Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
60. Wanita Yang Di Cintai Nicolas.


__ADS_3

***Hutan Kenangan***


…Nicolas Orlando …


Flashback on…


Aku masih terdiam melihat bubur yang ada di hadapanku. Aku belum bisa percaya jika wanita yang ada di hadapanku adalah orang yang baik, dan tidak akan membahayakan diriku sama sekali.


"The porridge is not poisonous. If I wanted to harm you, I would have done it two days ago. There's no way you can still breathe until now." (Bubur itu tidak beracun. Jika aku ingin mencelakai anda, sudah aku lakukan dari dua hari yang lalu. Tidak mungkin anda masih bernafas sampai saat ini.)" Ucapnya sembari memasukkan bubur ke dalam mulutnya.


'Wanita ini tahu isi hatiku.' Gumamku di dalam hati. Tapi tunggu !! Apa yang ia katakan ? sudah dua hari aku tidak sadarkan diri.


"Are you sure, I've been unconscious for two days?" (Apa kau yakin, sudah dua hari aku tidak sadarkan diri ?)" Tanyaku terkejut akan kebenaran itu. Aku melihatnya dengan teliti, kini matanya melihat ke arahku. Dapat aku lihat sorot kejujuran di dalam matanya.


"Of course I'm sure. There's no point in me lying." (Tentu saja aku yakin. Tidak ada gunanya aku berbohong.)" Balasnya dengan tatapan mata lembut dan hangatnya memandangku.


'Sungguh mata yang sangat cantik.' Gumamku di dalam hati mengagumi mata wanita yang ada di hadapan ku itu.


"So it's been two days you've been keeping me here?" (Jadi sudah dua hari kau menjaga ku di sini?)" Balasku ingin tahu lebih jelas.


"Yes. That's right." (Iya. Itu benar.)" Balasnya tersenyum padaku. Senyum yang terlihat tulus dan sangat cantik alami di wajahnya yang putih merona.


"Is there no difficulty at all for you?" (Apa tidak ada kesulitan sama sekali untuk mu?)"


"Not at all. I just keep the sleeping person unconscious. Didn't bother me at all." (Tidak sama sekali. Aku hanya menjaga orang yang sedang tidur tidak sadarkan diri. Tidak sama sekali membuat ku kesulitan.)" Jawabnya dengan senyum.


Ada ketenangan saat kami sedang berbicara, tanpa aku sadari bubur yang dia buatkan untukku habis tidak tersisa. Sikapnya yang hangat dan ramah seketika menyentuh hatiku. Tidak pernah bisa aku berbicara leluasa dengan seorang wanita seperti saat itu. Dia adalah wanita pertama yang bisa berbicara panjang lebar padaku, dan dia wanita pertama yang bisa membuat ku merasa nyaman bersamanya.


Walaupun kami tidak saling mengenal, sikapnya yang hangat dan ramah membuat aku seakan sudah dekat dengannya. Wajahnya yang cantik alami sangat nyaman untuk aku pandang. Sungguh wanita pertama yang bisa menyentuh hatiku dalam waktu yang singkat, aku pun tidak mengerti mengapa bisa seperti itu?


"What's your name?" (Siapa nama mu?)" Tanyaku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku mulai santai dan menerima kehadirannya.


Bukannya menjawab, dia tersenyum manis ke arahku. Tatapan mata kami saling bertemu beberapa detik, namun dengan cepat dia mengalihkan pandangan matanya ke arah piringku yang kosong.


"It's best if we don't mention each other's names. It won't be good for both of us." (Sebaiknya kita tidak saling menyebutkan nama masing-masing. Tidak akan baik untuk kita berdua.)" Balasnya yang membuat aku kecewa akan penolakannya. Aku merasa di tolak sebelum mengenal dirinya.


"Why is it like that?" (Mengapa seperti itu?)"


"Let it be like this. For the convenience of both of us." ( Biarlah seperti ini. Untuk kenyamanan kita berdua.)" Balasnya sembari meraih piring kosong ku. Lalu dia bangkit dan melangkah untuk meletakkan piring kosong kami di dekat perapian yang dia buat.

__ADS_1


Dia kembali lagi ke hadapanku dan duduk bersujud. Lalu meraih pergelangan tanganku untuk memeriksa denyut nadiku, terlihat dia melihat ke arah jam tangannya. Lalu berkata sembari melihat dan tersenyum ke arahku.


