Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
120. Sebuah Peringatan Atau Perasaan Sakit Nitami.


__ADS_3

***Mansion Keluarga Fardhan***


Nitami memandang dua insan sepasang suami istri yang ada di hadapannya, Nitami tidak tahu keputusan apa yang akan di berikan oleh Davin terhadap Fransiska yang sedang memohon kepadanya atas nama anak yang tidak bersalah di dalam kandungan Fransiska saat ini.


Nitami ingin tahu sampai di mana rasa peduli Davin, terhadap Fransiska ataupun anak yang ada di dalam kandungan wanita yang pernah sangat di cintai oleh Davin beberapa tahun ini. Akankah Fransiska berhasil membujuk Davin atas nama anak tersebut.


Sebenarnya Nitami cukup kasihan atas anak yang sedang di kandung oleh Fransiska saat ini, tetapi jika mengingat bagaimana kejam dan jahatnya Fransiska kepadanya selama ini? Nitami berusaha meredam rasa ibanya tersebut. Ia tidak bisa memaafkan wanita yang pernah menjadi madunya itu, kata atau pintu maaf Nitami sudah tertutup dan tidak ada lagi untuk semua orang yang begitu jahat kepadanya selama ini.


"Davin tolong aku, setidaknya selamatkanlah anak ini yang tidak bersalah apapun?" Ucap Fransiska memohon kepada Davin menggunakan nama anak yang ada di dalam kandungannya saat ini.


Davin terdiam dengan tatapan matanya yang tajam dan dingin melihat Fransiska yang ada di bawah kakinya saat ini. Davin begitu marah akan kata anak yang di ucapkan oleh Fransiska, anak yang ada di dalam rahin wanita yang pernah ia cintai beberapa tahun ini. Anak yang selalu Davin harapkan kehadirannya, kini anak itu sudah hadir di dalam rahim Fransiska. Namun, anak itu bukanlah anaknya, bukan miliknya.


Davin begitu geram dan marah akan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya tersebut, ia begitu marah, kecewa, dan membenci Fransiska. Wanita ular dan licik yang telah berani mengkhianatinya.


"Kau benar, anak itu tidak bersalah." Balas Davin terdengar tenang.


Tatapan matanya masih setajam dan sedingin tadi. Sedangkan Fransiska hanya mengangguk setuju dan terus memasang wajah memelasnya.


"Anak itu tidak pantas mendapatkan apa yang kau alami sekarang." Ucapnya. Ada sebuah harapan untuk Fransiska dari perkataan Davin.


Fransiska lagi-lagi mengangguk setuju.


Semua mata memandang ke arah Davin dan Fransiska yang sedang melakukan negosiasi. Apa yang akan menjadi keputusan Davin saat ini, begitu juga dengan pemikiran Nitami. Ia juga ingin tahu apakah Davin akan luluh dan memaafkan Fransiska atas nama anak itu?


"Tetapi karena kau ibunya, jadi dia ikut menanggung semua kejahatan yang telah kau lakukan. Itu semua karena dirimu sendiri, dan sudah sepatutnya menjadi tanggung jawabmu, Fransiska." Ungkap Davin begitu tegas, sembari menekan beberapa kata yang ia anggap penting untuk di ucapkan secara jelas.


Semua yang hadir tahu apa arti dari ucapan Davin. Tidak ada lagi kata maaf untuk Fransiska, walaupun dengan menggunakan wajah yang memelas ataupun menggunakan nama anak yang tidak bersalah. Davin tidak peduli lagi terhadap Fransiska sama sekali.


"Penjaga…bawa wanita ini kembali." Perintah tegas Davin dengan tatapan bengisnya ke arah penjaga yang tadi mencambuk Fransiska.


"Baik tuan." Jawab penjaga dengan cepat.


"Tidak. Jangan, lepaskan aku…Davin tolong, jangan seperti ini…" Berontak Fransiska saat penjaga itu mengangkat tubuh Fransiska dan membawanya ke depan altar.


Nitami diam berdiri pada tempatnya, tatapan matanya datar dan dingin melihat semua pertunjukan yang ada di hadapan saat ini.


