Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
54. Kenangan Masa Lalu (Bagian II).


__ADS_3

***Mansion keluarga Fardhan***


Flashback on …


Setelah acara pernikahan selesai, Nitami resmi menjadi istri dari tuan muda Davin Attala Fardhan. Seorang pengusaha ternama, sukses dan terkenal. Saat acara pengesahan pernikahan mereka, itulah untuk pertama kalinya Nitami dan Davin bertemu.


Keduanya cukup terkejut melihat calon pasangan mereka masing-masing. Davin terkejut dan terpana melihat wajah cantik Nitami yang di rias dengan makeup yang cukup natural tetapi cantik dan ayu. Tubuhnya yang tinggi langsing berisi di balut oleh sebuah gaun putih panjang yang sederhana, namun sukses membuat tubuhnya terlihat profesional bak seorang model ternama.


Sedangkan Nitami terpana melihat pria tampan yang akan menjadi suaminya. Pria yang memiliki tatapan tajam pada matanya yang indah, rahang tegas dengan hidung mancung dan bibirnya yang berbentuk hati semerah buah cherry. Tubuh Davin tinggi atletis dengan kulitnya yang putih bersih, sungguh pria tampan idaman setiap kaum hawa.


Nitami terkesima melihat Davin tanpa berkedip, dia tidak percaya jika pria tampan itulah yang menerima dirinya lebih dulu untuk setuju menjadikan Nitami istrinya, seperti yang telah di ucapkan oleh nyonya Sandra saat melamarnya.


Setelah acara pernikahan selesai, Nitami langsung di minta untuk tinggal di mansion keluarga Fardhan. Diapun satu kamar dengan Davin, mereka berdua tidur bersama di satu kamar yaitu kamar pribadi Davin.


Hari pertama berlalu begitu saja, Davin terlalu diam dan tidak banyak bicara, dia hanya bersikap dingin pada Nitami. Namun Davin tidak menolak sama sekali apapun yang di siapkan oleh Nitami untuknya? Dari mempersiapkan air hangat untuk Davin mandi, mempersiapkan pakaian yang akan di gunakan oleh Davin dan melayaninya di meja makan.


Davin selalu menerima semua yang di lakukan oleh Nitami untuknya, tanpa protes sedikitpun. Hampir tiga bulan berlalu, sikap Davin tidak berubah sedikitpun, masih dingin dengan wajah yang selalu datar saat melihatnya. Davin lebih banyak menghindari Nitami. Nitami mulai merasa ada yang tidak beres pada mereka berdua, akan sikap Davin yang tidak pernah ramah walaupun sedikit saja. Mereka seperti orang asing, dan Nitami tidak suka dengan situasi mereka.


"Tuan." Panggil Nitami mencoba untuk berbicara pada Davin di saat Davin baru saja selesai mandi sore dan ingin pergi ke ruang kerjanya.


Davin diam tanpa melihat ataupun menjawab panggilan Nitami padanya.


"Tuan, bisa kita bicara sebentar." ucap Nitami.


Davin masih diam tanpa mau membalik tubuhnya menghadap Nitami yang ada di belakangnya. Nitami dengan segera melangkah untuk berada di hadapan Davin. Kini tatapan mereka bertemu.


"Maaf tuan, apakah saya memiliki salah sehingga tuan banyak diam dan menghindari saya?" Tanya Nitami memberanikan diri, dia sudah tidak tahan akan sikap diam, acuh dan dingin Davin padanya.


Bahkan untuk komunikasi berbicara saja, mereka berdua sangat jarang bahkan tidak pernah sama sekali. Walaupun mereka tidur satu ranjang, namun tidak ada apapun yang terjadi kepada mereka berdua? Bahkan malam pertama ataupun hubungan ranjang selayaknya pasangan suami istri seperti yang lainnya, itu tidak pernah mereka lakukan. Pasangan suami istri yang sangat aneh menurut Nitami.


"Apa maksudmu?" Tanya balik Davin dengan dinginnya.


Ini akan menjadi perbincangan panjang pertama mereka berdua.


"Maaf tuan jika saya lancang. Saya rasa ada yang salah di antara kita berdua."


"Salah. Apanya yang salah?" Tanya Davin dengan mengerutkan keningnya melihat ke arah Nitami.


"Tuan, tidak bisakah anda memiliki komunikasi sedikit saja pada saya, anda terlalu banyak diam, acuh dan selalu dingin kepada saya." Jujur Nitami yang tidak ingin menyembunyikan perasaan yang ada di dalam hatinya.


