
***Hotel Angel Star***
Hampir semua tamu undangan telah hadir dan berbaur untuk beramah tamah pada rekan, teman dan kenalan mereka masing-masing. Beberapa dari mereka menjadi pusat perhatian, karena posisi keluarga mereka yang kaya raya dan terpandang.
Namun, malam itu akan menjadi malam yang bersejarah dan rasa syukur bagi beberapa orang yang hadir. Seperti saat ini, Davin dan keluarga Fardhan serta beberapa orang yang ada di dalam pesta di kejutkan, akan kedatangan sosok wanita cantik nan anggun dengan pesonanya yang kuat. Wanita itu datang bersama dengan 3 pria yang berbeda usia dengannya.
Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah umum terbaik di rumah sakit Golden Healthy. Wanita itu adalah Nitami Adreena Saila, dokter cantik yang cukup populer di kalangan orang orang kaya di kota A. Semua orang kaya yang pernah menjadi pasiennya pasti akan mengenal si dokter cantik.
Nitami datang bersama dokter Aldi Bastian, direktur rumah sakit dan kepala dokter rumah sakit Golden Healthy. Nitami tampil sangat cantik dengan gaun panjang berlengan pendek yang berwarna putih bagian atasnya, dan berwarna biru malam di bagian bawahnya yang lurus sedikit mengembang lembut. Terdapat sebuah belahan tinggi hingga memperlihatkan kakinya yang jenjang dan putih mulus bila dia melangkah.
Nitami tampil dengan makeup yang natural tetapi tetap cantik, rambutnya yang panjang dan hitam hanya di ikat sebagian dan menyisakan anak anak rambut di bagian samping wajahnya. Nitami tampil sempurna sebagai dokter cantik yang tidak kalah dari seorang model atau artis terkenal yang profesional.
Davin melihat Nitami yang ada di hadapannya hingga tidak berkedip, Davin sangat terpesona akan kecantikan dan keanggunan Nitami. Kerinduan yang tadi sempat Davin rasakan, kini terbayar ketika melihat wajah cantik Nitami malam ini di dalam pesta.
Nitami dan rombongan dari rumah sakit datang untuk menyapa pemilik dari rumah sakit Golden Healthy. Tidak akan sopan jika mereka yang datang mewakili rumah sakit Golden Healthy, tidak menyapa si pemilik rumah sakit tersebut.
"selamat malam tuan dan nyonya, beserta nona." sapa direktur mewakili mereka sembari melihat ke arah Davin, Fransisca, tuan Markus, nyonya Sandra dan Diana secara bergantian.
"malam." jawab mereka seadanya.
Tidak ada yang tersenyum kepada mereka kecuali Davin dan nyonya Sandra, yang senang melihat kehadiran Nitami serta kagum akan kecantikan dan keanggunan Nitami malam ini.
Tatapan teduh mata Davin tidak lepas dari wajah cantik Nitami malam ini, itu tidak luput dari pandangan Fransisca yang duduk di samping Davin. Dengan segera Fransisca menggenggam erat jemari kiri Davin yang ada di atas meja, hingga akhirnya pandangan Davin dapat beralih padanya.
"sayang mengapa kamu melihatnya seperti itu?" tanya lembut Fransisca pada telinga Davin, terlihat mesra bila di lihat oleh orang lain.
"melihat siapa?" tanya Davin pura pura tidak mengerti maksud dari pertanyaan Fransisca.
"melihat wanita itu. Apa kau terpesona padanya di hadapanku?" bisik lembut Fransisca pada telinga Davin.
"tidak ada, hanya melihatnya sekilas saja." ucap Davin dengan segera memasang mimik wajah datarnya.
Fransisca bergelayut mesra dan manja pada lengan Davin, tubuhnya di tempelkan pada tubuh Davin hingga tidak ada jarak di antara mereka. Sembari jari jemari kiri Fransisca yang bebas mengelus lembut lengan Davin, sedangkan jemari kanannya kini saling menggenggam erat dengan jemari kiri Davin. Nitami tidaklah buta untuk tidak melihatnya, Namun Nitami hanya bisa diam dan berusaha menahan dirinya agar tidak terpancing, lagi pula untuk apa Nitami terpancing? itu sudah biasa untuk dia lihat.
