
***Mansion Keluarga Fardhan***
Suasana malam yang begitu sunyi pada beberapa wilayah, sangat menenangkan sebagai pengantar tidur malam yang begitu nyaman dan nyenyak. Namun tidak begitu pada mansion keluarga Fardhan, khususnya suasana di dalam sebuah rumah. Di dalam rumah putih yang begitu mencekam, penuh akan tindak kekerasan dan suara rintih kesakitan dari mulut Fransiska.
"Cukup…tolong jangan seperti ini…ini sangat menyakitkan dan menyiksa ku…!!" Ucap Fransiska terbata-bata karena menahan rasa sakit yang menyiksa dirinya.
Semua mata memandang tanpa rasa kasihan sama sekali, melihat kondisi mengenaskan gaun putih yang di gunakan oleh Fransiska penuh akan bercak darah. Mereka semua melihat dengan tatapan biasa saja, seolah kondisi Fransiska tidak begitu mengenaskan, mengingat bagaimana jahatnya wanita itu yang telah berani berkhianat. Tanpa mereka ketahui beberapa kejahatan lainnya yang telah di lakukan oleh Fransiska.
"Cukup penjaga." Perintah pendeta menghentikan penjaga yang tengah mencambuk Fransiska.
Penjaga tersebut berdiri tegak dengan sebuah cambuk masih berada di tangan kanannya. Nafasnya cukup terengah akan gerakkan kuat untuk mencambuk tubuh Fransiska.
"Lakukan syarat selanjutnya." Perintah sang pendeta menatap penjaga yang akan selalu siap melakukan tugas selanjutnya.
"Baik pendeta." Balas penjaga menerima perintah dan mengerti apa yang selanjutnya harus ia lakukan.
Davin masih berdiri tegak, pandangan matanya nanar tidak percaya akan apa yang ia lihat saat ini. Tubuh Fransiska penuh akan luka cambukan, bercak darah merubah warna putih gaunnya menjadi merah, sungguh miris dan mengerikan pemandangan yang ada di hadapannya kini.
Mata Davin pun beralih melihat ke arah Nitami yang berdiri tidak jauh di hadapannya, Nitami yang ia lihat begitu terlihat tenang melihat ke arah Fransiska. Davin tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Nitami saat ini? Tetapi Davin berpikir apakah yang di alami oleh Fransiska sekarang? Apakah itu juga yang di alami oleh Nitami beberapa tahun ini?
Hati Davin terenyuh, sakit teremas oleh sesuatu saat membayangkan semua rasa sakit yang di alami oleh Nitami selama ini. Hatinya sakit dan nafasnya terasa sesak akan bayangan Nitami yang berada pada posisi Fransiska saat ini.
Rasa menyesal, bersalah dan merasa diri menjadi pria paling jahat kini Davin rasakan. Bahkan untuk mengucapkan kata maaf akan semua yang Nitami alami pun, Davin merasa dirinya tidak pantas mendapatkan ucapan maaf. Davin tidak pantas mendapatkan kata maaf dari Nitami, ia malu akan rasa bersalah hingga ingin menghilang jauh dari hadapan Nitami detik itu juga.
Wajah Davin begitu shock, tatapan matanya kosong hingga otaknya tidak dapat berpikir yang lainnya lagi, selain rasa malu dan bersalahnya terhadap Nitami. Ia berdiri lemas, hingga tanpa sadar tubuhnya sedikit limbung melangkah mundur. Namun masih dapat di tahan oleh asisten Max yang tepat berada di belakangnya.
"Tuan…!"Panggil bisik Max sembari menahan tubuh Davin agar tidak jatuh.
Semua mata kini memandang ke arah Davin, begitu juga Nitami yang heran melihat Davin. Tatapan mata mereka bertemu, Nitami dapat melihat tatapan kosong Davin melihat kepadanya.
'Ada apa dengannya?' Gumam Nitami di dalam hatinya melihat tatapan kosong Davin.
Namun Nitami tidak beduli kepada Davin, Nitami tidak mengetahui jika malam ini untuk pertama kalinya Davin melihat syarat dan cara ritual keluarganya tersebut. Nitami tidak tahu jika Davin begitu shock akan syarat dan cara ritual keluarga Fardhan yang begitu keji. Davin kini membenci dirinya dan keluarganya yang begitu kejam dengan aturan yang tidak masuk akal.