Davin diam dengan tatapan tajam dan dinginnya melihat ke arah Nitami.


"Kita ini kan sudah suami istri yang baru saja saling mengenal. Jadi tidak ada salahnya jika kita mulai saling mengenal." ucap Nitami dengan keberanian yang sudah dia bulatkan. Sebenarnya dia sangat malu untuk memulai terlebih dulu dan berkata seperti itu.


Namun dia juga berhak tahu ada apa dengan suaminya itu? Nitami hanya ingin hubungannya dan Davin baik baik saja dan ada sedikit kedekatan terhadap mereka berdua. Nitami hanya berusaha mengubah situasi yang seperti orang asing di antara mereka berdua. Jadi Nitami lah yang akan memulainya terlebih dahulu.


"Apa maumu?" Tanya Davin ketus dan dingin.

__ADS_1


Nitami menatap heran Davin dengan kerutan pada dahinya.


"Apa maksud anda tuan bertanya seperti itu?" Tanya balik Nitami.


"Apa maumu, sehingga kita harus saling mengenal?"


Nitami membuka mulutnya karena terkejut dan tidak percaya akan perkataan Davin.


"Saya tidak ingin apapun? tuan. Saya hanya ingin kita sedikit saling mengenal, bagaimana juga kita sudah sah menjadi suami istri."


"Itu menurutmu, tidak menurutku."


"Apa…?" ucap Nitami tidak percaya akan pendengarannya.


"Aku tidak ada niat sedikitpun untuk mau mengenalmu?" Ucapnya.


"Mengapa, tuan?"


"Karena kau bukan siapa siapa bagiku."


Jeder…seperti petir menyambar di saat itu, perkataan Davin sangat tajam dan menusuk ke dalam hati. Davin menatap dengan tatapan tajam, tetapi kali ini dia memiliki sorot mata yang seakan menilai Nitami dari ujung kaki hingga ujung kepalanya dengan remeh.


"Lihat dirimu." ucapnya dengan tatapan meremehkan ke arah Nitami.


"Apa karena aku sudah menikahimu, kau sudah merasa layak menjadi istriku?"


Davin berdiri dengan melipat kedua lengannya di depan dada, lalu dia memajukan tubuhnya sedikit membungkuk mendekati Nitami dan berkata dengan pandangan yang merendahkannya.


"Jangan berharap terlalu tinggi, jika kau sudah jatuh ke bawah akan terasa sakit." Bisiknya yang masih bisa Nitami dengar.


Davin kembali berdiri tegak dengan pandangan yang terlihat remeh melihat Nitami dengan senyum miring dan tipisnya.


"Kau bukanlah wanita yang aku harapkan. Jadi jangan terlalu banyak berharap pada hubungan kita yang tidak jelas. Ingat siapa dirimu yang sebenarnya, hanya seorang yang di pungut oleh mamaku di jalanan dan di jadikan menantu olehnya. Asal kau tahu aku tidak pernah menganggap mu istriku sama sekali." Ucapnya dengan menekan perkataan terakhirnya.


"Kau wanita jalanan yang berharap terlalu tinggi untuk menjadi istriku. Wanita rendahan sepertimu tidak pantas untuk menjadi istriku. Camkan itu." ucapnya menunjuk ke arah Nitami.


Nitami terdiam, dia shock dengan ucapan Davin. Davin tidak pernah menganggap dirinya seorang istri, dia adalah wanita rendahan yang terlalu berharap tinggi, jika memang Davin tidak suka padanya dan pernikahan mereka. Lalu mengapa Davin setuju untuk menikah dengannya?


"Mengapa kau diam?"


Nitami masih diam dengan pandangan yang nanar melihat ke arah Davin. Kepalan tangan Nitami kuat menahan rasa kesalnya atas hinaan Davin yang tiba-tiba tersebut.


"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, minggir dari hadapanku. Aku sibuk." perintahnya. Nitami masih diam tidak bergeming.


Davin merasa geram, dia melangkah maju. Tangannya mencoba meraih tubuh Nitami dan ingin mendorongnya untuk menyingkir dari jalannya. Namun di saat yang bersamaan, Nitami malah menghalau tangan Davin. Lalu dengan gerakkan cepat tangan Nitami menampar keras pipi kiri Davin.


