
***Rumah Sakit Golden Healthy***
"maaf dokter Nita, tolong lah jangan mempersulit saya. Apakah anda sedang ada masalah?" tanya perawat Maria melihat heran pada sikap dokter Nita yang seakan enggan untuk pergi ke ruang perawatan tuan muda Davin Attala Fardhan, pemilik dari rumah sakit tempat mereka bekerja.
Nita yang di tanya hanya diam saja, membuat dua temannya menjadi semakin heran padanya.
"bukankah tuan muda Davin adalah pasien dokter Nita?" ucap perawat Maria kembali.
"saya tahu itu ibu Maria." balas Nita pada akhirnya.
Nita tidak kuasa melihat mimik wajah memelas perawat Maria. Diapun menghela nafasnya perlahan.
"baiklah…ayo kita ke sana." ucapnya sembari bangkit dari duduknya.
Tanpa banyak bicara lagi Nita segera melangkah, sebenarnya dia sungguh malas untuk pergi ke sana dan melihat tuan muda yang selalu membuatnya sakit hati dan kesal. Apalagi nanti saat dia siuman, apa yang akan dia katakan dengan mulutnya yang pedas?
Terlebih lagi, Nita tidak yakin jika tuan muda yang berstatus suaminya itu tahu kalau dirinya adalah seorang dokter. Davin yang memang tidak suka dan tidak pernah mau peduli apapun tentang Nitami Adreena Saila. Bahkan Davin tidak tahu sama sekali tentang jati diri istri pertamanya itu.
Davin sudah sangat sibuk dengan urusan pekerjaan bisnis dan istri keduanya yang selalu manja serta sering keluar negeri. Tidak ada waktu luang sedikit pun untuk Davin harus tahu tentang Nitami. Mereka berdua benar-benar seperti orang asing. Hanya Nita yang mengetahui tentang siapa suaminya itu?
Nita terpaksa melangkah masuk ke dalam ruang perawat yang super mewah, yang di khususkan untuk keluarga Fardhan. Saat dirinya masuk, semua keluarga Fardhan ada di sana termasuk kepala dokter, direktur dan juga dokter pribadi keluarga Fardhan dokter Aldi Bastian. Satu satunya dokter yang mengetahui siapa sebenarnya Nitami?
"selamat pagi tuan dan nyonya." sapa Nita mencoba ramah karena tidak ingin mencari masalah. Baik dengan keluarga Fardhan maupun dengan kepala dokter dan direktur rumah sakit yang tidak tahu apapun?
"saya izin memeriksa tuan muda Davin pagi ini." ucapnya mencoba melihat pada seluruh anggota keluarga Fardhan.
Di sana sudah ada, tuan besar Markus, nyonya Sandra, Fransisca, adik perempuan Davin yaitu Diana Attala Fardhan dan juga asisten Max. Mereka melihat Nita dengan tatapan dingin mereka, wajah semuanya datar kecuali nyonya Sandra yang tersenyum padanya.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Nita berbalik badan dan ingin segera memeriksa kondisi Davin. Nita dengan cepat memeriksa kondisi pasien yang sebenarnya tidak ingin dia sentuh, karena ada cerita di balik itu semua. Tetapi dengan terpaksa Nita harus menyentuh tubuh Davin karena kondisi yang mengharuskannya seperti itu.
Ketika selesai melakukan pemeriksaan, ada pergerakan dari tangan kanan dan suara erangan dari mulut Davin. Semua sontak bereaksi maju mendekat melihat Davin ada tanda-tanda untuk siluman. Tetapi tidak dengan Nita yang malah diam terpaku.
"dokter Nita." panggil pelan perawat Maria menyadarkan Nita.
Nita yang sudah sadar segera melihat pada Davin, bukan waktunya untuk bersikap egois. Di sini tempatnya bekerja dan dia harus profesional. Dia dokter dan Davin adalah pasiennya yang tentu harus Nita tangani dengan sebaik mungkin.
"tuan muda…!" panggil lembut Nita mencoba bersikap seperti biasanya saat dirinya sedang menangani pasien pasiennya.
"tuan muda, apa anda bisa mendengarkan suara saya? kalau bisa tolong gerakan jari anda atau bersuaralah." tanya Nita lagi karena tidak ada respon dari Davin.
Davin yang mulai siuman dapat mendengar panggilan dari Nita. Diapun melakukan apa yang di katakan oleh Nita? menggerakkan jari tangan kanannya dan mengerang pelan.
