
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Aldi menatap serius ke arah Davin yang berdiri tepat di hadapannya. Aldi sangat mengenal bagaimana sahabatnya tersebut? Davin hanya berusaha mendekati dan menaklukkan hati Nitami, namun cara yang ia gunakan salah.
"caramu ini salah Davin." ucap Aldi dengan pandangan yang masih mengarah pada Davin.
Davin menatap sahabatnya tersebut.
"aku tahu perasaanmu padanya. Jika kau terus seperti ini, kau bukan menjadi semakin dekat padanya, tetapi kau akan semakin menjauh darinya." ucap Aldi kembali. Dia hanya ingin menyadarkan seorang sahabat dari sebuah kesalahan, yang mungkin saja akan di sesali oleh Davin ke depannya.
"lebih baik kau belajar untuk mengerti dirinya, dan bukan belajar untuk menaklukkannya. Jika kau sudah mengerti dirinya, kau akan mudah untuk menaklukkannya." ucap Aldi dengan mimik seriusnya menatap Davin.
"tetap tenangkan dirimu sobat, aku tahu kau tidak ingin kehilangannya." ucap Aldi menepuk lembut pundak kanan Davin.
"jadi cobalah untuk mengerti bagaimana dia? Dia pantas untuk di mengerti. Aku akan selalu mendukungmu." ucap Aldi dengan sebuah senyum tipis yang menenangkan pada wajahnya.
Tanpa berbicara banyak lagi, Aldi melangkah dan ingin menyusul Nitami. Masih ada yang harus Aldi bicarakan kepada Nitami saat ini, terkait beberapa masalah? yang baru saja di buat oleh Davin Atalla Fardhan.
Davin berdiri terpaku menatap kepergian Aldi hingga menghilang pada sebuah belokkan. Davin berusaha mencerna semua yang di katakan oleh Aldi. Semua yang di katakan Aldi, tidak ada yang salah. Davin tahu Aldi adalah salah satu sahabat yang dapat di percaya yang ia miliki saat ini.
"tuan." panggil Max menyadarkan Davin dari diamnya.
Max juga mengerti apa yang di katakan oleh Aldi? sebuah nasehat yang sangat di perlukan oleh tuannya yang tidak mengerti dan mengenal baik seorang Nitami Adreena Saila. Max berharap jika tuannya dapat berpikir jernih dan membuat keputusan yang tidak gegabah, yang justru akan berdampak pada hubungan tuannya terhadap wanita yang kini sedang meresahkan hati tuannya tersebut.
Davin yang di panggil oleh Max, hanya menatap sejenak sang asisten pribadinya tersebut.
"mari tuan, kita menuju ke ruangan sebelum kita ke ruang rapat." ucap Max. Seakan mengerti, jika tuannya saat ini memerlukan sebuah ketenangan.
Mereka lalu melangkah menuju ke ruang kerja Davin yang sudah tersedia di rumah sakit Golden Healthy. Sebuah ruangan yang ada di lantai paling atas rumah sakit, tidak jauh dari ruang rapat yang akan mereka gunakan.
Sedangkan direktur, kepala dokter dan beberapa dokter senior yang tadi mengikuti Davin dari arah belakang, tidak di izinkan mengikuti Davin yang akan ke ruangannya. Mereka semua di perintahkan kembali ke ruangan masing-masing, dengan perintah isyarat dari Max.
Davin butuh menenangkan dirinya saat ini, agar dapat berpikir jernih dalam mengambil keputusan penting bagi kelangsungan hidup dari beberapa orang. Mereka akan bertemu di dalam ruang rapat, pada waktu yang sudah di tentukan. Dua jam lagi, dua jam yang akan menentukan sebuah nasib dari beberapa orang.
...--------------------------------...
…Mansion Keluarga Fardhan…
Sedangkan pada mansion keluarga Fardhan, Fransisca yang baru saja mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya yang ada di rumah sakit Golden Healthy. Meradang karena amarahnya di pagi hari akan laporan tersebut.
"apa kau yakin itu?" tanya Fransisca memastikan apa yang ia dengar dari laporan salah satu anak buahnya di rumah sakit Golden Healthy?
Anak buahnya membenarkan semua laporannya tanpa ragu. Fransisca mengepal kuat tangannya dan mengeraskan rahangnya, menahan amarah yang sudah berada di puncaknya.
"baiklah, lakukan apa yang harus kau lakukan? Aku akan segera datang ke sana, dan persiapkan semua yang sudah aku perintahkan." ucap Fransisca dengan tegas, lalu menutup sambungan telepon mereka.
