Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
140. Season 2...Datang Sebagai Mata-mata.


__ADS_3

…Season 2…


***Mansion Kediaman Keluarga Orlando***


Nitami tersenyum melihat kedatangan adik angkatnya yang terlihat sehat dan baik baik saja.


"Aku baik." Balas Nitami.


Alvira melihat ke arah Nicolas yang kini berdiri di samping Nitami. Alvira sudah tahu hubungan keduannya.


"Apa kabar tuan Nicolas?" Sapa Alvira kepada Nicolas.


"Baik. Nona sendiri apa kabar?" Balas dan tanya balik Nicolas.


"Saya baik tuan." Balas Alvira.


"Mari dokter, silahkan ikut bergabung dengan kami sebelum kita berangkat ke rumah sakit bersama sama." Ajakkan Erick ramah mempersilahkan Alvira untuk duduk bergabung dengan mereka.


Begitu Alvira melangkah, pandangan matanya kini bertemu dengan tatapan mata Levi yang baru saja bangkit dari duduknya. Terlihat jelas Levi terkejut melihat kehadiran Alvira di sana. Pria itu hanya bisa berdiri terpaku pada tempatnya.


Mia mengarahkan Alvira untuk melangkah mendekati sofa kosong yang ada di samping Levi. Mau tidak mau Alvira hanya bisa mengikuti ke mana Mia mengarahkannya.


Kini Alvira ada tepat di hadapan Levi yang terlihat masih terkejut melihat gadis yang ia rindukan beberapa bulan ini, ada di hadapannya.


Alvira tahu jika Levi tengah terkejut akan kedatangannya. Alvira pandai mengatur sikap dan tahu harus berbuat apa?


"Apa kabar dokter Levi?" Sapa Alvira mengulurkan tangannya ke arah Levi.


Levi masih diam terpaku melihat Alvira ada di hadapannya. Alvira menatap pria yang ia cintai terkejut akan kehadirannya pagi ini, hanya bisa berusaha tenang dan tersenyum untuk Levi.


Levi yang belum ada pada kesadarannya, hanya bisa diam dan belum menyambut uluran tangan Alvira. Sarah datang mendekat dan menyadarkan putranya itu.


"Levi…sadar…!!" Bisik Sarah sembari menyentuh lengan Levi.


Levi akhirnya sadar dan melihat ke arah sang mama yang memberikan isyarat mata kepadanya. Levi harus menyambut uluran tangan Alvira yang masih melayang di hadapannya.


"Baik. Saya baik…" Balas Levi menyambut uluran tangan Alvira. Cukup lama jabatan tangan mereka, membuat mereka yang hadir tahu ada sesuatu di antara Alvira dan Levi.


"mmmm…!!" Isyarat Alvira sembari berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Levi.


Namun Levi yang masih terpesona akan sosok gadis cantik pencuri hatinya. Tidak dapat bergerak untuk melepaskan jabatan tangan mereka. Levi tidak rela melepaskan tangan itu.


"Sudah Levi…!" Sarah yang mengambil alih agar Levi melepaskan jabatan tangan mereka. Sarah tahu jika Alvira sedikit risih akan sikap Levi yang tidak pada biasanya.


"Perkenalkan, aku Sarah. Mamanya Levi. Siapa namamu sayang?" Sapa ramah Sarah dengan tersenyum senang melihat respon sang putra yang tidak biasa terhadap Alvira.


Sarah menduga-duga jika Levi terlihat suka dan terkejut tidak percaya akan kehadiran Alvira. Itu artinya Levi memiliki ketertarikan terhadap Alvira, Sarah tentunya tidak akan melewati kesempatan ini. Di mata wanita itu, Alvira cantik, ramah dan juga sopan. Sangat cocok untuk menjadi calon menantunya.


Alvira menelan salivanya. Ia gugup sekarang, karena tidak pernah menduga jika akan bertemu dengan mama kandung dari pria yang ia sukai dan cintai. Alvira sebenarnya belum siap untuk pertemuan ini, namun pertemuan itu terjadi begitu saja tanpa dapat ia kendalikan.


"Saya Alvira Larzo, nyonya. Senang berkenalan dengan anda." Balas sopan Alvira menyambut uluran tangan Sarah.

__ADS_1


"Jangan panggil nyonya. Panggil tante Sarah saja." Balas Sarah sembari membelai punggung tangan Alvira lembut.