"Tuan…apakah anda baik-baik saja…?" Tanya Max karena ia merasakan ketegangan pada tubuh Davin di dalam genggamannya.
Davin tidak menjawab, matanya masih melihat ke arah Nitami yang melihat ke arah Fransiska. Terlihat jelas Nitami tidak peduli lagi pada Davin ataupun keluarga Fardhan lainnya. Ia masih berdiri di sana, hanya ingin menyelesaikan semuanya malam ini. Sebuah pertunjukan sekaligus kebenaran yang akan terungkap sebentar lagi, di dalam hati Nitami begitu tenang tanpa rasa beban.
"Tuan…Apa tuan baik baik saja…?" Tanya Max sekali lagi karena Davin hanya diam, dan tubuhnya masih menegang.
"Max…!" Panggil bisik Davin, dan hanya Max yang dapat mendengar bisikkan Davin.
"Iya tuan. " Balas Max berbisik.
"Apa cara seperti ini juga yang di alami Nitami beberapa tahun ini?" Tanya pelan Davin dengan getaran pada suaranya.
__ADS_1
Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini?
Sedangkan Max yang tahu maksud dari tuannya, masih diam. Ia tahu jika tuannya malam ini untuk pertama kalinya melihat syarat serta cara dan ikut dalam ritual keluarganya.
"Max…!!" Panggil bisik Davin sekali lagi karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari Max.
"Iya tuan." Balas Max pelan dengan nada yang cukup tegas untuk membenarkan apa yang selama ini Nitami alami.
Jawaban Max menusuk tajam dadanya, tubuhnya begitu kaku. Namun genggaman kuat tangannya begitu menahan semua emosi yang kini berkecambuk di dalam hatinya.
"Mengapa kau hanya diam, dan tidak pernah melaporkannya kepadaku?" Tanya Davin masih pelan dengan nada suaranya yang terdengar di tekan. Ada amarah, sakit dan kecewa di balik nada serta perkataan Davin sekarang.
"Maaf tuan. Anda tidak pernah bertanya selama ini. Saya pikir anda tidak akan peduli apapun tentang nyonya Nitami." Balas Max dengan kenyataan yang memang sebenarnya.
Lagi-lagi hatinya teremas dan tertusuk, sakit berkali lipat. Apa yang di ucapkan oleh Max adalah kenyataan yang sebenarnya bagaimana dirinya dahulu? Tidak pernah peduli sama sekali apapun yang berhubungan dengan Nitami.
Bahkan jika dahulu Nitami meninggal sekalipun, Davin tidak akan peduli dan hanya akan diam seribu bahasa. Kini penyesalan pun tidak ada gunanya lagi. Memutar waktu kembali dan merubah semuanya, sudah tidak akan mungkin lagi.
Kepalan kuat pada kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih menahan semua emosinya sekarang. Davin mati kutu dan tidak dapat berkata apapun lagi? Hanya diam menyaksikan semua pertunjukan keluarganya malam ini yang dapat Davin lihat.
Kembali lagi pada ritual selanjutnya yang akan di lakukan oleh Fransiska.
"Lakukan seperti biasanya, nikmati setiap goresan dan tetesannya." Ucap sang pendeta memeberikan sebuah silet cutter yang terlihat begitu tajam.
Dengan senang hati penjaga tadi meraih silet yang siap ia gunakan untuk menyayat beberapa bagian kulit mulus nan putih Fransiska.
"Tidak. Jangan…!!" Ucapnya dengan susah payah sembari melihat sang penjaga dan pendeta secara bergantian.
Namun mereka berdua tidak dapat membantu Fransiska sama sekali.
Fransiska berusaha merayap dengan tertatih, dengan kondisi kedua tangannya yang di ikat tidak dapat membuat pergerakannya nyaman. Ia berusaha mendekati Davin yang berdiri tidak jauh darinya.
"Davin…!!" Panggilnya dengan susah payah.
Davin melihat, tatapan matanya dingin penuh akan semua emosi yang kini ia rasakan melihat ke arah Fransiska. Davin membenci Fransiska, namun ia juga sangat membenci dirinya sendiri dan seluruh keluarga Fardhan.
"Davin…tolong aku…Jangan biarkan mereka merusak kulitku…itu sangat sakit sekali. Aku mohon Davin selamatkan aku…!!" Mohon Fransiska di bawah kaki Davin. ia mendongak untuk melihat ke arah Davin.
