Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
7. Keinginan Davin.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Semua orang terkejut tidak percaya akan keinginan yang di lontarkan oleh Davin. Terlebih lagi Fransisca dan juga Nitami. Davin menginginkan Nita menjadi dokter pribadinya sampai dirinya sembuh. Sungguh di luar perkiraan mereka.


"biarkan dokter itu menangani ku sampai sembuh. Dia dokter yang sudah berjuang menyelamatkan nyawaku, sekaligus mengoperasi diriku. Jadi biarkan dia menjadi dokter ku karena dia yang lebih tahu kondisi ku saat ini." ungkap keinginan Davin.


Sungguh benar benar di luar dugaan mereka. Terlebih lagi Nita, apa ini jebakkan lagi untuknya? apa Davin merencanakan sesuatu untuk menyusahkan dirinya? Nita hanya bisa memandang datar wajah pucat Davin yang juga melihat ke arahnya.


'apa yang ingin dia lakukan? tidak ada bosannya dia membuatku selalu menderita. Apa yang dia rencana kali ini?' gumam Nita di dalam hatinya.


'Apa yang Davin pikirkan? apa dia sudah gila? mengapa Davin mengizinkan wanita sialan ini menjadi dokternya? Bukankan itu artinya wanita ini akan selalu berada di dekat Davin, ini tidak bisa di biarkan.' gumam Fransisca di dalam hatinya melihat remeh dan tidak suka ke arah Nita, lalu beralih melihat ke arah suaminya yang tentu saja masih memandang ke arah Nita. Kedua tangan Fransisca mengepal kuat, menahan amarahnya karena cemburu.


'dia dokter di sini, aku tidak pernah tahu jika dia adalah seorang dokter. Wanita ini lumayan juga, dia yang mengoperasi diriku. Setidaknya dia tidak berusaha untuk membunuhku saat aku sekarat, padahal dia mampu dan memiliki kesempatan untuk itu.' gumam Davin di dalam hatinya sembari masih menatap datar Nita yang ada tidak jauh di hadapannya.


"apa kau tidak salah Davin, di sini sudah ada dokter Aldi yang akan lebih baik dalam menangani mu." ucap tuan Markus mencoba untuk membujuk putranya.


"tidak pa…biarkan dokter ini yang menjadi dokter pribadi ku sampai aku sembuh. Aku ingin lihat sampai mana kemampuannya di bidang kedokteran." balas Davin dengan tatapan datarnya melihat ke arah tuan Markus dan kembali lagi melihat ke arah Nita.


"tapi sayang…bukannya kamu lebih nyaman jika di tangani oleh dokter Aldi? dia hanyalah dokter biasa, tidak bisa dengan sembarangan untuk menangani kesehatan mu." ucap Fransisca dengan tatapan yang teduh ke arah Davin, tetapi menatap remeh ke arah Nita.


"cukup, di sini aku yang sakit. Aku yang berhak memilih dokter siapa yang aku inginkan?" jawab Davin tanpa melihat ke arah Fransisca. Davin masih setia melihat ke arah Nita yang juga menatapnya dingin.


"terserah kamu saja, jika terjadi sesuatu padamu. Papa pastikan dokter ini yang pertama kalinya papa akan cari." tunjuk tuan Markus geram pada Nita. Yang membuat semua orang yang tidak mengerti masalah mereka heran akan situasi saat ini.


Tuan Markus sangat malas untuk berdebat lebih lama lagi, begitu selesai mengucapkan kalimat ancaman yang baru saja dia katakan. Tatapan mata tuan Markus tajam dan dingin dengan rahang yang mengeras karena menahan rasa kesalnya saat ini terhadap Nita. Lalu dirinya pergi meninggalkan ruangan tersebut yang di ikuti juga oleh sang istri sembari memanggil namanya.


Kepala dokter, direktur, dan juga perawat Maria ikut keluar dari ruangan tersebut. Kini tinggallah Davin, Nita, Fransisca, Diana, dokter Aldi dan asisten Max. Mereka semua memandang ke arah Nita dengan berbagai pandangan.


Entah dulu apa salah Nitami? sehingga satu keluarga Fardhan membencinya, pernikahan yang di jalani oleh Nita dan Davin bukanlah atas kemauannya sendiri. Apa mereka buta? tidak bisa melihat jika Nita tidak pernah merugikan mereka satu keluarga.


