
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Davin berusaha menekan rasa tidak nyaman di dalam hatinya akan perkataan Nicolas. Diapun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Nicolas, lalu tersenyum.
"Hubungan suami istri tidaklah seperti orang asing, tuan Nicolas." Ungkapnya dengan penekanan pada setiap kata-katanya.
Davin perlahan menarik dan menghembuskan nafasnya, lalu berkata kembali.
"Aku dan dia sudah saling mengenal selama 4 tahun lebih. Sudah cukup lama bagi kami saling mengenal dekat, dan dapat menepis kata asing di antara kami berdua." Ucap Davin berbohong.
Tentu kebohongan yang dia katakan untuk menekan kecurigaan Nicolas terhadap hubungannya bersama Nitami. Max tahu itu, namun dia hanya bisa diam dan mengikuti apapun alur yang akan di buat oleh atasannya tersebut?
"Yang seharusnya di katakan orang asing itu adalah anda sendiri, tuan Nicolas." Ucapnya kembali dengan senyum puas di bibirnya.
Wajah Nicolas menjadi datar dan tatapan matanya sedingin es. Dia sungguh tidak suka mendengar kata asing dari bibir Davin. Walaupun pada kenyataannya dirinya dan Nitami memanglah dua orang asing yang tidak saling mengenal baik.
Nicolas tersenyum tipis meremehkan ke arah Davin.
"Apa kau yakin, tuan Davin?" Tanya Nicolas dengan tatapan penuh kecurigaan.
Davin berusaha bersikap tenang dalam menghadapi Nicolas dan semua perkataannya. Perkataan yang terkadang membuat Davin tidak nyaman di dalam hatinya.
Nicolas ikut tersenyum tidak ingin kalah dari Davin.
"Tentu saja aku yakin. Silahkan anda buktikan sendiri jika anda masih ragu." Tantang Davin.
"Tentu dengan senang hati, tuan Davin Attala Fardhan." Balas Nicolas dengan senyum puas masih mengembang pada bibirnya.
Davin merasa tidak ada lagi yang harus mereka bahas, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia berbalik badan dan berlalu keluar dari ruangan tersebut, dengan di ikuti juga oleh Max dari arah belakangnya.
Kini Nicolas hanya bisa menatap ke arah pintu yang telah tertutup rapat. Pandangan matanya dingin dengan senyum yang sudah menghilang.
"Rey …!" Panggil Nicolas pada asisten pribadinya yang ada tidak jauh di belakangnya.
"Iya tuan." Balas Rey melangkah maju mendekati sang tuan.
"Apa pendapatmu tentang ini?" Tanya Nicolas tanpa melihat sang asisten yang berdiri di sampingnya.
Rey menatap sejenak ke arah Nicolas dari arah samping. Lalu berkata untuk menjawab.
"Menurut saya, ada yang tidak beres tentang ini semua. Ada yang terasa ganjil, tuan." Balas Rey dengan jujur. Itulah yang menjadi pendapatnya selama dia memperhatikan semua yang telah terjadi.
"Itu juga yang aku rasakan." Balas Nicolas.
"Rey, selidiki hubungan mereka berdua." Perintahnya.
"Baik tuan." Balas Rey dengan sikap hormat kepada tuannya. Lalu Rey membantu tuannya untuk meminum obat, setelah itu Rey mendorong kursi roda Nicolas menuju ke arah ranjang perawatannya agar Nicolas dapat beristirahat agar segera pulih.
...--------------------------------...
__ADS_1
…Ruang Kerja Nitami…
Dengan sedikit kasar Nitami duduk di balik meja kerjanya. Dia masih kesal akan tindakan Davin yang semaunya saja, tanpa memikirkan kenyamanan dan perasaannya.
"Sialan kau Davin. Apa yang sedang kau rencanakan? Kau pikir dengan melakukan pendekatan seperti itu, akan membuat aku luluh." Gumamnya pelan dengan kepalan kuat kedua tangannya karena rasa kesal ketika mengingat Davin merangkulnya tadi.
"Semua tindakan mu ini salah, Davin. Tidak akan membuat hatiku berubah sama sekali untuk menerima mu seperti yang kau harapkan. Terlalu banyak luka serta sakit yang kau dan keluarga mu berikan padaku. Seharusnya kau sadari itu." Gumamnya menekan beberapa kata yang ia ucapkan.
