
***Mansion Keluarga Fardhan***
Semua masih berada di dalam rumah putih keluarga Fardhan. Ritual persembahan tumbal yang akan di laksanakan malam ini, begitu berbeda dari tahun tahun sebelumnya.
Nitami yang biasanya menjadi seorang tumbal, tahun ini akan di gantikan oleh Fransiska. Semuanya menjadi terbalik. Nitami begitu menikmati sebuah pertunjukan malam ini.
"Kau pria bodoh yang pernah aku temui." Ucap ketus Fransiska memandang benci ke arah Davin yang ada di hadapannya.
Rasa sakit akan tamparan yang di berikan oleh Davin begitu membuat Fransiska begitu sakit di dalam hatinya. Ia pun tahu dan sadar, bagaimana pun kerasnya untuk ia berontak dan menolak semua ini, itu hanyalah tindakan yang akan sia-sia saja. Davin tidak akan melihat dirinya lagi seperti dulu, Fransiska benci pada pria yang pernah ia cintai dengan segenap hatinya.
"Kau pria bodoh yang pernah aku kenal, kau yang bersalah Davin. Ini semua karena dirimu yang lebih dulu mengkhianati aku, bersama wanita murahan itu. Kalian berdua adalah akar dari semua penderitaan yang aku alami selama ini, kalian berdua brengsek…!" Histeris Fransiska mencurahkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya selama ini.
'plak…" Kembali Davin melayangkan sebuah tamparan keras kepada Fransiska.
"Hahahaha…" Tawa Fransiska serasa dirinya sudah menjadi gila akan semua ini.
Begitu Fransiska puas akan tawanya yang gila, tatapan tajam dan dinginnya melihat ke arah Davin. Ia kini sungguh membenci pria tampan yang ada di hadapannya tersebut.
"Cueeeh…pria brengsek seperti dirimu, hanya bisa menyiksa seorang wanita." Ungkap Fransiska sembari mengeluarkan ludahnya sebagai penghinaan bagi Davin.
"Tanpa kau sadari, semua akar permasalahan yang terjadi di antara kita, semua karena dirimu yang berani menikahi wanita murahan itu. Kau dan dia sebaiknya membusuk di neraka…Hahahaha…!!!" Ungkap Fransiska dengan tawanya yang seperti orang gila akan keadaannya sekarang.
"Kau bahkan tidak bisa menjadi seorang suami yang adil untuk kedua istrinya. Pria seperti dirimu tidak pantas di sebut sebagai seorang suami." Ucap Fransiska masih dengan nada ketusnya.
Namun perkataan Fransiska sukses menampar keras diri Davin. Itulah perkataan yang sebenarnya, Davin tidak pernah bisa berlaku adil kepada kedua istrinya. Davin hanya peduli pada istri keduanya Fransiska, karena rasa cinta tulus yang di miliki oleh Davin terhadap Fransiska, hingga dia tidak ingin berbagi cinta lagi kepada wanita lainnya. Itulah yang Fransiska tidak ketahui dan sadari tentang Davin.
Sedangkan terhadap istri pertamanya, Nitami. Davin sama sekali tidak pernah mau peduli kepada wanita yang selalu setia menjadi istri kontrak yang di tumbalkan oleh keluarga Fardhan. Namun di saat Davin telah di khianati oleh Fransiska, barulah Davin melihat sosok Nitami. Davin menginginkan mereka menjadi sepasang suami-istri dan dekat saling memiliki. Tentunya Nitami yang tidak akan mau hal itu terjadi di antara dirinya dan Davin.
"Pendeta, lakukan semuanya dengan cepat. Aku ingin wanita ini cepat menutup mulutnya." Ucap perintah Davin kepada pendeta yang ada di hadapannya.
'Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa semuanya jadi terbalik begini?' Gumam nyonya tua melihat ke arah Davin dan Fransiska.
Lalu pandangan matanya bertemu dengan tatapan tajam dan dingin Nitami melihat ke arahnya. Terlihat jelas senyum tipis Nitami seakan mengejek dirinya. Terlintas jelas beberapa ucapan Nitami tadi siang kepadanya, sebagai sebuah peringatan dan petunjuk akan situasi mereka saat ini.
'Apakah ini yang wanita itu maksudkan? Pertunjukkan ini yang ingin dia perlihatkan kepadaku?' Gumam kembali nyonya tua di dalam hatinya.
