Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
124. Tiga Pria Di Markas Alesha.


__ADS_3

***Rumah Putih Mansion Keluarga Fardhan***


Flashback on…


Nitami berusaha menghentikan pendarahan pada dada kiri nyonya Sandra. Tangannya gemetar saat menekan luka tembak itu, ia takut terjadi sesuatu yang fatal pada wanita yang sudah ia anggap sebagai mamanya sendiri.


"Ni…tami…!" Panggil lemah nyonya Sandra menyentuh tangan gemetar Nitami, wanita paruh baya itu tahu jika kini tangan Nitami gemetar karena rasa takut dan khawatir padanya.


Nitami melihat ke arah nyonya Sandra, air matanya luluh begitu saja ke atas pipinya melihat senyum sedih nyonya Sandra.


"Bertahanlah tante…Tante akan baik baik saja…!" Balas pelan Nitami dengan suara yang terdengar lirih dan bergetar.


Nitami benar-benar takut kali ini. Takut kehilangan seorang yang penting di dalam hidupnya.


"Ni…tami…Maaf…kan… Tan…te…sa…yang…!" Ucapnya dengan susah payah karena rasa sakit pada dadanya.


Nitami tahu arti kata maaf yang di utarakan oleh nyonya Sandra, semarah apapun Nitami kepada nyonya Sandra. Ia tidak bisa untuk membenci wanita yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus seperti anaknya sendiri. Sejak Nitami kecil dan tumbuh dewasa.


"Tidak tante…Bertahanlah…tante akan baik baik saja." Balas Nitami mencoba memberikan sebuah kekuatan untuk nyonya Sandra.


"Max…Siapkan mobil…cepat…!" Perintah Nitami di sela sela tubuhnya yang masih gemetar takut melihat kondisi nyonya Sandra.


Max segera berlari dan menyiapkan mobil untuk mereka. Max tidak peduli pada mereka yang sedang baku tembak. Yang ada di otaknya saat ini adalah menyelamatkan nyawa nyonya besarnya.


"Sa…yang…maafkan tante…!" Ucap nyonya Sandra terdengar lirih dan sedih. Di dalam hatinya merasa lega dapat menyelamatkan Nitami, menebus semua kesalahannya selama 5 tahun ini. Nyonya Sandra kini merasa lega dan rela untuk meninggalkan semua orang yang ada di sana, dia begitu merindukan kedua sahabatnya yang begitu setia kepadanya sampai akhir hayat mereka.


"Tidak tante…tante tidak ada salah apapun…Tolong bertahanlah…!" Balas Nitami.


Nyonya Sandra hanya tersenyum tipis, lalu kehilangan kesadarannya.


"Mama…!" Panggil Davin dan Diana yang sudah menangis.


"Tante…tante…!!" Ucap Nitami segera memeriksa keadaan nyonya Sandra, detak jantungnya masih ada tetapi lemah. Nyonya Sandra masih bertahan dan mereka harus cepat memberikan pertolongan.


" Tante masih dapat bertahan, tapi kita harus cepat…!" Ucap Nitami melihat ke arah Davin yang juga terlihat kacau saat ini.


Davin hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat tubuh mamanya dan berlari membawa nyonya Sandra keluar rumah putih meninggalkan semua yang masih terkejut di sana. Mereka pergi menggunakan mobil yang telah di siapkan oleh Max.


Beberapa anak buah Nitami dan Davin berusaha melindungi mereka agar dapat keluar dengan selamat dari baku tembak yang terjadi. Benar-benar malam yang mencekam.


Di dalam perjalanan, Max mengemudikan mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Di depan dan di belakang mobil mereka ada satu mobil dari anak buah Alesha yang melindungi mereka di perjalanan.


"Max ikuti mobil di depan. Mereka akan membawa kita dengan selamat sampai ke tujuan." Perintah Nitami, dia ingin membawa nyonya Sandra ke dalam Markas Alesha.


Menurut Nitami, markas Alesha adalah tempat yang paling tepat untuk mereka berlindung, firasatnya mengatakan jika mereka harus ke markas Alesha, karena yang mereka hadapi sekarang adalah seorang mafia yang terkenal kejam dan tidak memiliki hati nurani.


