
…Season 2…
***Aula Istana Damaresh***
Semua pandang mata mengarah kepada mereka. Nicolas dan Edmee berdiri saling menantang. Sedangkan Nitami masih duduk dengan tenang, gadis itu masih mengatur hatinya yang gugup akan kedekatan dirinya dengan Nicolas beberapa detik yang lalu. Bukan karena terkejut akan perbuatan Edmee yang menyiramkan cairan wine ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan, nona Edmee Ballard?" Tanya Nicolas masih dapat mengatur nada bicaranya.
"Melakukan yang seharusnya aku lakukan, terhadap orang rendahan seperti dia." Balas Edmee dengan tegas dan melihat remeh ke arah Nitami yang kini beranjak dari duduknya.
Mereka sudah terlanjur menjadi pusat perhatian dari para tamu undangan malam itu. Tidak ada alasan untuk Nitami diam saja akan sikap dan perlakuan Edmee kepadanya.
"Kau…!!" Balas Nicolas terhenti, karena Nitami mencegah dirinya.
"Biarkan saja." Cegah Nitami masih mencoba untuk mengalah dan lepas dari pertunjukan mereka yang menjadi pusat perhatian semua orang.
"Apa kamu baik baik saja." Tanya Nitami dengan raut khawatirnya melihat ke arah jas Nicolas yang basah.
"Aku baik." Balas Nicolas ingin menenangkan Nitami.
"Apa yang terjadi?" Tanya Levi yang tiba-tiba datang bersama beberapa anggota keluarganya.
"Tidak ada. Ini hanya kesalah pahaman. Nona Edmee tidak sengaja menumpahkan minumannya." Balas Nitami dengan senyum dan raut wajahnya yang tenang.
Beberapa orang melihat jelas jika Edmee sengaja menyiramkan minumannya, bukan tidak sengaja menumpahkan minumannya. Nitami hanya ingin mengakhiri pertunjukan itu dengan sikap yang baik. Tidak baik ribut di hadapan para tamu undangan, apalagi masih adanya kehadiran putri Johanna Damaresh dan Duke Wilmer Damaresh di dalam pesta tersebut.
"Ternyata kau pandai bersandiwara." Sahut Edmee dengan senyum tatapan remehnya melihat ke arah Nitami.
"Sandiwara apa yang bisa saya mainkan, nona Edmee Ballard?" Tanya Nitami dengan senyum yang sama dengan Edmee. Meremehkan gadis yang ada di hadapannya itu.
"Sandiwara yang dapat mengecoh semua orang agar bersimpati padamu."
"Untuk apa aku melakukan itu? Tidak ada gunanya untuk ku." Balas Nitami tanpa berkata sopan. Ia tahu jika Edmee tidak memiliki niat untuk mengakhiri pertunjukan mereka.
"Kau harus tahu siapa dirimu dan posisi mu saat ini?" Peringatan Edmee ingin Nitami mengalah.
"Tentu saja dia tahu siapa dirinya, dan di mana posisinya. Nona Edmee Ballard." Kata Leon datang menimpali. Pria itu tidak suka mendengar Nitami di rendahkan dan di remehkan oleh Edmee.
Dia melihat semuanya sejak awal. Dia tahu ini adalah salah satu yang masuk ke dalam rencana Nitami. Menciptakan awal dan akar dari semua rencananya untuk mulai berkembang.
"Hanya saja, Saila tahu bagaimana dalam bersikap dan menahan semuanya dengan baik." Kembali Leon berkata sembari berdiri tegak di samping Nitami.
Edmee terdiam. Dia tahu harus berhati-hati dalam menghadapi Leonardo Misel yang datang dan membela Nitami. Namun dia juga tidak ingin mengalah begitu saja, senyum tipis terbit di saat dia melihat anggota keluarganya juga datang ke arah mereka. Awalnya ia takut, kini tidak lagi. Sudah ada keluarga Ballard yang akan melindunginya.
"Ada apa ini, tuan Leon?" Tanya langsung Regio Ballard yang datang dan berdiri di samping putrinya Edmee Ballard.
__ADS_1
"Pa…Nico dan wanita ini mengatakan, jika mereka akan segera menikah karena ada anak yang mengikat mereka berdua." Ucapan Edmee membeberkan semuanya dengan cepat.
Regio melihat ke arah putrinya, dan ia tahu jika putrinya tidak akan berbohong. Kemudian ia pun melihat ke arah Nitami dan Nicolas.
