Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
4. Pertemuan Yang Tidak Bisa Di Hindari.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Malam sudah menunjukkan pukul 12 lebih dini hari, selama 3 jam Nita dan rekan-rekannya berjuang dalam operasi yang mereka lakukan pada Davin. Nita berharap Davin dapat bertahan dengan sekantong darah darinya, Luka yang memiliki robekan cukup dalam dan lebar membuat Nita kewalahan untuk menghentikan pendarahan pada perut Davin.


Untungnya tidak ada luka serius pada organ vitalnya, Hanya robekan pada perutnya saja yang mengakibatkan pendarahan hebat. Kepalanya mengalami gegar otak ringan karena benturan, serta luka luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Sungguh kondisinya benar benar jauh dari penampilan Davin seperti biasanya.


"terima kasih sudah mau bertahan tuan muda, semoga lekas sembuh." ucap Nita lembut sembari mengelus lembut lengan kanan Davin.


Itu adalah ritual rutin yang selalu di lakukan oleh dokter Nita setelah selesai melakukan operasi, dia akan selalu memberikan semangat dan rasa syukurnya kepada setiap pasiennya, karena operasi yang dia lakukan selalu berjalan lancar, mereka yang sudah mengenal dan sering bekerja dengan dokter Nita pasti akan tahu hal itu.


"terima kasih untuk kalian semua yang telah berjuang bersama saya." ucap Nita melihat ke arah semua rekan yang ada di sana satu persatu.


"dokter Nita, dokter kepala dan direktur memanggil anda." ucap perawat Lia yang baru saja masuk ke dalam ruang operasi.


Nita hanya melihat dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti, itulah dokter Nita yang selalu irit untuk berbicara. Nita membersihkan dirinya untuk segera menemui kepala dokter, direktur, dan juga seluruh keluarga Fardhan yang sudah menunggu di depan pintu ruang operasi.


Menanti laporan kondisi Davin darinya. Nita yang di temani oleh dokter Rio yang tadi menjadi rekannya saat operasi. Mereka melangkah mendekati sebuah pintu kaca, yang tentu saja dapat melihat apa saja yang ada di luar sana. Melihat wajah khawatir dari setiap anggota keluarga Fardhan.


Sudah sangat lama sekali, Nita tidak melihat wajah wajah itu. Walaupun Nita tinggal bersama mereka satu halaman rumah, tetapi Nita jarang sekali menampakkan kakinya ke dalam mansion yang seperti neraka baginya. Gubuk sederhana tempatnya tinggal, berdampingan dengan rumah untuk para pembantu yang bekerja di sana.


Rumah kecil itu ada jauh di belakang mansion, bahkan untuk keluar saja Nita hanya memakai pintu samping mansion tersebut, pintu keluar masuk khusus para bawahan dari keluarga Fardhan. Jadi Nita yang juga sibuk dengan pekerjaannya, sangat jarang bertemu dengan anggota keluarga itu.


Bahkan di hari weekend, Nita sengaja menukar jadwal masuknya agar tidak berada di rumah, yang hanya akan melihat kemesraan sepasang suami-istri yang sengaja di pamerkan oleh Fransisca untuk membuatnya sakit hati dan tersiksa. Andaikan saja bukan karena kontrak jebakkan yang dia tidak bisa lawan, sudah lama dirinya akan keluar kabur dari mansion Neraka tersebut.


Nita mencoba mengatur nafasnya untuk menghadapi keluarga Fardhan, terutama tuan besar Markus Fardhan. Begitu kaca pintu yang ada di depannya terbuka dengan otomatis, tidak ada jalan lagi untuk menghindar.


"bagaimana operasi tuan muda Davin, dokter Nita?" tanya direktur lebih dulu bertanya.


Nita melihat ke arah direktur, wajah datar dan nampak dingin. Untuk tersenyum kali ini sulit Nita lakukan, dia akan bersikap seperti biasanya.


"operasi nya lancar direktur." jawab singkat dan cukup mengatur nada bicaranya.


