
***Mansion Keluarga Fardhan***
Beberapa saat sebelum pertemuan Nitami dan nyonya tua Nadin Wijaya Kim.
Flashback on …
Suara dering dan getaran sebuah ponsel terdengar jelas di atas nakas samping ranjang nyonya tua Nadin Wijaya Kim.
Suara yang menandakan sebuah pesan masuk beberapa kali. Pemiliknya yang sedang duduk berselojor di atas ranjang meraih ponselnya.
Matanya membulat sempurna ketika ia membuka dan melihat isi pesan yang di kirimkan seseorang tanpa nama ke ponselnya. Sebuah pesan dan dua pesan photo keluarga berwarna hitam putih yang sangat ia kenali. Di dalam photo tersebut ada sebuah lingkaran merah yang menandakan sesuatu.
Lingkaran yang menandakan seorang gadis belia yang ada di dalam photo keluarga tersebut. Gadis belia itu adalah dirinya, nyonya tua Nadin Attala Fardhan atau nama lamanya yaitu Nadin Wijaya Kim.
Tangannya yang sudah keriput gemetar memegangi ponselnya. Seketika tubuhnya bergetar, walaupun berusaha untuk dia tahan namun itu hanyalah sia-sia saja. Tubuhnya yang sudah tua dan rapuh tidak dapat di ajak untuk bekerjasama oleh otaknya yang menyatakan semua akan baik-baik saja.
Sebuah pesan yang ia baca mengatakan.
"Nyonya Nadin Wijaya Kim, semoga hari hari anda selanjutnya hidup dengan tenang dan damai. Salam kenal dariku, semoga kenangan dua photo ini dapat menghibur dan mengingatkan anda dengan masa lalu. Hari ini adalah hari yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup anda, nyonya tua Nadin Attala Fardhan, atau dulu akrab di sapa dengan nyonya Nadin Wijaya Kim." Isi pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Bajingan mana lagi yang berani mengusikku?" Umpat mulut tua nyonya Nadin.
Dia menggenggam erat ponselnya dengan wajah yang sudah merah padam, nyonya Nadin menahan semua amarahnya.
"Tom…Tom…!!" Panggil nyonya Nadin kepada asisten pribadinya.
"Iya nyonya." Balas Tom, seorang pria paruh baya yang setia menjadi asisten nyonya tua beberapa puluh tahun lamanya. Dia keturunan dari asisten pribadi nyonya Nadin sebelumnya.
"Tom…ada yang berani lagi untuk mengusik hidup dan masa lalu ku. Kau cari tahu siapa dia?" Perintah nyonya Nadin sembari melemparkan ponselnya yang masih menyala ke hadapan Tom.
Tom meraih ponsel tersebut dan melihat apa yang membuat nyonya nya marah seperti itu? Diapun sama terkejutnya seperti sang majikan, pesan dan dua pesan photo itu cukup menandakan sebuah genderang perang telah di tabuh oleh musuh nyonya tuanya.
"Baik nyonya akan saya bereskan semua ini." Balas Tom mengerti dan menerima perintah.
Tom adalah putra dari asisten pribadi nyonya Nadin sebelumnya, asisten pribadi yang dulu ia beli mahal dari sebuah anggota mafia untuk menjadi seorang bodyguard sekaligus asisten pribadinya. Asisten yang tahu semua perbuatan dan kejahatan yang telah di lakukan oleh sang nyonya tua.
Tom berlalu dari kamar sang majikan, sedangkan nyonya tua berusaha untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia duduk perlahan pada kursi roda elektrik yang biasa ia gunakan sebagai pengganti kedua kakinya yang tidak kuat lagi berjalan jauh.
Nyonya Nadin keluar kamar menggunakan kursi roda elektriknya, dan menuju ke arah belakang mansion. Di mana sebuah rumah sederhana bercat putih berada, rumah sederhana yang menjadi saksi bisu semua kejahatan sang nyonya. Rumah yang menyimpan banyak derita dari beberapa wanita yang tidak bersalah.
Di sinilah sekarang nyonya Nadin berada bersama dengan Nitami, seseorang yang telah mengirimkan sebuah pesan dan dua pesan photo kenangan untuk nyonya Nadin.
