Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
55. Kenangan Masa Lalu (Bagian III).


__ADS_3

***Mansion Keluarga Fardhan***


…Nitami Adreena Saila…


Sebuah kenangan masa lalu datang kembali ke dalam ingatanku. Sebuah kenangan yang tidak ingin aku ingat kembali, namun kenangan itu adalah masa laluku yang sangat kelam dalam hidupku saat ini. Semua kenangan pahit pernikahanku bersama dengan Davin, tidak akan bisa aku lupakan sepanjang hudupku. Aku ingin sekali lepas darinya, namun aku tidak bisa karena kontrak sialan yang sudah aku tanda tangani.


Sebuah kontrak yang membuat aku terikat pernikahan bersama davin selama 5 tahun, kontrak itu adalah jebakkan untukku. Di saat aku akan menanda tangani berkas pernikahanku bersama dengan Davin, kertas berkas kontrak itu terselip di antara kertas berkas pernikahan kami. Aku tidak membacanya kembali karena semua sudah di atur oleh keluarga Fardhan, aku percaya penuh kepada mereka pada saat itu. Itulah kebodohan terbesar di dalam hidupku.


Saat itu aku terjebak pernikahan seperti neraka selama 5 tahun bersama tuan muda keluarga Fardhan. Aku ingin menuntut dan melaporkannya kepada pihak yang berwajib, namun itu hanyalah sia-sia belaka sebab aku tidak memiliki bukti yang cukup kuat, jika aku telah di jebak dan dipaksa untuk menanda tangani kontrak tersebut.


Tidak banyak yang bisa aku lakukan pada saat itu, jika aku melanggar kontrak tersebut sudah di pastikan aku harus membayar mahal biaya pembatalan kontrak dan juga hukuman satu tahun kurungan penjara sudah menantikanku. Biaya 50 milyar bukanlah uang yang sedikit bagiku, itu uang yang cukup banyak dan aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Aku hanya bisa menahan amarah, rasa kecewa, dan kebencian kepada seluruh keluarga Fardhan.


Kejadian di mana pertengkaran pertama kami pada sore itu, adalah awal dari sikap Davin yang semakin berani membawa pulang kekasihnya di hadapanku. Kami benar-benar bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal sama sekali.


Siang itu aku yang sedang tidak memiliki jadwal di rumah sakit, memutuskan untuk berdiam diri di mansion seperti neraka bagiku. Aku masih bertahan karena masih berharap jika Davin akan berubah dan lebih baik lagi kepadaku, aku masih berharap jika pernikahan ku bersama Davin berlanjut dan bahagia di masa depan.


Namun harapan itu hancur begitu Davin dengan bangganya membawa Fransisca pulang ke mansion, kekasih yang sangat Davin cintai, mereka sudah lama menjalin hubungan asmara dan sesungguhnya sudah bertunangan sebelum aku dan Davin menikah.


Aku berdiri terpaku pada ruang tamu yang baru saja aku lewati, sepasang kekasih yang sedang duduk di sofa dengan mesranya. Kepala Davin kini sedang berbaring di atas pangkuan Fransisca, dan Fransisca membelai rambut Davin dengan lembut dan mesra.


Senyum keduanya terlihat bahagia, di tambah ciuman bibir yang mereka lakukan menambah lengkap kemesraan yang membuat hatiku sakit. Hari itu seakan sebuah petir menyambar diriku, sehingga aku bergetar dan tubuhku memanas melihat pemandangan yang tidak pernah ada pada bayanganku.


Aku seret kakiku melangkah ke hadapan mereka berdua, aku menatap tidak percaya kepada keduanya. Davin yang masih dalam posisi berbaring di atas pangkuan Fransisca melihatku datang. Diapun menatapku tajam dan benci ke arahku, dengan di ikuti oleh pandangan Fransisca yang juga melihat ke arahku.


"Apa semua ini, Davin?" Tanyaku dengan nada gemetar. Aku masih tidak percaya akan pengelihatan ku saat ini.


Davin bangkit dari tidurnya, dia duduk dengan tatapan tajam dan bencinya masih mengarah padaku. Dia menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Sebenarnya aku sangat malas sekali harus berbicara padamu." Ucapnya membalas.