Nita segera memeriksa kembali kondisi Davin. Saat itulah Davin mencoba untuk membuka perlahan matanya, samar Davin dapat melihat wajah Nita di hadapannya. Nita hanya diam melihat reaksi dari Davin, tanpa bertanya lebih banyak lagi, dia ingin melihat apakah Davin akan benar-benar siuman atau akan tertidur lagi, mengingat baru saja di suntikan obat penghilang rasa nyeri.
__ADS_1
Davin kini membuka matanya dengan lebar dan dapat melihat Nita, pandangan mata Davin tidak dapat di tebak. Davin melihat Nita dalam diam, yang membuat Nita menjadi khawatir.
"tuan…apa anda bisa melihat tangan saya ini? kalau anda melihatnya tolong bisa katakan ini berapa?" tanya Nita dengan tatapan khawatirnya. Bukan karena Davin suaminya tetapi karena Davin adalah pasiennya. Nita takut ada pemeriksaan yang dia lewatkan.
"tiga." jawab Davin dengan benar dan lemah.
Ada rasa syukur di hati Nita saat Davin menebak dengan benar apa yang Nita tunjukkan.
"satu kali lagi ya tuan, nama anda siapa?" tanya Nita mencoba kembali.
Davin masih melihat Nita dengan tatapan yang tidak dapat di tebak oleh siapapun?
"Davin Attala Fardhan." jawab Davin dengan benar dan pelan.
"apa saat ini perut anda terasa nyeri hebat tuan? kalau iya kedipkan mata anda satu kali, kalau tidak kedipkan dua kali."
Davin menjawab dengan kedipan matanya dua kali, yang artinya tidak. Dengan itu semua pemeriksaan telah selesai, dan Davin melewati masa kritisnya. Hanya perlu istirahat beberapa hari sampai luka operasi di perutnya membaik. Nita pun membalik tubuhnya untuk memberikan informasi itu pada keluarga Fardhan.
"baiklah tuan dan nyonya, tuan muda sudah melewati masa kritisnya saat ini. Tuan muda hanya perlu istirahat beberapa hari sampai luka operasinya membaik." ucap Nita melihat ke arah keluarga Fardhan yang ada di hadapannya.
Tidak ada yang menjawab Nita kecuali nyonya Sandra.
"terima kasih dokter." jawab nyonya Sandra dengan wajah yang terharu.
Fransisca menerobos maju ke depan yang mengakibatkan tubuh Nita menyingkir ke samping dengan sedikit oleng yang dapat dia kuasai. Tindakan Fransisca tidak luput dari semua orang yang hadir di sana. Sikap yang cukup kasar dan tidak sopan pada seorang dokter yang sudah menangani suaminya.
Nita hanya bisa diam dan melangkah menyingkir ke samping memberikan ruang buat keluarga Fardhan. Fransisca dengan lembut mencium bibir Davin di hadapan semua orang tanpa rasa malu sama sekali. Tindakan itu sebenarnya Fransisca tunjukkan untuk Nita yang pasti melihatnya.
"sayang, aku khawatir sekali melihat mu seperti ini." ucap Fransisca manja dengan membelai lembut pipi Davin.
Sikap Fransisca benar benar mesra dan manja pada Davin, Davin hanya melihat dalam diam sikap istrinya tersebut. Sedangkan Nita memalingkan matanya ke arah bawah melihat lantai. Dirinya harus bertahan untuk menyaksikan kemesraan yang di tunjukkan oleh Fransisca kepada suaminya, atau lebih tepatnya lagi kepada suami mereka.
Semua yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Fardhan, memutuskan untuk pamit keluar dari ruangan tersebut. Namun belum sempat mereka melangkah, tuan besar Markus mengatakan sesuatu yang sungguh di luar perkiraan mereka.
"tunggu dulu direktur." panggil tegas tuan Markus menghentikan mereka yang akan pergi keluar ruangan.
"putra ku sudah siuman, jadi tidak perlu lagi dokter ini menangani Davin. Biarkan dokter Aldi yang menangani Davin mulai saat ini." ungkapnya sembari menunjuk ke arah Nita dan beralih lagi ke arah dokter Aldi.
Nita hanya diam, karena itu sudah bisa Nita tebak. Dirinya pun tidak Sudi menangani Davin yang hanya akan ikut menghinanya juga.
Direktur dan kepala dokter melihat sekilas ke arah Nita. Mereka berdua tidak dapat membantah perintah dari tuan Markus, pemilik dari rumah sakit ini.
