Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
52. Sakit Tetapi Tidak Berdarah.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Nitami dan Davin masih saling menatap intens, tatapan teduh dan hangatlah yang ada pada sorot mata mereka berdua. Semua orang yang hadir di dalam ruangan itu dapat melihatnya. Banyak dugaan dan kecurigaan dari beberapa orang, tentang Nitami dan juga Davin.


'Apakah tuan Davin dan dokter Nita, memiliki hubungan yang terlarang?'. Itulah salah satu praduga dan kecurigaan dari mereka, melihat keanehan dan perubahan pada keduanya.


"Apakah kita bisa membahasnya sekarang, tuan?" Tanya Nitami masih menatap lekat Davin yang juga menatapnya dengan tatapan yang cukup menenangkan mata untuk di lihat.


Biasanya tatapan tajam membunuh, meremehkan, dingin dan tatapan jijik padanya pun pernah Davin perlihatkan pada Nitami. Kini Davin bisa menatapnya lembut serta hangat seperti sekarang ini. Sungguh perubahan yang luar biasa.


"Tentu, jika itu yang kau inginkan."Balas Davin dengan senang hati.


"Apa kita bisa bicara sekarang, tuan?" Tanya Nitami kembali, sembari matanya memandang ke arah semua orang yang hadir di sana satu persatu.


Davin tahu maksud lirikan mata Nitami, Davin tahu jika pembicaraan mereka adalah hal yang bersifat pribadi. Karena itulah yang Davin lakukan saat mengambil keputusan itu, karena hal pribadinya tidak terpenuhi dia marah dan kecewa. Sikap Davin benar-benar tidak profesional, namun apalah daya dia kalah akan perasaan di dalam hatinya.


"hhmmm…" Davin berdehem. Namun tatapan matanya mengarah ke arah Max yang sedang duduk di sampingnya.


Max tahu akan lirikan mata dan deheman Davin, itu adalah perintah Davin untuknya. Segera dengan cepat dia mengambil tindakan.


"Mohon maaf, rapat hari ini kita tunda sampai selesai makan siang." Ucap Max memberikan peringatan sekaligus perintah kepada semua orang yang hadir di dalam sana. Kebetulan satu jam lagi adalah jam makan siang.


"Sekarang, silahkan kalian keluar dari ruangan ini." Perintah Max pada semua orang.


Perintah itu bagaikan angin segar bagi beberapa orang, namun ada juga yang masih penasaran akan apa yang akan terjadi selanjutnya? Mereka semua tahu perintah Max, hanya sebagai pengalihan karena Nitami dan Davin memiliki pembicaraan yang tidak boleh mereka ketahui.


Semua yang tidak berkepentingan keluar dari ruangan tersebut, kecuali Nitami dan Aldi masih tetap tinggal. Kini mereka hanya tinggal berempat saja.


Nitami menatap intens dan curiga dengan memicingkan matanya ke arah Davin. Perubahan yang sangat cepat dari wajah Nitami.


"Apa kau sudah puas, Davin?" Tanya Nitami dengan ketus dan dinginnya. Sontak membuat tiga pria yang ada di sana terkejut tidak percaya, akan perubahan raut wajah dan cara bicara Nitami yang sangat cepat.


"Apa maksudmu?" Tanya Davin ingin lebih di perjelas.


"Apa kau puas, sekarang kau ingin aku yang mengalah." Ucap Nitami masih dengan raut wajah yang sama.


"Mengalah." Ulang Davin.


Nitami mulai geram pada Davin, Sedangkan Aldi dan Max hanya bisa diam melihat sebuah pertunjukan, dari sepasang suami istri yang tidak pernah akur dan sependapat satu jalan.


Nitami menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum dia berbicara.


"Apa maksudmu membuat peraturan seperti ini? Jangan bilang karena keinginanmu semalam tidak aku ikuti, kau jadi marah dan berbuat seperti ini untuk mengancam ku." Ungkap Nitami sedikit ada rasa geram pada nada bicaranya.


"Jika kau memang tahu, kenapa kau terus menentangku?"

__ADS_1


"aku tidak menentangmu, aku hanya mengikuti peraturan rumah sakit yang sudah ada sejak aku bekerja di sini."


