Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
30. Pertanyaan Nicolas.


__ADS_3

***Hotel Angel Star***


Pesan WhatsApp pada ponsel Nitami terus bermunculan, Nitami sudah tahu siapa yang telah mengirimkannya sebuah pesan? Seseorang yang akan menjadi teman seperjuangannya mulai saat ini, sebuah pesan yang membuatnya tidak ingin banyak mengatakan apapun? sebagai balasannya.


"bagaimana malam ini sayangku?" pesan pertama yang Nitami terima.


Nitami tidak membalasnya, hanya membaca sekilas lalu fokus kembali pada penjelasan seorang dokter yang ada di atas panggung di hadapannya.


"sandiwara ku untuk diam dan berpura pura tidak mengenalmu, berhasil bukan." pesan kedua. Nitami hanya melihat sekilas tanpa mau membalasnya.


"ayolah sayangku, setidaknya balas pesanku." pesan untuk ketiga kalinya. Nitami melihat sekilas lalu fokus kembali pada acara, tanpa membalas pesan tersebut.


Tindakan Nitami tidak luput dari perhatian tuan muda Nicolas yang ada tepat di hadapannya. Nicolas tahu ada beberapa pesan masuk ke dalam ponsel Nitami yang dia letakkan di atas meja di hadapannya. Nicolas tahu Nitami tidak mempunyai niat sama sekali untuk membalas pesan pesan tersebut.


Nicolas hanya bisa menatap Nitami dalam diam, sesekali memperhatikan penjelasan dari seorang dokter yang sangat dia kenal baik. Dokter terhebat yang pernah Nicolas kenal selama ini, dokter Medico Felix. Nicolas melihat Nitami dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh orang lain.


Semua itu tidak luput dari pandangan mata Davin, dia merasa jika Nicolas terus memperhatikan Nitami dalam diam. Davin juga pria dewasa yang tahu akan arti tatapan Nicolas pada Nitami, ada perasaan cemburu di dalam hatinya. Davin menggenggam erat tangannya melihat tidak suka akan tatapan Nicolas kepada Nitami.


"jika kau tidak membalas pesanku ini, aku akan mendekatimu sekarang juga dan mengatakan kalau aku mengenal baik dirimu." pesan keempat sekaligus pesan ancaman untuk Nitami. Nitami menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"aku akan sangat bersyukur dan berterima kasih, jika kau masih bisa merahasiakan hubungan kita ini." balas pesan Nitami pada akhirnya.


Tindakan Nitami tentunya tidak luput dari perhatian Nicolas dan juga Davin. Semua tindakkan Nitami menjadi sebuah perhatian yang menarik bagi Nicolas, karena semakin dia melihat dan memandang intens wajah Nitami, semakin hatinya merasa penasaran dan tatapan matanya tidak ingin berpaling ke arah yang lainnya.


"tentu saja, setidaknya bersikap adillah padaku, dengan cara membalas pesanku ini." pesan kelima yang Nitami terima.


"kau tahu sendiri, aku sedang fokus pada alat kesehatan yang akan di luncurkan. Bisakan kau mengerti diriku saat ini?" balas Nitami pada pesan tersebut.


"baik, baiklah aku akan mengalah sampai acara ini selesai, setidaknya begitu acara ramah tamah kau bisa berbicara denganku walaupun hanya sebentar saja."


"bagaimana caranya aku mengawali perbincangan kita?"


"aku tidak mau tahu, kau cari tahu sendiri bagaimana caranya?"


Nitami menghela nafasnya perlahan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pesan terakhir yang ia terima. Nitami tidak habis pikir, bagaimana bisa dia mempunyai hubungan dengan seseorang? yang terkadang tidak bisa mengerti kondisi dan situasi yang Nitami hadapi saat ini. Lagi lagi Nitami menghela nafasnya perlahan.


"apa kau memiliki masalah, nona…?" tanya Nicolas secara tiba-tiba.


Nitami segera melihat ke arah Nicolas yang ada di hadapannya. Tuan dan nyonya Orlando juga melihat ke arah Nitami.


"tidak, tidak ada tuan." balas Nitami dengan mimik wajah biasa. Namun otaknya sedang berpikir bagaimana caranya untuk memulai perbincangan bersama dengan temannya tersebut?

