Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
110. Keluarga Yang Berharga.


__ADS_3

***Mansion Keluarga Fardhan***


Nyonya Nadin sudah dapat bergerak kembali karena penawar racun yang di berikan oleh Nitami bekerja dengan baik. Walaupun sedikit kesusahan dan masih merasakan rasa sakit pada beberapa bagian tubuhnya, ia berusaha untuk bergerak dan ingin melakukan sesuatu.


Dia ingin menghubungi seseorang dan tentu saja memakai ponsel lainnya. Dirinya masih sadar jika ponsel pribadinya kini telah di sadap oleh anak buah Nitami. Tanpa ia ketahui jika tindakannya itu juga sudah di ketahui oleh Sai, salah satu anak buah Nitami dan Alesha yang berada di dalam kediaman mansion keluarga Fardhan.


Sai memerintahkan anak buahnya memasang beberapa kamera CCTV tersembunyi di dalam kamar nyonya tua, dan di beberapa sudut mansion sebagai pengawasan untuk mereka, tentunya tidak di ketahui oleh pihak keluarga Fardhan.


Mereka lebih cerdik dan bekerja cepat tanpa membuat pihak keluarga Fardhan beserta anak buah lainnya curiga. Jika di bandingkan dengan anak buah yang di miliki oleh pihak Nitami, milik pihak keluarga Fardhan jauh sangat kalah. Dari segi kekuatan dan kelengkapan alat yang mereka miliki. Anggota mafia Shadow World lebih jauh unggul.


Panggilan yang di lakukan oleh nyonya tua terhenti begitu saja. Seorang wanita dengan pakaian susternya masuk ke dalam kamar nyonya Nadin dan menghentikan panggilan tersebut.


"Siapa kau?" Tanya nyonya Nadin melihat tajam dan marah ke arah wanita yang datang dengan pakaian seorang suster ke dalam kamarnya.


Wanita cantik itu tersenyum. Kemudian berkata sembari memandang remeh ke arah nyonya tua.


"Aku adalah suster pribadi anda yang baru, nyonya." Ucap wanita tersebut memperkenalkan dirinya dengan senyuman yang begitu manis namun penuh akan makna.


"Siapa yang mengirim mu, aku tidak butuh seorang suster. Apalagi wanita seperti dirimu." Balas nyonya Nadin tidak suka akan kedatangan suster tersebut.


"Anda tentu tahu siapa yang telah mengirim ku ke sini? Anda harus tenang nyonya dan jangan berusaha melakukan hal yang hanya membuat majikan saya marah kepada anda." Balasnya sembari menyimpan ponsel baru nyonya Nadin ke dalam saku depan rok putihnya.


Lalu dia mengeluarkan sebuah spead suntikan yang telah berisi sebuah cairan bening dari balik kantong depan rok susternya. Sebuah suntikan racun dengan dosis yang ringan, sebagai antisipasi jika sang nyonya tua tidak dapat di ajak untuk bekerja sama.


Nyonya Nadin seketika gemetar karena ia masih dapat merasakan rasa sakit akan racun yang di berikan oleh Nitami. Dan ia tahu jika spead suntikan yang di pegang oleh sang suster adalah sebuah racun yang sama di berikan oleh Nitami kepadanya beberapa saat yang lalu.


Dia sangat tahu dan yakin jika wanita suster itu adalah utusan sekaligus anak buah Nitami. Nyonya Nadin diam dengan tubuhnya yang bergetar dengan sendirinya.


"Mau apa kau…!!??" Tanya nyonya Nadin dengan suara yang terdengar gemetar.


"Saya sedang memberikan anda sebuah peringatan secara halus, nyonya. Untuk tidak macam-macam, atau bertindak yang membuat majikan saya marah kepada anda." Balasnya dengan tersenyum devil, lalu beberapa detik kemudian senyumnya hilang dan di gantikan oleh tatapan tajam membunuhnya.


"Saya bisa lebih kejam dari nona NASA Angel, nyonya. Jadi tenang dan diam demi keselamatan anda sendiri."Peringatnya sembari melangkah mendekati nyonya Nadin.


Nyonya Nadin segera memencet tombol kursi roda elektriknya untuk maju, dan ingin menabrak suster yang ada di hadapannya. Namun suster tersebut dapat menghindar ke arah samping. Dengan langkah yang cepat, suster tadi menghentikan laju kursi roda itu dengan menahan gagang belakang kursi, kemudian dengan gerakkan cepatnya sang suster menancapkan jarum suntik yang ia pegang ke arah lengan kanan nyonya tua.