"Your condition is getting better." (Kondisi anda mulai membaik.)" Ucapnya menatapku dengan senyum cantiknya.


Mataku tidak bisa lepas dari wajah dan senyum cantiknya ke arahku. Pandangan mataku tidak dapat di alihkan ke arah lain lagi. Sungguh wanita yang sangat cantik di mata, pikiran dan hatiku. Wanita pertama yang dapat menyentuh hatiku yang sedingin es dan sekeras batu.


"Soon the reinforcements I asked for will come soon. So you can be taken to the hospital for better treatment." (Sebentar lagi bala bantuan yang aku minta akan segera datang. Jadi anda bisa di bawa ke rumah sakit untuk perawatan yang lebih baik lagi.)" Ungkapnya yang membuat aku merasa kecewa.


"How do you ask for reinforcements?" (Bagaimana caranya kau meminta bala bantuan?)" Tanyaku ingin tahu karena kami sedang berada di hutan.


"By using this tool. But unfortunately the battery has run out." (Dengan memakai alat ini. Tapi sayang sekarang baterainya sudah habis.)" Balasnya sembari menunjukkan sebuah alat komunikasi Hate kecil yang ia keluarkan dari balik saku celana trainingnya.


Aku terdiam dengan menatap wajahnya yang masih tersenyum tulus padaku. Entah mengapa aku tidak rela jika berpisah dengannya dengan sangat cepat.


"What's wrong, why are you looking at me like that ?" (Ada apa, mengapa anda melihat ku seperti itu ?)" Tanyanya mengerutkan keningnya melihat ke arahku.


"Nothing. Thank you for wanting to help me." (Tidak ada apapun. Terima kasih kau sudah mau menolong ku.)" Balasku dengan senyum yang tulus pada bibir ku.


Aku tersenyum, sungguh aku bisa tersenyum padanya. Ini aneh dan langka bagiku, yang selama ini tidak mudah untuk tersenyum tulus pada seseorang. Aku bisa tersenyum padanya.


"You're welcome. I am a doctor, I should have helped someone who really needed treatment from me." (Sama sama. Aku seorang dokter, sudah seharusnya aku menolong seseorang yang memang butuh pengobatan dariku.)" Balasnya dengan tulus.


"Can't I know what's your name ?" (Tidak bisakah aku tahu siapa namamu ?)" Tanyaku sangat penasaran ingin tahu siapa nama wanita cantik dan baik hati yang ada di hadapan ku itu.


"My name is Nico." (Namaku nico).


"My name is Saila." (Namaku Saila )"


Aku tersenyum, akhirnya aku tahu siapa namanya. Dia mengatakan jika namanya adalah Saila, dan aku percaya begitu saja. Tanpa keraguan apapun. Hingga akhirnya beberapa jam kemudian, bala bantuan yang di maksudkan oleh Saila datang membawa sebuah tandu untukku. Perjalanan kami keluar dari hutan itu menghabiskan 4 jam perjalanan.


Aku yang memang di suntikan sebuah obat oleh Saila, tertidur sepanjang perjalanan. Aku berusaha untuk melawan rasa kantuk di mataku, namun itu hanyalah sia-sia. Menjemput mimpi dan tertidur nyenyak adalah yang aku lakukan.


Sampai akhirnya aku benar-benar sadar, dan menemukan Rey asisten pribadi ku sudah berada di dalam ruang perawatan yang kini aku tempati, di sebuah rumah sakit ternama di salah satu kota besar di negara Inggris.


Namun kesadaran ku, membuat aku kehilangan Saila, wanita yang telah mencuri hatiku dan pergi begitu saja. Bahkan Rey tidak bertemu dengannya, Ray mengaku hanya bertemu dengan ke 4 pria yang membawa tandu untuknya. Rey bertanya pada mereka, namun tidak ada yang mengenal Saila sama sekali.


Mereka hanya mengatakan jika dokter wanita yang cantik itu, memang benar dokter relawan dari sebuah negara yang tidak di sebutkan namanya. Bahkan dokter itu memakai nama samaran yang sudah dia siapkan sendiri, karena itu memang aturannya menjadi dokter relawan di desa tersebut. Agar keamanan mereka terjaga dari orang orang jahat.