__ADS_1


Nitami tahu betul, apa yang di ucapkan oleh temannya tersebut? pasti akan dia lakukan, karena dia termasuk orang yang nekad dan tidak mau peduli dari dampak yang akan timbul nantinya.


"sepertinya helaan nafasmu berkata lain." balasnya, tuan serta nyonya Orlando melihat Nicolas dan Nitami secara bergantian.


Nitami tahu apa maksud dari ucapan Nicolas? ternyata beberapa kali dirinya menghela nafas, itu menjadi perhatian dari tuan muda yang terkenal tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain, apalagi harus memperhatikan seseorang yang baru saja dia kenal dan lihat.


Tentu menjadi suatu pertanyaan bagi kedua orang tua Nicolas dan juga asisten Rey, mereka mengenal baik seorang Nicolas Orlando yang dingin, angkuh, datar, tidak mudah untuk di dekati dan tidak peduli akan sekitarnya. Kini memperhatikan sikap dan gerak-gerik dari Nitami. Tentu saja aneh bagi mereka bertiga.


"maafkan saya, kalau anda terganggu." ucap Nitami dengan mimik yang dia buat menyesal.


Nicolas justru terdiam datar melihat mimik menyesal Nitami.


"jika anda merasa terganggu, saya akan pindah untuk duduk ke tempat yang lainnya." balas Nitami, hanya itu yang bisa dia jawab. Nitami tidak dapat fokus untuk saat ini.


Nicolas masih menatap datar Nitami, akhirnya dia menghela nafasnya dengan cepat.


"tetap duduk di sana. Jangan pernah beranjak ataupun pindah dari tempat itu." ungkap Nicolas yang justru membuat Nitami, tuan Andreas, nyonya Nania dan juga asisten Rey heran akan sikap tidak biasa Nicolas.


Nitami diam tanpa bisa menjawab, dia hanya dapat menelan salivanya. Sedangkan nyonya Nania nampak tersenyum senang melihat sikap dari Nicolas yang sedikit melunak. Ada sedikit harapan yang dia lihat dari perubahan sang putra gunung es nya tersebut.


"nikmati acaranya dan jangan terlalu banyak berpikir." ungkap Nicolas tanpa lepas dari pandangan melihat ke arah wajah cantik Nitami.


"bagaimana menurutmu tentang alat kesehatan itu?" tanya Nicolas kembali. Nitami melihat ke arahnya.


"kau seorang dokter, pasti tahu dan memiliki pendapat sendiri. Katakan bagaimana pendapatmu tentang alat kesehatan yang akan segera di luncurkan itu?" tanya Nicolas menatap intens Nitami.


Nitami memandang datar Nicolas, pertanyaan yang menjurus terhadap pekerjaannya sebagai seorang dokter. Tentu Nicolas menginginkan jawaban yang memuaskan dari segi kesehatan atau ilmu kedokteran darinya.


"alat yang cukup bagus dan canggih, sangat membantu pada saat melakukan tindak operasi. Namun alat tersebut harus di uji coba terlebih dahulu sebelum di luncurkan. Ini menyangkut kehidupan dan kesehatan dari seorang pasien. Tapi menurut saya alat kesehatan ini jika sudah lulus uji coba, akan menjadi alat yang cukup populer pada setiap rumah sakit besar dan elite. Alat kesehatan yang cukup menjanjikan dalam menghasilkan banyak keuntungan jika di lihat dari segi para pembisnis seperti anda." ungkap Nitami panjang lebar dengan tatapan sesekali melihat ke arah Nicolas, dan layar besar yang menampilkan gambar sebuah alat kesehatan.


Nicolas menatap Nitami, lalu beralih melihat ke arah layar besar yang menampilkan alat kesehatan yang akan segera di luncurkan.


"jika kau di berikan kesempatan untuk melakukan uji coba terhadap alat tersebut, bagaimana?" tanya Nicolas kembali.


"tentu saja itu adalah kesempatan yang cukup langka bagi saya. Saya merasa terhormat jika di beri kesempatan tersebut."


"apa kau yakin akan nyaman dengan alat itu?"


Nitami menatap intens Nicolas, ada senyum tipis di bibirnya, sarat akan makna.


"urusan untuk kenyamanan, itu tergantung cara kita bekerja sebagai seorang dokter, tuan. Alat kesehatan itu hanya sebuah alat yang sudah di rakit dan memiliki program yang sudah di atur. Alat hanyalah alat, jika saya pribadi sebagai seorang dokter bedah umum tidak nyaman dengan alat tersebut saat bekerja, saya tidak akan mau memaksakan diri untuk harus menggunakan alat tersebut, walaupun alat itu bagus dan canggih." jawab Nitami dengan tatapan datarnya.