__ADS_1
"kami berempat adalah perwakilan dari pihak rumah sakit Golden Healthy yang mendapatkan undangan langsung." ungkap direktur memberitahukan pada kedatangan mereka ke pesta Akbar tersebut.
Davin hanya mengangguk sembari mencuri curi pandang pada Nitami yang berdiri di belakang direktur. Namun tidak dengan Fransisca.
"kenapa kalian datang terlambat, seharusnya kalian datang lebih awal sebelum kami datang." ungkap Fransisca dengan pandangan meremehkan kepada Nitami.
Fransisca mengakui jika Nitami malam ini sangat cantik dan anggun dengan gaun yang cukup mahal dan bermerek ternama. Fransisca tidak suka dan merasa cemburu akan tampilan Nitami yang dapat menyainginya malam ini.
"itu betul sekali, kalian sebagai bawahan tidak sopan sekali." sambung Diana dengan nada dan tatapan tidak suka melihat kehadiran Nitami.
"maafkan kami, kami tidak bermaksud untuk tidak sopan. Kami tadi menunggu dokter Nita selesai melakukan tindak operasi mendadak pada seorang pasien gawat darurat." jawab direktur memberikan alasan keterlambatannya.
"untuk apa kalian susah susah menunggu satu orang yang bisa datang sendiri untuk menyusul. Lagi pula siapa dia yang harus kalian tunggu." ucap Diana meremehkan Nitami.
Nitami hanya diam, Aldi bersikap biasa saja. Dia cukup mengenal bagaimana karakter Diana yang memang tidak suka pada Nitami. Sedangkan direktur dan kepala dokter saling melemparkan pandangan mereka.
"maaf nona. Kami tidak tega meninggalkan dokter Nita untuk datang sendiri." balas direktur.
"siapa dokter ini sampai kalian rela untuk menunggunya. Dia hanya dokter biasa yang tidak perlu untuk kalian istimewakan." ucap tuan Markus dengan nada sinis dan tatapan yang tajam menusuk melihat ke arah mereka satu persatu, dan pandangannya lama pada Nitami.
"sudah cukup, jangan membuat malu rumah sakitku. Sekarang menyingkirlah dari hadapanku, aku tidak suka melihat orang-orang ku tidak disiplin." ungkap tuan Markus mengusir mereka dengan tatapan yang benar-benar tidak suka dan meremehkan ke arah Nitami.
Terlihat jelas kebencian di mata tuan Markus terhadap Nitami. Sedangkan yang di tatapan hanya bersikap biasa saja dan diam, Nitami cukup bisa menahan gejolak hatinya yang kecewa dan malu di perlakukan serta di tatap seperti itu oleh keluarga Fardhan, tentu saja mereka menjadi pusat perhatian dari beberapa orang di sekitar tempat itu.
Davin terdiam dengan mimik wajahnya yang kembali datar dan dingin. Davin tidak suka Nitami di perlakukan seperti itu oleh keluarganya, di dalam hatinya merasa sakit dan sedih melihat Nitami hanya bisa diam, dengan segala sikap dan pandangan Keluarganya yang meremehkannya.
Davin sakit dan sedih tetapi dia hanya bisa diam, tangan kanan yang ada di atas pangkuannya mengepal erat menahan amarah di dalam hatinya, melihat Nitami di perlakukan seperti itu.
"lagi pula, kalian tidak akan mendapatkan tempat duduk. Apalagi dokter biasa seperti dia, tidak akan ada tempat duduk di pesta ini untuknya." ungkap Diana dengan menunjuk Nitami dengan ujung matanya yang sinis.
Aldi Bastian hanya menggelengkan kepalanya heran kepada sikap Diana, yang tidak henti hentinya meremehkan Nitami. Mereka belum tahu apa yang akan mereka saksikan malam ini? Apakah mereka akan bisa berbicara seperti itu dan meremehkan Nitami lagi?
"kau benar Diana, dokter biasa hanya bisa berdiri di barisan paling belakang. seperti barisan para dokter yang menunggu di belakang sana." sambung Fransisca dengan lirikan matanya sinis ke arah Nitami, lalu menunjuk ke arah barisan para dokter undangan yang berdiri dan duduk di barisan paling belakang.
