
…Season 2…
***Mansion Keluarga Orlando***
Dua wanita yang sama-sama terlihat cantik dan anggun dengan aura yang berbeda. Lilyana Massimo dan Alesha Larzo adalah wanita cerdas yang memiliki keahliannya masing-masing.
Lily dan Alesha saling memandang, tatapan tajam keduanya seakan ingin saling menerkam. Suasana di ruang itu kembali mencekam dan tidak nyaman bagi mereka semua.
"Kau cukup berani untuk datang ke sini…Apa kau tidak tahu kalau aku ada di sini…?" Tanya Lily terlihat menantang di hadapan Alesha.
"Aku tahu kau ada di sini. Tentu saja aku datang ingin melihat mu secara langsung. Nona Lily…!" Tekan Alesha membalas dengan tatapan tajamnya.
Lily tersenyum mengejek melihat sikap tenang Alesha dengan tatapan tajamnya. Tentu saja Lily tidak akan mudah untuk terpengaruh.
Sekilas tatapan matanya melihat ke arah Teo yang ada di belakang Alesha. Pria yang sangat ingin dia temui dan lihat selama ini.
Alesha tentu tahu kemana arah lirikkan Lily saat ini. Dia pun ikut tersenyum tipis akan tatapan rindu serta hangat Lily untuk Teo. Walaupun tatapan Lily itu hanya terjadi beberapa detik saja, Alesha sangat tahu dan mengerti perasaan keduanya.
"Sepertinya bukan aku yang ingin kau temui saat ini…!" Ucapnya sembari melirikkan matanya ke arah samping, isyarat untuk menunjukkan keberadaan Teo yang ada di belakangnya.
Lily tahu maksud perkataan dan lirikkan mata Alesha. Wanita cantik itu melihat serius ke arah Alesha, dia ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh rivalnya tersebut.
"Sepertinya kalian berdua memerlukan waktu untuk menyelesaikan semua kesalah pahaman ini." Ucap Alesha.
"Kesalahan pahaman…!" Tutur Lily.
"Aku tidak berhak untuk banyak bicara di sini. Sebaiknya kalian berdua bicarakan semuanya agar tidak ada lagi yang mengganjal di hati kalian." Kata Alesha, kemudian dia melangkah mendekati Lily tanpa rasa takut sama sekali.
"Selesaikan semua yang ingin kau selesaikan, setelah itu. Jika kau tidak puas, aku masih ada di sini untuk menantikan kedatangan mu, nona Lily…!" Bisiknya pada telinga Lily.
Lily mengerti maksud perkataan Alesha. Dia hanya melirik Alesha dari arah samping wajahnya.
Tanpa berkata apapun, Lily melangkah melewati sekaligus menyenggol cukup keras bahu kanan Alesha, hingga wanita itu sedikit melangkah mundur sembari tersenyum tipis akan ulah Lily terhadapnya.
Lily melangkah dan berdiri di hadapan Teo. Menatap teduh pria yang sangat ia rindukan.
"Bisakah kita bicara?" Tanyanya tanpa basa basi kepada Teo.
Beberapa detik Teo hanya diam, menyimak perkataan Lily dan menetralkan debar jantungnya yang tidak beraturan akan pertemuannya dengan Lily.
"Ten…Tentu saja…!" Teo sedikit gugup saat menjawab.
Tanpa pikir panjang dan banyak bicara lagi. Lily melangkah melewati Teo, tentunya segera di ikutan oleh Teo. Mereka melangkah keluar ruangan, menuju halaman samping yang ada di kawasan mansion keluarga Orlando itu.
Sepeninggalan Lily dan Teo, Alesha melihat ke arah Alex.
"Apa nona Lily putri sulung anda, tuan Alex?" Tanyanya.
__ADS_1
"Iya benar." Balas Alex dengan anggukkan kepalanya.
"Jadi kau adalah salah satu penyebab putri ku hampir menjadi gila…!" Tunjuk Sarah ke arah Alesha dengan nada yang cukup tinggi dan terlihat tidak suka kepada Alesha.