__ADS_1
Flashback off…
Kepalan kuat tangan keriput nyonya Nadin terlihat jelas menggenggam gagang tongkat penopang nya. Buku-buku jarinya memutih menandakan jika kini nyonya tua keluarga Farhan itu sedang menahan amarahnya yang kini tengah bergejolak di dalam hati dan pikiran nya.
Tatapan matanya yang tajam dan dingin saling bertemu pandang dengan mata dingin Nitami yang menjadi lawannya saat ini.
"Kau telah berani mengusik ku, tidak semudah itu kau akan lepas dari genggaman ku kali ini. Ini hari terakhir mu wanita tumbal." Ucap ancam nyonya Nadin menunjuk ke arah Nitami.
Nitami tersenyum tipis seakan mengejek ancaman yang di lontarkan oleh nyonya Nadin. Lalu kembali memasang wajah dingin dengan tatapan mata devilnya menantang balik sangat nyonya tua yang terlihat angkuh namun rapuh.
"Kau pikir kau siapa? kau bukan Tuhan…yang menentukan nasib hidup dan mati seseorang…!" Ucapan balasan Nitami dengan nada bicara tanpa adanya kesopanan sedikit pun pada seseorang yang lebih tua. Nitami tidak akan bersikap sopan pada seorang wanita tua yang kejam.
"Kau hanya seorang pembunuh berhati iblis." Ucap Nitami dengan berani dan menekan setiap kata-katanya.
Nyonya Nadin menggeretakkan gigi nya dan rahangnya mengeras akan perkataan Nitami yang sangat berani dan tidak sopan padanya.
Tiba-tiba saja nyonya tua tersebut tertawa terbahak-bahak, dia merasa jika Nitami lah satu satunya wanita tumbal yang berani melawan dirinya. Dia seakan melihat dirinya sewaktu masih muda dulu, berani dan angkuh serta dingin.
Nitami memasang wajah datarnya mendengar tawa nyonya Nadin. Dia mulai bersikap waspada, dia mencurigakan sesuatu akan di lakukan oleh nyonya tua itu sebentar lagi, dan sesuatu itu pasti akan terjadi padanya.
"Kau sungguh berani menantang ku, wanita tumbal." Ucap nyonya Nadin melihat dingin ke arah Nitami setelah puas akan tawanya.
Nyonya Nadin merasa jika sudah cukup untuk percakapan mereka, tidak ada gunanya banyak berbicara. Tindakan cepat dan rapi adalah sikap yang ia sukai selama ini.
Dengan gerakkan yang sangat cepat nyonya Nadin mencabut gagang tongkat penopang nya yang ternyata adalah sebuah pedang runcing dan tajam. Ia menodongkan pedang tersebut ke arah leher Nitami.
Nitami yang tidak dapat membaca pergerakan yang sangat cepat dari sang nyonya tua, tidak dapat untuk menghindari serangan nyonya Nadin. Pada akhirnya lehernya mengeluarkan darah segar akan tusukkan ujung pedang nyonya Nadin. Nitami hanya dapat mundur beberapa langkah untuk menghindar agar ujung pedang sang nyonya tua tidak menusuknya terlalu dalam.
Nyonya tua yang terlihat rapuh, bergerak maju dengan cepat, ia tidak suka melihat Nitami menghindari serangan pedangnya. Namun bukan Nitami namanya jika dia yang pandai bela diri akan diam saja mendapatkan serangan dari nyonya tua keluarga Fardhan tersebut.
Serangan pedang nyonya Nadin dapat di hindari oleh Nitami ke arah samping. Membuat Nitami kini ada tidak jauh di samping sang nyonya tua, dengan gerakkan cepat Nitami menendang keras tongkat penopang yang ternyata sarung dari sebuah pedang yang di miliki oleh nyonya Nadin, hingga tongkat tersebut terlepas dari genggaman tangan nyonya Nadin.
Nitami memegangi tangan nyonya Nadin yang sedang memegang sebuah pedang dengan tangan kirinya, lalu memukul keras pergelangan tangan nyonya Nadin hingga ia merasakan rasa sakit yang teramat dan pedang yang ia pegang terlepas dari genggamannya.
Nyonya Nadin kesakitan akan genggaman kuat tangan Nitami pada pergelangan tangannya. Namun begitu nyonya Nadin ingin menyerang balik Nitami, Nitami lebih dulu memutar cepat tangan nyonya Nadin ke arah belakang dan menahan kuat tubuh belakang nyonya Nadin hingga tidak dapat menyerang Nitami lagi.