Nitami lah yang di rugikan di sini, dirinya terikat pernikahan yang seperti neraka, dirinya yang di ikat oleh kontrak yang tidak bisa lepas begitu saja, dirinya lah wanita yang di jadikan tumbal untuk keluarga mereka, dan dirinya lah yang selalu menerima penghinaan dan kebencian dari satu keluarga tersebut. Jadi di sini letak kesalahan Nitami di mana? sehingga keluarga Fardhan sangat membencinya dan menganggapnya hanya seperti hama pengganggu.


"dokter Aldi, apa benar dia adalah dokter bedah umum terbaik di rumah sakit ini, bahkan di kota ini?" tanya Davin ingin kejelasan tentang apa yang di ucapkan oleh direktur tentang Nita.


"iya, dokter Nita adalah dokter bedah umum terbaik di rumah sakit ini dan di seluruh kota belum ada yang bisa bersaing dengannya." balas dokter Aldi membenarkan apa yang ingin di ketahui jelas oleh Davin.


Nampak senyum tipis pada bibir Davin, yang dapat di lihat oleh semua orang yang ada di sana. Sedangkan Nita hanya akan mengikuti permainan yang akan mereka rencanakan.


"tidak aku sangka, kau adalah seorang dokter. Aku pikir kau hanyalah wanita yang tidak bisa apapun?" ucap Davin menatap remeh pada Nita. Yang membuat Fransisca dan Diana senang, terlihat Davin masih tetap tidak suka dan benci pada Nitami.

__ADS_1


Nita masih diam, tidak ada yang harus dia jawab. Semua perkataannya akan menjadi sia-sia jika di gunakan untuk melawan Davin.


"Max, apa kau juga tidak tahu kalau nyonya mu ini adalah seorang dokter?" tanya Davin melihat ke arah asisten Max yang ada di sampingnya.


"maaf tuan, saya tahu." jawab singkat asisten Max dengan menundukkan kepalanya.


"kenapa kau tidak pernah memberi tahukannya padaku?" ucapnya ketus, ada rasa kesal pada nada bicara Davin.


"maaf tuan anda tidak pernah bertanya."


"dasar bodoh…lain kali jika ada hal yang menarik tentangnya, beri tahukan padaku." perintahnya mutlak.


"siap tuan." jawab asisten Max lagi lagi menundukkan kepalanya.


"sayang…apa maksudmu, kenapa kau harus tahu tentang dia?" tanya Fransisca manja dengan nada sedikit merajuk kepada Davin.


"jangan bilang, karena dia yang sudah menyembuhkan mu, kau jadi tertarik padanya." ucap Fransisca melihat curiga pada Davin.


"tentu saja tidak." balas Davin melihat sekilas ke arah Fransisca.


"mana mungkin aku tertarik padanya. Hanya karena dia seorang dokter yang sudah menyembuhkan aku. Aku hanya ingin tahu sampai mana kemampuannya di bidang kedokteran? jangan sampai rumah sakitku ini rugi dan sia-sia telah memberikan gaji padanya." ungkap Davin masih memandang remeh Nita yang hanya diam berdiri di tempatnya semula.


"sayang…jangan pernah berpaling dariku karena wanita seperti dia." tunjuk Fransisca.


Nita cukup terkesan karena Davin ternyata lebih kuat dari perkiraannya. Dia yang seharusnya belum boleh duduk lama, masih bisa tahan dengan posisi duduknya saat ini dan bisa menunjukkan kemesraannya pada Nita.


"sungguh menjijikkan orang kaya seperti kalian." ucap Nita menekan setiap kata-katanya dengan tatapan dingin.


Perkataan lancang nita yang membuat Fransisca dan Diana sontak terkejut akan keberanian Nita kali ini. Sedangkan asisten Max dan dokter Aldi hanya diam tanpa suara. Davin mengembangkan senyum pada bibirnya.


"ternyata mulutmu sudah mulai tajam." balas Davin dengan senyum masih mengembang pada bibirnya.


"apa kau marah melihat kami seperti ini? apa kau cemburu akan kemesraan kami?" ucap Davin ingin tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Nita saat ini?