"Iya. Iya tante Sarah." Balas Alvira gugup, sungguh ini di luar perkiraannya.


Alvira Larzo adalah gadis dan dokter yang selalu ramah pada setiap pasien dan orang lain. Ia begitu penuh percaya diri pada setiap kesehariannya. Namun kini terlihat gugup di hadapan Sarah Massimo, karena wanita paruh baya itu adalah mama kandung dari pria yang ia cintai dan ingin ia raih.


"Ayo duduk sayang…jangan berdiri saja." Kata Sarah sembari menuntun Alvira duduk, kemudian tidak lupa Sarah juga menuntun Levi untuk duduk berdampingan bersama Alvira pada satu sofa panjang.


Dengan senyum bahagianya melihat Alvira dan Levi, Sarah kembali duduk pada tempatnya di samping sang suami.


"Lihat Pa…Alvira gadis yang cantik dan sopan. Terlihat cocok bukan bersama putra kita." Bisik Sarah kepada Alex, suaminya.


Alex tahu siapa Alvira Larzo. Tentunya ia tahu baik dari mana asal usul keluarga Larzo, tidak akan di pungkiri jika Alvira cukup cocok menjadi calon menantunya. Jika Levi dan Alvira saling menyukai. Keluarga Larzo cukup baik dan kuat menjadi keluarga sambung bagi keluarga Massimo. Alex beberapa kali bertemu dengan Alesha dan Alvaro, kedua kakak Alvira.


Sedangkan yang terjadi pada Nitami dan Nicolas. Mereka tersenyum melihat sikap Levi yang tidak biasa. Terlihat jelas Levi salah tingkah dan tidak ingin melepaskan pandangan matanya dari sosok Alvira.


"Apa ini pertunjukan yang kamu maksudkan?" Tanya bisik Nicolas.


"Iya. Bagaimana, lihatlah sepupu mu itu. Sungguh memalukan." Balas Nitami sembari menunjuk ke arah Levi yang masih terus mencuri-curi pandang pada Alvira. Pria itu terus salah tingkah berada di samping Alvira.


"Kamu benar. Dia memalukan sekali." Ucap Nicolas membenarkan perkataan Nitami, setelah melihat sikap tidak biasa Levi.


Nitami hanya tersenyum. Di dalam hatinya bahagia melihat kedekatan keduannya. Nitami berharap Levi dan Alvira dapat bersatu segera mungkin, karena mereka berdua saling mencintai.


"Apa kabar dokter Alvira?" Sapa Alex tiba-tiba.


Alvira melihat ke arah Alex, tentunya dia tahu siapa Alex Massimo di dalam jajaran para keluarga bangsawan. Beberapa bulan mendampingi putri Valeria, membuatnya banyak mengenal orang orang penting yang di temui oleh sang putri. Alvira tahu Alex adalah papa kandung Levi Massimo, pria yang ia cintai.


"Kabar saya baik, tuan Alex." Balas Alvira dengan sikap sopan dan hormat seperti biasanya jika bertemu dengan orang penting seperti Alex Massimo.


Suasana kini terlihat sedikit serius. Alvira tahu jelas kedatangannya ke tempat itu bukan untuk beramah tamah terhadap keluarga Massimo dan keluarga Orlando. Dia datang atas perintah langsung dari putri Joanna dan putri Valeria.


Alvira tersenyum. Ia tahu bagaimana harus bersikap pada orang penting dan terhormat seperti Alex Massimo.


"Benar tuan. Saya datang atas perintah langsung dari putri Valeria dan putri Joanna. Dokter Erick sudah menerima perintah itu juga." Jelas Alvira akan kedatangannya di sana.


"Benar." Ucap Erick membenarkan ucapan Alvira.


"Aku sudah mendapatkan perintah langsung dari putri Joanna. Dokter Alvira akan bergabung dengan tim dokter ku mulai hari ini." Balas penjelasan Erick yang belum di ketahui oleh semua orang, kecuali Nitami. Dia sudah tahu itu.


Levi melihat ke arah Alvira. Jika Alvira bergabung dengan tim dokter Erick, itu artinya dia dan Alvira akan bertemu setiap hari. Diam diam sebuah senyuman tipis terbit pada bibir Levi akan berita itu. Sarah melihat senyuman itu, kini Sarah sangat yakin di antara Levi dan Alvira ada hubungan yang tersembunyi.