"Jika itu benar, bagaimana bisa keluarga kita di permalukan seperti ini. Bukankah aku dan Nico rencananya akan bertunangan." Kata Edmee menambahkan kembali.
Regio tahu maksud dari putrinya. Memang itulah rencana awal dari dua keluarga. Mempersatukan keluarga bangsawan Ballard dan keluarga bangsawan Massimo serta Orlando, dengan pernikahan antara Nicolas dan Edmee. Namun jika apa yang di katakan oleh Edmee benar? Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi, itu artinya keluarga Ballard telah di khianati dan di hina begitu saja.
"Apa itu benar?" Tanya Regio ke arah Nicolas dan Nitami secara bergantian.
Senyum licik dan jahat Edmee terbit di wajahnya, ia merasa sudah menang jika keluarga atau papanya telah turun tangan. Ia yakin jika keluarga Massimo atupun keluarga Orlando tidak akan berani menolak dan melawan mereka.
'Apa yang akan kalian lakukan sekarang?' Gumam Edmee dalam benaknya.
"Iya tuan. Itu benar, kami akan segera menikah karena ada anak di antara kami yang mengikat kuat hubungan kami." Balas Nicolas dengan tegas sembari menggenggam erat tangan Nitami yang ada di sampingnya.
Nicolas ingin mereka menjadi kuat menghadapi semua permasalahan tersebut. Mereka sudah tahu jika perang dingin dan persaingan secara jelas akan di mulai di antara para keluarga bangsawan ini. Nitami membalas genggaman kuat Nicolas, yang dapat membuatnya semakin kuat untuk menghadapi semuanya.
Edmee Ballard melihat genggaman tangan mereka, ia menahan gejolak yang ada di hatinya. Rahangnya terlihat mengeras, di hadapan sang papa ia tidak boleh gegabah dalam bertindak dan bersikap.
Seluruh keluarga Massimo dan Orlando tidak terkejut sama sekali, karena mereka tahu jika lambat laun pernikahan itu pasti akan tersebar dan di ketahui oleh banyak pihak. Jadi mereka hanya cukup diam dengan tenang.
Daniel selaku sesepuh dari keluarga Massimo memberikan isyarat bagi Alex agar maju untuk mendekati mereka. Mereka ingin menyelesaikan masalah malam ini dengan cepat, sebelum adanya pertikaian yang akan di sebabkan oleh percikan api yang akan datang dari seseorang. Seseorang yang tidak mereka ketahui siapa yang membawa api tersebut?
"Maaf tuan Regio. Sebaiknya kita selesai masalah keluarga ini, di rumah saja. Tidak baik di bahas malam ini, karena yang mulia putri Joanna dan Duke Wilmer Damaresh masih ada di dalam pesta." Ucap Daniel ingin menengahi secara damai.
Regio menatap tajam dan dingin ke arah Daniel. Iya tahu jika sesepuh dari keluarga Massimo itu sudah mengetahui masalah pernikahan antara Nicolas dan Nitami.
"Rupanya anda sudah tahu masalah ini juga, tuan Daniel." Balas Regio dengan senyum tipis, namun tatapan matanya tajam melihat ke arah Daniel.
Daniel tahu harus bertindak dan bersikap seperti apa? Dia cukup cepat dan pandai dalam membaca situasi yang terjadi.
"Maaf tuan Regio. Saya juga baru saja mengetahui hubungan mereka yang sudah terjalin lama. Sebaiknya, anda tahu apa yang seharusnya anda dan saya lakukan sekarang. Mengatur kembali semuanya dan mencari solusi dari masalah ini, bukankah itu yang seharusnya kita lakukan. Bukan begitu tuan Leonardo Misel?" Ungkap Daniel dengan tenang ke arah Regio, kemudian melihat ke arah Leon untuk mendapatkan dukungan dari keluarga tertinggi kedua di dalam lingkup para bangsawan.
"Tentu saja tuan Daniel. Apa lagi ini menyangkut adik saya satu-satunya. Putri Satu-satunya keturunan dari keluarga Misel." Balas Leon sengaja menekankan beberapa kalimatnya yang penting untuk di ucapkan secara jelas.
Regio dan beberapa keluarga Ballard terdiam. Tidak mudah bagi mereka melawan keluarga tertinggi di atas mereka. Mereka harus berpikir panjang dan mengatur segalanya jika ingin menang melawan keluarga Misel yang kini ikut masuk ke dalam masalah itu.