Aku sangat kecewa dan merasa kehilangan, sejak saat itu hidupku seperti kosong. Aku kembali dingin bahkan lebih dingin lagi. Hatiku tertutup untuk wanita manapun, bahkan hatiku sekeras batu baja, tidak tersentuh sama sekali.

__ADS_1


Aku masih berharap bisa bertemu dengannya lagi. Aku masih setia menunggu pertemuan kembali dengannya, wanita pencuri hatiku. Selama 3 tahun lamanya penantian dan pencarian yang aku lakukan, hingga akhirnya aku bertemu kembali dengannya.


Wanita pencuri hatiku, kini ada di hadapanku. Dia sedang berdiri bahkan duduk satu meja denganku di dalam pesta Akbar yang hampir saja tidak ingin aku hadiri. Pertemuan ku dengannya membuat aku ingin mengikatnya agar tidak lari lagi dari sisiku. Wanita pencuri hatiku yang sangat sulit untuk di dekati, bahkan dia lupa denganku. Itu yang membuat aku sedikit kecewa padanya.


Dia lupa padaku, namun itu tidaklah penting. Setidaknya aku tahu nama aslinya dan tahu keberadaannya saat ini. Dia baik baik saja, dia masih secantik dulu bahkan lebih cantik dari 3 tahun yang lalu. Nitami Adreena Saila. Nama belakangnya lah yang ia berikan padaku, sungguh wanita pencuri hati yang sangat misterius.


Apapun akan aku lakukan? Agar kau menjadi milikku, wanitaku. Aku sangat yakin jika dialah jodohku yang selama ini aku tunggu. Wanita yang bisa mencairkan dan menghangatkan hatiku yang sedingin es dan sekeras batu baja. Wanita satu-satunya yang akan aku cintai seumur hidupku.


Flashback off …


...--------------------------------...


***Rumah Sakit Golden Healthy***


Kembali pada Rey yang masih berusaha menghubungi Nitami dengan beberapa kali panggilan dan mengirimkan pesan. Namun satupun tidak mendapatkan respon dari Nitami yang masih fokus di dalam ruang rapat.


"Ayolah dokter Nita, tidakkah anda bisa membalas satu pesan dari saya?" Gumamnya sembari masih terus berusaha melakukan panggilan dan mengirimkan beberapa pesan kepada Nitami.


Sedangkan dokter Nitami masih menghadapi kekacauan yang di buat oleh Davin di ruang rapat. Tuan Markus yang mengajukan sebuah pertanyaan padanya, tidak membuat Nitami takut sama sekali.


"Tentu tuan Markus, itu sudah tugas saya sebagai seorang dokter." Balas Nitami dengan sikap tenang dan raut wajah yang di buat melunak seperti biasanya.


Nitami tidak ingin mengundang perhatian dan kecurigaan dari beberapa orang yang hadir di dalam ruangan tersebut. Mereka tidak tahu kenyataan yang sebenarnya, jadi Nitami hanya mengikuti alur sebuah rahasia yang sedang di mainkan oleh keluarga Fardhan saat ini.


Tuan Markus terlihat puas akan jawaban yang di berikan oleh Nitami. Diapun melihat kembali ke arah Davin yang melihat ke arahnya juga.


"Kau dengar Davin. Itu sudah tugas dari seorang dokter yang kita bayar di rumah sakit ini." Ungkap tuan Markus, ingin putranya tersebut mengerti jika Nitami tidak perlu menjadi dokter pribadi keluarga Fardhan.


"Keputusan ku sudah bulat. Tidak ada yang akan bisa merubahnya. Sekalipun itu papa." Ucapnya dengan tatapan tajam, tegas dan seriusnya melihat sang papa.


"Aku harap papa bisa mengerti, dan menerima keputusanku ini. Tidak ada bantahan lagi, papa tahu bagaimana aku?" Ungkap Davin kembali menekan setiap kata-katanya melihat ke arah tuan Markus.


Tuan Markus menelan salivanya, dan mengepalkan kuat tangannya. Dia cukup menahan rasa geram dan rasa tidak puas akan keputusan mutlak Davin kali ini. Dia tahu maksud tegas dari Davin yang tidak ingin di bantah olehnya. Sedikit ancaman yang di lontarkan oleh Davin memperjelas semuanya. Tuan Markus hanya bisa diam dan mengikuti alur yang di inginkan oleh Davin.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2