"Aaaakkkk…!!!" Histeris kesakitan nyonya tua akan suntikan yang baru saja ia dapatkan.


Sebuah suntikan racun dosis rendah kembali masuk ke dalam tubuh sangat nyonya tua. Walaupun sedikit, namun cukup ampuh memberikan sensasi rasa sakit yang luar biasa bagi nyonya Nadin. Cukup membuat tubuh nyonya tua kaku dan tidak dapat di gerakkan dengan mudah.


"Jangan pernah mengabaikan peringatan dari saya, nyonya tua." Bisik sang suster tepat di samping telinga nyonya Nadin.


Tubuh nyonya Nadin diam terpaku, wajahnya terlihat pucat karena rasa takut dan sakit yang kini ia rasakan.


Senyum devil sang suster begitu merekah pada wajahnya, ia pun hanya melangkah untuk menggiring nyonya tua mendekati ranjangnya.


"Penjaga." Panggil suster wanita itu dengan lantang kepada dua penjaga di depan pintu kamar nyonya Nadin.

__ADS_1


Dua penjaga segera masuk ke dalam kamar dengan sikap siaga, setelah mendengar panggilan dari sang suster.


"iya, nona." Balas salah satunya.


"Bantu aku menidurkan tubuh nyonya tua ke atas ranjangnya, dia harus banyak istirahat." ucap suster memberikan perintah. Lalu melihat kembali ke arah nyonya tua yang ada di hadapannya.


"Dia sudah sangat tua, harus banyak beristirahat agar tubuhnya selalu bugar dan sehat." Ucapnya.


"Baik, nona." Dua penjaga yang di panggil, segera melakukan perintah suster tersebut.


Kini tubuh nyonya tua telah berbaring di atas ranjangnya. Dua penjaga kembali ke tempatnya berjaga, sedangkan sang suster tengah menyelimuti tubuh nyonya tua yang hanya bisa diam berbaring.


"Selamat beristirahat, nyonya. Sampai berjumpa nanti malam, karena ada sebuah pertunjukan yang akan sangat menarik untuk kita lihat." Ungkapnya dengan berdiri menantang di hadapan nyonya tua.


"Persiapkan diri anda untuk pertunjukan nanti malam. Aku sungguh tidak sabar untuk melihatnya." Ucapnya sembari tersenyum lebar, namun senyumnya begitu terlihat jahat.


Nyonya tua hanya bisa diam berbaring dan mendengarkan semuanya. Sang suster keluar dari kamar tersebut, karena masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan.


'Sial, brengsek…wanita sialan…akan aku balas semua perlakuan mu hari ini.' Gumam nyonya tua di dalam hatinya.


Ia begitu marah akan keadaan yang terjadi padanya, namun air mata kesakitan keluar begitu saja dari pelupuk matanya.


...-----------------------------------------------...


Nitami kembali ke mansion Alesha, dia harus segera mengobati luka yang ada pada leher dan lengannya. Lukanya cukup dalam dan lebar, harus mendapatkan beberapa jahitan.


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan luka luka itu?" Tanya Alesha terlihat geram melihat luka yang di dapatkan oleh Nitami.


Saat Nitami datang kebetulan Alesha sedang berada di mansion. Pertanyaan Alesha sekaligus mewakili Alvira yang juga penasaran akan luka yang sedang ia obati.


"Ini semua karena perlawanan antara aku dan si nyonya tua keluarga Fardhan." Balas Nitami tidak ingin menyembunyikan apapun dari sahabatnya tersebut.


Alesha mengerutkan keningnya, ia tidak percaya jika seorang nyonya tua dapat melukai Nitami. Walaupun ia juga tahu bagaimana jahatnya sang nyonya tua? Tetapi Alesha tidak pernah tahu jika nyonya Nadin begitu ahli untuk melukai seseorang.


"Aku tidak tahu, jika tongkat penopang yang ia bawa adalah sebuah pedang khusus sebagai senjata yang ia gunakan selama ini. Aku tidak dapat membaca pergerakannya, namun aku bisa mengatasinya dengan mudah." Balas Nitami tahu arti kerutan alis Alesha melihat ke arahnya.


"Kamu tenang saja, aku tidak apa apa, ini hanya luka ringan yang akan segera sembuh." Ucap Nitami tidak ingin sahabatnya itu terlalu khawatir akan dirinya.