Pandangan semua anggota keluarga Fardhan, sangat jelas terlihat datar dan tidak suka melihatnya. Nita sangat yakin mereka terpaksa berada di sana, karena Davin. Mereka terpaksa melihat Nita yang sebenarnya sangat tidak mereka sukai. Terlebih lagi Fransisca dan tuan besar Markus Fardhan.


"bagaimana keadaannya?" kali ini nyonya Sandra yang maju untuk bertanya dengan wajah yang sudah basah akan air matanya.


Nita memandang mata yang teduh dan terlihat jelas sedih serta ketakutan pada sorot mata itu. Tangan nyonya Sandra terlihat masih gemetar, Nita tiba tiba merasa kasihan melihatnya. Dengan segera Nita meraih tangan gemetar itu dan meremasnya lembut. Rasa trauma nyonya Sandra pasti kambuh kembali karena kecelakaan yang di alami putranya.

__ADS_1


"tuan muda baik baik saja nyonya, anda tidak perlu khawatir. Tuan muda hanya gegar otak ringan, dan pendarahannya juga sudah di hentikan." ucap Nita sembari meremas lembut telapak tangan nyonya Sandra yang gemetar dan mulai keriput.


Nyonya Sandra memandang dalam mata Nita, seakan ingin mengucapkan sesuatu tetapi dia tidak sanggup. Tangisnya pun pecah sembari tiba-tiba memeluk tubuh Nita, dan menangis sedih di dalam pelukan yang tidak berani Nita balas. Dia tidak ingin di lihat tidak sopan.


"terima kasih nak…terima kasih…dan maaf untuk semuanya…" ucap nyonya Sandra pelan di sela sela tangisnya, tubuh nyonya Sandra masih terguncang karena tangisnya.


Nita hanya diam tanpa menjawab, Nita hanya bisa menenangkan nyonya Sandra dengan membelai lembut punggungnya. Agar nyonya Sandra melepaskan pelukanya, karena tatapan horor yang ia dapatkan dari setiap anggota keluarga Fardhan. Sedangkan yang lainnya, hanya diam bersikap biasa saja, sebab tidak tahu apapun.


Itu biasa di lakukan oleh keluarga pasien yang di tangani oleh dokter Nita. Untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka dan mendapatkan ketenangan dari dokter Nita. Entah mengapa begitu orang melihat wajah dokter Nita? semua akan memeluk atau meminta berjabat tangan dengannya.


Tatapan horor yang Nita dapatkan dari seluruh anggota keluarga Fardhan membuat Nita harus segera bertindak, agar pelukan dari nyonya Sandra lepas.


"nyonya, tuan muda akan segera di pindahkan ke ruangan. Apakah anda sudah bisa tenang sekarang?" ucap lembut Nita berharap nyonya Sandra mengerti maksud perkataannya.


Nyonya Sandra tidak langsung melepaskan pelukannya, sehingga dengan terpaksa tuan besar Markus yang menarik halus tubuh istrinya, tatapan mata mereka bertemu. Sungguh tatapan mata tuan besar Markus sangat menakutkan bagi orang lain, tetapi tidak dengan Nita yang sudah terbiasa.


Nita tidak perlu takut karena dirinya tidak melakukan kesalahan apapun? Nita mencoba bersikap biasa dan bersikap ramah pada mereka dengan berpamitan yang sopan dan baik.


"tuan muda akan segera di pindahkan dan akan selalu di pantau perkembangannya. Jadi saya permisi ke dalam dulu, permisi tuan dan nyonya. Selamat malam." pamit Nita menundukkan kepalanya dengan sopan tanpa senyum sama sekali.


Tanpa pikir panjang dan menunggu jawaban dari mereka Nita berbalik masuk ke dalam. Dia tahu tidak ada yang akan menjawabnya. Sekilas Nita dapat melihat tatapan tajam dan meremehkan dari mata Fransisca memandang padanya.


...--------------------------------...


…Kamar VVIP…


Davin berada di kamar yang super mewah dengan peralatan medis yang canggih dan lengkap untuknya. Dokter Rio dan perawat Lia yang malam ini siaga memantau keadaan tuan muda Fardhan.