__ADS_1


Nitami tidak suka melihat senyum tipis Nicolas yang sarat akan makna, Nitami tahu jelas pertanyaan Nicolas hanya ingin mengujinya sebagai seorang dokter.


Nicolas masih setia dengan senyum tipisnya, dia hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti ataupun tanda menerima jawaban Nitami, tidak ada yang tahu kecuali Nicolas sendiri. Nicolas menatap Nitami dengan wajah yang terlihat sedikit melunak.


"jawaban yang cukup bagus dan kokoh pada pendirian anda, sepertinya anda bukanlah dokter biasa." jawab Nicolas masih dengan senyum tipisnya menatap Nitami.


Nitami mengerutkan keningnya melihat ke arah Nicolas.


"apa maksud anda?"


"anda dokter yang cukup cerdas melihat situasi, dan sepertinya anda adalah dokter yang bekerja mengikuti bagaimana perasaan dan insting anda dalam bekerja?" ungkap Nicolas.


Nitami tersenyum lalu tertawa kecil menanggapi ucapan Nicolas yang menurutnya lucu.


"tuan, seorang dokter juga manusia, bisa melakukan kesalahan. Tetapi kami sebagai dokter yang memegang kendali untuk kesehatan dan keselamatan para pasien, tidak bisa hanya bekerja dengan sembarangan. Terkadang insting yang kami rasakan, menjadi musuh utama saat akan melakukan tindakan yang serius demi keselamatan para pasien."


"sama halnya saat melakukan keputusan dalam menjalankan bisnis. Terkadang bisnis yang kita jalani, belum tentu selalu menguntungkan bagi para pembisnis. Salah jalan sedikit saja, suatu perusahaan akan berakhir dengan kehancuran."


Nitami mengerutkan kembali alisnya melihat Nicolas.


"anda menyamakan bisnis dengan kesehatan dan keselamatan para pasien? saya rasa itu jauh berbeda, tuan. Salah sedikit tindakan yang kami lakukan sebagai seorang dokter, nyawa manusialah yang menjadi taruhannya. Jadi tidak bisa anda samakan dengan sebuah bisnis." protes Nitami tidak suka akan jawaban Nicolas.


"dari segi apa kau melihat itu berbeda? jika seorang pembisnis kehilangan perusahaannya. Itu sama halnya kehilangan nyawanya sendiri."


Nitami kembali tersenyum karena merasa lucu akan jawaban yang dia dengar.


"tuan, jika perusahaan mereka hancur, masih bisa mereka ulang dari awal lagi. Tetapi jika nyawa seseorang berada di ujung tanduk, itu tidak bisa di ulang dari awal lagi, hanya bisa tergantung pada sebuah takdir keajaiban dari Tuhan. Jika seorang pembisnis kehilangan nyawa hanya karena perusahaan mereka hancur, itu hanya bentuk kekecewaan dan ketidak mampuannya untuk bangkit menjadi lebih baik lagi. Orang yang seperti itu dan mudah putus asa sebelum berusaha, lebih baik hancur berkeping keping dan tidak pantas untuk berada di dunia ini. Orang yang tidak bisa menerima suatu kegagalan adalah manusia pengecut dan seorang yang dangkal." ungkap Nitami panjang lebar. Itulah yang menjadi pendapatnya saat ini.


Nicolas, tuan Andreas, nyonya Nania dan asisten Rey yang memang berkecimpung di dunia bisnis, sangat puas akan jawaban Nitami. Mereka tidak pernah menyangka seorang dokter bisa memiliki suatu pemikiran di luar kendalinya sebagai seorang dokter. Menurut mereka, Nitami adalah wanita yang cukup cerdas dan memiliki pemikiran yang juga luas. Nitami tidak hanya berpatokan pada ilmu kedokteran saja.


Nicolas cukup tertarik akan sosok Nitami, seorang dokter cantik dan cerdas. Di dalam hatinya merasa puas akan jawaban yang dia dengar, Nitami adalah wanita pertama yang banyak ia berikan pertanyaan menjebak, namun tidak satupun dapat membuat Nitami terjebak akan semua pertanyaannya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2