"baik tuan." ucap direktur setuju yang membuat Nita malah terlihat senang. Pandangan matanya masih melihat datar pada tuan Markus. Mereka benar-benar tidak suka akan kehadiran Nita di sana.
__ADS_1
"dan ingat satu hal, kalian awasi dokter ini. Jangan biarkan wartawan tahu jika dia dokter yang telah mengoperasi Davin. Dan untuk mu…!" ungkap tuan Markus menatap tajam Nita yang membuat siapapun yang melihatnya akan takut. Tidak dengan Nita, tatapan tajam itu sudah biasa Nita dapatkan.
"kau jangan besar kepala karena sudah berhasil menyelamatkan nyawa Davin. Itu sudah tugasmu sebagai seorang dokter yang mendapatkan gaji di rumah sakit ini. Sudah seharusnya kau melakukan tugasmu dengan benar." ucap tegas tuan Markus menunjukkan kekuasaannya.
"Aku tidak habis pikir bagaimana bisa rumah sakit ini memiliki dokter sepertimu?" ucap tuan Markus memandang remeh Nita.
Tuan Markus sebenarnya tidak mengetahui apa pekerjaan Nita selama ini? dia juga tidak mengetahui jika Nita bekerja di rumah sakit yang ia miliki. Begitu pun dengan Davin yang tidak tahu sama sekali seperti sang papa. Nita bisa bekerja di sana itu atas perintah dari nyonya Sandra, yang membuat Nita terpaksa harus bekerja di rumah sakit Golden Healthy.
Dengan suatu alasan yaitu, 5 tahun yang lalu sebelum dirinya menikah dengan Davin. Nita di minta untuk bekerja di rumah sakit Golden Healthy oleh nyonya Sandra agar karir kedokteran Nita menjadi bagus. Niat baik itu tidak mungkin di tolak oleh Nita yang memang sedang mencari tempat bekerja yang bagus.
Siapa yang akan menolak jika mereka mendapatkan kesempatan untuk bisa bekerja di rumah sakit besar? seperti rumah sakit Golden Healthy. Begitu juga Nitami. Dirinya bahagia dapat di terima dan setuju begitu saja saat menanda tangani kontrak selama 5 tahun sekaligus. Namun itu semua juga jebakan untuknya.
Nyonya Sandra ingin mengikat Nita agar tidak bisa atau mudah untuk kabur, Nita di ikat kontrak yang tidak bisa dia lawan. Karena total biaya untuk ganti rugi pembatalan kontrak yang harus Nita keluarkan, sangat besar dan tidak sanggup Nita bayar. Belum di tambah kurungan penjara selama setahun, yang akan membuat nama baiknya menjadi seorang dokter tercoreng.
Siapa yang akan mau menerima Nita dalam keadaan buruk? Itulah sebabnya Nita tidak bisa lari ke manapun? keluarga Fardhan sudah benar-benar mengatur ini semua dengan sangat rapi dan sempurna.
"direktur, apa kau tidak bisa memilih dokter yang bagus?" tanya tuan Markus sembari memandang Nita dengan tatapan meremehkan.
"maaf tuan, tapi dokter Nita adalah dokter bedah umum terbaik di rumah sakit ini, bahkan dokter Nita adalah dokter bedah umum terbaik di kota A ini, tuan…keahliannya sudah mendapatkan 2 kali penghargaan dari presiden." ungkap direktur mencoba membanggakan prestasi dokter Nita.
Itulah kenyataannya, tetapi keluarga Fardhan yang terlalu angkuh dan tidak suka terhadap Nita, tidak ingin tahu bagaimana Nita sebenarnya.
Tuan Markus terlihat semakin tidak suka Nita di banggakan oleh direktur.
"di sini aku yang menentukan baik bagusnya. Jika aku bilang dia jelek dan buruk. Dia benar jelek dan buruk, jika aku tidak suka dokter ini berada di rumah sakit ku? apa anda keberatan direktur?" tanya tuan Markus menekan setiap kata-katanya.
"Jadi aku tidak ingin…!" ucapnya terputus, karena panggilan keras dari Davin yang berusaha bangun dari tidurnya dan di bantu oleh asisten Max.
"pa…!" panggil Davin dengan suaranya yang di usahakan sekeras mungkin.
Semua melihat ke arah Davin.
"aku ingin dokter itu yang menangani ku sampai sembuh. Jadi biarkan dia menjadi dokter pribadi ku…!" ucap tegas Davin yang membuat semua orang terkejut. Terlebih lagi Fransisca dan Nitami. Ada apa dengan Davin?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1