Seketika Davin menatap Nitami dengan tatapan tajam membunuh. Dengan gerakan cepat Davin mencekik leher Nitami, Davin marah akan tamparan keras Nitami padanya.

__ADS_1


"Kau berani menamparku wanita rendahan." ucap Davin marah dengan wajah yang sudah merah padam.


Nitami menahan tangan Davin yang tengah mencekik dirinya, rasa sakit pada lehernya dapat Nitami rasakan. Pernafasannya tercekat akan cekikan Davin.


"Jangan pernah menyentuh tubuhku, wanita j*l*Ng." ucapnya dengan menekan setiap kata-katanya.


Tatapan tajam Davin seakan ingin menghabisinya. Nitami memejamkan matanya dan berusaha menahan rasa sakit pada lehernya.


"Tu…tuan…"ucap Nitami dengan susah payah karena tersekat akan cekikan Davin padanya.


"Aku peringatkan padamu, kau bukan siapa siapa bagiku. Kau bukan istriku yang sesungguhnya. Kau tidak pernah ada di dalam hidupku, kau ingat itu." Ucap Davin dengan menekan setiap kata-katanya.


Davin melepaskan cekikannya dan mendorong keras Nitami hingga jatuh tersungkur ke belakang. Nitami terbatuk akibat cekikan Davin, dia dengan susah payah menghirup oksigen kembali sembari memegangi lehernya yang sakit. Air mata yang di tahan oleh Nitami, begitu saja jatuh ke atas pipinya.


Davin melangkah mendekati Nitami, dan merendahkan tubuhnya duduk berjongkok di hadapan Nitami.


"Jaga sikapmu padaku. Kau bahkan lebih rendah dari seorang pembantu di mataku. Ingat itu." Ucapnya dengan mendorong kening Nitami dengan ujung jari telunjuknya.


Lalu berdiri dan berlalu meninggalkan Nitami begitu saja. Tangisan Nitami pecah akan ucapan dan prilaku kasar Davin padanya. Walaupun Nitami akui dirinya yang salah karena menampar Davin terlebih dahulu.


Nitami tidak pernah tahu jika suaminya itu sekejam dan sekasar itu di dalam bertindak dan berucap. Dia terlalu banyak diam dan selalu menghindari Nitami selama ini, sehingga Nitami buta akan jati diri Davin yang sebenarnya.


Nitami hanya bisa menangisi nasib dan dirinya sendiri, Davin tidak pernah sama sekali menganggap dirinya seorang wanita dan istri yang ia harapkan. Lalu untuk apa mereka berdua menikah? Itulah pertanyaan yang terngiang di dalam pikiran dan hati Nitami.


Nitami setuju menikah dengan Davin karena Davin lah yang setuju terlebih dahulu. Jadi tidak ada keterpaksaan di antara mereka, yang seharusnya merasa terpaksa adalah dirinya. Tapi mengapa sekarang semuanya jadi seperti ini? Apa ada yang salah dengannya sehingga Davin terlihat begitu tidak menyukai dan membenci Nitami? Apa salah Nitami?


Nitami bangkit, ini tidak bisa di biarkan. Nitami harus mencari tahu tentang ini semua. Nitami harus tahu pasti dan jelas ada apa sebenarnya? Dia ingin bertanya pada nyonya Sandra, namun saat dirinya ingin melangkah keluar kamar. Langkahnya terhenti.


"Tidak mungkin aku bertanya kepada mama." Ucap Nitami yang sudah resmi memanggil nyonya Sandra dengan sebutan mama.


"Mama pasti tidak tahu tentang perasaan Davin yang sebenarnya." ucapnya lagi dan terus berpikir.


"Lalu aku harus apa?" Air matanya menetes kembali. Tubuh Nitami luruh kembali ke atas lantai, dia menutupi wajahnya dan menangis.


Nitami tidak tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa? Pernikahannya baru seumur jagung, tidak mungkin dia menyerah begitu saja.


"Benar, aku harus bisa memperbaiki ini semua. Ini tidak benar, mungkin semua ini hanya salah paham saja." Ucap Nitami berusaha membuat hatinya teguh kembali, agar pernikahannya bisa utuh dan bahagia.


Itulah janji dan tekat Nitami, karena tidak bisa di pungkiri di dalam hatinya Nitami telah jatuh cinta pada Davin suaminya sendiri. Dia harus mengaku salah dan meminta maaf akan tamparan yang tadi dia lakukan, dan berusaha memperbaiki semuanya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2