__ADS_1
"brengsek kau Davin, lagi lagi kau membuat aku kecewa. Dasar wanita murahan, j*l*ng pel*c*r hina. Kalian berdua, akan tahu siapa aku yang sebenarnya?!" ucap Fransisca sembari menatap ke arah depan, di mana sebuah photo besar pernikahan Davin dan Fransisca? di mana terlihat Davin yang tersenyum menawan.
Kemurkaan dan kebencian Fransisca terhadap Davin dan Nitami semakin membesar dari hari ke hari. Persaingan dan pertarungan mereka akan segera di mulai. Di dalam hati Fransisca hanya ada satu keinginan dan niat yang ia miliki, yaitu kehancuran Davin dan juga Nitami.
Fransisca mengetik sesuatu pada layar ponselnya, dia menginginkan seseorang bertindak dan melakukan sesuatu untuknya. Siapa lagi? kalau bukan Ghani Sachio.
Sebuah rencana yang ingin dia lakukan bersama dengan Ghani. Fransisca tahu serta bisa di pastikan, jika Ghani tidak akan menolak keinginannya tersebut.
Dengan senyum liciknya yang menawan, Fransisca merasa puas jika semua yang ia rencanakan akan berjalan lancar seperti yang ia inginkan, kehancuran dari Davin dan Nitami adalah sebuah kebahagiaan yang ingin dia raih selama ini. Tidak ada yang boleh dan bisa menyakiti, mengkhianati dan membuatnya marah. Jika itu terjadi, Fransisca akan membalas mereka dengan dua kali lipat.
...--------------------------------...
…Rumah Sakit Golden Healthy…
Nitami duduk di balik meja kerjanya yang ada pada ruangan khusus untuknya. Beberapa kali Nitami menghela nafasnya untuk meringankan beban di dalam hatinya, karena ulah Davin yang menunjukkan sebuah laporan.
Sebuah laporan yang akan menjadi bahan rapat hari ini, dia masih belum percaya akan apa yang tadi dia baca pada Tab yang di perlihatkan oleh Max kepadanya?
"apa yang sebenarnya kau inginkan Davin?" gumam Nitami pelan sembari menatap kosong meja kerja yang ada di hadapannya.
"kau ingin menekanku dengan ini, apa kau pikir itu akan berhasil? kau benar-benar kejam dan selalu tidak bisa mengerti perasaan orang lain, apalagi perasaan ku selama ini." ucapnya.
"untuk apa kau harus mengerti perasaanku? itu tidaklah penting bagimu." ucapnya menghela nafasnya yang terasa berat.
Nitami terdiam sejenak, namun kepalanya tengah berpikir apa yang harus dia lakukan untuk beberapa rekan rekannya yang tidak seharusnya di perberhentikan dari rumah sakit tersebut. Di tambah lagi, nasib para pasien yang berobat harus memakai kartu kesehatan. Sekarang tidak bisa menggunakan kartu mereka, Nitami tidak bisa melihat seorang pasien yang tidak mampu harus di tolak oleh pihak rumah sakit.
"hallo." sapa Nitami dengan ramah dan sedikit lesu. Nitami kurang semangat pagi ini, karena ulah Davin sejak pagi.
"hallo sayangku…! ada apa dengan suaramu?" tanya seseorang dari seberang telepon.
"tidak ada, hanya kurang semangat saja pagi ini." balasnya.
"jika seperti ini, kamu pasti memiliki masalah."
"setiap orang pasti memiliki masalah sendiri."
"katakan padaku, apa masalahmu? mungkin saja aku bisa membantumu?" tanyanya, Nitami terdiam dan berpikir sejenak. Sebelum akhirnya diapun memutuskan untuk menceritakan kisah sekaligus masalahnya.
Nitami menceritakan semua masalah yang dia hadapi saat ini. Menceritakan sejak awal kejadian semalam hingga pagi ini. Nitami dapat dengan tenang menceritakan semua masalah yang ia hadapi kepada sahabatnya tersebut, karena memang sahabatnya tersebut adalah sahabat yang baik, dapat di andalkan dan dapat di percaya tidak akan berkhianat padanya.
"apa kamu tidak tahu mengapa Davin bersikap seperti itu?" tanya sahabatnya setelah selesai Nitami bercerita.
"apa maksudmu?" tanya Nitami tidak tahu maksud dari sahabatnya tersebut.