"Anda cukup kuat dan lincah untuk seumuran anda yang sudah tua ini. " Ucap Nitami dari arah belakang nyonya Nadin.
"Namun anda tidak sadar diri, bagaimana kondisi anda sekarang?" Ungkap Nitami lagi.
"Lepaskan tanganku, kau sudah lancang padaku, wanita tumbal." Teriaknya murka sembari berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Nitami.
__ADS_1
Jika beberapa wanita yang di jadikan sebuah tumbal selama ini olehnya tidak bisa melawan sang nyonya tua, tapi tidak dengan Nitami yang terlihat lebih sehat dan kuat dari sang nyonya tua. Lawan nyonya Nadin yang dulu adalah wanita yang telah lumpuh karena racun yang di berikan oleh nyonya tua keluarga Fardhan tersebut.
Namun lawannya yang sekarang, adalah Nitami Adrena Saila, wanita yang sangat sehat dan kuat menghadapi semua cobaan di dalam hidupnya. Begitu banyak cobaan dan rintangan yang telah Nitami jalani, hingga ia tumbuh menjadi wanita kuat, dingin dan terkadang kejam pada semua orang yang telah menyakitinya.
"Tentu aku akan melepaskan mu, jika kau sudah membayar semua dosa dan perbuatan kejam mu selama ini, nyonya…!" Balas Nitami menekan tangan rapuh nyonya Nadin.
Ia teringat kembali akan semua luka fisik dan hati yang selama beberapa tahun ini ia dapatkan, semua penderitaan Nitami berawal dari perbuatan sang nyonya tua. Nitami begitu marah sekaligus jijik terhadap wanita tua yang ada di hadapannya tersebut.
"Kau wanita tua yang kejam, wanita pembunuh…kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal untuk semua perbuatan mu selama ini. Kau harus membayar semua nyawa yang sudah kau hilangkan dengan cara meracuni mereka." Ucap Nitami sembari mengeluarkan sebuah suntikan yang berisi cairan bening di dalamnya.
Begitu cepat gerakkan tangan Nitami menusukkan jarum suntik yang ada di tangannya ke lengan kanan nyonya Nadin, Nitami menekan kuat sped suntikkan dengan jempolnya hingga cairan bening di dalamnya habis masuk ke dalam tubuh nyonya tua.
"Aaaa..... !"Rintihan sakit sang nyonya tua.
"Apa yang kau lakukan? Apa yang sudah kau suntikkan padaku?" Tanya nyonya Nadin karena merasa curiga akan suntikkan yang di berikan oleh Nitami padanya.
"Sesuatu yang dulu kau berikan padaku dan pada beberapa wanita yang telah kau jadikan tumbal untuk menutupi kesalahan dan kebohongan yang kau ciptakan sendiri, demi keserakahan mu, nyonya Nadin." Balas Nitami dengan menekan setiap kata-katanya.
Nyonya Nadin wanita yang cukup cerdas dan tahu apa yang di maksudkan oleh Nitami. Dia cukup terkejut jika Nitami juga mempunyai racun yang ia miliki. Setahunnya racun itu adalah racun yang hanya di jual belikan di dunia hitam atau mafia, dan tidak mudah untuk mendapatkannya. Mereka yang menginginkan racun itu harus mengenal baik orang yang menjual ataupun yang mampu membuat racun tersebut.
Iya Nitami telah menyuntikkan cairan racun pelumpuh yang sama seperti yang di miliki oleh nyonya Nadin. Racun yang pernah ia dapatkan dan hampir membuatnya lumpuh serta kehilangan nyawanya.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya nyonya Nadin dengan nada yang terbata-bata, ada rasa takut yang menghinggapinya saat ini.
Racun pelumpuh tersebut tidak memiliki penawarnya sama sekali. Apa yang akan terjadi selajutnya pada sang nyonya tua? Dari mana Nitami bisa mendapatkan racun tersebut? Hanya mereka berdua yang akan tahu kelanjutannya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
Catatan Author…
Maaf selama ini tidak bisa up dengan rutin, karena HP sedang rusak dan masih menunggu punya pengganti yang baru, (masih mengumpulkan dana buat beli HP baru🤭🤭). Tapi sekarang sudah bisa up rutin lagi.
Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan dari cerita, "Aku Istrimu Bukan Tumbal."
__ADS_1