Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
117. Semua Menjadi Terbalik.


__ADS_3

***Mansion Keluarga Fardhan***


Semua anggota keluarga Fardhan tengah berkumpul di dalam rumah putih, rumah yang di gunakan untuk malam ritual persembahan pada setiap tahunnya. Sekaligus rumah yang menjadi saksi bisu semua kebohongan yang telah di buat oleh nyonya tua Nadin selama puluhan tahun.


Untuk pertama kalinya Davin mengikuti ritual malam persembahan tersebut. Sebelumnya setiap tahun setelah ia menikahi Nitami, Davin tidak pernah hadir satu kalipun pada ritual persembahan tumbal itu.


Malam ini hanya tuan Markus yang tidak hadir di karenakan masih dalam perawatan intensif, setelah kemarin mendapatkan serangan jantung saat mengetahui kebenaran tentang Fransiska sang menantu kesayangan.


Sedangkan nyonya tua yang duduk pada kursi roda elektriknya, hanya dapat duduk dengan tenang karena masih dalam pengaruh obat yang di berikan oleh sang perawat atas perintah dari Nitami. Tatapan mata nyonya tua begitu tajam melihat ke arah Nitami yang berdiri santai dengan gaun putih polosnya.


'Wanita ini begitu tenang, seperti tidak terjadi apapun padanya siang tadi. Aku sangat membencinya. Wanita tumbal yang seharusnya aku singkirkan sejak dulu dengan segera, tetapi aku telah di buat lengah olehnya.' Gumam nyonya Nadin di dalam hatinya. Tubuh tuanya tidak dapat bergerak sedikitpun akibat pengaruh obat yang melumpuhkan seluruh persendian di tubuhnya.


'Aku harus berbuat sesuatu untuk membalasnya. Aku tidak bisa berakhir seperti ini, tapi apa yang harus aku lakukan. Bahkan pria tua yang aku harapkan bisa membantuku kini menghilang entah kemana?' Gumam kembali nyonya tua di dalam hatinya.


Ia berharap pria tua yang menjadi asisten pribadinya ada dan membantu dirinya lepas dari jeratan dan jebakan Nitami. Namun sayangnya pria tua itu ada pada pengawasan anak buah Alesha di dalam markas khusus mafia yang di miliki oleh Alesha.


Tatapan nyonya tua Nadin begitu tajam dan benci melihat ke arah Nitami. Nitami pun tahu itu, namun ia hanya berpura-pura tidak mengetahuinya. Ia akan pandai bersandiwara malam ini, agar apa yang ia rencanakan bersama dengan Alesha berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.


Hanya menunggu waktunya tiba, dan semuanya akan benar-benar berakhir.


Nitami terlihat cantik dan anggun malam ini, begitu terlihat cantik penuh akan wibawa. Davin sesekali melirik ke arah wanita yang akan segera menjadi mantan istrinya tersebut.


Nyonya tua Nadin begitu membenci Nitami, namun tidak ada yang bisa di lakukannya. Ia pun berpikir jika tidak akan mungkin dirinya hancur malam ini oleh ulah Nitami. Nyonya Nadin masih harus menjadi pemegang kendali pada keluarga Fardhan.


Nyonya Nadin tidak sadar akan kesalahan yang tidak seharusnya dia lakukan, balas dendam yang telah menghancurkan keluarga Fardhan sejak dulu, bahkan telah menelan beberapa korban jiwa akan kejahatan dan kebohongan yang ia ciptakan sendiri.


Nyonya tua yang sangat egois dan kerasa kepala, ia tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun kepada anak keturunannya. Hanya karena balas dendam dan kebohongan yang tidak dapat ia perbaiki.


Kini Nitami lah yang akan menghancurkan kepercayaan ritual tumbal pada keluarga Fardhan tersebut. Agar tidak ada lagi wanita lainnya yang menjadi korban ritual persembahan tumbal keluarga Fardhan.


"Apakah ritual persembahan ini bisa kita mulai sekarang?" Tanya seorang pendeta yang biasanya memimpin ritual tersebut setiap tahunnya.


Tidak ada yang menjawab, mereka semua yang hadir di sana melihat ke arah nyonya tua sesepuh yang hanya diam duduk saja.


Sedangkan nyonya Nadin yang ingin menjawab, mendapatkan sebuah tekanan dari suster yang ada di belakangnya.