Davin melihat ke arah Fransiska, lalu beralih melihat ke arah Nitami yang tidak sama sekali melihat ke arahnya.


'Apa yang kau pikirkan saat ini, Nitami?' Gumam Davin memandang ke arah Nitami.


'Kau pasti sangat membenci diriku dan keluarga Fardhan.' Gumam Davin kembali di dalam hatinya.


Jika Davin masih berperang dengan pikirannya sendiri, Fransiska masih berusaha mendapatkan pertolongan dari siapapun yang bisa membantunya.

__ADS_1


"Oma Tua…tolong saya…" Ucap iba Fransiska ke arah nyonya tua yang masih diam duduk di atas kursi roda elektriknya.


Nyonya tua dapat mendengar dan melihat semuanya, namun ia tidak bisa berbicara ataupun mengatakan apapun.


"Oma tua, tolong…ini tidak benar. Anda tahu ada anak yang sedang aku kandung saat ini." Ucap Fransiska, ia tahu pasti nyonya tua belum tahu mengenai anak yang bukan darah daging Davin.


Fransiska tahu, semua anggota keluarga Fardhan akan mendengarkan semua ucapan dan perintah apapun dari nyonya tua. Tidak ada yang berani membantah sang sesepuh keluarga Fardhan. Tanpa Fransiska ketahui jika kini sang nyonya tua ada dalam kendali Nitami.


Davin yang tahu maksud dari Fransiska meminta bantuan dari Oma tuanya. Segera berkata kebenaran yang tidak di ketahui oleh nyonya Nadin.


"Itu bukan anak kandungku, Oma. Fransiska telah berkhianat dan selingkuh di belakangku hingga dia hamil anak dari pria lain." Ucap tegas Davin melihat ke arah nyonya tua yang juga melihat ke arahnya.


Kebenaran yang baru saja ia ketahui, begitu membuat nyonya tua sangat terkejut.


'Berkhianat dan selingkuh sampai hamil, dan anak yang ada di dalam kandungannya itu bukan darah daging keluarga Fardhan. Apa ini semua?' Gumam nyonya tua di dalam hatinya, memandang Davin dan Fransiska secara bergantian.


Nitami memandang ke arah nyonya tua yang juga tidak sengaja melihat ke arahnya, ia ingin tahu apakah nyonya tua mengerti pertunjukan apa yang Nitami katakan kepadanya.


Nyonya tua begitu marah dan membenci wanita yang bernama Nitami.


'Apakah ini salah satu kejutan yang wanita itu maksudkan kepadaku?' Gumam nyonya tua kembali di dalam hatinya melihat benci ke arah Nitami.


Nitami dan nyonya tua masih saling memandang. Semua orang yang hadir di sana dapat melihat kebencian dari sorot mata nyonya Nadin memandang Nitami. Fransiska bukanlah wanita bodoh yang tidak tahu situasi mereka.


'Sial…Dua wanita ini tidak ada yang berguna bagiku. Aku membenci mereka berdua, keduanya begitu licik dan berusaha menghancurkan apa yang sudah aku bangun selama ini.' Gumam sang nyonya tua.


Nyonya tua melihat ke arah sang pendeta yang kebetulan melihat ke arahnya. Nyonya tua berusaha menggerakkan mulutnya untuk mengeluarkan suaranya.


Saat perawat yang ada di belakang nyonya Nadin ingin mencegah sang nyonya tua, ada isyarat cepat dari mata Nitami agar mengizinkan apa yang ingin di lakukan oleh nyonya Nadin.


"Pen…deta…La…ku…kan se…mua…nya…!!!" Ucap perintah nyonya tua dengan terbata-bata. Dia berusaha keras untuk mengeluarkan suaranya.


Pendeta yang mengerti, hanya menganggukkan kepalanya dan melakukan apa yang seharusnya ia selesaikan malam ini.


Nitami puas dalam hatinya, semua masih berjalan seperti harapannya.


"Penjaga lakukan dengan cepat, dan selesaikan semuanya." Perintah pendeta pada penjaga yang ada di samping Fransiska.


Luka cambuk yang ada di seluruh tubuh Fransiska belum kering, sekarang akan di tambah oleh beberapa sayatan silet. Untuk menghasilkan satu mangkuk darah yang mengalir dari kulit Fransiska.


