Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
114. Hati Yang Dingin Dan Membeku.


__ADS_3

***Mansion Keluarga Larzo***


Mereka bertiga masih betah berada di dalam ruang kerja Alesha. Membahas masalah yang sedang di hadapi oleh Nitami, Alesha dan Nicolas berharap dapat membantu mengurangi sedikit beban masalah Nitami saat ini.


Tanpa mereka ketahui begitu banyaknya permasalahan yang di miliki oleh Nitami, jika Nitami mengingat kembali masalah keluarga dari kedua orang tuanya di masa lalu. Begitu penuh lika liku akan masalah yang cukup berat yang akan ia jalani dan selesaikan untuk selanjutnya, entah apakah bisa ia menyelesaikannya atau tidak?


"Kami memberikan sedikit hadiah yang menarik untuk mereka. Cukup sebagai pertimbangan bagi mereka agar tidak macam macam terhadap kami. Tentu kehancuran mereka kami persembahkan untuk mu, Nitami." Ucap Alesha menatap serius Nitami yang juga melihat ke arahnya.


Pandangan Nicolas tidak henti melihat ke arah Nitami yang kini duduk di sampingnya.


"Aku harap mereka berpikir dua kali untuk melakukan hal hal kotor, namun tidak dapat kita pungkiri jika beberapa dari mereka sering berhubungan dengan sindikat mafia seperti kami." Jujurnya.


Nitami tentu tahu maksud dari Alesha.


Mereka terdiam sejenak, begitu juga Nitami yang tidak tahu harus menjawab apa? Jujur dari hatinya ia belum paham akan rencana yang akan di jalanankan oleh Alesha dan Nicolas.


"Mengapa kamu hanya diam saja?" Tanya Alesha karena melihat tidak ada respon sedikitpun dari Nitami.


Nicolas masih setia pada tatapan matanya melihat ke arah Nitami, ia tidak ingin melepaskan pandangan matanya ke arah lain.


Nitami tahu, jika Alesha meminta pendapat darinya. Ia pun menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, untuk sekedar meringankan beban pikiran dan hatinya.


"Apa yang bisa aku katakan, kamu tahu sendiri Alesha. Aku sama sekali tidak paham akan dunia bisnis seperti kalian." Ucapnya memeberikan sebuah jawaban.


"Tetapi setidaknya, aku bersyukur kalian mau membantuku. Sungguh aku berterima kasih untuk itu kepada kalian berdua." Ucapnya terdengar dan terlihat tulus.


"Aku hanya ingin semua ini berakhir dan hidup dengan tenang tanpa ada yang tersakiti lagi." Ucapnya terhenti.


Senyum mirisnya terlihat, Nitami terlihat mulai putus asa dan tidak percaya akan apa yang ia lalui saat ini.


"Namun semua itu mustahil, menyakiti dan di sakiti terus menyertai perjalanan ku selama ini. Untuk menghindarinya pun aku tidak mampu." Ungkapnya apa yang selama ini menjadi beban di dalam hati dan pikiran Nitami.


"Mengapa kau berkata seperti itu?" Ucap Nicolas menyela, ia tidak suka mendengar keputusan asaan Nitami sekarang.


Nitami tidak melihat ke arah Nicolas, tetapi ia tahu Nicolas tidak suka mendengar apa yang ia ucapkan.


"Apa yang bisa aku lakukan, hanya berusaha semampu yang aku bisa. Ingin berbuat kejam kepada mereka dan membalas semuanya, aku terhalang oleh peranku saat ini. Apa mungkin aku bisa menyakiti seseorang di saat aku seharusnya membantu mereka sebagai seorang penyembuh. Ini pilihan yang sangat sulit dan berat bagiku, Aku tersiksa akan dua pilihan dan posisi ini." Ungkap Nitami terdengar jika ia benar-benar tidak ingin menyakiti siapapun.


"Dokter juga seorang manusia biasa yang memiliki perasaan hati. Mengapa harus takut bersikap kejam, walaupun kau adalah seorang dokter yang memiliki tanggung jawab untuk membantu dan menyelamatkan manusia." Ucap Nicolas ingin meyakinkan Nitami jika sedikit bersikap kejam tidaklah berdosa bagi statusnya sebagai seorang dokter.


Nitami kini melihat ke arah Nicolas. Alesha pun sama, ia setuju akan ucapan Nicolas.