Nitami takut ada serangan susulan yang akan di lakukan oleh musuh mereka, jadi markas Alesha adalah tempat yang tepat untuk melindungi nyonya Sandra dan beberapa anggota keluarganya. Lagi pula di markas itu sudah tersedia ruang operasi, peralatan, dan semua obat obatan yang lengkap.

__ADS_1


Nyonya Sandra membutuhkan tindakan operasi, jadi Nitami akan melakukannya di dalam markas Alesha. Diapun ingin menghubungi seseorang untuk segera menyiapkan apa yang Nitami butuhkan.


"Max, pinjamkan aku ponsel…!" Pinta Nitami melihat pada Max yang sedang sibuk mengemudi. Posisi mereka saat ini di dalam mobil, Davin dan Max duduk di depan, sedangkan Nitami, Diana dan nyonya Sandra berada di belakang.


Bukan Max yang memberikan Nitami ponsel, tetapi Davin. Tanpa menunggu lama, Nitami langsung meraih ponsel Davin setelah tatapan mata mereka bertemu.


Nitami mengaktifkan ponsel Davin, gerakkan tangannya terhenti sejenak. Sebuah gambar photo dirinya, Angel dan Davin saat berphoto bertiga untuk pertama kalinya terpajang jelas disana. Senyum kebahagiaan ada pada bibir mereka bertiga, bagaikan sebuah keluarga yang lengkap dan bahagia.


Davin tahu apa yang menghentikan gerakkan tangan Nitami, namun tidak ada yang bersuara. Nitami dengan segera mengalihkan perhatiannya dan segera menghubungi nomer seseorang yang langsung di terima oleh orang dari seberang telepon.


"Hallo…!!" Seorang pemuda yang menjadi orang kepercayaan Nitami di dalam markas Alesha. Pria muda itu adalah Sandi.


"Sandi…Aku akan segera datang ke sana malam ini membawa seorang pasien…Siapkan semuanya dan hubungi Alvira, cepat…!" Perintah Nitami cepat dan padat.


"Nona…ada di mana sekarang! Apa anda baik baik saja?" Tanya Sandi. Pemuda itu tahu jika Nitami sedang ada urusan di mansion keluarga Fardhan, dan tahu untuk urusan apa? Karena di antara Nitami dan Sandi tidak ada rahasia.


"Aku baik, jangan banyak tanya. Lakukan semua yang aku perintahkan, pasien yang aku bawa adalah korban tembakkan pada dada kirinya, karena ada serangan secara tiba-tiba." Perintah Nitami, dia mengabaikan kekhawatiran Sandi padanya.


"Baik nona…!" Balas Sandi mengerti makasud Nitami.


Sambungan telepon itupun selesai. Nitami segera mengembalikan ponsel milik Davin, tatapan keduanya kembali bertemu sejenak. Nitami kembali fokus untuk menekan pendarahan pada luka tembakan nyonya Sandra.


Mobil terus melaju ke tempat tujuan yang di inginkan oleh Nitami. semuanya akan baik baik saja, itulah harapan Nitami. Nitami akan menyelamatkan nyonya Sandra apapun caranya? Nitami memandang intens wajah pucat wanita paruh baya yang ada di atas pangkuannya.


'Bertahanlah mama Sandra, aku mohon…jangan tinggalkan Nita seperti mama dan papa…Aku mohon mama…!' Batinnya berharap mama penggantinya dapat bertahan dan selamat dari tembakan yang ia dapatkan.


***Markas Alesha Larzo***


Kembali pada Davin dan Alesha yang masih berada di halaman samping markas Alesha.


"Nona…lebih baik kita masuk, dan menunggu di dalam dengan tenang. " Ucap Teo memberikan pilihan yang baik untuk mereka semua.


Tidak ada gunanya berada lebih lama lagi di luar sana. Lebih baik di dalam dan menunggu dengan tenang. Itulah isyarat yang ia baca dari tatapan Nitami tadi.


Alesha menghembuskan nafasnya perlahan. Teo benar, dia masih mengingat itulah isyarat yang di berikan oleh Nitami pada tatapan mata mereka saat bertemu tadi.


"Baiklah…Silakan masuk tuan Davin, jika anda berkenan…!!" Ucap Alesha masih dengan sikapnya yang dingin.


Tidak ada jawaban dari Davin. Alesha mencoba mengalah demi Nitami dan berlalu dari tempat itu. Masuk ke dalam, duduk dengan tenang pada sebuah sofa yang ada di depan ruang operasi di dalam markasnya.