Nitami sangat kesal akan ulah Davin yang mulai keterlaluan beberapa bulan ini. Dia sebenarnya tahu dan sadar jika Davin berusaha mendekatinya beberapa bulan ini. Hanya saja dia tidak mengetahui apa motif Davin mulai mendekatinya?
"Apa motif mu Davin? Tidak mungkin kau mulai menyukaiku seperti yang di katakan oleh Aldi. Itu tidak mungkin." Gumamnya kembali dengan tatapan nanar ke arah meja di depannya.
"Sekian lama selama 4 tahun lebih, kau seperti orang asing bagiku. Bahkan untuk bertatap muka sesaat saja, kita berdua tidak pernah melakukan hal itu. Jadi mengapa sekarang kau mulai melakukan ini semua?"
Nitami mencoba mengingat kembali semua yang terjadi di antara mereka berdua selama 4 tahun lebih belakang ini. Semua itu tidak pernah ada di dalam pikiran dan harapan Nitami. Dia hanya berharap, semuanya berjalan seperti biasanya.
Melewati semuanya seperti dua orang asing yang tidak pernah dekat, sampai masa kontrak pernikahan mereka selesai. Itulah yang Nitami harapkan. Namun semua itu hanyalah sia-sia saja, dengan perubahan Davin sekarang.
'drrtt drrtt drrtt' Getar ponsel Nitami pada saku jas putihnya.
Nitami meraih ponselnya, begitu tahu siapa yang menghubunginya? Nitami segera menekan tombol hijau, dan menerima sambungan telepon tersebut.
"Haloo!" Sapa Nitami pada orang yang ada di seberang telepon.
"Hai sayangku. Kamu sedang sibuk sekali ya, aku menghubungi mu dari tadi." Balas dari seberang telepon.
"Ada apa?" Tanya Nitami sembari menyandarkan santai punggungnya pada sandaran kursi kerjanya.
"Nitami, apa kamu mengetahui kabar kehamilan Fransisca?" Tanya Alesha dengan terus terang.
Nitami terdiam, tentu saja Nitami sudah mengetahui kabar itu. Nitami terdiam karena tidak menyangka, jika Alesha dengan cepat mengetahui kabar kehamilan Fransisca.
Nitami menghela nafasnya perlahan sebelum dia menjawab Alesha.
"Iya, aku tahu itu. Kamu tahu dari mana, Alesha?" Tanya balik Nitami.
"Fransisca datang ke kantor menemuiku, wanita itu meminta perubahan di dalam kontrak kerjanya, dia meminta cuti hamil." Balas Alesha sedangkan Nitami hanya diam menyimak.
Nitami terdiam, urusan itu sebenarnya dia tidak ingin terlalu ikut campur. Nitami tahu, jika Fransisca adalah salah satu artis dan model yang ada di bawah naungan rumah produksi yang di miliki oleh perusahaan Alesha.
"Nitami, apa kamu baik baik saja akan hal ini?" Tanya Alesha dengan hati hati.
"Iya aku baik. Mengapa kamu bertanya seperti itu?"
Alesha terdiam akan pertanyaan Nitami padanya, dia hanya berharap kabar kehamilan Fransisca tidak mempengaruhi Nitami, dan Nitami sadar itu. Dia tahu jika sang sahabat pasti saat ini sedang mengkhawatirkan dirinya.
" Aku baik baik saja Alesha, kabar itu sama sekali tidak mempengaruhiku." Jawaban Nitami seakan sukses membaca pikiran Alesha saat ini.
"Aku masih berharap, kamu bisa lepas dari belenggu ini, Nitami. Sampai kapan kamu harus terus bertahan pada keluarga keji itu? Aku sudah katakan, aku akan membantumu sebisa mungkin lepas dari mereka."
__ADS_1
"Aku tahu Alesha. Kamu mampu untuk itu, sudah aku katakan alasannya padamu, aku harap kamu bisa mengerti."
"Aku sangat paham alasanmu, tetapi rahasia itu tidak mudah kamu ungkapkan jika kamu seorang diri. Keluarga itu, terutama tuan Markus pasti akan menyimpan semua rahasia keluarganya dengan sangat rapi."
