernah menggunakan Angel sebagai alasan ataupun ancaman untuk ku saat ini. Itu tidak akan berhasil, tuan Davin Attala Fardhan." Ucap Nitami menekan setiap kata-katanya.
"Angel akan baik-baik saja, dan anda tidak perlu mencemaskan masa depan Angel."
"Bagaimana bisa, Nitami…pikirkan lah kembali, Apakah bisa kamu mengasuh dan menjaga Angel seorang diri."
"Aku tidak sendiri, tuan." Balas Nitami dengan tegas dan cepat.
"Lambat laun anda akan tahu semua kebenarannya, seperti kebenaran-kebenaran yang telah terungkap beberapa hari ini. Aku harap anda bisa menjalani hidup anda sendiri, karena kita sudah berakhir." Ucap tegas Nitami dengan tatapan tajamnya.
Tidak ada keramahan sedikitpun di perlihatkan untuk Davin oleh Nitami.
"Cukup sampai di sini, tuan. Saya bukan lagi istri kontrak anda yang di tumbalkan. Saya adalah Nitami Adreena Saila." ucap Nitami tegas.
Davin cukup mengerti perkataan Nitami, terdengar jelas Nitami tidak memiliki niat untuk kembali dan bersamanya lagi. Di dalam hatinya tentu saja kecewa dan sedih akan penolakan Nitami, tetapi tidak ada yang dapat ia ucapkan lagi. Menyesal, itulah yang kini Davin rasakan.
Kini semuanya telah berakhir, hidupnya yang dulu sekarang telah berubah.
Nitami yang melihat Davin hanya diam saja, melangkahkan kakinya melewati tubuh Davin.
"Di saat aku mulai hancur, kamu juga meninggalkan aku." Ucap Davin sukses membuat langkah kaki Nitami terhenti.
Nitami membalikkan tubuhnya, lalu memandang punggung Davin.
__ADS_1
"Di saat aku hancur, aku berharap kamu masih bisa tetap berada di sisiku." Ucapnya kembali.
Ia pun tertawa kecil, merasa hidupnya sungguh menyedihkan. Dua wanita di dalam hidupnya selama beberapa tahun ini, meninggalkan dirinya satu per satu. Namun Davin berpikir itu karena semua kesalahan yang telah ia perbuat.
"Bagaimana bisa aku begitu kejam terhadap istri ku sendiri, menjadikannya sebagai batu loncatan untuk meraih kebahagiaan ku bersama wanita lain, menjadikannya sebagai tumbal kebahagiaan ku sendiri." Ucapnya menundukkan kepalanya untuk merenungi hidupnya.
"Aku tidak pernah sekalipun memberikan kebahagiaan untuknya. Hanya luka dan rasa sakit hati yang bisa aku berikan kepadanya. Begitu kejamnya aku menjadi seorang suami yang tidak bertanggung jawab, aku begitu pengecut. Aku pria yang tidak bisa membantah aturan keluarga yang menurut ku tidak masuk akal. Semua ini serasa telah menjebak hidupku, dan hanya kehancuran yang kini aku raih." Ungkap Davin apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Nitami mencoba melangkah kembali ke hadapan Davin. Tatapan mata mereka bertemu, tetapi Nitami tidak merasakan apapun di dalam hatinya mendengar perkataan Davin.
"Kini aku berharap kamu kembali untuk tetap bersama dengan ku lagi, setelah begitu banyaknya rasa sakit yang kamu dapatkan. Aku terlalu egois untuk hidupku sendiri, tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu saat ini. Bahkan aku tidak pantas untuk di sebut sebagai seorang suami. Maafkan aku, maafkan aku Nitami." Ungkapnya terlihat menyesal.
"Semuanya telah terjadi, dan tidak ada gunanya untuk di sesali lagi, tuan." Balas Nitami menekan setiap kata-katanya.
"Iya, aku tahu itu. Tidak ada gunanya untuk menyesal." Balas Davin dengan anggukkan kepalanya.
Tatapan mata Davin terlihat sedih dan menyesal, namun itu tidak sama sekali dapat merubah hati Nitami yang telah bulat untuk berpisah.
"Jalani hidup anda di masa depan dengan lebih baik, jangan ada lagi wanita yang tersakiti ataupun menjadi tumbal dari aturan keluarga anda, karena semua ini tidak masuk akal. Aku harap anda mendapatkan kebahagiaan, tuan Davin." Balas Nitami dengan tulus.
Walaupun mereka berdua tidak pernah dekat dan akrab, tetapi Nitami ingin mereka berpisah dengan baik-baik.
"Aku ingin bahagia, dan aku harap anda tidak menghalangi jalan kebahagiaan ku, tuan Davin. Hubungan kita telah berakhir, dan biarlah kita berdua berada di jalan kita masing-masing." Ungkap Nitami kembali.
Davin terdiam, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk hubungan yang tidak di inginkan oleh Nitami. Davin kalah akan ucapan yang di lontarkan oleh Nitami.
'Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, kau harus sadar Davin. Wanita ini berhak hidup bahagia dan menjalaninya tanpa rasa sakit yang selama ini kau berikan. Kau telah kalah Davin, dan terimalah kekalahanmu ini. Melepaskan Nitami adalah satu-satunya cara untuk menebus semua kesalahan yang kau perbuat kepadanya, karena Nitami berhak untuk hidup bahagia.' Gumam Davin di dalam hatinya.
Walaupun sakit, itulah rasa sakit yang selama ini Nitami rasakan. Davin tidak ingin lagi egois terhadap wanita yang sudah berhasil masuk ke dalam hatinya beberapa bulan ini. Wanita yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta, namun tidak dapat ia raih.
"Maaf, hanya kata ini yang bisa aku ucapkan kepadamu. Walaupun aku tahu aku tidak pantas untuk menerima kata maaf darimu. Maafkan aku, Nitami." Ucap balasan Davin.
Nitami diam tanpa ingin menjawab kata maaf yang tidak dapat ia ucapkan untuk Davin. Begitu banyak rasa sakit dan luka, bahkan trauma yang begitu besar terhadap cinta dan seorang pria telah Davin berikan untuk Nitami. Tidak mudah bagi Nitami memaafkan Davin begitu saja.
Nitami yang merasa sudah tidak ada lagi urusan bersama Davin, memilih melangkahkan kakinya berlalu meninggalkan Davin seorang diri.
Davin membalikkan tubuhnya melihat kepergian Nitami. "Bahkan memberikan kata maaf untukku kamu begitu berat. Sesakit itukah apa yang telah aku perbuat padamu?" Ucap Davin terus melihat punggung Nitami yang pergi begitu saja.
"Apakah sesakit ini yang kamu rasakan, Nitami." Ucap Davin pada dirinya sendiri, sembari meremas kuat kain kemeja bagian di dada yang ia gunakan.
Rasa sakit di hatinya akan cinta yang tidak mendapatkan balasan, itulah yang Davin rasakan sekarang. Rasa sakit yang juga pernah Nitami rasakan dahulu.
Tanpa dapat Davin tahan lagi, air mata yang sejak tadi ia tahan. Luluh begitu saja dari pelupuk matanya, rasa sakit yang begitu menyakitkan. Semuanya telah berakhir, dan Davin telah kehilangan segalanya. Cinta dan wanitanya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.