Alesha diam dengan wajah datarnya melihat ke arah Sarah.
"Kalian berdua…wanita kejam yang tidak memiliki perasaan hati sama sekali." Tunjuk Sarah ke arah Nitami dan Alesha.
Beberapa orang yang hadir di sana tetap diam. Alex dan Levi cukup frustasi akan sikap marah Sarah yang kepada Nitami dan Alesha. Sarah marah bukan tanpa alasan yang jelas, wanita paruh baya itu hanya terlalu sayang terhadap putri satu-satunya yang ia miliki.
"Apakah itu yang telah di katakan oleh Lily?" Tanya Alesha ingin tahu kabar Lily setelah kejadian mereka beberapa tahun yang lalu.
"Tentu saja. Dua wanita yang telah tega membunuh temannya sendiri demi kepentingan mereka. Dua wanita kejam yang telah membunuh pria yang sangat Lily cintai." Balas Sarah sengit terlihat cukup marah akan sikap tenang Alesha.
Alesha tersenyum mendengar tuduhan yang di katakan oleh Sarah.
"Ternyata Lily begitu dendam terhadap kami berdua." Ungkapnya melihat ke arah Sarah dengan senyum tipis pada wajah cantiknya.
Sedangkan Nitami hanya diam dan menyimak saja.
"Tapi dendam yang sudah salah alamat." Tuturnya dengan sebuah tekanan pada setiap kata-katanya.
"Kami tidak melakukan apapun, seperti yang di tuduhkan oleh Lily. Kami hanya menjalankan rencana yang sudah kami susun. Dan Lily tidak tahu apapun tentang hal itu. Jadi semua tuduhan itu hanyalah kesalah pahaman atau tuduhan yang sudah salah alamat." Jelas Alesha sedikit ingin membela dirinya dan Nitami yang memang tidak bersalah seperti tuduhan yang telah di katakan oleh Sarah dan Lily.
"Kalian memang wanita kejam. Selain mampu melakukan tindakan pembunuhan, kalian juga wanita licik yang tidak bisa mengakui kesalahan yang sudah nyata kalian lakukan." Ucap Sarah tidak puas akan perkataan Alesha yang membela dirinya.
"Nyonya…Aku tahu kau marah dan kecewa akan apa yang telah di alami oleh Lily. Tapi aku tegaskan sekali lagi. Aku dan Nitami tidak bersalah. Kejadian itu adalah sebuah rencana yang sudah kami susun dan sepakati. Hanya saja kehadiran Lily di sana, di luar perkiraan kami. Sehingga Lily melihat semuanya, dan salah paham kepada kami." Ungkapnya dengan tenang.
"Intinya itu hanya salah paham." Ucapnya.
Saat Sarah ingin menjawab, Alesha lebih dulu berkata.
"Apa pun yang aku akan katakan kepadamu, nyonya. Aku tahu kau tidak akan percaya kepada kami. Jadi silahkan lakukan tuduhan apapun yang ingin kau tunjukan kepada kami. Aku tidak peduli…!" Ucapnya sembari mendekati Sarah yang sedang berdiri di samping Alex.
Sarah diam terpaku di tempatnya. Tatapan tajam membunuh Alesha begitu mengerikan Sarah lihat. Wanita paruh baya itu berusaha menelan salivanya. Tidak dapat ia pungkiri, dia sedikit takut pada Alesha yang sedang berada pada mode mulai tidak bersahabat.
"Di mata Anda. Apapun yang sudah jelek dan jahat. Akan tetap jelek dan jahat, walaupun itu tidak benar." Ucapnya pelan. Alesha tengah berdiri di hadapan Sarah, menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya.
"Tuan Alex…sepertinya lebih baik untuk saat ini, istri anda tetap berada di dalam rumah, agar dia tetap aman. Apakah itu bisa, tuan Alex…!" Ungkap Alesha melihat ke arah Alex yang ada di samping Sarah.
Alex tahu jika Alesha cukup kesal pada sikap dan semua tuduhan istrinya terhadap Alesha san Nitami.
