
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Davin pergi begitu saja meninggalkan Aldi yang masih berdiri pada tempatnya. Max juga mengikuti dari arah belakang. Aldi berpikir sejenak, apa yang membuat Davin berubah seketika? Diapun berusaha mengingat kembali apa yang baru dia katakan tadi? yang dapat merubah Davin seketika.
"Setidaknya, tunjukkan rasa simpatimu pada setiap pasien yang datang berobat ke rumah sakit mu ini. Tidak ada salahnya kau melakukan itu, berkunjung dan memberikan semangat kepada setiap pasien yang sedang berjuang untuk kesembuhan mereka." Ingatan Aldi pada perkataannya yang membuat Davin seketika berubah dan tersenyum senang kepadanya.
"Oooo…jadi itu yang akan dia lakukan…!! Apa yang akan Davin lakukan di sana? Aku harap dia bisa mengontrol dirinya, kalau tidak akan ada pertikaian di dalam ruang perawatan itu." Gumam Aldi pelan sembari menghela nafasnya.
Aldi tidak bisa membayangkan, jika Davin dan Nicolas sama sama tidak bisa mengontrol diri mereka karena Nitami. Entah apa yang akan terjadi di sana? Aldi pun tidak tahu dan tidak dapat membayangkan apapun?
...--------------------------------...
***Kamar Perawatan Nicolas***
Nitami memasuki ruangan di mana Nicolas berada, sebuah kamar perawatan VVIP yang sangat luas, nyaman dan mewah dengan di lengkapi furniture dan fasilitas mahal yang berkualitas bagus. Kamar itu seperti sebuah kamar hotel mewah pada umumnya. Pasien yang ada di sana pasti akan cepat sembuh karena kenyamanannya.
"Selamat siang, tuan." Sapa Nitami mencoba tersenyum kepada Nicolas, dia harus bersikap profesional dalam pekerjaannya.
Nicolas adalah pasien yang sejak semalam dia tangani dan rawat. Sikap ramah dan hangat untuk seorang pasien dari dokternya akan membantu penyembuhan pasien dengan cepat. Pasien harus merasa nyaman pada keadaan sekitar agar cepat pulih dari sakitnya.
"Selamat siang, dokter." Balas Nicolas dengan senyum bahagia yang tidak dapat dia sembunyikan.
'Senyumnya begitu bahagia, apa dia sudah lebih baik saat ini?' Gumam Nitami sedikit heran akan senyum bahagia yang di tunjukkan oleh Nicolas ke arahnya.
"Bagaimana keadaan anda, tuan. Apakah ada yang tidak nyaman, yang sekarang anda rasakan?" Tanya Nitami dengan sikap ramahnya.
Rey sekarang tengah mempersiapkan meja makan yang sudah ada di dalam ruangan sebelahnya. Kamar itu di lengkapi tiga ruangan lainnya, kamar tunggu, ruang tamu depan dan ruang makan khusus bagi keluarga pasien.
"Iya dokter, ada." Jawab Nicolas dengan sedikit meringis, membuat Nitami melihat intens wajah meringis Nicolas.
"Baiklah, tuan. Permisi saya periksa sebentar." Ucap Nitami meminta izin kepada Nicolas untuk melakukan pemeriksaan. Nicolas hanya mengangguk setuju sembari tidak melepaskan pandangannya dari wajah cantik yang dari tadi dia harapkan kedatangannya.
Nitami segera memasangkan sebuah termometer pada ketiak Nicolas. Lalu menggunakan stetoskop untuk memeriksa detak jantung dan pernapasan Nicolas, setelah itu dia memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan Nicolas, sembari melihat ke arah jam tangannya. Begitu alat termometer berbunyi, Nitami mengambilnya kembali dan melihat hasilnya, sedikit hangat. Selain suhu tubuhnya, semua normal tidak ada masalah.
"Kondisi anda baik, tuan. Hanya suhu tubuh anda sedikit hangat. Apa anda sudah meminum obat yang di berikan oleh perawat?" Tanya Nitami sembari memberitahukan hasil dari pemeriksaannya.
"Belum dokter?" Balas Nicolas masih setia menatap wajah cantik Nitami.
