Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
92. Kiriman Tanda Cinta.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Beberapa hari telah berlalu setelah lamaran pernikahan dari Nicolas. Namun pria itu tidak terlihat menyerah sama sekali, dia terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada Nitami. Hampir setiap hari, bahkan dapat di katakan hampir setiap saat ada saja yang ia lakukan kepada Nitami.


Dari mengirimi buket bunga, beberapa hadiah dan juga makanan favoritnya. Entah itu di kirim ke rumah sakit, mansion keluarga Larzo dan mansion keluarga Fardhan. Nicolas selalu tahu di mana keberadaan Nitami? seakan dia memiliki mata di mana mana.


Nitami hanya bisa sabar dengan mengelus dada akan niat kuat dan usaha Nicolas, yang berusaha mendekati dan ingin menikahinya. Nicolas tanpa putus asa melakukan semua yang di lakukan seorang pria yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Memberikan semua yang terbaik untuk Nitami secara terang-terangan.


Seperti hari ini sebuah buket bunga mawar putih yang cukup besar datang di kirim ke rumah sakit untuknya. Membuat satu rumah sakit heboh dan Nitami menjadi pusat perhatian dari seluruh perawat dan dokter yang ada di rumah sakit Golden Healthy.


Sebuah kartu putih dengan tinta emas tertulis sebuah ungkapan yang mewakili perasaan sang pengirim bunga.


"Dear My Queen. Sejak pertemuan pertama kita, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku harap kamu bisa menerima semua cinta yang telah hadir di dalam hatiku. Aku yang akan selalu menjagamu dari jauh dan setia menunggumu. From Nico." Ungkapan di dalam kartu.


Nitami memandang intens kartu tersebut, sedangkan buket bunga besar tersebut tepat di atas meja kerjanya yang ada di rumah sakit.


"Sungguh pria yang romantis, sepertinya pria ini serius padamu, dokter Nita." Komentar Aldi pada Nitami dari arah samping Nitami.


Aldi selalu berada di samping Nitami beberapa hari ini, karena jadwal kerja mereka sama setelah perubahan peraturan baru rumah sakit yang telah di tetapkan.


Nitami melihat ke arah sampingnya, di mana Aldi sedang melihat intens kartu yang ada di tangannya.


"Pria yang sangat mencintaimu." Ucap Aldi melihat Nitami dengan senyum.


Aldi ikut bahagia jika Nitami juga bahagia. Dia tahu siapa pria yang mengirimkan buket bunga itu pada sahabatnya?


"Tuan Nicolas tentu tahu siapa dokter Nita sekarang." Ucapnya sembari berdiri tegak dan menyentuh bunga mawar putih yang menjadi bunga favorit Nitami.


"Bahkan dia tahu bunga kesukaan mu. Tidak seperti sahabat ku yang bodoh itu, tidak mengenal sama sekali siapa istrinya?" Ucap Aldi mengarah pada Davin yang di maksudkan.


Nitami hanya diam sembari meletakkan kartu ucapan yang di pegang ke atas meja. Aldi benar, Nicolas bahkan tahu semua yang ia sukai, mulai dari bunga, makanan dan beberapa barang yang ia sempat inginkan beberapa bulan yang lalu. Semua di kirimkan padanya dengan sangat indah, hadiah hadiah yang mungkin akan membuat semua wanita suka dan luluh akan hal seperti itu, namun tidak dengan Nitami.


Nitami merasa aneh akan hal yang sedang di lakukan oleh Nicolas. Bagaimana bisa dia masih berusaha sekeras ini? sedangkan dia sudah menolak Nicolas begitu saja.


Nitami duduk di kursinya dalam diam tanpa komentar apapun pada Aldi? semua itu tidak luput dari pandangan heran Aldi, yang melihat Nitami biasa saja dalam menanggapi kirim bunga itu dan tak ada komentar untuk membalasnya.


"Ada apa? kenapa hanya diam saja? Terlihat jelas dokter Nita tidak suka." Ucap Aldi sembari berdiri santai pada pinggir meja kerja Nitami.


Nitami menghela nafasnya perlahan, dia tahu Aldi tidak akan diam jika dirinya juga ikut diam saja. Menjawab beberapa kata akan membuat Aldi diam dan puas.