__ADS_1
"hahahaha, kakak benar…" tawa pelan Diana melihat ke arah Nitami.
Mereka yang ada di sekitarnya hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat tingkah laku anggota keluarga Fardhan yang meremehkan bawahannya yang datang sedikit terlambat. Sebenarnya belum terlambat, karena acara belum di mulai. Mereka hanya memakai alasan itu untuk meremehkan Nitami.
Tanpa perlawanan apapun setelah memberikan rasa hormatnya pada anggota keluarga Fardhan, Nitami dan para rombongannya pergi berlalu dari tempat itu. Tanpa mereka sadari ada dua orang yang melihat Nitami dengan tatapan yang berbeda. Satu orang kesal dan marah melihat Nitami di remehkan oleh anggota keluarga Fardhan.
Satu orang lagi hanya diam akan apa yang baru saja dia lihat? Dirinya belum percaya akan apa yang matanya lihat malam ini? sesuatu yang tidak pernah ada pada bayangannya selama ini. Kini tepat ada tidak jauh di hadapannya, dia pun menahan gejolak yang tercampur menjadi satu di hatinya melihat kedatangan Nitami.
Nitami hanya mengikuti dari arah belakang ke mana yang lainnya akan duduk, mereka akan duduk mengikuti kursi yang sudah di tentukan pada surat undangan yang mereka bawa. Namun tempat duduk direktur, kepala dokter dan Aldi yang satu meja tidak ada namanya sama sekali.
Nitami mematung dengan tatapan mata beberapa orang di sekitarnya, sedangkan Fransisca dan Diana tersenyum senang melihat keadaan Nitami yang hanya bisa diam bingung berdiri di tempatnya, karena tidak mendapat tempat duduk pada meja itu.
Davin pun melihatnya, dia tidak tega melihat Nitami hanya berdiri mematung di tempatnya dengan tatapan beberapa pasang mata yang melihat ke arahnya. Davin ingin bangkit untuk membantu Nitami tetapi cepat di cegah oleh Fransisca dan tuan Markus.
Fransisca menahan lengan Davin. "mau kemana sayang?" tanya Fransisca berpura-pura tidak tahu maksud dari Davin. Sebenarnya Fransisca tahu Davin bangkit ingin membantu Nitami.
"jangan bilang kau akan membantu wanita itu Davin." ungkap tuan Markus yang sontak membuat semua keluarga Fardhan melihat ke arahnya.
"jangan buat malu keluarga Fardhan, biarkan wanita itu dengan usahanya sendiri. Diam dan tetap duduk di tempatmu." perintah tuan Markus dengan tegas tanpa melihat ke arah Davin yang ada di sampingnya. Tatapan mata tuan Markus tajam melihat ke arah Nitami yang masih diam terpaku pada tempatnya berdiri.
Davin tahu maksud dari sang papa, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku tangannya memutih, menahan amarah dan dirinya yang tidak bisa berbuat apapun untuk Nitami? di hadapan banyak orang seperti ini. Davin merasa gagal sebagai seorang suami, teman dan atasan yang tidak bisa membantu Nitami malam ini.
Nyonya Sandra yang tidak tega melihat Nitami hanya diam, ingin bangkit dan mengabaikan perintah suaminya. Setidaknya jika Davin tidak bisa membantu Nitami, dia bisa melakukan sesuatu. Nyonya Sandra berniat meminta bantuan dari salah satu teman lamanya, agar Nitami mendapatkan tempat duduk yang layak di dalam pesta ini.
Belum sempat nyonya Sandra untuk bangkit dari duduknya, tuan Markus menggenggam erat tangan istrinya. Nyonya Sandra yang sudah membulatkan tekadnya untuk membantu Nitami, menepis halus tangan tuan Markus. Dia pun bangkit, namun terhenti saat melihat seorang pelayan hotel yang bertugas menghampiri Nitami yang masih setia berdiri di tempatnya.
Semua mata memandang ke arah Nitami. Apa yang akan terjadi pada Nitami? Kita akan tahu setelah pelayan hotel itu melihat kartu undangan yang di bawa oleh Nitami. Yang bisa menentukan di mana Nitami duduk atau berdiri di dalam pesta tersebut?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.