"Lagi pula di sini sudah ada dokter yang sangat ahli dan trampil untuk mengobati luka ku ini." Ungkap Nitami melihat ke arah Alvira yang sedang sibuk pada lukanya.


"Lebih baik, kamu urus asisten pribadi nyonya Nadin. Anak buahmu sudah membawanya ke markas. Aku ingin semua selesai malam ini, sudah saatnya mereka membayar segalanya padaku." Ungkap Nitami dengan pandangan mata serius serta tajam penuh dendam.


Alesha menghela nafasnya, ia tahu sahabatnya itu tidak suka jika melihatnya mengkhawatirkan Nitami.


"Baiklah, apapun yang kamu inginkan? Akan terwujud malam ini juga." Balas Alesha mengerti harus bersikap seperti apa untuk menghadapi sahabatnya tersebut?


"Terima kasih." Balas Nitami sembari tersenyum ke arah Alesha. Setidaknya ia dapat menenangkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Pastikan semua ini tidak akan terjadi lagi. Jika tidak, aku tidak akan melepaskan pandangan mataku padamu mulai saat ini." Ungkap Alesha memberikan sebuah peringatan untuk Nitami.


Nitami tahu bagaimana sahabatnya itu?


"Baik, aku tahu." Hanya itu jawaban yang dapat Nitami katakan.


"Baiklah, sebaiknya kamu beristirahat agar bisa menikmati pertunjukan malam ini."


"Iya." Patuh Nitami dengan anggukkan kepalanya. Hanya itu yang bisa Nitami lakukan, agar Alesha tenang. Ia sangat tahu peringatan yang Alesha ucapkan, bukanlah peringatan biasa.


Alesha berlalu dari kamar Nitami, ia tahu Nitami tidak ingin banyak bicara lagi. Alesha sangat mengerti bagaimana Nitami lebih dari orang lain?


"Kak Nita terlalu lemah kali ini." Ucap Alvira tiba-tiba.


Nitami melihat ke arah Alvira yang tiba-tiba mengeluarkan pendapatnya.


"Mereka semua adalah penjahat, tidak bisakah kakak memberikan hukuman kepada mereka?" Ucap Alvira.


"Setidaknya, jika kakak tidak tega atau tidak bisa melihat penderitaan mereka. Pergi sejauh mungkin dari mereka, dan biarkan kak Alesha yang menyelesaikan semuanya." Ucap Alvira tahu segalanya akan masalah yang sedang di hadapi oleh Nitami sejak dulu.


"Kakak tahu, Alvira. Kamu tenang saja. Semuanya akan berakhir malam ini juga, dan mulai besok awal baru akan kakak jalani." Balas Nitami mengerti jika Alvira juga mengkhawatirkan dirinya.


Alvira memandang sejenak wajah cantik Nitami, ia pun menghela nafasnya perlahan. Tidak ada yang dapat ia bantah lagi.


"Setidaknya, sebelum kakak memulai awal yang baru lagi. Luka luka ini harus segera di operasi agar tidak meninggalkan bekas yang menodai tubuh kakak." Ucapnya sembari melanjutkan aktivitas untuk menutupi luka pada lengan Nitami.


"Baik ibu dokter." Balas Nitami tersenyum sekedar mencairkan suasana.


"Terima kasih, kamu sudah mau menjadi adik perempuan yang tidak pernah kakak miliki. Kakak menyayangi mu, Alvira." Balas Nitami terdengar tulus.


Alvira memandang intens dan lembut wajah Nitami yang terlihat tulus pada sorot matanya.


"Aku juga menyayangi kakak. Terima kasih, berkat kakak kami tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Apalagi kak Alesha? Kami sangat beruntung bisa mengenal kakak." Balas tulus Alvira.


Nitami tersenyum, Ia pun memeluk hangat tubuh Alvira. Sesuatu yang sangat senang ia lakukan. Memeluk seseorang yang berarti dan penting di dalam hidupnya. Memberikan rasa nyaman dan aman baginya, serta akan meringankan bahkan menghilangkan sejenak beban di dalam hatinya. Terlepas begitu saja untuk sesaat, itu lebih baik untuk Nitami. Jika di bandingkan harus terpuruk seorang diri.


Sejak saling mengenal, Nitami dan seluruh keluarga Alesha adalah keluarga dan orang orang yang sangat berarti bahkan sangat penting bagi Nitami di dalam hidupnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2