Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
44. Perlawanan yang Sia-Sia.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Kedua pangkal alisnya merengut menatap tidak percaya ke arah Davin. Seorang tuan muda kejam, arogan dan angkuh yang Nitami kenal sepanjang hidupnya. Begitu pula tatapan tidak percaya Aldi, yang tidak kalah tajam menatap Davin sang sahabat yang ia kenal sejak di bangku SMA. Mereka berdua tidak pernah tahu dan menyangka, jika Davin sekejam dan tidak berperasaan seperti itu.


Sebuah laporan yang Nitami dan Aldi lihat serta baca, cukup membuktikan siapa Davin Atalla Fardhan yang sebenarnya? Tuan muda keluarga Fardhan yang terkenal selalu bersikap dingin, angkuh, arogan dan kejam kepada siapa saja yang tidak ia sukai? adalah rumor yang benar dan nyata.


Nitami benar-benar tidak dapat mempercayai, apa yang dia baca dan lihat saat ini? Sebuah laporan yang menyatakan dan menampilkan banyak nama dokter dan perawat rumah sakit Golden Healthy, yang masuk ke dalam daftar untuk di berhentikan dari rumah sakit karena kinerja mereka tidak memenuhi syarat dari Davin. Serta laporan tentang kenaikan biaya berobat untuk kalangan menengah.


Satu laporan yang membuat Nitami geram, Biaya pengobatan yang menggunakan kartu kesehatan tidak akan di layani lagi. Sungguh ironis, Nitami tidak pernah menyangka jika Davin tega bertindak sekejam itu terhadap orang-orang yang kurang mampu, yang biasanya di terima di rumah sakit tersebut.


Rumah sakit Golden Healthy hanya akan melayani orang-orang kaya dan pasien yang berani membayar mahal biaya rumah sakit. Nitami tidak dapat menerima dan keberatan akan keputusan tersebut.


"ini tidak adil tuan." ucap Nitami dengan tatapan tajam tidak sukanya terhadap Davin.


Davin tersenyum tipis menatap Nitami dengan pandangan yang tidak dapat di artikan.


"tidak adil bagaimana?" tanya balik Davin dengan posisi berdiri tegak menantang Nitami yang mulai terlihat kesal.


"benar Davin, kau terlalu tega dan kejam jika berbuat seperti ini." kini giliran Aldi yang ikut berbicara. Aldi tidak kalah geramnya terhadap keputusan Davin tersebut.


Davin hanya menatap sejenak ke arah Aldi. Lalu menatap kembali Nitami yang masih menatapnya tajam.


"ini rumah sakitku, semua keputusan berhak aku ambil. Aku hanya menjalankan apa yang menurutku baik? Itulah bisnis." ucapnya.


"kesehatan anda pakai bisnis?" ucap Nitami dengan penekanan pada kata-katanya.


Davin masih menatap Nitami dengan senyum tipisnya. Ada tersirat maksud tersembunyi dari senyumannya tersebut.


"apa yang aku lakukan ini? tidak membuatmu rugi sama sekali. Jadi untuk apa kau merasa keberatan?" ucap Davin dengan sikap yang masih tenang.


Nitami membulatkan matanya, sungguh Davin tidak bisa di ajak bicara secara baik-baik saat ini. Apa yang dia ucapkan? akan selalu membuat Nitami meradang.


"jalani hidupmu seperti biasanya. Menjadi seorang dokter yang kau inginkan." ucap Davin.


"oiya…aku lupa memberitahukan kepadamu." ucapnya menatap intens Nitami.


"khusus untukmu, aku meminta kepada direktur dan dokter kepala agar kau tidak menerima pasien VVIP lagi. Karena kau akan menjadi dokter pribadi keluargaku mulai sekarang." ungkapnya yang sontak membuat Nitami terkejut tidak percaya.


"mulai saat ini, kau hanya akan menjadi dokter yang melayani pasien di poli saja." ucapnya kembali.


"tidak bisa seperti itu tuan. Itu artinya anda membatasi pekerjaan saya sebagai seorang dokter bedah umum." protes tegas Nitami tidak ingin mengikuti keputusan Davin.


"kau bekerja padaku, aku berhak mengaturmu."

__ADS_1


"aku tidak setuju." ucap tegas Nitami, kepalan kuat tangannya terlihat menahan amarahnya saat ini.


