Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
70. Kasih Sayang Dan Rasa Hormat Alesha.


__ADS_3

***Mansion Keluarga Larzo***


Flashback on …


Alesha sangat terkejut melihat kondisi Nitami pagi ini. Dia tidak tahu menahu apa yang terjadi pada Nitami?


"Kakak, biar aku periksa dulu." Ucap Alvira yang pada saat itu baru saja menjadi dokter spesialis bedah anak di rumah sakit mereka.


Namun Alvira yang cukup jenius dapat meraih gelar dokter spesialisnya di usia muda.


"Cepat Alvira, lakukan sesuatu." Balas Alesha sembari menyingkir dari sisi Nitami, dan memberikan tempat untuk Alvira.


Alvira memeriksa denyut nadi dan detak jantung Nitami terlebih dahulu, setelah itu melihat beberapa luka pada lengan Nitami yang terdapat luka cambukan dan sayatan.


"Ini luka cambukan dan sayatan sebuah silet." Ucap Alvira memberikan hasil pemeriksaannya.


"Luka cambukan dan sayatan silet, siapa yang melakukannya?" Tanya Alesha terkejut sekaligus heran dengan mengerutkan keningnya, melihat intens wajah Nitami yang terlihat sudah pucat dan menahan rasa sakitnya.


"Entahlah, aku akan menyiapkan semuanya. Tolong semuanya keluar dari kamar ini. Sani… tolong siapkan air hangat dan kain lembut di sebuah baki, kita harus membersihkan luka dan darah di seluruh tubuh kak Nitami." Ucap perintah Alvira melihat secara bergantian ke arah Teo, Alesha, dan pak Lim. Lalu beralih melihat ke arah Sani seorang pelayan yang ada di sana.


"Baik nona." Balas Sani kemudian dengan cepat berlalu dan melaksanakan perintah yang di berikan oleh Alvira.


Alesha, Teo, dan pak Lim mengerti apa yang di maksudkan oleh Alvira? Mareka pun keluar dari kamar Nitami meninggalkan Nitami dengan rasa sakitnya sendiri. Alvira berlari menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari kamar Nitami, untuk mengambil beberapa obat, infus dan alat kesehatan lainnya.


Saat Sani sudah datang dengan sebuah baki di tangannya, Alesha ikut masuk ke dalam kamar Nitami. Alesha menatap sejenak Nitami yang terlihat lemah di atas tempat tidur.


"Sani, tinggalkan kamar ini. Aku yang akan melakukannya." Perintahnya yang membuat Sani dan Alvira sontak melihat ke arah Alesha.


"Baik, nona muda." Balas Sani mengerti yang di katakan oleh Alesha.


Sani keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan rapat, Sani bertemu Teo dan pak Lim yang masih setia duduk pada sofa mini yang ada di depan kamar Nitami dan Alvira.


"Kenapa kau keluar dari kamar?" Tanya Teo bangkit dari duduknya dan mendekati Sani.


"Nona Alesha yang akan membersihkan badan nona Nitami, tuan Teo." Jawab Sani sedikit takut karena tatapan tajam dan dingin Teo padanya.


"Apa maksudmu?" Tanyanya tidak mengerti.


"Maaf tuan Teo, nona Alesha sendiri yang memerintahkan saya untuk keluar, dan nona sendiri yang akan membersihkan luka dan darah yang ada pada tubuh nona Nitami." Jawab Sani berusaha menjelaskan.


Teo menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Baiklah, kau boleh pergi." Perintahnya.


"Baik tuan, permisi." Pamitnya lalu segera pergi.


"Ikatan mereka sangat kuat." Ucap pelan Teo yang tentu saja dapat di dengar oleh pak Lim.


Penghuni di mansion keluarga Larzo, semua tahu bagaimana eratnya hubungan Alesha dan Nitami? Bagaimana kasih sayang dan rasa hormat Alesha pada Nitami? Bahkan rasa sayang Alesha pada Nitami melebihi rasa sayangnya terhadap kedua adik kembarnya.


"Tentu saja, tuan Teo." Balas pak Lim yang masih berdiri di belakangnya. Pak Lim tahu dan mengerti apa yang di maksudkan oleh Teo?


"Mereka berdua memiliki hubungan sahabat yang melebihi seperti seorang saudara. Nona muda Alesha sangat menyayangi dan menghormati nona muda Nitami." Balas pak Lim kembali.

__ADS_1


"Pak Lim benar, bahkan si kembar berada di bawah nona Nitami. Jika sudah berurusan dengan nona Nitami, nona Alesha yang akan turun tangan langsung."