"Tentu…istri saya adalah wanita rumahan yang sangat jarang keluar. Tapi dia adalah wanita yang cukup baik dan cepat mengerti. Aku akan memberikan sebuah penjelasan yang mudah untuk dia mengerti…!" Balas Alex sembari melihat ke arah Alesha, lalu melihat ke arah Sarah.
Sarah cukup terkesima mendengar perkataan suaminya.
"Apa maksudmu, sayang…?" Tanya Sarah tidak mengerti.
__ADS_1
Alex melihat ke arah Sarah.
"Tolong…untuk saat ini kau cukup dia dan menyimak semuanya dengan baik. Jangan banyak bicara yang hanya akan memperburuk semuanya. Tunggu, diam dan tenang. Apa kau bisa melakukan itu? Atau kau lebih baik kembali pulang ke mansion, dan tenang di sana menunggu semua hasil yang sebenarnya." Ungkap Alex ingin Sarah diam dan tidak lagi memperkeruh keadaan tegang mereka.
Sarah tentunya terkejut tidak percaya akan perkataan suaminya seperti itu.
"Kau mengusir dan mencela semua perkataan ku?" Balas Sarah berada pada mode kesal akan sikap suaminya.
Levi tahu jika kedua orang tuanya sedang tidak baik baik saja, dia datang mendekati mereka. Levi mendekati dan segera merangkul sang mama, ingin membujuknya agar mengikuti keinginan dari sang papa.
"Ma…Papa benar, kita tunggu dulu hasil dari kak Lily." Bujuk Levi ingin mama papanya tidak berujung pada pertengkaran suami istri.
"Kau juga membela mereka, sama seperti papa mu…!" Sarah kesal akan sikap putranya yang sama saja seperti sikap suaminya itu.
"Bukan begitu Ma…Levi hanya ingin mama tenang dan menunggu hasil dari Kak Lily. Itu lebih baik dari pada harus menuduh dan berkata sesuatu yang belum tentu benar." Penjelasan Levi dengan sehalus mungkin terhadap sang mama.
"Tolonglah Ma…tolong menjadi mama Sarah yang selalu cerdas dan anggun." Ungkap Levi saat sang mama ingin membalas perkataannya tadi.
"Kamu…!" Katanya sembari menunjuk ke arah Levi yang sedang memasang wajah memelasnya di hadapan sang mama.
Sarah terdiam melihat wajah memelas putranya itu. Walaupun masih kesal dan tidak terima, Sarah segera duduk dengan memalingkan wajahnya agar tidak melihat Alesha maupun Nitami.
Levi dapat tersenyum lega akan sikap patuh Sarah kepadanya. Levi tidak ingin semuanya menjadi berantakan akan sikap dan tuduhan mamanya terhadap Alesha dan Nitami.
"Silahkan…Nona Alesha…Silahkan duduk…!" Ucap Levi mempersilahkan Alesha untuk duduk pada salah satu sofa tunggal yang masih kosong.
Mereka akan tetap duduk dan berkumpul di sana, sebelum urusan Lily dan Teo selesai.
Alesha duduk dengan tenang untuk menunggu hasil dari Teo. Sedangkan Sarah masih setia memalingkan wajahnya ke arah lain. Dari sorot mata Sarah masih terlihat kesal, kecewa dan tidak suka kepada Alesha juga Nitami.
Mereka duduk dengan tenang pada tempat mereka masing-masing.
Teo dan Lily masih berada di halaman samping yang ada di mansion keluarga Orlando. Pertemuan mereka berdua sekaligus sebagai ajang pelepas rindu dan penjelasan yang akan mereka bicarakan dengan baik.
Apakah kesalah pahaman di antara mereka dapat di selesaikan dengan baik? Apakah semuanya dapat kembali baik baik saja seperti yang seharusnya mereka inginkan.
Hanya mereka yang tahu. Waktu dan kesempatan kedua berhak untuk di dapatkan oleh masing-masing orang. Begitu pun mereka yang ada di sana, berhak atas kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah terjadi.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya.
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1