Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
29. Tempat Duduk Tidak Terduga.


__ADS_3

***Hotel Angel Star***


Beberapa pasang mata melihat ke arah Nitami yang masih berdiri, kerena tidak mendapatkan tempat duduk pada meja dimana teman temannya duduk. Nampak Fransisca dan Diana terlihat senang dengan apa yang di alami oleh Nitami malam ini? terlihat mereka tersenyum mengejek melihat ke arah Nitami.


Namun tidak sedikit yang merasa iba pada nasib Nitami yang tidak mendapatkan tempat duduk, seorang dokter cantik dengan penampilan yang elegan menjadi pusat perhatian beberapa orang di sekitarnya.


Beberapa orang dari mereka ingin membantu, tetapi mereka tidak bisa melakukan apapun? begitu juga dengan Davin yang ingin bangkit namun di cegah oleh tuan Markus. Sedangkan nyonya Sandra yang baru saja ingin bangkit dan membantu Nitami, gerakkannya terhenti karena melihat seorang pelayan yang datang mendekati Nitami.


Dapat mereka lihat jika pelayan tersebut meminta Nitami memperlihatkan kartu undangan yang ia miliki, Fransisca dan Diana terlihat senang dan tersenyum remeh. Mereka bisa menebak, jika Nitami tidak akan mendapatkan tempat duduk pada pesta Akbar malam ini. Siapa Nitami yang harus mendapatkan tempat duduk?


Nitami hanyalah dokter biasa yang tentu saja hanya akan mendapatkan undangan biasa, dan yang bisa di lakukan oleh Nitami malam ini adalah berdiri pada barisan paling belakang, di mana tempat para dokter undangan dan peserta undangan biasa lainnya. Fransisca dan Diana sangat menikmati momen tersebut.


Mereka berdua sangat yakin akan mendapatkan tontonan yang menarik malam ini, Nitami yang sudah tampil cantik dan seanggun mungkin hanya bisa berdiri saja.


Begitu sang pelayan selesai melihat kartu undangan yang di miliki oleh Nitami, pelayan tersebut nampak gusar melihat wajah Nitami, sedangkan Nitami menjadi heran. Beberapa detik kemudian pelayan tersebut langsung tersenyum, dia pun segera mengarahkan Nitami menuju ke meja yang tertera pada kartu undangannya.


Nitami hanya bisa mengikuti ke mana pelayan tersebut mengarahkannya? Mereka menuju ke sebuah meja yang tidak akan pernah ada pada bayangan mereka semua yang menyaksikannya.


"selamat malam tuan, nyonya, maaf mengganggu waktu anda." ucap pelayan itu pada seorang pria yang menatap mereka dingin secara bergantian.


"Maaf tuan, pada kartu undangan nona ini, tertera jika tempat duduknya ada di meja ini." ungkap pelayan itu dengan sedikit gugup dan ragu ragu.


Beberapa orang terlihat terkejut akan apa yang mereka dengar dan saksikan? khususnya Fransisca dan Diana yang tidak percaya akan apa yang mereka lihat langsung. Nitami mendapatkan tempat duduk pada area VVIP, sama seperti mereka. Namun yang lebih membuat mereka terkejut adalah, Nitami duduk bersama pemilik hotel Angel Star. Tuan muda Nicolas Orlando beserta tuan dan nyonya besar keluarga Orlando.


Nicolas Orlando melihat datar dan dingin sang pelayan, lalu beralih memandang ke arah Nitami yang melihatnya juga. Nitami tahu tatapan dingin dan datar tersebut tidak akan bisa untuk di tawar, Nitami juga sadar jika dirinya mungkin tidak di inginkan duduk bersamanya satu meja oleh tuan muda Orlando, pemilik dari hotel tersebut.


"maaf tuan, jika anda merasa terganggu. Saya tidak akan duduk di sini." ungkap Nitami yang tahu akan tatapan dingin tuan muda tersebut. Sang pelayan juga terlihat sangat ketakutan.


"maaf. Saya akan berada di barisan paling belakang." ungkap Nitami melihat ke arah sang pelayan yang masih tertunduk takut.


Siapa yang tidak takut jika di pandang dingin serta tajam? oleh pemilik hotel tempat mereka berada sekarang.