"dia sedang cemburu saat ini, karena melihatmu dekat bersama pria lain. Davin bersikap kejam seperti itu, hanya ingin menggertak dirimu saja agar kamu bisa mengikuti apa yang dia inginkan?" ucapnya menjelaskan.
__ADS_1
Nitami terdiam dan mencoba memikirkan sejenak apa yang di jelaskan oleh sahabatnya tersebut. Satu per satu berusaha untuk di ingat oleh Nitami, apakah benar dugaan yang di katakan oleh sahabatnya tersebut?
"apa kamu tidak salah? seorang Davin cemburu padaku, itu sangat mustahil sekali akan terjadi." balas Nitami tidak ingin percaya, bukan karena dia benar-benar tidak ingin percaya.
Nitami tidak ingin mempunyai dugaan dan harapan yang tidak mungkin akan terjadi.
"hahaha…seharusnya kamu sadar, jika Davin mulai ada perasaan padamu? apa kamu pikir dia akan mau repot-repot mengubah semua peraturan dan memecat beberapa dokter serta perawat yang sudah bekerja baik di rumah sakit itu?" ucapnya.
"Nitami, kamu terlalu lama tidak merasakan sensasi perasaan di dalam hatimu, karena ikatan pernikahan yang tidak jelas itu. Kamu dan Davin terlalu lama saling menghindar dan tidak ingin mengenali diri kalian sendiri sebagai sepasang suami istri. Sehingga kamu tidak bisa merasakan sebuah perasaan yang mulai tumbuh, bahkan mungkin sekarang mulai berkembang di dalam hatinya." jelasnya.
Nitami terdiam, dia masih mencerna apa yang di katakan oleh sahabatnya tersebut? Diapun berpikir, apa yang di katakan oleh sahabatnya tersebut? ada benarnya juga. Terlalu lama bagi mereka berdua, tidak saling mengenal satu sama lainnya.
'tidak mungkin Davin mulai ada perasaan padaku, ataupun ada perasaan cemburu?' gumam Nitami di dalam hatinya. Dia masih belum bisa percaya akan perkataan sahabatnya tersebut.
"Nitami, apa kau masih di sana?" panggilan dari seberang telepon, karena Nitami hanya diam saja tanpa komentar apapun?
"iya aku masih di sini." balas Nitami pada akhirnya.
"jangan bilang kamu juga mulai memiliki perasaan terhadap Davin?" ucap sang sahabat curiga akan perasaan Nitami saat ini.
Nitami terdiam, dirinya tidak tahu. Apakah dia juga memiliki perasaan terhadap Davin atau tidak saat ini?
"tentu saja tidak." balas Nitami dengan sedikit nada rendah.
"apa kamu yakin?"
"iya tentu saja aku sangat yakin. Apa alasan aku bisa menyukainya? perhatian darinya tidak ada, kasih sayang, rasa suka apalagi cinta. Tidak pernah satupun dia tunjukkan itu padaku."
"karena kau masih menutup rapat mata dan hatimu."
Nitami diam dan mencerna kembali apa yang baru saja dia dengarkan.
"saat ini mungkin kau belum menyadarinya, tetapi kita tidak akan tahu di masa depan seperti apa? ingat Nitami, Apapun itu jika Tuhan sudah berkehendak? semua pasti bisa saja terjadi." ucapnya.
"jadi aku, kamu atau kita tidak akan tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan di masa depan. Aku hanya bisa berharap kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya kamu dapatkan dari dulu. Aku berharap kamu bisa menemukan sebuah cinta dan kasih sayang yang tulus."
"aku harap kamu bisa memikirkan masa depan yang lebih baik lagi. Aku ingin melihatmu bahagia, sudah cukup untukmu menderita akan semua kehidupanmu yang tidak adil selama ini. Sudah cukup pengorbanan yang kamu lakukan, raihlah kebahagianmu sendiri dengan cara menerima sebuah cinta dan kasih sayang dari pria yang bisa membuatmu menjadi ratu di hatinya." ungkap sang sahabat tulus.
Nitami terdiam tetapi di dalam hatinya terharu akan perkataan serta harapan doa dari sang sahabat. Hanya dialah sahabat Nitami yang dapat mengerti dirinya dengan baik selama ini. Sahabat yang selalu ada di saat Nitami membutuhkannya, seorang sahabat yang akan mengerti keadaan dan kondisinya selama ini. Seorang sahabat yang menjadi tempatnya pulang dan mencurahkan semua keluh kesahnya. Sahabat sejati bagi Nitami.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.