__ADS_1


"Jika kau di sakiti, tidak ada salahnya kau membalas dan memeberikan mereka sedikit pelajaran yang dapat menyadarkan mereka semua. Aku rasa itu sangat wajar, apapun status mereka di dunia ini. Selama mereka ada di jalur yang benar. Bersikap kejam karena telah tersakiti, itu sangatlah wajar."


"Jalur yang benar?" Ulang Nitami menatap serius Nicolas.


"Seorang dokter, boleh melakukan balas dendam. Waluapun tindakan itu di luar porsiku sebagai seorang dokter." Ucap Nitami kembali.


"Setidaknya balas dendam yang kau pakai, sangat halus dan rapi. Tidak sama sekali mencoreng identitas kedokteran mu, Nitami." Kini giliran Alesha memberi pendapatnya. Ia sangat mendukung ucapan Nicolas.


Nitami menatap ke arah Alesha. Menatap sang sahabat dengan datar dan cukup dalam.


"Aku tahu, dari dulu semua ini sulit bagimu. Namun kamu berhak untuk membalas mereka yang telah bersikap tidak adil dan jahat kepadamu. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk mereka sendiri melakukan apapun yang mereka yakini harus di lakukan." Ucap Alesha kembali, ia ingin memberikan sebuah dukungan yang menurutnya dapat di terima secara positif oleh Nitami.


Nitami diam dan meresapi apa yang sahabatnya itu katakan? Ia tahu perkataan Alesha ada benarnya, setidaknya ia melakukan hal yang tidak mencoreng nama baiknya sebagai seorang dokter. Satu kalipun ia tidak pernah melenyapkan nyawa seseorang seperti tindakan yang sering di lakukan oleh Alesha dan semua anak buahnya.


Nitami bertindak memberikan sebuah hukuman yang bersifat menyiksa bagi mereka yang di anggap jahat dan pantas untuk mendapat hukuman tersebut.


"Kamu tidak pernah membunuh seseorang, karena aku tahu kamu bukanlah seorang pembunuh. Kamu hanya memberikan mereka pelajaran dari semua siksaan yang pantas mereka dapatkan. Sisanya aku dan anak buahku yang akan melakukan itu semua untuk mu. Aku tidak akan membiarkan tanganmu kotor akan tindak pembunuhan, karena kamu tidak pantas untuk itu." Ungkap Alesha kembali ingin meyakinkan Nitami, jika dirinya rela melakukan segalanya untuk Nitami. Sekalipun harus membunuh seseorang.


"Aku tahu kamu mampu untuk itu, dan aku tidak pernah meragukannya." Balas Nitami, lalu terdiam sejenak memandang dalam mata sang sahabat.


"Namun kita tidak tahu masa depan akan seperti apa? Apakah bisa tanganku tetap akan bersih seperti sekarang ini?" Ungkap Nitami menatap kedua telapak tangannya.


Nicolas dan Alesha ikut melihat kemana arah pandangan Nitami.


Tindakan yang mampu membuat Nitami dan Alesha cukup terkejut dan terpana akan sikap Nicolas yang berani dan cepat.


"Aku akan menjamin itu untuk mu." Ungkap Nicolas terdengar tulus, dan tatapan matanya terlihat teduh serta hangat.


Beberapa detik Nitami terhipnotis akan sikap lembut Nicolas kepadanya, mampu membuatnya menelan salivanya dengan susah payah.


'Apa yang sedang ia lakukan? Tatapan mata ini lagi, sebenarnya sedang apa pria ini?' Tanya Nitami bergumam di dalam hatinya.


'Sikapnya terlihat serius dan tulus. Apakah bisa untuk aku mempercayainya?' Gumam Nitami kembali.


"Aku serius dan akan aku buktikan semua perkataan ku ini dengan sikap dan tindakan yang akan kau lihat sendiri. Aku tidak pernah bermain-main dan menarik semua yang aku katakan." Ucap Nicolas tahu jika Nitami masih meragukan dirinya.


Nitami berusaha mengatur detak jantungnya akan sikap lembut dan perkataan serius Nicolas. Beberapa kali ia harus menelan salivanya.


"Terima kasih." Hanya itu ucapan yang dapat terlontar dari mulut Nitami, sembari menarik pelan tangannya dari genggaman lembut dan hangat Nicolas.


Nitami cukup salah tingkah di buatnya, namun ia dapat dengan cepat mengontrol sikapnya agar terlihat cukup tenang.