"Yang mulia putri Joanna dan Duke Wilmer Damaresh telah tiba." Pemberitahuan itu mengalihkan semua perhatian mereka.
Semuanya memberikan jalan dan hormat mereka atas kedatangan sang putri dan Duke yang menjadi tamu kehormatan di dalam pesta tersebut.
"Ada apa ini, tuan tuan?" Tanya putri Joanna dengan raut wajah yang tenang.
"Maafkan kami yang mulia, jika kami telah merusak pesta malam ini." Balas Daniel mewakili mereka semua.
__ADS_1
"Merusak pesta, apa maksud kalian?" Tanya putri Joanna. Duke Wilmer Damaresh masih diam mengamati semuanya.
"Ada kesalah pahaman di antara nona Edmee, Nicolas dan nona Saila, yang mulia." Sahut Daniel.
"Kesalah pahaman seperti apa?" Tanyanya ingin tahu. Apalagi itu menyangkut Nitami. Wanita tua itu melihat ke arah Nitami yang berdiri saling bergandengan tangan dengan Nicolas.
Pandangan matanya kemudian melihat ke arah Edmee Ballard yang terlihat masih kesal. Sang putri pun tersenyum, kini ia tahu apa yang terjadi? Wanita tua itu masih cukup cerdas untuk membaca situasi malam ini.
"Baiklah aku mengerti. Sepertinya ini memang harus segera di selesaikan, tentunya bukan di tempat ini dan bukan malam ini." Kata sang putri tersenyum untuk mencairkan suasana tegang di antara mereka semua.
"Apa aku boleh memberikan sebuah saran dan perintah untuk masalah ini?" Tanya putri Joanna ingin ikut menyelesaikan masalah mereka.
Beberapa dari mereka saling memandang, kemudian menjawab setuju akan saran serta perintah dari sang putri. Mereka tidak berani untuk menolak ataupun membantah perintah dan kemauan dari pemimpin tertinggi keluarga bangsawan di dalam lingkup mereka.
"Terima kasih yang mulia. Suatu kehormatan bagi kami menerima perintah dan saran dari anda." Balas Daniel setuju akan solusi yang di berikan oleh putri Joanna.
Wanita tua yang kini memegang kendali permasalahan mereka, melihat ke arah Regio yang masih hanya diam saja. Begitu pun Duke Wilmer Damaresh yang menatap tenang ke arah Regio yang melihat ke arahnya.
"Terima kasih yang mulia. Suatu kehormatan bagi keluarga kami menerima perintah dan saran dari anda." Balas Regio terpaksa setuju untuk mengakhiri pertikaian mereka malam ini.
"Baiklah. Asisten pribadi ku yang akan mengatur semuanya. Aku harap kalian tetap tenang untuk menyikapi semua permasalahan ini. Semua masalah akan ada jawaban dan jalan keluarnya." Balas putri Joanna berusaha bijak dalam memberikan sebuah pesan dan saran bagi mereka.
"Sepertinya malam semakin larut. Apakah kalian semuanya menikmati pesta malam ini dan berbahagia?" Tanya sang putri kepada semua para tamu undangan malam ini.
"Terima kasih atas kebaikan yang mulia." Serentak semuanya menjawab dengan senyum yang terbit di wajah mereka masing-masing.
Senyuman yang terlihat tulus dan berpura-pura di beberapa wajah para tamu undangan. Semuanya harus pandai menempatkan diri, di saat sang pemegang kendali tertinggi telah turun tangan.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas kehadiran kalian semua. Semoga hari kalian menyenangkan dan pesta malam ini akan berkesan bagi setiap orang." Ucap sang putri dengan pandangan terakhir matanya lama melihat ke arah Nitami yang juga melihatnya.
"Selamat malam dan sampai berjumpa kembali di lain waktu." Ucapnya lagi. Sebelum putri Joanna berlalu pergi, pandangan matanya melihat sejenak ke arah Nitami. Senyumnya mengembang tulus dan hangat untuk Nitami.
Nitami pun membalas senyuman tersebut sembari menundukkan kepalanya untuk memberikan rasa hormatnya kepada sang putri.
Setelah kepergian putri Joanna serta seluruh anggota keluarga Damaresh. Satu per satu dari mereka pun juga pergi meninggalkan aula istana Damaresh tersebut. Membawa permasalahan mereka masing-masing yang harus di selesaikan setelah malam ini berlalu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1