"Sebaiknya anda mengganti pakaian anda yang kotor karena terdapat bercak darah." Ungkap pak Lim mengingatkan Teo.


Kini Teo sadar dan melihat ke arah setelan jasnya yang sudah kotor akibat darah Nitami, saat dia menggendong Nitami tadi.


"Baiklah. Aku akan ke kamarku dulu. Pak Lim tolong tunggu di sini sebentar, aku takut mereka membutuhkan sesuatu."


"Baik tuan Teo." Balasnya dengan sikap hormatnya pada Teo, bagaimana juga posisi Teo berada di atas pak Lim.


Teo segera pergi ke kamar tamu yang ada di lantai bawah, kamar khusus yang di siapkan untuknya jika sewaktu-waktu harus menginap.


Pak Lim duduk kembali pada sofa mini yang ada di sana. Dia dengan setia menunggu perintah dari nona mudanya.


Sedangkan di dalam kamar.


"Apa kakak yakin akan melakukan ini?" Tanya Alvira melihat heran ke arah Alesha.


Alesha menatap sang adik.


"Memangnya kenapa?" Tanya Alesha merasa heran akan pertanyaan dari sang adik.


Alvira bertanya seperti itu, karena dia tahu kakaknya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Apalagi sekarang harus membersihkan luka dan darah yang ada pada tubuh Nitami. Itu pekerjaan yang sedikit kotor jika di bandingkan dengan pekerjaan kantoran yang sering di tangani oleh Alesha.


"Ini pekerjaan yang sedikit berbeda dari pekerjaan kakak biasanya."


Kini Alesha mengerti maksud dari Alvira. Diapun melihat ke arah Nitami, dan berkata.


"Apapun itu? demi dia akan aku lakukan segalanya yang aku bisa, waluapun itu pekerjaan sulit sekalipun bagiku."


"Baiklah, aku akan membantu kakak. Agar semuanya cepat selesai. Lukanya harus cepat di bersihkan dan di keringkan, jika tidak akan infeksi." Balas Alvira tersenyum manis ke arah Alesha.


"Terima kasih, sayangku." Balas Alesha tersenyum haru karena mendapatkan dukungan dari Alvira.


Mereka pun melakukan semuanya berdua. Membuka perlahan gaun Nitami yang penuh akan noda darah. Alvira segera memasangkan cairan infus pada lengan kiri Nitami. Alesha mengelap lembut setiap luka cambuk dan sayatan Nitami dengan perlahan.


Terkadang suara rintihan karena rasa perih terdengar lemah dari mulut Nitami. Air mata Alesha menetes begitu saja, karena luka dan rintihan sakit Nitami yang ia dengar. Alesha tidak kuasa melihat kondisi Nitami, namun dia harus kuat dan membersihkan semuanya dengan cepat, lembut dan teliti.


Alvira dapat melihat kesedihan dari mata sang kakak. Alvira tidak banyak bisa membantu untuk menenangkan Alesha, yang bisa dia lakukan membuat pekerjaan mereka cepat selesai dan Nitami dapat beristirahat dengan baik.


"Sebaiknya kita biarkan kak Nitami istirahat dulu. Dia terlihat lemah bukan karena lukanya saja, tetapi kak Nitami juga kurang tidur semalaman. Aku sudah menyuntikkan antibiotik dan sedikit obat tidur agar kak Nitami dapat beristirahat dengan tenang, tanpa merasakan rasa sakitnya." Ungkap Alvira setelah pekerjaan mereka berdua selesai.


Alesha tidak menjawab, dia yang masih duduk di tepi ranjang di samping Nitami, masih menatap teduh Nitami yang tengah tertidur.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, sayangku? Terlalu banyak masalah yang kamu sembunyikan, tidak bisakah kamu menceritakan semua masalah mu padaku?" Ucap pelan Alesha sembari membelai lembut pipi putih Nitami yang terlihat pucat.


"Beristirahatlah. Kamu berhutang penjelasan padaku." Ucapnya pelan yang tentu saja masih dapat di dengar oleh Alvira.


'Kakak, kamu sangat menyayangi dan menghormati kak Nitami. Bahkan aku dan kak Alvaro nomer dua bagimu. Tetapi kak Nitami memang pantas mendapatkan kasih sayang dan rasa hormat darimu. Tanpa bantuan dan dukungan kak Nitami, kakak tidak akan seperti sekarang ini, Bahkan aku dan kak Alvaro juga berterima kasih pada kak Nitami.' Gumam Alvira di dalam hatinya.