"setuju tidak setuju, kau harus tetap mengikutinya. Ingat kontrak yang sudah kau tanda tangani." ucapnya sedikit mengancam Nitami, dan mengingatkan Nitami pada kontrak yang masih mengikatnya.


"aku adalah atasanmu di sini. Jadi aku berhak menentukan kau berada pada posisi apa?"


Nitami terdiam dengan rahang yang mengeras.


'Davin apa yang coba kau lakukan saat ini? kau sudah salah mengambil jalan. Nitami akan semakin tidak suka dan membenci dirimu.' gumam Aldi di dalam hatinya. Aldi hanya bisa diam, walaupun dirinya juga tidak setuju akan tindakan Davin saat ini.


'aku ingin melihat sampai dimana kau bisa menentang dan menolak semua perkataanku?' gumam Davin menatap serius ke arah Nitami yang terlihat masih menahan amarahnya.


Davin melakukan semua itu hanya ingin membuat Nitami mengikuti semua keinginannya. Davin menggunakan itu semua untuk menggertak Nitami, karena dia tahu Nitami memiliki hati dan jiwa sosial yang tinggi. Davin hanya memakai kelemahan Nitami tersebut, untuk membuat Nitami agar mau tunduk kepadanya.


Namun lain halnya yang ada di dalam hati Nitami saat ini, dirinya tidak bisa melihat rekan rekannya yang berjuang bersamanya selama ini, di pecat begitu saja. Nitami tidak bisa melihat para pasien yang kurang mampu yang berobat menggunakan kartu, tidak lagi di layani di rumah sakit itu.


Nitami sungguh tidak menyangka jika Davin benar-benar tega dan kejam. Nitami tahu apapun perlawanan yang dia lakukan untuk melawan Davin sekarang? tidak akan ada gunanya. Davin akan tetap pada pendirian dan keputusannya.


'apa yang harus aku lakukan sekarang?' gumam Nitami di dalam hatinya. Namun tatapan tajam kesalnya masih melihat Davin yang terlihat santai dan tenang.


Tidak ada yang bisa Nitami lakukan saat ini, kuasa yang ia miliki tentu kalah jauh dari kuasa yang di miliki oleh Davin pada rumah sakit Golden Healthy. Davin memang berhak menentukan segalanya yang menurut dirinya benar dan baik bagi kelangsungan rumah sakit. Walaupun tindakannya membuat banyak orang di rugikan.


Nitami memandang ke arah Aldi sejenak, lalu beralih kembali ke arah Davin. Namun tatapan dan raut wajah Nitami kali ini lebih tenang, datar dan dingin kembali. Nitami hanya bisa diam dan mengikuti aturan main Davin, dia akan melihat sampai mana perkembangan dari tindakan Davin tersebut.


"mengapa kau diam?" tanya Davin.


Nitami melihat intens wajah Davin. Tatapan mata mereka bertemu, saling memandang dengan sorot mata yang berbeda.


"diam lebih baik, dari pada melawan yang tidak ada artinya." balas Nitami masih setia pada sikapnya semula.


"dokter Aldi, aku akan kembali ke ruangan dulu." ucap Nitami melihat ke arah Aldi.


"berada lama di sini, hanya membuat pikiran menjadi tidak baik." ucap Nitami melihat ke arah Davin.


Aldi terdiam tanpa komentar apapun? dia tahu Nitami kecewa saat ini, karena tidak dapat berbuat banyak untuk membantu rekan-rekannya dan para pasien yang tidak boleh lagi menggunakan kartu kesehatan mereka. Aldi tahu Nitami merasa dirinya tidak berguna, Davin tidak dapat mengerti apa yang di rasakan Nitami saat ini?


Tanpa banyak bicara Nitami segera membalik badannya dan ingin melangkah. Tetapi ucapan Davin menghentikan langkahnya.


"keputusan masih bisa di rubah, jika kita memiliki kesepakatan." ucap Davin pada akhirnya.


Davin tidak puas akan tindakan diam dan menyerah Nitami pada keputusannya.


Nitami terdiam tanpa mau membalik tubuhnya kembali. "lakukan semua yang ingin anda lakukan tuan." ucap Nitami tanpa berbalik badan dan melihat ke arah Davin.