__ADS_1


Sedangkan Alesha menerbitkan sebuah senyuman yang terlihat senang dan puas akan perkataan serta tindakan cepat Nicolas terhadap sahabatnya tersebut. Kini ia benar-benar tahu jika Nicolas serius terhadap perasaannya kepada Nitami. Alesha berharap Nicolas adalah pria yang tepat sebagai pendamping hidup bagi Nitami.


Sedangkan Nicolas terdiam, wajahnya menghangat karena tersipu saat janji yang ia berikan mendapatkan respon baik dari Nitami. Hatinya menghangat dan cukup membuatnya tersenyum tipis akan kebahagiaan itu, walaupun ia tidak bisa hanya harus puas akan hal kecil tersebut. Masih perlu perjuangan lain untuk mendapatkan sang pujaan hatinya itu.


Hati wanita yang terlanjur telah dingin dan membeku akan rasa trauma kisah cinta yang telah terjadi di dalam hidupnya. Butuh waktu, usaha, kehangatan dan ketulusan cinta untuk mencairkan dan meraih cinta dingin nan beku yang di miliki oleh Nitami.


Nicolas dan Nitami berusaha menetralkan diri mereka masing-masing. Alesha tahu harus berbuat apa untuk sekarang?


"Baiklah, seperti yang kamu ketahui sekarang. Aku dan tuan Nicolas akan selalu ada di pihakmu dan akan selalu mendukung apapun yang terjadi selajutnya." Ucap Alesha ingin mencairkan suasana di antara dua sejoli yang kini sedang menetralkan diri mereka.


"Apakah bisa kamu percayai itu untuk sekarang, Nitami." Tanya Alesha melihat ke arah Nitami yang juga melihat ke arahnya.


"Apakah bisa kamu percaya kepada kami berdua yang akan selalu membantumu?" Tanya Alesha yang ingin jawaban pasti dari Nitami.


Nitami terdiam sejenak dengan jawaban apa yang akan ia berikan? Baik Alesha dan Nicolas sama-sama terlihat tulus ingin membantunya, dan ia pun sadar. Semua tindakan dan rencana selanjutnya yang akan ia lakukan, tentu tidak dapat ia lakukan seorang diri. Perlu beberapa orang yang dapat ia percaya untuk membantu dan melancarkan semuanya.


"Tentu, aku percaya kepada kalian berdua." Balas Nitami pada akhirnya, karena tidak ada salahnya untuk percaya pada Alesha. Sahabat yang selalu setia berada di disisinya selama ini.


Sedangkan kepada Nicolas, tidak ada salahnya Nitami mencoba untuk percaya pada pria tersebut. Semua ketulusan dan keseriusannya harus di buktikan. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


"Baiklah, itu lebih dari cukup untuk kita tetap selalu bekerja sama. Aku yakin semua musuh dapat kita hancurkan bersama, tentu saja dengan jalan dan cara yang akan kita tempuh dan tentukan masing-masing selama nyaman dan aman bagi kita. Jalan dan caraku sendiri, jalan dan cara kalian masing-masing." Ungkap Alesha ingin mereka percaya semuanya akan berjalan lancar.


"Aku dan Nicolas akan melakukan dengan cara kami masing-masing. Dan kamu Nitami, akan melakukan semuanya dengan caramu sendiri. Apakah ini cukup?" Ucap Alesha.


Nitami menatap sang sahabat, lalu melihat sekilas ke arah Nicolas yang ada di sampingnya. Tentu dengan pandangan mata Nicolas yang tidak akan pernah lepas dari wajah Nitami.


"Tentu. Aku setuju." Jawaban singkat namun mampu membuat Nicolas dan Alesha lega serta puas akan persetujuan Nitami akan rencana yang akan mereka jalankan.


"Tapi satu yang aku pinta kepada kalian berdua." Ucap Nitami secara tiba-tiba dan nampak serius, ada sesuatu yang terlintas di pikirannya saat ini.


Alesha dan Nicolas serentak melihat ke arah Nitami, mereka dapat menebak Nitami memiliki permintaan yang cukup serius kali ini. Apakah mampu mereka lakukan? Apakah tidak akan memberikan efek masalah baru bagi mereka bertiga? Hanya ucapan Nitami yang akan menentukan itu semua.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


Maaf baru bisa update setelah sekian lama libur, Author memiliki urusan di dunia nyata yang sangat menyita waktu. Akan di usahakan UP rutin dan menyelesaikan semuanya. Terima kasih atas dukungan dari para pembaca setia, maaf atas keterlambatan dalam menulis novel ini🙏🙏🙏 Terima kasih.


__ADS_2