
***Mansion Keluarga Fardhan***
Wajah pucatnya semakin terkejut, tangan gemetar dan tubuhnya terlihat tegang serta kaku. Tatapan matanya tajam membulat sempurna menatap ke arah Nitami.
Fransisca menerima sambungan telepon dari tuan besar Raiden, papanya yang sedang terkena masalah pada perusahaan miliknya.
"Fransisca, kau harus membantu papa… Perusahaan papa di ambang kebangkrutan, semua pemegang saham menarik sahamnya dari perusahaan papa. Kau harus melakukan sesuatu untuk papa, apapun caranya…!!" Ucap sang papa dari seberang telepon dengan nada yang terdengar takut dan menuntut.
Fransisca diam, bagaimana mungkin semua pemegang saham mencabut sahamnya dengan waktu yang bersamaan? Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana dengan saham Ghani Sachio yang juga ada di perusahaan sang papa? Apakah Ghani juga mencabut sahamnya? Setahu dia, keluarga Ghani memiliki saham 40% pada perusahaan papanya. Mengapa tuan Raiden mengatakan semua pemegang saham telah mencabut sahamnya?
"Apa maksud papa?" Tanya Fransisca dengan nada yang bergetar. Dia menelan salivanya karena merasa tidak nyaman.
"Fransisca, kau selalu saja bodoh. Tidak bisakah kau sedikit menjadi pintar, ucapan papa pun kau tidak bisa mengerti. Perusahaan papa di ambang kebangkrutan, dan papa tidak ingin kehilangan perusahaan itu. Jadi kau lakukan sesuatu, apapun caranya? Bicaralah pada Davin dan tuan besar Fardhan untuk meminta bantuan. Dan satu lagi, teman mu yang brengsek itu, Ghani Sachio ikut ikutan untuk mencabut semua sahamnya dari perusahaan papa. Kau tidak cukup pintar untuk menaklukkan pria itu." Ungkap panjang lebar sang papa yang menggebu-gebu.
'Deg deg deg'. Detak jantung Fransisca kembali berdetak kencang.
'Apa maksudnya, Ghani Sachio mencabut semua saham yang ia miliki pada perusahaan papa? Bukankah dia sudah berjanji padaku, untuk tidak akan membuat masalah dengan saham yang sudah ia tanamkan pada perusahaan papa. Mengapa sekarang jadi seperti ini?' Gumam Fransisca di benaknya. Kembali perasaan tidak nyaman itu datang masuk ke dalam relung hatinya.
"Bagaimana bisa dia mencabut sahamnya pa…? Ini tidak mungkin, dia sudah berjanji padaku tidak akan melakukan itu. Mungkin ada sebuah kesalahan di sini, atau papa yang salah dalam mengeceknya." Balas Fransisca dengan nada yang masih bergetar.
Davin, Diana dan tuan Markus menatap intens ke arah Fransisca. Sedangkan Nitami dan nyonya Sandra juga tersenyum tipis melihat ke arah Fransisca. Mereka semua tahu ada masalah yang sedang di hadapi oleh Fransisca dan keluarganya saat ini. Itu terdengar jelas dari cara dan nada bicara Fransisca yang terlihat bergetar karena takut dan raut wajah yang terkejut.
"Dasar anak bodoh, kau pikir papa sebodoh dirimu tidak bisa melihat kenyataan. Ghani Sachio sudah mencabut sahamnya dan dia menjual sahamnya pada perusahaan lain. Kau juga harus tahu, karena pria itu dan keluarga Sachio tidak cukup kaya raya untuk tidak menjual sahamnya pada perusahaan lain, di saat perusahaan keluarga Sachio juga mengalami krisis. Kau ke mana saja hingga tidak tahu berita itu? berita itu sudah tersebar satu minggu yang lalu."
'Deg deg deg'. Degup jantung Fransisca serasa jatuh, kini kakinya terasa lunglai dan ia masih berusaha mencoba bertahan untuk berdiri. Semua mata memandang ke arahnya.
'Ada apa ini?' Tanya Fransisca di dalam hatinya.
Tatapan matanya melihat ke arah Nitami yang tersenyum, sembari melangkah dan duduk pada sofa yang ada di dekatnya. Nitami duduk dengan anggunnya dan nyaman, kaki yang menyilang anggun dan tangannya sedang bermain ponsel dengan sebuah senyum kemenangan pada bibirnya.
Genggaman tangan Fransisca kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarahnya melihat sikap Nitami yang terlihat tenang bahkan tersenyum bahagia.