Dia tahu sejak awal siapa Nitami? Jasa besar Nitami tidak akan mereka lupakan. Berkat bantuan dan dukungan dari Nitami yang menyelamatkan nyawa Alesha, keluarga Larzo masih bisa hidup bangkit dari keterpurukan, berjaya dan sukses seperti sekarang ini. Itu semua berkat Nitami.


"Ayo kak kita keluar!!" Ajak Alvira, Alesha hanya mengangguk setuju. Dia mengecup lembut dan sayang pipi serta kening Nitami, lalu beranjak dari ranjang.

__ADS_1


Mereka berdua segera keluar dari kamar Nitami dan memberikan ketenangan bagi Nitami untuk beristirahat.


...--------------------------------...


Beberapa jam kemudian, di sore hari Nitami baru siauman dari tidur panjang dan nyenyak akibat obat tidur yang di berikan oleh Alvira. Alesha masih setia menjaga Nitami di dalam kamar sambil bekerja dari rumah bersama Teo.


Alesha memutuskan untuk tidak ke kantor, dia lebih khawatir dengan kondisi Nitami. Alesha merasa tidak tenang meninggalkan Nitami sendiri di dalam kamar. Dia ingin begitu Nitami bangun yang pertama kalinya di lihat adalah dirinya.


Begitu ada erangan dan gerakkan dari Nitami, Alesha segera melepaskan berkas yang dia pegang dan berlari mendekati Nitami.


"Sayangku, bagaimana perasaan mu sekarang?" Tanya lembut Alesha sembari duduk di tepi ranjang tepat di samping Nitami.


Nitami kini sudah membuka matanya, dia dapat melihat dengan jelas wajah khawatir Alesha padanya.


"Kamu, Alesha." Balas lemah Nitami sembari meringis, karena setiap pergerakan yang dia lakukan akan terasa perih pada lukanya.


"Jangan banyak bergerak, apalagi di punggung dan betis kakimu, penuh akan luka." Balasnya lembut sembari menggenggam hangat telapak tangan kanan Nitami.


Nitami hanya diam, dia tahu apa yang di maksudkan oleh Alesha?


"Kamu tenang saja, semua lukamu tidak akan memiliki bekas. Alvira memiliki obat yang bagus untuk menghilangkan luka serta bekasnya. Aku juga sudah mencarikan kamu dokter spesialis kulit yang bagus untuk lukamu. Semua lukamu tidak akan memberikan masalah bagimu."


Mata Nitami berkaca-kaca karena terharu akan perhatian dan kasih sayang Alesha padanya. Di saat dirinya sendiri dan tidak memiliki siapapun? Masih ada Alesha yang ada bersamanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang tulus untuknya.


"Terima kasih, Alesha." Balas Nitami beriringan dengan air matanya.


"Jangan menangis sayangku, air mata itu terlalu berharga untuk kamu keluarkan." Balas Alesha sembari menghapus lembut air mata Nitami.


Tatapan haru dan bahagia bercampur menjadi satu, Nitami merasa sungguh beruntung bisa memiliki seorang sahabat sekaligus saudara sebaik Alesha. Tangisnya pecah akan haru yang tidak dapat Nitami tahan lagi.


"Biarkan aku menangis untuk sekarang." Balas Nitami di sela sela tangisannya.


Alesha menatap intens Nitami, dia berusaha mengerti dengan keinginan Nitami sekarang. Nitami ingin menangis sepuasnya untuk melegakan hatinya.


"Menangislah sayang, menangislah." Balas Alesha sembari memeluk lembut tubuh Nitami yang bergetar.


Alesha ingin mengurangi sedikit beban di dalam hati Nitami. Dia berharap pelukan hangatnya dapat membantu melegakan beban hati Nitami.


"Kamu harus selalu ingat, aku selalu ada untukmu. Kamu tidak sendiri, masih ada aku yang selalu mendukung dan ada untukmu selamanya." Balas lembut Alesha ingin memberikan ketenangan sekaligus kekuatan bagi Nitami.


Nitami masih menangis di dalam pelukan Alesha. Setelah tenang, Nitami pun menceritakan semuanya yang terjadi semalam. Malam ritual persembahan keluarga Fardhan. Alesha mendengarkan dengan setia, sesekali dia menghapus lembut air mata Nitami dan menenangkan Nitami jika tangisannya meledak.


Rahang Alesha mengeras dan kepalan tangannya kuat menahan amarahnya, akan kekejaman yang di lakukan keluarga Fardhan pada sahabatnya. Keluarga kejam yang tidak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali, sangat pantas untuk di hancurkan. Itulah sumpah Alesha Larzo, untuk membalas semua kekejaman keluarga Fardhan terhadap Nitami.


Flashback off…


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2