"Aaaaakkkk…!!!" Teriak histeris Fransiska karena rasa sakit sayatan yang ia dapatkan pada lengannya.


Davin kembali terkejut akan apa yang ia lihat? Dua pria sedang melakukan beberapa sayatan pada kulit Fransiska yang akan mengalirkan darah seger berbau anyir.

__ADS_1


Suara histeris Fransiska terus terdengar seirama dengan setiap sayatan yang ia dapatkan, dari lengan hingga seluruh kakinya. Banyak luka sayatan yang mengalirkan darah segar, lalu pendeta yang membawa sebuah mangkuk putih. Tanpa rasa iba memeras kuat luka sayatan Fransiska, agar mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Jika mangkuk yang di bawa penuh akan darah, itu artinya ritual persembahan darah juga akan segera selesai.


Davin masih pada keterkekutannya, Davin diam kaku dengan mata yang terus membulat sempurna. Telinganya penuh akan suara histeris Fransiska malam ini, ia sangat tahu luka sayatan itu pasti akan sangat sakit sekali.


Tentu saja itu juga yang di alami oleh Nitami, Davin sudah tidak tahan lagi akan pemandangan yang sangat mengerikan tersebut.


"Apa ini?" Tanya Davin tanpa bisa mengontrol nada suaranya yang sedikit tinggi.


Ia sungguh tidak tahu apapun mengenai ritual keluarga Fardhan. Matanya membulat sempurna memandang ke arah semua orang yang hadir di sana secara bergantian.


Sedangkan Fransiska terengah akan tangis dan rasa sakit yang ia dapatkan di sekujur tubuhnya.


"Itu adalah ritual selanjutnya. Penderitaan rasa sakit yang sangat sakit sekali." Kini Nitami yang memberikan pendapatnya dengan tatapan tegasnya melihat ke arah Fransiska yang sedang menahan rasa sakitnya.


Davin menatap Nitami, ucapan Nitami seakan menusuk kembali jantungnya. Ada rasa sakit yang terus menjalar di dalam hatinya. Nitami mengatakan penderitaan rasa sakit yang sangat sakit. Seolah Nitami mencurahkan apa yang pernah ia lalui selama ini.


"Itu hanya beberapa goresan kecil. Masih panjang perjalanan setiap goresan itu untuk memenuhi satu buah mangkuk darah persembahan, sedikit lagi hingga mangkuk itu penuh akan darah segar." Ucap Nitami kembali, namun kini tatapan matanya melihat tajam ke arah Davin.


Davin terdiam kaku, tatapan tajam Nitami kembali menusuk dalam hatinya. Davin dapat melihat kebencian, amarah dan kecewa dari sorot mata Nitami melihatnya.


"Kau lihat, bagaimana kejamnya ritual dari keluarga Fardhan yang begitu di hormati oleh seluruh masyarakat di kota ini." Ucap Nitami kembali.


Tiba-tiba Nitami tersenyum tipis, namun senyum yang ia tampilkan adalah senyum meremehkan.


"Bagaimana reaksi masyarakat kota ini, jika mereka tahu kekejian ritual keluarga Fardhan? Apakah masih dapat di sebut keluarga terhormat dan di segani?" Ucapnya.


Nitami menarik dan menghembuskan nafasnya, sebelum melanjutkan perkataannya.


"Nikmati semua yang sudah di tanam, dan bersiap untuk menerima hasilnya. Inilah hidup yang kita tidak tahu alurnya akan kemana?" Ucap Nitami, tetapi tatapan matanya melihat ke arah nyonya tua.


'Apa yang wanita ini ingin lakukan?' Gumam nyonya Nadin di dalam hatinya.


Ada rasa tidak nyaman di dalam hatinya begitu mendengar Nitami mengeluarkan suaranya. Ada banyak makna yang terdapat pada setiap perkataan Nitami. Sebuah peringatan yang cukup membuat nyonya tua kali ini merinding.


Sebuah peringatan dari Nitami atau ini hanya perkataan yang mewakili perasaan sakit Nitami beberapa tahun ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2