Nita tiba-tiba oleng saat akan ikut mengantar Davin keluar dari ruang operasi. Tubuhnya sudah tidak kuat menahan lemas yang sedari tadi dia tahan. Akhirnya Nita hanya duduk sejenak pada kursi besi yang ada di dalam ruang operasi tersebut. Setelah tubuhnya agak membaik Nita akan kembali ke ruangannya, untuk istirahat sejenak.


Saat Nita melewati lorong menuju ruangannya yang juga melewati UGD, dia melihat seorang pria yang sangat dia kenal sedang berusaha menenangkan seorang anak perempuan sekitar berumur 4 tahun, bersama dengan satu dokter dan satu perawat. Gaun anak itu penuh dengan bercak darah, Terdapat luka pada kening dan bahu kirinya.


Anak perempuan yang cukup cantik di usianya yang sedang lucu lucunya. Dia terus menangis dan melawan saat akan di obati, ke tiga orang yang sedang membujuknya tidak ada yang berhasil menenangkan anak itu, dia terus menangis memanggil mamanya. Di mana mamanya? itulah yang ada di dalam benak Nita saat ini.


Nita menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, dan akhirnya dia menyerah juga melangkah dan mendekati mereka.


"Ada apa ini?" tanya Nita tiba dan melihat mereka secara bergantian.

__ADS_1


Semuanya melihat ke arah Nita secara bersamaan.


"kami kesulitan menenangkan anak ini, dokter." jawab dokter yang sedang memegang kain kasa di tangannya.


"anak cantik, kenapa menangis?" tanya lembut Nita dengan senyum yang mengembang di bibirnya, tatapan Nita teduh pada mata bulat anak kecil di hadapannya.


Anak itu memandang Nita dengan Isak tangis yang masih terdengar.


"Tante punya ini untuk mu cantik. Mau…!?" ucap Nita lembut sembari memperlihatkan sebuah permen lolipop yang sering dia bawa di kantong jubah putihnya.


"mau ante…" angguknya sembari menerima permen dari Nita.


"boleh tante pangku sayang?"


"iya." jawabnya singkat sembari mengangguk setuju.


Dengan segera Nita angkat tubuh mungil itu dan di dudukkan di pangkuannya. Nita membukakan permennya lalu dia berikan pada mulut mungilnya.


"Tante bersihkan lukanya ya, hanya akan terasa sakit sedikit." ucap lembut Nita yang mendapat tatapan iba oleh anak tersebut.


"kalau sakit peluk Tante, oke. Tante akan tiup mana yang sakit."


Anak itu seperti mengerti karena menganggukkan kepalanya tanda setuju. Nita dengan cepat dan cekatan membersihkan luka robekan kecil pada kening anak tersebut, lalu menutupnya dengan perban. Dengan cepat Nita menyuntikkan obat bius yang sudah di siapkan pada suntikkan kecil oleh perawat.


Anak itu sedikit meringis di dalam pelukan hangat Nita. Dengan segera di belainya lembut kepala mungil yang bersandar padanya, perlahan anak itupun tenang dan tertidur. Dengan pelan Nita membaringkan tubuh mungil anak itu di atas ranjang.


"biar aku yang lakukan, urus tuan ini." ucap Nita melihat teduh pada wajah mungil yang tertidur damai. Lalu beralih pada pria yang ia kenal.


Pria itu adalah asisten pribadi dari tuan muda Davin Attala Fardhan. Pria yang tidak kalah tampan dan sama dinginnya dengan sang tuan. Pria yang sering di panggil asisten Max, kepala dan lengan kanan asisten max cukup memiliki luka yang parah, tetapi dia kuat bisa menahannya.


Sungguh pria yang kuat dan tangguh dengan tatapan yang cukup tajam melihat ke arah Nita yang berdiri tepat di hadapannya. Nita cukup sering bertemu dengannya jika ada urusan dengan tuannya, namun mereka sama sama irit untuk berbicara.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2