Davin memandang Fransiska dengan bencinya, lalu pandangan matanya melihat sejenak ke arah Nitami yang juga melihat ke arah mereka.
Nitami terdiam dengan tatapan matanya sedingin es dan ingin melihat apa selanjutnya yang akan terjadi? Ia cukup tenang akan pertunjukan berikutnya.
Davin kembali melihat ke arah Fransiska yang ada di bawah kakinya.
"Apakah itu sakit?" Tanya Davin dengan tegas, tetapi menggunakan nada yang terdengar biasa saja.
__ADS_1
Fransiska mengangguk dengan cepat. "Iya. Ini sakit…tolong aku Davin…maafkan aku…!!" Mohon Fransiska dengan linangan air matanya.
"Apakah kau tidak bisa menahan rasa sakit itu untuk malam ini, Fransiska?" Tanya Davin kembali.
Semua orang heran melihat ke arah Davin. Ucapannya terdengar tegas, tetapi nada suaranya terdengar selayaknya berbicara dengan santai.
"Tidak Davin…aku tidak bisa menahannya. Ini sakit sekali…Aku bisa mati Davin…tolong aku…!!" Mohonnya kembali.
Fransiska berharap jika Davin dapat membantunya, ia berharap jika Davin masih ada rasa iba kepadanya.
"Mati…!" Balas Davin, mengulangi kata mati yang di ucapkan oleh Fransiska.
"Iya." Angguknya. "Rasa sakit ini menyiksa ku Davin, aku bisa mati karena tidak dapat menahannya lagi…!!" Air matanya terus berlinang.
Davin terdiam. Tatapan matanya mengarah kembali melihat ke arah Nitami. Begitu lembut dan penuh akan rasa sakit dan kecewa.
'Mengapa tatapan matanya seperti itu? Seolah ia merasa kasihan melihat ke arahku?' Gumam Nitami melihat ke arah mata Davin.
'Ada apa dengannya?' Apa dia merasa kasihan melihat penderitaan Fransiska sekarang?' Gumam Nitami kembali di dalam hatinya.
"Kau lihat dia?" Tunjuk Davin ke arah Nitami.
Kini semua mata memandang ke arah Nitami yang di tunjuk oleh Davin. Begitu juga arah pandangan mata Fransiska yang berusaha melihat ke arah mana tangan Davin tertuju.
Fransiska dapat melihat tatapan dingin Nitami melihat ke arahnya, begitu dingin seakan ingin membekukan seluruh tubuh Fransiska.
"Sebelum rasa sakit itu kau rasakan. Dia lebih dulu, bahkan sudah beberapa kali mendapatkan rasa sakit itu." Ucap Davin melihat Fransiska sejenak, lalu beralih melihat ke arah Nitami.
"Nitami masih tetap hidup, walaupun dia mendapatkan beberapa kali rasa sakit yang kau alami sekarang. Apakah kau selemah itu Fransiska? Ternyata kau tidak cukup kuat, jika di bandingkan dengan Nitami." Ungkap Davin dengan senyum sinis akan perbandingan antara Fransiska dan Nitami.
Fransiska tahu jika Davin tengah membandingkan dirinya dan Nitami. Sungguh ia tidak suka akan tindakan Davin. Namun, ada yang lebih penting dari egonya saat ini, ia harus mengalah dan membujuk Davin. Bahkan jika di haruskah untuk terlihat lemah sekalipun, akan Fransiska lakukan.
"Iya Davin…Aku tidak cukup kuat jika di bandingkan Nitami. Aku lemah…setidaknya tolong kasihanilah anak yang sedang aku kandung. Davin, anak ini tidak bersalah…!!" Bujuk rayu Fransiska berusaha meluluhkan hati Davin agar mau membantunya malam ini.
Davin memandang intens wanita yang akan segera menjadi mantan istrinya tersebut. Kembali kuat kepalan kedua tangan Davin saat mendengar kata anak yang di ucapkan oleh Fransiska. Seorang anak yang kini berada di dalam kandungan Fransiska, seorang anak yang di kandung oleh wanita yang pernah begitu ia cintai, namun anak itu bukanlah anak kandungnya.
Semua orang yang hadir tahu jika Fransiska kini sedang berbadan dua. Apakah Fransiska akan berhasil menggunakan nama anaknya untuk selamat dari ritual malam ini? Apakah Davin akan luluh atas nama seorang anak yang tidak bersalah?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.