"ini rumah sakitku, Nitami. Jadi aku berhak menentukan segelanya. Termasuk mengaturmu."


"Kau egois Davin." Ucap Nitami bangkit dari duduknya.


"Aku egois karena dirimu." Tunjuk Davin mulai terpancing emosi sembari ikut bangkit dari duduknya.


Aldi dan Max ikut bangkit dan mulai siaga, mereka takut ada pertikaian antara sepasang suami istri di hadapan mereka.


"Kau egois karena aku, apa maksudmu?"


"Kau benar-benar tidak peka, Nitami."


"Tidak peka. Kalau bicara yang jelas. Aku muak kau selalu berbelat Belit seperti ini." geram Nitami pada puncaknya. Davin tidak mau jujur pada perasaannya. Sedangkan Nitami yang belum merasakan perasaan apapun pada Davin, tidak bisa mengakui apapun?


"Ingat Nitami, keputusan ku masih bisa berubah jika kau bisa mengikuti aturan dan keinginanku."


"Ini tidak adil, Davin. Kenapa selalu aku yang harus mengalah. Tidak bisakah kau yang mengerti perasaan orang lain?" Tanya Nitami kini sudah ada pada puncak amarahnya.


Dia selalu saja di tekan dan melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Nitami muak dan tidak ingin lagi melakukan hal itu.


"Aku yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain, justru kau yang tidak bisa mengerti dan peka pada perasaan orang lain." Tunjuk Davin geram ke arah Nitami.


Nitami memicingkan matanya melihat intens ke arah Davin.


"Kenapa Davin? kenapa baru sekarang kau bersikap seperti ini?" Tanya Nitami dengan nada yang mulai melunak.


"Apa salahku padamu, apa salahku pada keluargamu?" ucap Nitami dengan sedikit bergetar yang ia tahan.


Nitami sudah muak dan tidak bisa menahan semua cobaan di dalam hidupnya.


"Nitami." Panggil Davin sembari ingin mendekatkan dirinya.


Namun Nitami melangkah mundur dengan isyarat satu tangan yang ia naikkan ke arah depan, agar Davin tetap diam pada tempatnya.


"Apa kurang semua pengorbanan yang sudah aku lakukan kepada keluargamu? Aku di jadikan sebuah tumbal untuk kebahagiaan pernikahanmu dan Fransisca. Apa itu masih kurang? sehingga kau berbuat seperti ini kepadaku." Ungkapnya dengan menahan kuat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


Nitami sakit jika mengingat semua itu, mengingat semua kejadian selama 4 tahun lebih dia di jadikan tumbal dan di perlakukan semena-mena, semua hinaan dan semua sikap yang tidak menyenangkan selalu Nitami dapatkan.


"Aku manusia biasa Davin, aku juga memiliki perasaan bisa sakit, terluka, marah, dan juga kecewa. Aku bukan Tumbal Davin, aku istri pertamamu." Ucap Nitami lantang dengan penekanan pada akhir perkataannya.


"Ingat itu Davin. Apa mungkin kau lupa siapa aku yang sebenarnya? 4 tahun lebih, bukan waktu yang singkat dan mudah untuk aku lalui." Ucapnya.


"Apa kau tahu, apa saja yang sudah terjadi padaku? perjuangan seperti apa yang selama ini aku lakukan untuk bertahan hidup dari kekejaman dan kecaman dari keluargamu? Kau tidak akan pernah tahu, Davin." Ucapnya dengan terus menahan air matanya agar tidak jatuh luluh ke atas pipinya.

__ADS_1


"Tidak mudah bagiku, setiap tahun harus mengikuti upacara persembahan dari keluargamu, bahkan kau tidak pernah hadir pada upacara itu." ucap Nitami.


"Apa kau tahu, upacara persembahan macam apa yang di lakukan oleh keluargamu?" Tanya Nitami menunjuk ke arah Davin yang hanya menggelengkan kepalanya.


Davin yang tidak pernah hadir pada upacara persembahan itu, tidak tahu bagaimana adat dan cara yang mereka lakukan?