__ADS_1


Nitami tidak ingin banyak bicara dan melawan. Dia tahu semua perlawanannya terhadap Davin hanya akan sia-sia saja. Lebih baik dia mengikuti aturan main yang Davin buat, dari pada harus repot-repot ikut campur yang hanya menambah sakit di hatinya, dan rasa tidak nyaman yang hatinya rasakan, melihat rekan-rekannya yang terkena dampak dari keputusan Davin.


Terlebih lagi dirinya sedih dan kecewa tidak dapat melakukan apapun? kepada para pasien yang kurang mampu, mereka tidak bisa lagi menggunakan kartu kesehatan yang mereka miliki. Padahal banyak pasien yang Nitami miliki berasal dari pasien yang kurang mampu.


Nitami melangkahkan kakinya menuju ke arah yang ingin ia tuju. Dia sama sekali tidak peduli jika semua orang menganggapnya tidak tahu sopan santun kepada pemilik rumah sakit tersebut. Nitami hanya butuh ruangannya untuk menenangkan dirinya.


Nitami tahu jelas semua keputusan Davin saat ini, itu semua karena dirinya. Jika saja dia mengikuti perkataan dan keinginan Davin, keputusan ini tidak akan terjadi. Nitami merasa bersalah di dalam hatinya, kini gara-gara dia banyak rekan-rekannya dan para pasien kurang mampu yang akan terkena dampaknya.


Nitami menahan rasa tidak nyaman dan bersalah yang teramat di dalam hatinya. Beberapa kali dia menghembuskan nafasnya yang berat untuk sekedar meringankan beban pikiran dan hatinya. Namun itu tidak berguna. Dia tetap merasa bersalah, bahkan akan bertambah bersalah ketika berpapasan dan bertemu dengan beberapa dokter atau perawat yang masuk ke dalam daftar laporan Davin yang ia baca tadi.


Nitami tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada mereka? jika di pecat dari rumah sakit Golden Healthy. Terlebih lagi yang memiliki keluarga, dampak yang akan mereka terima dari pemecatan tersebut, adalah susah untuk mendapatkan rumah sakit yang mau menerima mereka untuk bekerja.


Pemecatan secara sepihak dari pihak rumah sakit Golden Healthy, sama halnya memutuskan karier mereka sebagai seorang dokter atau perawat. Tidak ada rumah sakit yang akan mau menerima mereka untuk bekerja di sana. Berhenti secara sepihak dari rumah sakit Golden Healthy artinya masuk daftar hitam karena bermasalah.


Banyak rumah sakit lainnya sudah tahu aturan main dari rumah sakit Golden Healthy, yang kini sedang berkembang pesat menjadi rumah sakit terbaik nomer satu di kota A. Tidak ada yang berani melawan kekuasaan dari Davin Attala Fardhan yang selalu bersikap tegas dan kejam.


Sedangkan Davin dan Aldi masih berdiri pada tempatnya, mereka berdua hanya bisa memandang punggung Nitami yang terus melangkah menjauh.


"Davin apa yang ingin coba kau lakukan?" tanya Aldi dengan tatapan matanya ke arah punggung Nitami yang terus melangkah meninggalkan mereka yang masih pada tempatnya.


Davin melihat sekilas ke arah Aldi, lalu beralih melihat kembali ke arah Nitami yang terus melangkah hingga hilang di sebuah belokkan.


"aku melakukan yang seharusnya aku lakukan sejak dulu." balas Davin tanpa melihat ke arah Aldi.


"apa kau tahu perasaannya saat ini? jika kau bertindak dan melanjutkan semua keputusanmu sekarang?" tanya Aldi lagi.


Davin menelan salivanya.


"kau melukainya, dan kau membuatnya merasa bersalah saat ini. Apa kau tahu itu?"


Davin menatap serius dan dingin ke arah Aldi, Apa yang Aldi katakan? adalah benar. Sebelum Nitami membalik tubuhnya, Davin dapat melihat sorot kesedihan dan kecewa pada mata Nitami saat menatapnya sekilas. Davin terdiam dan terpaku akan tatapan sedih dan kecewa Nitami.


Namun Davin hanya ingin Nitami juga mengerti keinginannya. Tanpa Davin sadari dialah yang egois dan tidak bisa mengerti bagaimana Nitami? Nitami hanya bertindak sebagai dokter yang tahu akan tanggung jawabnya, Nitami hanya bertindak dan mengikuti aturan yang sudah dia jalani selama beberapa tahun ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2