"maaf tuan…saya permisi." ungkap Nitami dengan menganggukkan kepalanya untuk pamit dari tempat itu.


Tentu saja membuat Fransisca dan Diana senang bukan main. Mereka berdua sangat senang melihat Nitami mendapatkan penolakan dari tuan muda Orlando yang tidak mudah untuk di dekati oleh siapapun?


Baru saja Nitami akan berbalik badan, ucapan tidak terduga keluar dari tuan muda Orlando.


"apa aku mengucapkan kalau kau tidak boleh duduk di sini?" ungkap Nicolas, tentu saja berhasil menghentikan langkah Nitami yang ingin membalikkan tubuhnya.


"iya tuan, maaf apa bisa anda ulangi kembali ucapan anda tadi?" tanya Nitami dengan hati hati, dia takut salah mendengar.


Tatapan dingin dan mimik yang datar masih menghiasi wajah Nicolas menatap intens Nitami. Semua orang ikut penasaran dengan apa yang akan menjadi jawaban dari Nicolas? tuan muda yang sangat susah untuk di dekati, apalagi harus duduk satu meja dengannya. Itu mustahil bagi orang biasa.

__ADS_1


"silahkan duduk, kedua orang tuaku tidak merasa terganggu sama sekali, bagaimana ma…pa…?" ucapnya dengan tegas, lalu beralih menatap ke arah kedua orang tuanya, yang malah terlihat bingung atas perkataan sang putra.


"iya tentu saja, silahkan nona." ungkap nyonya Navya Orlando dengan senyum ramahnya melihat ke arah Nitami yang sontak ikut tersenyum pada nyonya Navya.


"terima kasih." balas Nitami lalu duduk pada sofa yang ada tepat di hadapan Nicolas, sang pelayan tadi berlalu begitu Nitami mendapatkan tempat duduknya.


Semua orang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat? Nitami dengan mudah di terima oleh tuan muda Nicolas Orlando yang sangat anti berdekatan dengan orang lain. Kini dengan mudahnya Nitami mendapatkan tempat duduk satu meja bersama Nicolas.


Nicolas tidak banyak bertanya, sekilas dia melihat ke arah sang asisten yang duduk berada tidak jauh di sampingnya, sang asisten yang tahu maksud dari tuannya bangkit, lalu mendekati Nitami dan bertanya padanya.


"maaf nona, apa bisa saya melihat kartu undangan anda?" tanya sang asisten, membuat Nitami menatapnya heran.


"tentu saja. "balas Nitami sembari menyerahkan kartu undangannya.


Asisten Nicolas yang sering di panggil dengan sebutan asisten Rey melihat kartu undangan tersebut. Lalu meletakkannya kembali ke atas meja tepat di hadapan Nitami.


"kartu undangan special langsung dari perusahaan tuan Agil Fernando." ucap asisten Rey memberikan informasi kepada tuannya.


Nicolas nampak mengerti dan menatap intens Nitami. Nitami sangat risih di tatap seperti itu, seakan Nitami telah melakukan kesalahan.


"apa kau mengenal tuan Agil Fernando?" tanya tiba tiba Nicolas pada Nitami.


"tidak tuan." balas Nitami apa adanya.


"apa anda ada hubungan kerjasama dengan perusahaan tuan Agil Fernando?" tanyanya lagi dengan mimik yang masih datar dan dingin.


"dokter."


"iya tuan, saya dokter perwakilan dari rumah sakit Golden Healthy."


"dokter dari rumah sakit Golden Healthy."


"iya tuan."


Nicolas diam dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah cantik Nitami, namun Nitami semakin risih dan tidak nyaman di tatap seperti itu.


"maaf tuan, jika anda terganggu saya duduk di sini. Saya bisa pergi." ucap Nitami karena sudah tidak nyaman dengan tatapan dingin tuan muda yang ada di hadapannya ini.


Tatapan Davin kalah dingin dari tatapan tuan muda yang memiliki warna mata khas seorang keturunan Inggris Indonesia. Warna mata biru kecoklatan yang menawan tetapi tajam menusuk bagi mereka yang melihatnya.