__ADS_1


"Sepertinya acara pesta beberapa hari yang lalu, bukanlah pertemuan pertama kalian." Curiga Aldi memandang ke arah Nitami.


"Kami pertama kali bertemu beberapa tahun yang lalu, saat aku di kirim ke Inggris untuk menjadi dokter relawan ke sana." Balas Nitami membenarkan kecurigaan Aldi, agar dia puas.


Aldi mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Apa yang dokter lakukan, sehingga bisa membuat pria dingin dan angkuh sekelas tuan Nicolas luluh dan jatuh cinta pada dokter?" Tanya Aldi ingin tahu.


"Menyelamatkan nyawanya di dalam hutan." Balas Nitami dengan sikap santai dan tenang.


"Benarkah. Sepertinya kalian berdua sudah di takdirkan untuk bertemu dan bersama."


Nitami menatap Aldi dengan intens. Tatapan matanya datar dan dalam memandang Aldi, membuat Aldi sedikit tersentak ngeri, namun berusaha bersikap biasa.


"Ayolah dokter Nita, tidak ada salahnya di jalani dulu. Kamu berhak bahagia dan mendapatkan yang terbaik, kalau itu memang yang terbaik untukmu sahabat ku." Ucap Aldi dengan senyum yang tulus pada Nitami.


Nitami tahu jika Aldi tulus dan selalu mendukung apapun yang terbaik untuknya.


"Ini tidak semudah seperti perkataan dokter Aldi." Balas Nitami memandang intens bunga mawar putih yang terlihat cantik dan indah di matanya.


Sungguh sayang jika bunga seindah itu harus di buang ke tempat sampah. Nicolas tidak pernah melakukan kesalahan patal padanya, tidak ada alasan untuk Nitami bersikap kejam akan kiriman yang ia berikan beberapa hari ini.


"Tidak ada salahnya untuk di coba dulu, jika cocok dan terasa nyaman itu akan baik untukmu. Jika tidak, kamu bisa menjauh darinya." Ucap Aldi kini berbicara santai pada Nitami.


Aldi diam mengamati wajah Nitami yang masih memandang dan menyentuh bunga mawar putih yang menjadi bunga favoritnya.


"Apakah ini karena menyangkut perasaan hatimu?" Tebak Aldi melihat itu dari raut wajah Nitami.


"Dokter Aldi sudah mengenalku sebelum aku mengenal Davin. Tahu semuanya. Perasaan hati…apakah aku masih bisa merasakan itu?" Tanya Nitami dengan tatapan nanar melihat ke arah bunga mawar putih yang ada di hadapannya.


Aldi tahu Nitami pasti akan trauma tentang perasaan hatinya kepada orang lain, apalagi terhadap seorang pria. Ini semua karena Davin dan keluarganya yang telah menjerumuskan Nitami pada takdir yang tidak seharusnya dia jalani. Namun semua itu sudah terjadi.


"Tentu saja kamu masih bisa merasakan perasaan di dalam hatimu, jika kamu membuka kembali pintu yang sudah lama tertutup. Berikan satu kesempatan di dalam hidupmu, pastikan semuanya berjalan seperti yang kamu inginkan." Ucap Aldi ingin memberikan sebuah semangat pada Nitami yang terlihat tidak yakin pada perasaan hatinya.


Nitami terlihat diam dan berpikir, beberapa saat kemudian dia menghembuskan nafasnya perlahan. Terdengar berat dan panjang.


"Sepertinya, ada seorang pria yang bodoh akan menyesal karena terlambat meyadari perasaan hatinya padamu." Ucap Aldi bangkit dari sandarnya dan melangkah menjauh dari meja kerja Nitami.


Nitami hanya diam melihatnya, Nitami tahu maksud Aldi mengenai pria bodoh yang ia katakan. Pria itu adalah Davin.

__ADS_1


"Aku berharap kamu bisa mengatasinya. Aku bisa menebak jika ia mengetahui kiriman bunga itu, amarah dan cemburu yang tidak terkendali akan di perlihatkan padamu. Aku harap kamu bisa mengatasinya." Ucap Aldi sembari berlalu dari ruangan tersebut.