"Tetapi kau harus tahu kebenaran ini." Ucapnya dengan tatapan bencinya.


Aku dengan susah payah menelan salivaku.


'Aku harus tahu kebenaran ini ? Kebenaran apa?' Gumamku di dalam hati. Ada sesuatu perasaan yang tidak nyaman, kini aku rasakan.


"Ini adalah Fransisca, calon istriku yang sebenarnya?" Ucapnya dengan memeluk mesra Fransisca di hadapanku.


Jeder, kembali aku merasa seperti di sambar sebuah petir. Bibirku bergetar dan aku berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahku.


"Apa maksudmu, Davin?" Tanyaku dengan keberanian yang aku coba tanamkan pada hatiku. Aku merasa berhak untuk bertanya seperti itu kepada Davin. Bagaimana juga aku adalah istri sahnya saat ini?


Bagaimana mungkin seorang suami memperkenalkan wanita lain sebagai calon istrinya yang sebenarnya? Itu tidak dapat aku terima begitu saja? Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja di katakan oleh Davin.


"Sudah sangat jelas maksudku, Ini Fransisca calon istriku yang sebenarnya. Dan bukan dirimu." Jawabnya dengan menekan setiap kata-katanya.

__ADS_1


Aku terdiam dengan pandangan mata yang tidak ingin mempercayai ini semua. Davin melepaskan pelukannya dari Fransisca, lalu bangkit berdiri tepat di hadapanku.


"Sudah waktunya kau tahu yang sebenarnya." Ucapnya dengan sikap yang santai dan tenang.


"Kau harus tahu, aku dan Fransisca sebenarnya sudah bertunangan sebelum kita menikah."


Hatiku sakit seperti tertusuk sebilah pisau, ada sorot kejujuran pada mata Davin. Itu artinya semua yang ia ucapkan adalah kebenarannya.


"Aku setuju menikah denganmu karena terpaksa. Aku harus menikah dengan wanita lain, jika aku ingin hidup bahagia dan tenang dengan istriku yang sebenarnya. Istri yang sangat aku cintai." Ucapnya.


"Menikah dengan mu adalah syarat agar pernikahan ku bersama Fransisca bahagia dan aman untuk selamanya."


"Apa maksudmu?" Tanyaku pada akhirnya yang tidak tahan untuk diam saja.


Davin tersenyum tipis, namun senyuman itu senyum yang meremehkan diriku.


"Sebelum aku menikahi Fransisca, wanita yang selama ini aku cintai, aku harus memenuhi syarat yang ada di keluarga Fardhan. Aku harus menikahi seorang wanita sebagai Tumbal di dalam pernikahan keluarga Fardhan. Agar pernikahanku bersama wanita yang aku cintai hidup bahagia untuk selamanya." Ucapnya, aku hanya bisa diam dengan keterkejutanku saat itu.


"Kau hanya istri pertama yang akan menjadi sebuah Tumbal di keluarga Fardhan, sebagai tumbal untuk iblis wanita yang selama ini menghantui istri pertama dari keluarga Fardhan. Dan aku terpaksa memenuhi syarat itu, agar pernikahanku dan Fransisca tidak mempunyai masalah sama sekali."


Aku terkejut untuk kedua kalinya, kini aku tahu alasan mengapa Davin setuju menikahi ku? Ternyata aku hanya di jadikan istri pertama yang di tumbalkan kepada seorang iblis wanita yang menghantui keluarga Fardhan selama ini.


"Mengapa harus aku?" Itulah pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulutku.


"Tanyakan kepada mamaku. Dia yang membawamu kepadaku, bukan aku yang menginginkanmu."


'Apa? Jadi selama ini mama telah membohongiku.' Gumamku di dalam hati, terlintas sekilas ingatan di kepalaku saat pembicaraan lamaran nyonya Sandra kepadaku.


"Nitami." panggil nyonya Sandra, sembari menyentuh pundak kananku.


"Pikirkan permintaan tante ini baik-baik, dan tante berharap kamu setuju. Putra dan suami tante juga sudah setuju." Ungkapnya, yang membuat aku sontak melihat ke arahnya.


"Putra tante sudah tahu akan perjodohan ini, dan dia setuju?" Tanyaku tidak percaya pada saat itu.