"Aku benar-benar di jadikan sebuah tumbal bagi keluargamu. Darah yang mengalir dari pejutan dan beberapa sayatan yang mereka lakukan pada tubuhku, darahku itulah yang mereka jadikan persembahan Tumbal di dalam upacara persembahan itu." Ungkap Nitami dengan penekanan pada setiap kata-katanya.


"Bahkan, selesai melakukan itu mereka mengurungku sendiri semalam penuh di dalam ruang persembahan. Apa kau tahu betapa aku ketakutan berada di dalam sana?" ucapnya dengan lirih, matanya sudah berkaca-kaca.


Davin terkejut akan apa yang di katakan oleh Nitami? dia tidak tahu sama sekali akan hal itu. Apakah sekejam itu tindakan yang harus di lakukan oleh keluarganya? Davin tidak pernah berpikir sampai di sana, yang ia tahu Nitami hanyalah sebagai Tumbal agar istri yang ia cintai tidak menjadi korban dari iblis yang menghantui keluarganya selama beberapa tahun ini.


Aldi yang juga tidak tahu akan kenyataan itupun terkejut bukan main. Tetapi tidak dengan Max yang terlihat tenang, karena ternyata dia tahu akan hal itu. Apa yang terjadi di dalam upacara persembahan Tumbal di keluarga Fardhan?


Davin diam terpaku, Dia tidak pernah tahu jika selama ini Nitami sesakit itu. Davin dapat merasakan luka dan sakit hati Nitami dalam ucapannya tadi. Dia bukan Tumbal tapi istri pertamanya, Nitami tersiksa selama ini, dan dia tidak pernah tahu. Davin tertampar keras akan kebenaran yang di ucapkan oleh Nitami.


"Nitami, aku…" ucap Davin terhenti.


"Cukup davin…cukup, tolong hentikan semua ini. Aku manusia biasa yang juga ingin merasakan hidup bahagia. Aku sudah tidak tahan hidup seperti ini, tolong lepaskan aku." Ucap Nitami benar benar sedih. Air mata yang berusaha dia tahan kini lolos begitu saja.


Rasa sakit di hatinya tidak dapat Nitami tahan lagi. Sakit itu akan terasa setiap melihat keegoisan Davin, melihat kemesraan Davin dan Fransisca, mendengar semua penghinaan dari keluarga Davin dan mengingat setiap kejadian buruk yang ia lalui. Sakit tetapi tidak berdarah, itulah yang Nitami rasakan.


Davin tidak tahan melihat Nitami menangis seperti itu, dia ikut merasakan sakitnya. Tangisan Nitami yang membuat penyesalan timbul di dalam hatinya. Davin dengan segera mendekat dan mendekap Nitami masuk ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, Nitami. Maaf…!!" Ucap lembut Davin sembari menenangkan Nitami yang terus berontak di dalam pelukannya.


Aldi dan Max hanya bisa melihat saja, tetapi tidak bisa berbuat apapun untuk membantu mereka berdua?


"Maafkan aku, maaf…!!" Ucap Davin lembut sembari terus menenangkan Nitami yang terus berontak di dalam pelukannya. Davin sungguh menyesal, dan dia merasa bersalah pada Nitami.


Perlahan Nitami diam dan tidak berontak lagi. Namun tangisannya masih terdengar terisak-isak. Davin terus membelai lembut rambut panjang Nitami yang ia gerai hingga ke punggungnya.


Nitami lebih tenang, Nitami dapat merasakan ketulusan dari sikap dan pelukan hangat Davin. Sudah lama sekali ia mendambakan pelukan hangat tempatnya bersandar, dan kini dapat Nitami rasakan. Pelukan hangat dari suaminya yang telah lama menghilang entah kemana?


Apa yang harus Nitami lakukan sekarang? Mengapa baru sekarang Davin berubah baik dan hangat seperti ini? di saat perpisahan mereka beberapa bulan lagi. Nitami tidak tahu harus bagaimana? Yang Nitami inginkan sekarang dan selama ini adalah kebebasan dari Davin suaminya itu.


Nitami ingin pergi jauh dari Davin, karena dia sudah tidak sanggup dan tahan hidup bersama keluarga Davin. Sedangkan dia tidak bisa melakukan perlawanan kepada keluarga Davin, karena kontrak yang sudah dia tanda tangani.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2