Aldi benar, jika Davin tahu akan semua kiriman Nicolas untuknya. Sudah di pastikan Davin akan murka dan cemburu yang tidak terkendali. Namun Nitami tidak peduli akan hal itu. Sudah bulat niatnya untuk lepas dari belenggu Davin dan keluarga Fardhan. Masih ada urusan dan masalah penting yang menantinya saat ini.


Kembali Nitami melihat ke arah bunga mawar putih yang di kirimkan oleh Nicolas untuknya. Tanpa sadar bibirnya tersenyum melihat mawar putih tersebut. Sepertinya untuk membuang bunga itu akan menjadi sia sia. Lebih baik dia membawanya ke suatu tempat, agar bunganya menjadi lebih berguna dari pada harus berakhir di tempat sampah.


Nitami melepaskan jubah putihnya dan menggantungnya pada sebuah gantungan baju di belakangnya. Dia menggunakan blazernya dan meraih tas kecil yang selalu dia bawa. Dia akan pergi dan membawa serta bunga itu, sebelumnya kartu ucapan dari Nicolas dia simpan di dalam tasnya.


...--------------------------------...


"Mama, Papa…Maafkan Nita yang baru bisa berkunjung ke sini." Ucap pelan Nitami duduk bersimpuh di hadapan dua buah pusara yang sangat terawat dengan baik.


Nitami kini berada di depan dua gundukan tanah yang sudah di hias dengan sebuah batu nisan dan pembatas tanah yang terlihat cantik dan rapi. Bunga mawar putih yang di berikan oleh Nicolas dia bawa serta dan di letakkan di depan dua pusara kedua orang tuanya.


"Mama…Papa…apa yang harus Nita lakukan sekarang?" Ucap Nitami terdengar mulai gemetar, air matanya menetes begitu saja.


Kerinduan dan kesepian di dalam hatinya, kini hadir memenuhi hatinya. Nitami terasa hampa tanpa merasakan apapun? Tanpa di temani oleh siapapun? Nitami seorang diri.


"Nita rindu pada kalian berdua. Mengapa semua ini terjadi pada Nita, Ma…Pa…Nita sendiri." Ucapnya dengan air mata yang terus berlinang di pipinya.


Nitami lelah seakan tidak memiliki tujuan hidup lagi. Nitami tidak tahu harus apa? Bagaimana?


"Ma…Pa…Berikan sedikit petunjuk untuk Nita, agar bisa menjalani kehidupan ini. Apapun itu? Nita akan coba untuk kembali bangkit, berikan sedikit petunjuk untuk Nita sebagai tujuan hidup Nita ke depannya." Tubuhnya terguncang karena menahan tangisannya agar tidak meledak.


Nitami terdiam dengan isak tangis yang ia tahan, dia merasa hanya di depan kedua orang tuanya akan terlihat lemah dan mudah untuk menangis mengeluarkan semua isi di dalam hatinya. Nitami begitu merindukan sosok kedua orang tua tempatnya bersandar.


"Maafkan Nita, Ma… Pa… Nita tidak seharusnya mengeluh pada kalian, tidak seharusnya Nita lemah di hadapan kalian. Nita akan coba untuk bangkit dan kuat walaupun itu tidak mudah, setidaknya jika Nita tidak kuat lagi menjalani semua ini, izinkan Nita menyusul kalian. Nita benar benar merindukan kalian berdua." Tangisan pilunya pun pecah tidak dapat Nitami tahan lagi.


Kedua tangannya menopang tubuhnya yang bergetar, kepala yang tertunduk dengan air mata kini membasahi rumput yang ia pijak.


Tanpa ia sadari, sebuah pelukkan tangan yang terasa hangat melingkar di bahunya. Nitami yang sedikit terkejut segera melihat ke arah samping. Di mana seorang pria yang sangat ia kenal? sedang memandangnya dengan teduh dan hangat. Pandangan mata yang terlihat penuh akan kasih sayang, seperti tatapan mata sang papa yang masih lekat di dalam ingatannya.


Pria yang kini memeluknya dengan lembut dan terasa hangat. Pria yang memberikan sebuah getaran rasa nyaman di dalam hatinya, di saat hatinya terasa rapuh, di saat Nitami menatap intens mata teduh penuh kasih sayang dan cinta di dalamnya. Sebuah getaran hadir di dalam hati Nitami akan sikap lembutnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2