"Maaf nyonya, tuan. Nyonya tua sedang tidak enak badan sejak tadi siang. Beliau berpesan untuk melakukan ritual seperti biasanya." Seru sang perawat yang ada di belakang nyonya tua.


Perawat tersebut ingin menunjukkan, jika dia yang akan mewakili nyonya tua untuk menjawab semua orang. Tekanan yang ia berikan kepada nyonya tua sebelum mereka datang ke rumah putih, begitu menakutkan bagi nyonya Nadin.


Nyonya tua sungguh membenci dirinya yang berada di dalam situasi tersebut, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya dapat menahan gejolak amarah di dalam hatinya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Balas sang pendeta.


"Nyonya Nitami, silahkan maju ke depan altar." Perintah sang pendeta melihat kepada Nitami yang masih berdiri anggun di samping nyonya Sandra dan Diana.


Nitami yang di panggil hanya diam saja, pandangan tajam dan dinginnya melihat ke arah sang pendeta.


"Anda salah pendeta." Ucap Davin tiba-tiba. Semua mata memandang ke arah Davin yang ada berseberangan dengan Nitami.


"Malam ini bukan Nitami yang akan menjadi tumbal pada ritual persembahan ini." Ucapnya melihat intens ke arah Nitami yang ada di hadapannya. Nitami pun melihat ke arah Davin dengan raut yang masih datar dan dingin.


Nitami tidak ingin beramah tamah kepada seluruh anggota keluarga Fardhan malam ini. Sudah cukup penderitaannya selama ini menjadi alasan bagi Nitami bersikap seperti itu.


"Jika bukan nyonya Nitami, lalu siapa?" Tanya sang pendeta tidak mengerti maksud Davin.


"Max…bawa wanita itu ke sini." Perintah Davin kepada asisten pribadinya.


Max yang sudah mengerti maksud dari sang tuan melangkah keluar pintu rumah putih. Beberapa saat kemudian ia datang bersama Fransiska yang sudah terikat pada kedua tangannya di belakang, dan di kawal oleh dua orang penjaga.


Semua mata memandang ke arah Fransiska, begitu juga nyonya tua yang tidak mengetahui kejadian kemarin. Yang ada di dalam pikiran nyonya tua, Nitami lah yang masih menjadi tumbal pada ritual persembahan malam ini.


Namun inilah rencana Davin. Bukan Nitami yang akan menjadi tumbal tetapi Fransiska. Davin ingin Fransiska menggantikan Nitami dan merasakan apa yang selama ini Nitami alami?


"Apa maksudnya ini tuan Davin?" Tanya pendeta merengutkan keningnya melihat kondisi Fransiska selayaknya seperti seorang tawanan.


"Wanita ini yang akan menjadi tumbal ritual persembahan keluarga Fardhan. Itu adalah keputusan dariku dan tuan Markus Attala Fardhan." Ucap Davin begitu tegas dan dinginnya saat melihat ke arah Fransiska yang melihatnya dengan tatapan benci dan penuh permusuhan.


"Wanita ini pantas ada di posisi itu." Seru Davin kembali.


"Apakah pendeta ingin menentangnya?" Tanya Davin kepada pria berjubah putih di hadapannya tersebut.


"Tidak. tentu saja tidak, baiklah saya akan melakukan seperti apa yang anda inginkan." Balas sang pendeta patuh karena ngeri melihat tatapan tajam dan dingin Davin kepadanya.


"Nyonya Fransiska, silahkan maju ke depan altar." Perintah pendeta kini melihat ke arah Fransiska.


Fransiska masih diam pada tempatnya, ia menolak keras keputusan Davin. Ia yang tahu bagaimana detail ritual yang sangat mengerikan tersebut, tentu saja tidak ingin melakukan hal itu. Bagi Fransiska semua ritual persembahan tumbal akan sangat menyakitkan tubuhnya, bagaimana bisa Fransiska akan melukai tubuh dan kulit mulusnya yang sangat berharga.


"Tidak…Aku tidak akan melakukan ritual ini…" Teriak histeris Fransiska menolak keinginan dan perintah Davin.


Semua mata memandang ke arah Fransiska yang menolak keras perintah Davin.