"tentu saja tidak nona, putraku ini memang seperti ini." balas nyonya Navya dengan tersenyum ramah pada Nitami.


Nitami melihat ke arah nyonya Navya, sedangkan tatapan nyonya Navya tajam menusuk ke arah sang putra yang melihat sang mama. Ada isyarat buat Nicolas dari sang mama melalui kerlingan matanya.

__ADS_1


"kalau kau terus seperti ini, nona ini akan takut padamu." ungkap tegas nyonya Navya pada Nicolas.


"bagaimana mau punya pasangan jika kau terus seperti ini." gumam nyonya Navya yang masih dapat Nitami dengar dengan jelas.


"maaf nona, jangan pedulikan gunung es ini. Oya siapa nama nona?" tanya nyonya Navya.


"nama saya Nitami Adreena Saila, nyonya." balas Nitami ikut tersenyum ramah pada nyonya Navya yang terus tersenyum ramah padanya.


"nama yang cantik, secantik orangnya. Iya kan pa…?" ucap nyonya Navya melihat ke arah sang suami yang ada di sampingnya.


"iya ma…nona Nitami sungguh cantik, secantik mama dulu sewaktu masih muda." balas tuan Nixon Orlando. Tuan besar Orlando yang memiliki wajah dan warna mata sama persis seperti tuan muda Nicolas Orlando, mereka seperti kembaran yang berbeda usia.


"nona Nitami mengingatkanku pada putri kami. Nadira." ungkap nyonya Navya dengan nada yang terselip kesedihan di dalamnya.


Nitami diam tanpa komentar apapun? sedangkan tuan Nixon menggenggam lembut tangan sang istri, tatapan mereka bertemu dan terlihat saling menguatkan. Apa yang terjadi? tidak ada yang tahu.


"maaf nona Nitami. Saya terbawa suasana. Silahkan nikmati pesta malam ini. Dan jangan hiraukan gunung es ini." ucap ramah nyonya Navya, tetapi menatap tajam dan dingin ke arah sang putra yang menatap mereka berdua secara bergantian.


"sepertinya mama akan mendapatkan teman yang cocok selama tinggal di kota ini." ungkap lembut tuan Nixon kepada sang istri.


"tentu, jika nona Nitami tidak keberatan." balas nyonya Navya melihat ke arah Nitami.


"maksud anda nyonya?" ucap Nitami bingung.


"maksud suamiku, nona Nitami mungkin akan cocok menjadi seorang teman untukku selama aku tinggal di kota ini." balas nyonya Navya menjelaskan.


"tentunya kalau nona Nitami tidak keberatan dan tentu saja jika nona tidak ada kesibukan." jelas nyonya Navya kembali.


"tentu saja nyonya, senang bisa mengenal anda. Suatu kehormatan bagi saya mendapatkan teman seperti anda nyonya." balas Nitami dengan ramah.


Obrolan mereka terhenti karena acara akan segera di mulai. Sambutan demi sambutan terdengar, di bawakan oleh dua orang pembawa acara. Perkenalan dari pemilik perusahaan raksasa Amerika tentunya menjadi acara utama pada acara malam ini.


Sambutan dari tuan Agil Fernando sungguh membuat para undangan merinding karena kagum akan pidato yang di bawakan oleh tuan Agil Fernando, perusahaannya kini meluncurkan sebuah alat kesehatan terbaru dan tercanggih pada zaman ini. Nitami yang seorang dokter dengan teliti membaca katalog yang di berikan kepada mereka para tamu undangan.


Nitami kagum akan alat kesehatan yang di luncurkan, canggih serta sangat membantu mereka para dokter bedah pada saat melakukan tindak operasi. Nitami dengan serius membaca katalog yang ada di tangannya dan sesekali melihat ke arah depan panggung, di mana seorang dokter ternama sedang menjelaskan tentang alat tersebut.


Seorang dokter bedah yang berasal dari Amerika, dokter yang sangat di kagumi oleh Nitami. Seorang dokter yang menjadi panutan Nitami selama ini. Begitu seriusnya Nitami dengan penjelasan tersebut, hingga dirinya tidak sadar akan tatapan teduh seseorang melihat ke arahnya yang sedang serius membaca.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2