"Iya, Davin sudah tahu, dan dia sudah setuju dengan pernikahan ini." angguknya.


Aku menelan salivaku dan bergumam. 'Bagaimana mungkin tuan muda Davin setuju begitu saja?' Sebuah pertanyaan yang langsung ada di dalam hatiku pada saat itu.


Jadi semua yang di katakan oleh mama adalah kebohongan yang hanya untuk menjebak ku pada rencana mereka. Tapi mengapa harus aku? Mengapa pilihan mereka jatuh kepadaku? Bukankan masih banyak wanita di luaran sana yang bisa menjadi sebuah tumbal. Itu yang aku pikirkan, dan ingin jawabannya.


"Kau kejam." Ucapku dengan tatapan tajam.


Saat ini aku marah dan kecewa. Kepalan kuat tanganku menahan amarah yang sudah aku rasakan.


Davin tersenyum menanggapi perkataanku.

__ADS_1


"Terserah apa katamu, aku tidak peduli." Balasnya dengan senyum meremehkan ke arahku.


Fransisca mendekat dan mengalungkan lengannya pada lengan kiri Davin.


"Sayang, jadi ini wanita itu." Ucapnya manja, dengan tatapan remeh dan dingin ke arahku.


"Iya." Jawab singkat Davin dengan anggukan kepalanya.


Aku melihat ke arah tangan Fransisca yang bertaut pada lengan kiri Davin. Lalu beralih menatap wajah yang cukup familiar, wajah cantik yang di miliki oleh seorang model papan atas, Fransisca Raiden. Jadi wanita cantik di hadapanku lah yang menjadi kekasih Davin, dan akan menjadi istri Davin yang sesungguhnya.


Hatiku sangat sakit mengetahui kebenaran itu, aku merasa kecil di mata mereka berdua. Aku tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Fransisca. Bagaimana bisa Davin akan menolak pesona kuat yang di miliki wanita cantik seperti model papan atas Fransisca Raiden.


Tentu saja Davin akan lebih memilih Fransisca daripada dirinya yang bukan siapa-siapa? Hanya seorang dokter bedah umum yang tidak memiliki prestasi apapun? di tambah lagi aku seorang wanita sebatang kara dan tidak memiliki sanak keluarga sama sekali.


"Tentu tidak bisa menjadi saingan untukku. Lihat saja penampilan dan wajahnya yang kusam, iiiihh sangat tidak mencerminkan seorang wanita sama sekali, dia seperti seorang pembantu." Ucap Fransisca menghina dan menunjuk ke arahku.


"Kasihan sekali dirimu sayang, kau harus bertahan dengan wanita jelek seperti ini." Ucap Fransisca kembali dengan sikap manjanya kepada Davin.


Aku mengepalkan kuat tanganku hingga buku-buku jariku memutih, menahan amarah mendengar hinaan Fransisca kepadaku.


"Ceraikan aku Davin." Ucapku tidak tahan.


Untuk apa aku harus bertahan pada pernikahan yang sama sekali tidak memiliki masa depan? Aku tidak ingin hidup di neraka yang tidak pernah aku bayangkan dan tidak pernah aku inginkan.


"Tidak semudah itu." Balas Davin yang membuat aku melihatnya dengan kerutan pangkal alisku tidak mengerti akan ucapan Davin.


Jika Davin tidak menyukaiku dan pernikahan kami, untuk apa lagi di pertahankan dan dia tidak ingin menceraikanku?


"Apa maksudmu?"


Davin tersenyum tipis. "Kau harus bertahan menjadi istri pertamaku selama 5 tahun." Ungkapnya.


"Tidak, aku tidak mau. Ceraikan aku." Sontak aku sedikit meninggikan nada suaraku karena tidak mau menerima perkataan Davin.


Beberapa bulan menikah dengannya, aku sudah ada di dalam neraka yang sangat menyiksa diriku, apalagi harus bertahan selama 5 tahun? Tidak, aku tidak ingin seperti itu. Aku tidak ingin bertahan dan ada pada posisi itu walaupun sedetik saja, aku ingin pergi menjauh dan tidak ingin melihat mereka lagi. Itulah keinginanku.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2