"Apa tujuan putri Joanna mengirimmu?" Tanya Alex dengan raut seriusnya.


Semua orang terdiam dan ikut serius kali ini.


"Sebagai mata mata dari putri Joanna dan putri Valeria." Ucap Alvira jujur.


Semuanya terkejut akan kejujuran Alvira. Ternyata kedatangan Alvira sebagai mata-mata.


"Mata mata." Gumam mereka melihat serius ke arah Alvira.

__ADS_1


"Kau datang untuk mengawasi kami." Kata Alex menatap tajam Alvira.


Alex tahu posisi apa yang di miliki oleh Alvira di dalam keluarga Damaresh. Banyak yang tidak tahu jika Alvira mampu menjadi kaki tangan putri Joanna dan putri Valeria, berkat usaha yang tidak mudah ia lalui. Alvira diam diam menjadi kepercayaan dari dua putri keluarga Damaresh.


"Tentu saja kau datang untuk mengawasi kami atas perintah dari mereka. Bagaimana juga kau adalah salah satu kaki tangan kepercayaan dari putri Joanna dan putri Valeria. Ternyata nona muda ini tidak bisa aku pandang sebelah mata." Ungkap Alex sukses membuat semua orang terkejut akan kebenaran yang baru mereka ketahui tentang siapa Alvira.


Namun tidak dengan Nitami yang tahu semua tentang Alvira. Nicolas melihat ke arah Nitami yang terlihat tenang, dan ia yakin jika Nitami tahu semua kebenaran itu.


"Dokter Alvira. Bagimana anda bisa berbuat seperti ini? Sebenarnya anda ada di pihak siapa?" Tanya Erick cukup terkejut.


Erick berpikir jika Alvira hanyalah dokter biasa yang di kirim langsung oleh putri Joanna untuk membantu mereka. Namun pada kenyataannya Alvira datang untuk memata-matai mereka.


Sarah terlihat kecewa, Alvira ternyata adalah mata mata dari pihak keluarga Damaresh.


"Maaf sebelumnya. Saya memang datang atas perintah dari putri Joanna dan putri Valeria untuk menjadi mata mata bagi mereka. Namun untuk mengawasi satu orang saja." Balas Alvira.


Mereka terdiam, menunggu kelanjutan dari perkataan Alvira.


"Saya datang untuk mengawasi nona Nitami Adrenaa Saila." Ucap Alvira akan tujuan kedatangan.


Itulah tugas khusus Alvira dari sang putri. Putri ingin tahu siapa sebenarnya Nitami? Alvira yang sudah tahu siapa Nitami hanya mengikuti alur yang sudah di tentukan. Tidak ada yang tahu jika Alvira masuk ke dalam keluarga Damaresh, itu untuk membantu Nitami.


Kini dia hanya berjalan mengikuti alur saja. Alvira tahu di mana posisinya, Alvira tahu harus seperti apa dan berbuat apa?


"Mengawasi ku…?" Tanya Nitami melihat intens ke arah Alvira.


Alvira menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Nitami. Tugas khususnya itu belum Alvira katakan atau laporkan kepada Nitami dan Alesha.


"Iya. Sebenarnya aku mendapatkan tugas khusus itu dari putri Joanna langsung, dan putri Valeria tidak dapat mencegah atau melarang keinginan dari putri Joanna." Kata Alvira.


"Putri Joanna curiga saat melihat wajahmu semalam. Putri Joanna mengatakan, jika wajahmu mirip dengan wajah mediang putri kandungnya yaitu Helena Damaresh. Kemiripan itu juga mengingatkan sang putri pada wajah masa mudanya dulu." Ungkap Alvira melihat ke arah Nitami. Penjelasan Alvira membawa angin segar bagi mereka.


"Hanya saja. Ada satu hal yang membuat putri masih ragu dan penasaran." Ungkap Alvira.


"Apa itu?" Tanya Nitami.


"Warna matamu yang berbeda." Balas Alvira serius ke arah Nitami.


Sedikit hening karena mereka tahu alur dan maksud dari sang putri.


"Sampai kapan harus di tutupi tentang kebenaran mata itu?" Ucap Alvira membuat semuanya tercengang akan ucapannya.


Apakah Alvira tahu tentang kebenaran mata Nitami yang sebenarnya?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


"


__ADS_2