Mau tidak mau Davin, Max dan Diana juga ikut masuk ke dalam. Mereka juga duduk pada sofa yang sudah di sediakan di sana. Semua diam pada pikiran mereka masing-masing.


Beberapa saat kemudian pandangan dan perhatian mereka teralihkan pada kedatangan seseorang. Davin, Alesha dan semua yang ada di sana bangkit dari duduknya. Seorang pria dingin tetapi tetap tampan dan berkharisma kini berdiri tepat di hadapan mereka.


Nicolas Orlando menatap dingin serta tajam ke arah Davin yang juga tidak kalah dingin melihat ke arah Nicolas. Alesha tahu ada persaingan kuat di antara dua pria yang sama sama menginginkan Nitami menjadi milik mereka.


"Ada urusan apa anda ada di sini, tuan Nicolas Orlando?" Tanya Davin ingin tahu maksud kedatangannya.

__ADS_1


Nicolas tidak menjawab, dia hanya diam dengan berdiri menantang di hadapan Davin.


"Kedatangannya ada urusan denganku…" Ucap Alesha yang menjawab.


Semua mata memandang ke arah Alesha.


"Apa ada masalah untukmu, tuan Davin?" Sambungnya lagi.


Davin diam, dia tahu itu adalah kawasan milik Alesha. Dia harus tetap berhati-hati agar tidak menyinggung Alesha. Sedangkan Nicolas masih diam dengan sikap santainya.


Pandangan mereka teralihkan. Sandi keluar dari pintu ruang operasi, dia yang sudah menggunakan pakaian khusus ruang operasi menatap heran ke arah semua orang yang melihatnya.


"Ada yang harus aku urus, permisi…!" Ucap gugup Sandi akan tatapan mata semua orang mengarah kepadanya. Diapun cepat berlalu dari tempat itu, keluar dari pintu samping.


Mereka kembali terdiam, menantikan kabar seseorang yang ada di dalam ruang operasi. Namun, lagi lagi perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan seseorang yang sedang di giring masuk oleh Sandi.


"Mari tuan, silahkan masuk." Ucap Sandi mempersilahkan masuk seorang pria tampan dan berkharisma.


Pria tampan yang tidak di kenali oleh Davin dan Alesha, tetapi tidak dengan Nicolas. Pria itu tahu siapa yang sekarang datang dan ikut hadir di dalam ruangan itu? Nicolas kembali heran melihat pria yang sangat ia kenal baik, Mengapa pria itu bisa datang ke dalam markas Alesha? Ada urusan apa dia datang?


Nicolas, Davin, dan Alesha melihat heran kedatangan Levi Massimo. Sosok orang yang tidak pernah mereka harapkan kehadirannya, apalagi Nicolas.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Nicolas terlihat heran melihat kedatangan saudara sepupunya tersebut.


Levi melihat Nicolas dengan sikap biasa saja, dia lalu tersenyum. Kedatangannya di sana atas permintaan seseorang yang akan berada di pihaknya. Kedua belah pihak yang akan sama-sama di untungkan.


Sedangkan Davin dan Alesha cukup terkejut melihat Nicolas kenal dan tahu siapa pria yang baru saja datang? Pria yang mereka tidak kenal.


"Aku datang atas permintaan seseorang, tidak ada hubungannya denganmu." Balas Levi masih dengan sikap biasa dan tersenyum tipis ke arah sepupunya itu.


Mereka cukup dekat, tetapi selalu saja bertentangan dalam beberapa hal. Itulah yang membuat hubungan dekat mereka terlihat aneh, terkadang baik serta terlihat akur dan terkadang seperti dua orang yang sedang bersaing.


"Siapa yang memintamu datang?" Tanya Nicolas ingin tahu. Pasalnya dia pun di minta datang ke markas itu oleh Alesha.


Kini Pandangan Nicolas melihat ke arah Alesha, Apakah Alesha juga yang meminta Levi untuk datang ke markasnya? Sama seperti dirinya yang di minta datang karena urusan yang berhubungan dengan organisasi mafia Lion King yang berasal dari Inggris. Kini semua mata memandang ke arah Alesha yang berdiri di antara mereka semua.


Tiga pria di markas Alesha, mereka memiliki kharisma dan pesona mereka masing-masing. Alesha cukup heran melihat ke tiganya menatap dengan penuh tanda tanya ke arahnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2