'Aku pikir wanita ini akan membeberkan semua kejahatan dan kebohongan yang aku ciptakan selama ini. Ternyata ia tidak punya cukup nyali untuk melakukannya. Namun aku tidak suka situasi seperti ini, Davin dan Fransiska tidak seharusnya berseteru. Seharusnya Fransiska akan bahagia seperti diriku selama ini, yang dapat bertahan di keluarga Fardhan.' Gumam nyonya Nadin bicara pada dirinya sendiri.
'Kalau hanya seperti ini, tidak ada yang perlu aku khawatirkan sama sekali. Aku tahu wanita brengsek itu tidak akan bisa melawan cucuku. Aku tahu itu, semua yang ia katakan padaku hanyalah ancaman yang bodoh dan omong kosongnya saja.' Gumam nyonya Nadin di dalam hatinya, sebagai penghiburan untuknya.
Tanpa ia sadari jika ini hanya awal permulaan dari Nitami, karena pertunjukan yang di siapkan oleh Nitami masih banyak lagi.
__ADS_1
Nyonya tua menggigit bibir bawahnya karena menahan amarah yang sulit ia keluarkan, melihat sikap Davin yang begitu terlihat membenci Fransiska. Pertengkaran mereka tidak di harapkan oleh nyonya Nadin. Namun itulah yang kini terjadi dan nyonya tua tidak dapat melakukan apapun. Pengaruh obat dan racun yang di berikan oleh Nitami, sangat menyiksa dirinya dan membuat tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali.
Nyonya tua masih melihat ke arah Davin dan Fransiska, ia melihat aura kebencian dan amarah pada keduanya. Nyonya tua tidak menginginkan semua itu terjadi, seakan sebagai peringatan untuk nyonya Nadin akan semua perbuatan dan kebohongannya selama ini.
Sedangkan pendeta yang menjadi pengikut si nyonya tua, segera memimpin ritual persembahan tumbal keluarga Fardhan. Tanpa di ketahui oleh sang pendeta bahwa tuannya yang selalu ia ikutin semua perintahnya, tidak dapat berbicara dan melakukan sebuah perintah seperti biasanya.
Sang pendeta melakukan semuanya. Sedangkan Fransiska masih berusaha untuk melawan dan ingin lepas dari jeratan dua anak buah Davin. Ia tidak ingin melakukan ritual yang menyakiti dirinya. Fransiska tidak ingin kulit mulusnya menjadi rusak akan beberapa goresan silet, seperti yang biasanya Nitami dapatkan dalam ritual 4 tahun sebelumnya.
Saat pendeta tengah membawa sebuah silet cutter ke hadapan Fransiska, wajahnya nampak pucat sembari menggelengkan kuat kepalanya.
"Jangan, aku tidak mau…" Histeris Fransiska menolak dan ingin lari kabur dari tempat itu.
Tentu saja Fransiska tidak akan bisa kabur.
Pendeta tidak peduli akan penolakan Fransiska, dia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan seperti biasanya.
Sedangkan Davin masih memperhatikan semua detail ritual persembahan yang tidak pernah ia ketahui, karena Davin tidak pernah hadir pada ritual persembahan yang di jalani oleh Nitami setiap tahunnya.
Pendeta membawa sebuah mangkuk dan silet cutter melangkah ke arah belakang Fransiska. Ia ingin menyayat lengan Fransiska dan mengambil darahnya sebagai persembahan darah segar untuk arwah iblis wanita yang selalu menghantui keluarga Fardhan.
"Aaaakkkk…!" Histeris kesakitan Fransiska ketika lengannya di sayat dengan menggunakan silet cutter oleh sang pendeta.
Mangkuk yang ia bawa sebagai wadah darah segar Fransiska. Terlihat segar darah yang mengalir dan menetes dari luka sayatan pada lengan Fransiska. Davin begitu terkejut akan apa yang di lakukan oleh pendeta tersebut?
Pendeta dan yang lainnya melihat ke arah Davin.
"Mengapa anda menyayat lengannya?" Tanya Davin kembali.
"Memang seperti ini ritualnya, tuan muda. Darah segar dari tumbal adalah salah satu sarana persembahan untuk iblis wanita yang arwahnya selalu membayang-bayangi keluarga anda." Ucap penjelasan sang pendeta.
Dapat ia tebak, jika Davin tidak tahu menahu tentang ritual tumbal tersebut, sebab Davin tidak pernah hadir satu kalipun di saat Nitami yang menjadi tumbal keluarga Fardhan.
Penjelasan dari pendeta tersebut, membuat Davin seketika melihat ke arah Nitami. Di dalam hatinya berkata. 'Apakah ini yang di alami Nitami setiap tahunnya?' Gumam Davin dengan tatapan melihat ke arah Nitami.