"Aku tahu Alesha. Akan aku lakukan sesuatu, kamu tenang saja. Beberapa bulan ini, aku sudah mulai mendapatkan sedikit petunjuk akan hal yang aku curigai, karena itu juga aku rela berada dekat dengan Davin dan juga nyonya Sandra. Semua harus terungkap sebelum hari persembahan."
Terdengar Alesha menghela nafasnya berat, tidak mudah untuk mengubah keinginan Nitami. Alesha kembali mengingat kata 'persembahan'. Hatinya sakit dan marah, kembali dia mengingat di mana Nitami mendapatkan luka campuk dan sayatan di beberapa bagian tubuhnya.
Kondisi tubuh Nitami pada saat itu mengenaskan, setelah acara persembahan keluarga Fardhan selesai dia lakukan. Terlintas kembali sepenggal kenangan 'ritual persembahan' tersebut di dalam ingatan Alesha.
Flashback on…
Pukul 6 pagi cuaca masih terasa dingin, Nitami mengendarai mobilnya dengan susah payah. Dia berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat beberapa campuk dan sayatan di punggung, lengan dan betisnya.
Nitami dapat menahan rasa sakit itu dengan bantuan obat penghilang rasa nyeri yang ia minum. Nitami ingin segera sampai pada tujuannya, sebuah mansion yang di miliki oleh keluarga Larzo. Di mana tempat itulah yang selama ini menjadi tempat Nitami berlindung dari setiap masalah yang sedang dia hadapi.
Begitu mobilnya berada di depan lobby mansion, pada saat itu Teo asisten pribadi Alesha baru saja datang untuk menjemput sang majikan.
"Nona Nitami." Panggil Teo begitu terkejut melihat kondisi tubuh Nitami yang penuh luka dan masih mengeluarkan darah.
Nitami berusaha berdiri tegak dengan berpegangan pada pintu mobilnya. Teo segera membantu Nitami dengan menggendong Nitami ala bridal.
"Maaf nona." Ucap Teo sebelum mengangkat tubuh Nitami ke dalam gendongan ala bridalnya.
Nitami hanya meringis karena merasakan luka yang tersentuh oleh Teo, Nitami meremas kuat jas depan Teo. Sedangkan Teo tidak perduli akan pakaiannya yang kotor akibat darah Nitami, yang ia pikirkan saat ini hanya menolong sahabat nonanya tersebut.
"Pelayan…Pak Lim….!" Panggil Teo dengan suaranya yang sedikit berteriak.
Mengakibatkan semua yang mendengarkan teriakan Teo datang dengan segera. Mereka juga terkejut dengan apa yang telah terjadi pada Nitami? nona cantik yang menjadi sahabat rasa saudara dari atasan mereka.
"Ada apa ini, tuan Teo…?" Tanya Pak Lim kepala pelayan keluarga Larzo.
"Pak Lim, tolong panggilkan nona Alvira dan nona Alesha." Ucap Teo sembari membawa Nitami naik ke lantai atas dan membawanya ke dalam kamar pribadi Nitami yang selalu di siapkan untuknya oleh Alesha.
"Baik… tuan Teo." Balas pak Lim dari arah belakang Teo, dia segera menuju ke kamar Alvira dan Alesha untuk memberitahukan kabar tersebut.
Teo dengan segera masuk ke dalam kamar pribadi Nitami dengan bantuan dari satu orang pelayan wanita, yang membantu membukakan pintu kamar untuk mereka. Teo dengan perlahan membaringkan tubuh Nitami ke atas ranjang.
"Ada apa ini?" Tanya Alesha begitu masuk ke dalam kamar bersama dengan Alvira.
"Nitami, apa yang terjadi padamu?" Alesha terkejut melihat kondisi tubuh Nitami yang penuh akan luka sayatan.
Alesha naik ke atas ranjang Nitami untuk mendekati sahabatnya tersebut, pasalnya pada saat itu dirinya tidak tahu apapun tentang ritual persembahan tersebut? yang setiap tahunnya di lakukan oleh Nitami. Sehingga Alesha begitu terkejut melihat kondisi Nitami yang mengenaskan seperti itu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.