"Ada apa Fransisca?" Tanya nyonya Sandra terlihat khawatir melihat ke arah Fransisca.
Fransisca melihat ke arah mama mertuanya tersebut, dia sangat yakin pertanyaan nyonya Sandra hanya ingin tahu apa yang sudah terjadi? dan raut wajah khawatirnya tidaklah benar, itu tentu saja hanya sandiwara nya saja.
"Ada apa Fransisca?" Kini tuan Markus yang bertanya, Fransisca tahu dia harus melunakkan papa mertuanya, untuk mendapatkan bantuan.
__ADS_1
Namun ada sesuatu yang mengganjal dirinya, lagi-lagi pandangan matanya melihat tajam ke arah Nitami yang masih duduk anggun dan tenang sembari bermain dengan ponselnya, bahkan senyum bahagia Nitami tidak ingin pergi dari wajahnya.
Fransisca kini bingung harus bagaimana? Bagaimana bisa hidupnya sekarang seperti ini? Apa yang telah terjadi? Apa yang sudah di lakukan oleh Nitami sehingga terjadi hal hal yang menyangkut Fransisca dan keluarganya?
'Papa mertuaku tidak akan mau membantuku, jika tahu hubungan ku dengan Ghani Sachio melalui pesan photo yang belum ia lihat. Bagaimana ini? Dia pasti murka setelah mengetahuinya. Apakah bisa aku mengelaknya?' Ucap Fransisca di dalam hatinya.
"Fransisca apa kau dengar …Anak bodoh… kau bahkan tidak bisa berbuat apapun? Brengsek…"Umpat tuan besar Raiden pada putrinya.
Bagaimana bisa Fransisca berpikir jernih sekarang? Urusannya bersama dengan Nitami dan juga keluarga Fardhan belum selesai, kini keluarganya ikut mengalami masalah, dan terlebih lagi sang papa terus mengumpat kasar pada putrinya tersebut.
"Mengapa kau hanya diam saja?" Tanya Davin melangkah mendekatinya.
Fransisca ngeri melihat tatapan tajam Davin, diapun memutuskan sambungan telepon dari sang papa. Tidak ada waktu untuknya menyelamatkan papanya, jika dirinya saja sedang terpojok seperti ini.
'Ini tidak mungkin, mengapa malah aku yang terpojok seperti ini? Seharusnya wanita murahan itu yang sedang terpojok, tetapi wanita itu malah duduk dengan tenang seperti tidak terjadi apapun padanya?' Gumam Fransisca di dalam benaknya sembari melangkah mundur.
Fransisca menggigit kuat bibir bagian bawahnya, dia berusaha menelan salivanya yang terasa keras, langkah kakinya perlahan mundur karena Davin terus datang mendekatinya. Pandangan matanya sekilas melihat ke arah Nitami yang melihatnya dengan raut wajah tenang.
Seakan Nitami berkata. 'Selamat menikmati apa yang kini terjadi?.' Sungguh Fransisca merasa muak dan semakin membenci Nitami.
Fransisca terpojok pada sofa tunggal yang ada di belakangnya, dia pun jatuh terduduk. Dengan langkah cepat Davin mengunci tubuh Fransisca agar tidak lari dari sofa yang dapat menghimpitnya.
"Bisa kau jelaskan apa ini?" Tanya Davin sembari memperlihatkan photo dirinya bersama Ghani Sachio yang sedang berciuman bibir dan saling merangkul mesra.
Fransisca melihat sekilas ke arah photo yang ada di dalam ponsel di hadapannya, lalu beralih menatap ke arah mata Davin. Walaupun di dalam hatinya dia merasa takut akan tatapan tajam Davin, namun dia berusaha untuk melawan rasa takut itu dan berusaha membuat semuanya seperti tidak terjadi apapun?
"Davin, aku tidak mengerti kenapa photo itu ada? Aku tidak pernah merasa melakukan hal yang seperti di dalam photo tersebut." Kilah Fransisca dengan raut wajah yang di buat setenang mungkin, namun gerakkan tubuhnya yang gemetar berkata lain.
Davin membuang ponsel Diana yang ia pegang ke atas pangkuan Fransisca.
"Lalu siapa mereka?" Tanya Davin kembali, kedua tangannya bertumpu pada pinggiran sofa. Mengunci tubuh Fransisca agar tidak lari.
Tatapan tajam dan devil Davin menatap intens mata Fransisca.