Nicolas tidak akan pernah bosan untuk menatap wajah cantik yang selama 3 tahun ini dia cari dan rindukan. Wanita pemilik hatinya, kini ada di hadapannya. Tepat di dekatnya.
"Kenapa belum di minum, tuan. Salah satu obat itu ada obat penurun panasnya."
"Aku belum makan siang." Jawabnya begitu saja, tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah cantik Nitami.
__ADS_1
Nitami terdiam, dia tahu maksud dari Nicolas. Nitami tahu Nicolas sedang menunggunya untuk makan siang bersama.
"Baiklah. Apa yang anda rasakan tidak nyaman saat ini ?"
"Di sini, dan di sini." Tunjuknya pada dada dan kepalanya.
Nitami heran melihatnya, perut Nicolas yang di operasi. Mengapa malah yang bermasalah bagian dada dan kepalanya? Itu jauh hubungannya dengan perut yang tertembak.
"Dada dan kepala anda kenapa, tuan?" Tanya Nitami ingin tahu.
"Dadaku terkadang berdebar dan tidak nyaman rasanya, kepalaku terlalu sakit dan sering pusing, karena mungkin terlalu banyak berpikir." Jawabnya dengan senyum sembari memegangi dada dan kepalanya.
Nitami mengerti maksud dari Nicolas, Nicolas mencoba untuk mengatakan dan membuktikan sesuatu padanya.
"Apa perlu di lakukan pemeriksaan lanjutan, tuan?"
"Kalau itu perlu, silahkan." Balasnya dengan polos.
Nitami semakin mengembangkan senyumnya. Tingkah dan perkataan Nicolas sungguh lucu untuk dia dengar.
"Tidak perlu, tuan. Anda cukup istirahat yang banyak, makan dan jauhkan dulu semua yang berkaitan dengan pekerjaan anda. Istirahatkan tubuh anda untuk beberapa hari saja. Agar dada dan kepala anda tidak bertambah sakit." Balas Nitami dengan ramah dan sikap yang hangat.
Nitami merasa jika Nicolas pria yang sangat ramah dan hangat, serta bisa di ajak berbicara. Tidak ketus dan dingin seperti tadi malam, saat pertama kalinya mereka bertemu di dalam pesta. Nitami akan bersikap ramah dan hangat jika orang itu juga bersikap yang sama dengannya. Tidak ada alasan bagi Nitami bersikap tidak baik atau dingin pada orang yang baik dan hangat padanya.
Dia memalingkan tubuhnya mencari sesuatu di sekitar kamar tersebut.
"Apa yang kau cari dokter?" Tanya Nicolas melihat Nitami mencari sesuatu.
"Saya melihat asisten anda sedang mempersiapkan makan siang untuk kita di meja makan ruang sebelah. Saya masih ingat janji saya tadi pagi, yang bersedia menerima undangan makan siang anda, tuan. Jadi saya mencari kursi roda itu untuk anda pakai." Balas Nitami sembari menunjuk ke arah pojok ruangan, di mana keberadaan sebuah kursi roda yang di cari oleh Nitami.
Nicolas tersenyum akan jawaban yang Nitami ucapkan. Dia senang jika Nitami masih mengingat janji mereka, jika siang ini mereka akan makan siang bersama.
Nitami mendorong kursi roda yang ia ambil dari pojok ruangan, lalu mendekati Nicolas.
"Apa anda bisa berdiri sendiri, tuan?" Tanya Nitami sembari menekan rem kursi roda yang ada di bagian bawah.
"Akan aku coba." Balas Nicolas sembari perlahan menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang perawatannya.
Nitami melihat Nicolas memegang luka operasinya sembari perlahan untuk bangkit dari duduknya, agar bisa berpindah ke atas kursi roda yang ada di hadapannya.
Nitami tahu Nicolas sedang kesulitan, dengan segera dia mendekati Nicolas.
"Apa bisa saya membantu anda, tuan?" Tanya Nitami memberikan pertolongan untuk Nicolas yang sedang berusaha untuk pindah ke atas kursi rodanya.
__ADS_1
Nicolas melihat ke arah Nitami, dia masih berdiri dengan bersandar pada tepi ranjang dan berpegangan erat pada besi gantungan infusnya.
"Bisa jika tidak merepotkan mu, dokter. Terima kasih." Balas Nicolas dengan senang hati.