"Kalian semua sudah gila…aku tidak ingin melakukan hal yang mengerikan itu. Aku tidak mau, lepas…lepaskan aku." Ucap Fransiska sembari berusaha terus berontak untuk lepas dari ikatan dan cekalan kuat kedua penjaga yang memeganginya erat.

__ADS_1


"Cukup…Penjaga, bawa wanita itu maju ke depan." Perintah Davin tegas tidak ingin di bantah lagi.


Sungguh permainan dan pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Nitami. Apa yang Fransiska rasakan sekarang? Sebuah ketakutan, penolakan dan amarah, itulah yang Nitami rasakan selama 4 tahun ini. Kini giliran Fransiska yang menjalaninya.


Dua penjaga menyeret paksa Fransiska ke depan altar, hingga kedua kakinya di paksa untuk melangkah. Penolakan dan sikap berontak yang di lakukan oleh Fransiska hanyalah sia-sia saja.


Tubuh Fransiska di hempaskan begitu saja ke depan altar, hingga tubuhnya rebah bersujud di depan meja altar yang penuh akan sarana persembahan.


Fransiska mencoba untuk bangkit, namun sayangnya dua penjaga dengan cepat menekan kedua pundak Fransiska, sehingga tubuh Fransiska tidak dapat beranjak dari tempatnya.


"Tidak…Aku mohon, jangan lakukan ini padaku. Aku tidak ingin melakukan ritual yang seharusnya tidak aku lakukan. Nitami lah yang pantas untuk melakukan ritual persembahan tumbal ini, karena ia yang memang pantas untuk menjadi seorang tumbal. " Ucap histeris Fransiska masih menolak melakukan ritual persembahan tersebut.


Davin melangkah cepat ke hadapan Fransiska. Tatapan matanya tajam dan dingin. Semua mata ngeri melihatnya.


"Davin, tolong jangan lakukan ini padaku. Aku bukan seorang tumbal, Nitami lah yang seharusnya menjadi tumbal malam ini seperti tahun tahun sebelumnya." Ucap Fransiska ingin membujuk Davin agar menarik semua keputusannya.


Tanpa Fransiska sadari jika ucapannya tersebut, telah memancing amarah Davin lebih marah lagi. Bagaimana bisa wanita hina di mata Davin mengatakan sesuatu yang tidak tahu diri seperti itu. Fransiska tidak menyadari diri sendiri yang telah berani mengkhianati Davin.


"Wanita tidak tahu diri." Ucap Davin pelan namun menusuk.


'Plak…plak…!!" Suara dua tamparan pada kedua pipi putih Fransiska.


Davin memberikan dua buah tamparan yang cukup keras kepada Fransiska, hingga ujung bibir Fransiska mengeluarkan darah segar.


"Wanita pengkhianatan dan murahan seperti dirimu lah yang pantas menjadi seorang tumbal." Ucap tegas Davin sedikit meninggikan suaranya.


Ucapan dan tingkah laku Davin menjadi perhatian oleh nyonya tua yang memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia nampak terkejut akan hal yang di lakukan oleh Davin terhadap istrinya Fransiska. Pasalnya nyonya tua hanya tahu jika Davin begitu sangat mencintai Fransiska, namun apa yang ia lihat sekarang? Davin terlihat sangat membenci dan marah kepada Fransiska.


Ada apa ini? Itulah pertanyaan yang ada di dalam hati nyonya tua. Semua menjadi terbalik, istri pertama yang setiap tahun seharusnya menjadi tumbal, kini berubah menjadi istri kedua yang menjadi tumbal pada tahun ini. Apa yang sudah terjadi? Mengapa bisa jadi seperti ini? Itulah semua pertanyaan yang hadir dalam benak sang nyonya tua melihat situasi yang berubah.


Sedangkan Nitami masih setia pada wajah datarnya melihat kejadian yang ada di hadapannya kini. Sungguh menyenangkan baginya, namun untuk tersenyum senang masih dapat ia tahan. Ia ingin tahu sampai di mana ini akan berlanjut. Nitami ingin melihat apakah Fransiska akan mendapatkan semua siksaan yang selama ini ia dapatkan.


Penantian dan harapan Nitami akan segera terwujud. Penderitaan yang akan di rasakan oleh Fransiska untuk menggantikan dirinya, akan segera terlaksana.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2