'Apa yang bisa kau lakukan setelah ini Fransisca? Mulutmu selalu mengatakan Nitami adalah wanita murahan, tanpa melihat dan berkaca pada dirimu sendiri. Wanita murahan yang sebenarnya adalah dirimu.' Gumam nyonya Sandra di dalam hatinya melihat ke arah Fransisca yang sudah terpojok.
Nyonya Sandra bangkit dan melangkah mendekati sang suami yang masih berdiri pada tempatnya, dia menepuk pelan pundak tuan Markus. Lalu mengarahkan ponselnya ke arah tuan Markus, untuk memperlihatkan pesan photo yang ia dapatkan sama seperti Diana tadi.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun? Nyonya Sandra ingin tahu reaksi dari tuan Markus mengenai photo tersebut. Apakah masih suaminya itu akan terus menutup mata dan hatinya? Untuk membela sang menantu kesayangan, Fransisca Raiden.
Tuan Markus meraih ponsel sang istri, dia melihat semua pesan photo tersebut. Rahangnya mengeras, dengan lembut nyonya Sandra menekan pundak sang suami. Isyarat bahwa dia harus berpikir jernih dan serius akan hal ini. Tuan Markus memandang intens mata sang istri yang hanya tersenyum dan mengedipkan kedua matanya.
Tuan Markus tahu istrinya terlihat serius, sikap tenang dan diam sang istri membuat hatinya tidak nyaman. Ada sebuah tamparan keras di dalam hatinya melihat sikap tenang nyonya Sandra.
"Kau tahu harus berbuat apa?" Ucap nyonya Sandra, kemudian berlalu dan kembali ke arah sofa tempat duduknya tadi.
Tuan Markus menatap sang istri dengan tatapan heran sekaligus ada rasa takut di dalam hatinya, akan sikap tenang nyonya Sandra, tidak seperti biasanya yang akan bersikap mengalah dengan menangis. Kali ini sikap nyonya Sandra selayaknya wanita tangguh dan tahu harus berbuat apa?
Kembali lagi ke arah Davin dan Fransisca.
"Apa perlu aku panggilkan Ghani untuk bertanya masalah ini? Apakah jawaban kalian akan sama?" Tanya Davin menekan setiap kata-katanya, rahangnya mengeras menahan amarah yang ingin memuncak.
'Tidak. Ghani tidak akan berpihak padaku jika sudah terpojok seperti yang aku alami sekarang. Tapi tunggu dulu, Ghani begitu mencintai ku, dia tidak akan mau memberikan aku masalah, namun ini juga akan menjadi peluang baginya untuk membuat aku terpisah dari Davin. Tidak, itu tidak boleh terjadi, aku harus bagaimana? Ini di luar kendali dan rencanaku, brengsek kau Nitami apa yang sudah kau lakukan? wanita murahan…!!' Gumam dan umpat Fransisca di dalam hatinya. Dia benar benar terpojok dan di buat bingung.
"Silahkan, tanyakan padanya!!! Aku yakin, aku tidak bersalah dan photo itu tidak benar. Itu pasti rekayasa wanita itu." Ucap Fransisca. Hanya kata kata itu yang bisa ia ucapkan sebagai pembelaannya saat ini.
'Kau wanita licik dan banyak tipu muslihat. Sudah terpojok seperti ini, kau masih menganggap dirimu tidak bersalah dan menuduh orang lain yang berbuat. Seolah-olah kau adalah korbannya di sini. Aku sangat membencimu Fransisca, aku menyesal sudah pernah mencintai mu sepenuh hatiku.' Guman Davin di dalam hatinya, ia sangat membenci situasinya saat ini, terlebih lagi sangat membenci Fransisca. Wanita yang pernah ia cintai dengan sepenuh hatinya, wanita yang juga telah mengkhianati nya bersama sang sahabat.
Davin berjanji akan menghukum dan memberikan pelajaran berharga untuk Fransisca dan juga Ghani Sachio.
Nitami sungguh menikmati situasi yang terjadi pada keluarga Fardhan, mereka sedang saling menyalahkan. Pemandangan yang sangat di nantikan oleh Nitami, kehancuran dan balas dendam yang sangat indah di matanya.
Fransisca masih berusaha memutar otaknya untuk berpikir, ingin menghubungi Ghani untuk memberitahukan keadaannya sekarang. Tentu itu tidak memungkinkan saat ini. Ia sungguh benci situasi yang terjadi padanya sekarang.
Tidak mungkin ini jalan kehancuran baginya, yang Fransisca inginkan adalah kehancuran Nitami, dan bukan kehancuran dirinya.
...****************...
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1