Nitami hanya melihat Davin sekilas, lalu pandangannya beralih melihat kembali kepada Fransiska yang sedang menahan rasa sakitnya.
Nitami masih dapat merasakan betapa sakitnya sayatan itu. Sayatan demi sayatan yang Nitami terima begitu terasa sakit dan menyiksa dirinya. Davin tidak pernah tahu itu, kini Davin dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi pada Fransiska? Itu juga yang terjadi pada Nitami setiap tahunnya.
Pendeta meletakkan mangkuk yang berisi darah di atas meja altar. Lalu ia kembali membawa sebuah cambuk ke arah belakang Fransiska. Davin terus melihat apa yang akan di lakukan oleh sang pendeta dengan sebuah cambuk di tangannya.
Dari arah belakang Fransiska, pendeta tersebut melayangkan cambuk yang ia pegang ke arah tubuh belakang Fransiska.
__ADS_1
"Aaakkkk…!!" Kembali rintih kesakitan Fransiska terdengar akan cambukkan yang ia terima pada tubuhnya.
Pendeta kembali melayangkan beberapa cambukan ke tubuh belakang Fransiska, hingga terlihat darah segar membasahi gaun putih yang di gunakan oleh Fransiska.
Davin kembali terkejut akan apa yang ia lihat.
"Pendeta, apakah seperti ini ritualnya?" Tanya Davin kembali melihat heran dan terkejut ke arah pendeta yang sedang memegang cambuk.
"Iya tuan muda. Darah yang keluar dan rasa sakit di sekujur tubuh tumbal adalah syarat dari ritual persembahan ini." Balas pendeta itu.
Davin kembali melihat ke arah Nitami. Kini tatapan bersalahnya memandang wajah Nitami yang melihatnya dengan tatapan dingin.
"Apakah ini juga yang di alami Nitami beberapa tahun sebelumnya?" Itulah pertanyaan Davin yang terlontar begitu saja dari mulutnya.
Semua mata memandang ke arah Davin. Terlihat jelas wajah menyesal dan tidak percaya yang Davin perlihatkan. Sungguh Davin tidak pernah tahu seperti ini yang Nitami alami selama menjadi seorang tumbal keluarga Fardhan.
Nitami yang di pandang hanya diam dan masih setia pada raut wajah datar dan dinginnya. Tidak ada komentar yang ingin ia lontarkan.
"Iya tuan muda, karena inilah syarat dan cara tumbal mempersembahkan, rasa sakit dan darah yang ada pada tubuhnya." Balas pendeta menjelaskan.
"Penjaga…!" Panggil pendeta pada seorang penjaga yang sering membantunya pada ritual persembahan tersebut. Sang pendeta hanya ingin cepat menyelesaikan tugasnya dalam ritual persembahan tumbal itu.
Penjaga yang di panggil datang, dan tahu harus berbuat apa? Ia pun meraih cambuk yang di berikan oleh pendeta, dan mulai mencambuk seluruh tubuh Fransiska hingga terdapat banyak luka dan darah segar keluar yang membasahi gaun putihnya.
Teriakan histeris Fransiska terdengar mengerikan dan menyayat hati semua yang mendengar. Namun tidak berlaku bagi Nitami, dia begitu menikmati rintihan rasa sakit yang Fransiska keluarkan.
Penjaga yang memiliki tubuh cukup besar dan terlihat kuat, begitu menikmati ayunan tangannya mencambuk tubuh Fransiska. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melakukan hal tersebut.
Davin begitu shock akan pemandangan yang kini ia lihat. Tidak pernah ada di dalam pikirannya, jika syarat dan cara seperti itulah yang di gunakan untuk ritual persembahan dari keluarganya.
Davin dapat membayangkan betapa sakit dan tersiksanya Nitami saat mengalami apa yang kini Fransiska alami? Davin terdiam pada tempatnya dengan tatapan yang terus melihat tubuh Fransiska terluka akan cambukkan yang dia terima. Sedangkan otaknya terus berada pada sosok Nitami yang ada tidak jauh di hadapannya.
Tanpa Davin ketahui, jika itu hanya baru sebagian kecil dari syarat dan cara ritual persembahan tumbal keluarga Fardhan. Sebab masih ada pertunjukan lainnya lagi yang akan lebih mengerikan dari hanya sekedar cambukan yang di terima oleh Fransiska. Davin akan lebih terkejut lagi jika mengetahui kelanjutan berikutnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.