Sebenarnya Nicolas hanya berpura-pura kesulitan. Padahal dia cukup kuat jika hanya berpindah ke atas kursi roda. Dia juga cukup kuat untuk berjalan normal. Dia hanya mencari perhatian dari Nitami, karena itulah yang di tunggu-tunggu oleh Nicolas. Bantuan dan perhatian dari Nitami.
Di dalam hatinya bersorak gembira, apa yang dia inginkan terwujud? Wanitanya cukup peka akan kesulitan yang sedang pura-pura dia lakukan. Bersandiwara sedikit tidaklah jadi masalah untuk Nicolas, demi kedekatan mereka berdua.
"Permisi tuan." Ucap Nitami sebelum membantu Nicolas.
Sebelumnya Nitami mematikan jalannya cairan infus Nicolas. Nitami melingkarkan lengan kanan Nicolas ke atas pundaknya, lalu tangan kiri Nitami merangkul lembut pinggang Nicolas. Perlahan Nitami membantu Nicolas untuk berdiri tegak dan bersiap melangkah mendekati kursi roda yang ada di depan mereka.
Nicolas berdebar akan sikap cepat Nitami, posisi lengannya yang melingkar pada pundak Nitami membuat mereka seakan sedang berpelukan dari arah samping. Nicolas menatap wajah cantik yang ada di dekatnya, rangkulan lembut tangan Nitami pada pinggangnya memberikan suatu getaran pada hati Nicolas.
Nicolas yang masih fokus menatap wajah yang ada di dekat, tepat di sampingnya. Hatinya berdetak tidak beraturan, matanya tidak berkedip sama sekali. Kedekatan mereka yang terlihat intim, menghangatkan hati Nicolas. Dia bahagia bisa berada dekat dan mendapatkan perhatian dari wanita yang selama ini telah bertahta di dalam hatinya. Wanita yang berhasil membuat seorang Nicolas Orlando jatuh cinta.
Tanpa Nicolas sadari, dia sudah duduk di atas kursi roda. Nitami duduk berjongkok untuk melepaskan rem yang ia tutup tadi. Pandangan mata Nicolas tidak lepas dari wajah cantik Nitami, apapun gerakkan Nitami saat ini?
Nitami tersenyum kepadanya.
"Apa duduk anda sudah nyaman, tuan?" Tanya Nitami berdiri di hadapan Nicolas.
"Iya sudah." Angguk Nicolas sembari pandangan matanya tidak lepas dari Nitami.
"Baiklah. Sepertinya asisten anda sudah selesai menyiapkan makan siang untuk kita." Ucap Nitami tersenyum ke arah Nicolas, lalu beralih ke arah Rey yang berdiri di depan jalan masuk ke ruang makan.
Nitami melangkah ke arah belakang Nicolas, diapun mendorong kursi roda Nicolas dengan perlahan. Sedangkan Nicolas sedang memegangi dan membelai lembut dadanya, karena debaran jantungnya yang tidak beraturan saat ini. Dia hanya ingin meredakan debaran yang sedang berlari-lari karena bahagia.
Nicolas berusaha menelan salivanya dan mengatur pernafasannya. Agar terlihat tenang di hadapan Nitami. Untuk pertama kalinya dia merasakan debaran itu, hingga tubuhnya terasa lebih menghangat lagi. Sungguh perasaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Gugup, bahagia, dan kelegaan bercampur jadi satu. Apakah ini rasanya jatuh cinta?
Mereka berdua sampai di depan meja makan, begitu Nitami selesai menutup rem pada kursi roda yang Nicolas duduki, dia pun segera duduk pada kursi yang sudah di siapkan oleh Rey.
Nitami melihat banyaknya macam menu makanan yang telah di sediakan oleh Rey di atas meja makan. Lalu dia beralih melihat ke arah Nicolas yang hanya diam saja. Tidak menyentuh sama sekali alat makan yang ada di hadapannya. Piring Nicolas masih terlihat kosong sama seperti piringnya.
Nitami tidak bisa memulai terlebih dulu untuk mengambil makanan, jika tuan rumah yang mengundangnya hanya diam saja. Nitami sebenarnya ingin cepat menyelesaikan makan siang ini, dan berlalu dari ruangan tersebut. Masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan dan selesaikan sebelum jam pulangnya sore nanti.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.