"tidak ada gunanya aku cemburu ataupun marah. Hanya menghabiskan waktu dan tenagaku saja. Waktuku terlalu berharga hanya untuk melakukan hal itu." balas ketus Nita dengan dinginnya.


Terdengar sebuah dering ponsel yang ada di saku jubah putih yang di kenakan oleh Nita. Nita segera melihat dan menerima panggilan tersebut.


"hallo…" sapa Nita tanpa mempedulikan mereka yang melihatnya.

__ADS_1


"kau sungguh tidak sopan, menerima panggilan tanpa minta izin pada kami." ketus Fransisca melihat tidak suka pada Nita yang tidak sopan padanya dan Davin.


Tidak meminta izin saat akan menerima panggilan dari ponselnya. Nita tidak peduli dirinya sopan atau tidak, karena panggilan yang dia terima lebih penting.


"ada Apa?" tanya Nita pada orang yang menghubunginya.


Matanya yang tadi menatap ke arah Davin, kini beralih melihat ke arah asisten Max yang ada berdiri tepat di samping Davin. Pandangan mata Nita pada asisten Max seakan ingin mengatakan sesuatu, namun Nita hanya diam mendengarkan ucapan dari orang yang menghubunginya.


"aku mengerti." balasnya lalu menutup sambungan teleponnya.


"dokter Aldi…katakan pada pasien kita yang terhormat ini. Tidak baik untuknya terus duduk. Jangan sampai luka operasinya terbuka dan mengalami pendarahan lagi. Dengan senang hati aku akan membedah perutnya kembali, jika perlu aku buat perutnya tidak akan tertutup untuk selamanya." ucap tegas Nita menatap tajam dan dingin ke arah Davin yang masih tersenyum.


Perkataan Nita cukup berani pada Davin. Membuat semuanya sontak terkejut, saat ini bukanlah Nita yang seperti biasanya, yang hanya akan diam saja.


"asisten Max, ingat perkataan ku semalam, jika kau gagal aku sendiri yang akan bertindak." ucapnya melihat pada asisten Max yang hanya diam melihatnya.


Begitu selesai berbicara, tanpa mengucapkan kata pamit Nita segera berbalik badan dan keluar berlalu dari ruangan tersebut. Masih ada yang lebih penting saat ini untuk Nita lakukan.


"dasar wanita kurang ajar." ucap ketus Fransisca, marah akan tindakan tidak sopan Nita pada mereka. Yang pergi begitu saja tanpa pamit sama sekali.


"sayang…kenapa tidak kau pecat saja dia. Aku muak melihatnya." ucap Fransisca merajuk pada Davin.


"tidak mudah untuk memecat dokter Nita karena kontraknya yang belum selesai. Lagi pula dokter Nita cukup populer di sini, banyak pasien VVIP yang akan selalu mencarinya. Mereka hanya ingin di tangani oleh dokter Nita. Kau dan rumah sakit ini akan sangat rugi, jika kehilangan dokter terbaik dan terkenal seperti dokter Nita." ungkap dokter Aldi akan kebenaran yang ada.


"mengapa kau malah membelanya kak Aldi?" tanya Diana tidak suka mendengar Aldi membela Nita.


"aku tidak membelanya, itulah kenyataannya. Aku malah menyelamatkan aset kalian. Dokter Nita benar-benar aset terbaik kalian untuk kemajuan rumah sakit ini." ucapnya.


"asal kalian tahu saja. Sudah banyak rumah sakit besar yang meliriknya dan menunggunya untuk keluar dari rumah sakit ini. Bahkan salah satu rumah sakit besar di New York, menginginkannya juga." ungkap Aldi akan kebenaran yang memang terjadi.


Selama Nita mendapatkan predikat dokter bedah umum terbaik, banyak pihak rumah sakit besar yang menginginkannya. Hanya saja Nita masih terikat kontrak yang tidak bisa dia langgar, karena Nita bukan tipe orang yang akan lepas dari tanggung jawab dan kewajibannya.


Fransisca dan Diana semakin tidak suka dan membenci Nita yang di bangga banggakan oleh Aldi. Dokter Aldi berani berbicara santai pada Davin karena mereka adalah teman dekat, sejak mereka duduk di bangku SMA sampai saat ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2