Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
101. Pengakuan Fransisca.


__ADS_3

***Mansion Keluarga Fardhan***


Nitami tersenyum tipis, hingga tidak terlihat. Hanya Fransisca yang melihat senyum itu, seakan mengejek dirinya.


'Tidak mungkin. Mana mungkin wanita itu yang sudah membantu Jimmy. Dia tidak akan bisa memiliki uang sebanyak itu, walaupun pekerjaannya sebagai seorang dokter. Ini tidak mungkin.' Gumam Fransisca di dalam hatinya.


Dia mencurigai senyum tipis Nitami, saat dirinya curiga akan orang yang sudah membantu Jimmy lepas darinya. Fransisca hanya memiliki satu musuh bebuyutan, yaitu Nitami Adreena Saila. Wanita yang menjadi madunya selama pernikahannya bersama Davin.


Saat kecurigaan Fransisca tertuju pada Nitami, dia juga menolak keras hal tersebut. Dalam pikirannya, Nitami tidak akan mampu untuk membantu Jimmy. Nitami tidak mempunyai banyak uang untuk membayar 10 milyar hutang yang di miliki Jimmy padanya. Fransisca terlalu meremehkan Nitami.


Tanpa Fransisca sadari, bukan Nitami yang telah mengeluarkan uang sebanyak itu, tetapi Alesha Larzo. Sahabat Nitami yang akan melakukan apapun untuknya, hanya uang 10 milyar itu hanya secuil dari begitu banyak harta yang Alesha miliki. Itu yang Fransisca tidak ketahui.


Iya, semua itu adalah rencana Alesha Larzo. Dia yang telah menyelidiki tentang jati diri Jimmy dan adiknya yang di sandera oleh Fransisca. Alesha menginginkan Jimmy berada di pihaknya, dan itu berhasil ia dapatkan. Dengan membayar 10 milyar hutang Jimmy dan menyelamatkan adik perempuannya. Kini Jimmy berada di pihak Alesha Larzo dan tentu saja juga ada di pihak Nitami.


'Jika bukan dia, lalu siapa?' Hati Fransisca masih penasaran akan hal tersebut.


Matanya tertuju pada tuan Markus, lalu dia berpikir kembali. Tentu itu tidak mungkin, mana mungkin tuan Markus akan mengeluarkan uang sebanyak itu, di saat perusahaannya saja memerlukan uang yang sangat banyak.


Fransisca lalu memandang ke arah Davin, namun segera ia tepis kecurigaan tersebut. Davin juga tidak akan mungkin mau membantu Jimmy, yang nyata nyata ia ketahui menjadi kaki tangan Fransisca.


Tatapan matanya terakhir mengarah pada nyonya Sandra. Fransisca tahu jika nyonya Sandra berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya. Dia bukan hanya terkenal sebagai nyonya besar keluarga Fardhan, nyonya Sandra adalah pemilik satu satunya perusahaan keluarganya. Dia juga tidak mungkin melakukan hal itu dan membantu Jimmy begitu saja.


Lalu siapa yang membantunya? Apakah ada seseorang yang tidak menyukainya juga? Fransisca perang dengan hati dan pikirannya. Semua menjadi kacau hari ini, dia benar benar tersudut dan masalah terus datang silih berganti.


"Mengapa kau diam saja wanita hina?" Tanya murka Davin melihat Fransisca hanya diam saja.


Fransisca tersadar dari pikirannya sendiri. Tatapan dinginnya melihat ke arah Davin, dia yakin tidak akan bisa mendapatkan Davin kembali. Lebih baik menghindar dan pergi dari tempat itu, dan menyusun rencana lainnya. Dia harus menemui Ghani Sachio untuk membantunya.


Perlahan Fransisca bangkit dari duduknya. Dia kini berdiri menantang dengan tatapan dingin memandang ke arah seluruh keluarga Fardhan. Mereka kini seakan menjadi musuhnya untuk saat ini. Tidak ada lagi Fransisca yang akan berpura-pura manja, patuh dan bersikap manis. Semuanya sudah berakhir.


"Apa yang kau inginkan? Sebuah pengakuan dariku? Tidak semudah itu." Ucap Fransisca dengan sebuah tantangan.


"Wanita br*ngs*k…kau wanita iblis." Ucap murka Davin memberontak dari pegangan kuat Max.


"Lepaskan aku, Max. Akan aku beri pelajaran wanita murahan ini, dia sudah berani mengkhianati dan mempermalukan keluarga Fardhan dengan tubuhnya yang kotor dan murahan. P*l*cur j*l*Ng." Ucap murka Davin dengan suara yang lantang.


"hahaha…!!" Tawa Fransisca meledak, dia sudah gila kali ini.


"Aku wanita murahan, p*l*cur, j*l*Ng kotor. Tetapi ingat Davin wanita ini yang kini mengandung anakmu sekarang." Ucap Fransisca mengingatkan Davin jika dirinya kini sedang mengandung.


Davin tidak mungkin akan menolak anak yang ia kandung sekarang.


"Lepaskan aku Max…!!" Perintahnya.


"Jika tuan bisa tenang, akan saya lepaskan." Balas Max cepat.


"Lepaskan, aku tahu harus berbuat apa?" Balasnya.

__ADS_1


Max mengerti akan perintah tuannya itu, diapun tidak ada pilihan lainnya lagi. Namun dia akan tetap siaga pada hal yang tidak di inginkan. Davin merapikan pakaiannya yang kusut, dan kini siap untuk menjawab semua ucapan Fransisca. Sedangkan Fransisca tetap siaga, sakit pada lehernya masih terasa.


"Apa kau yakin, anak yang kau kandung adalah anakku?" Tanya Davin menekan setiap kata-katanya.


"Tentu saja. Ini anakmu, lalu anak siapa lagi?" Balas Fransisca tidak ingin mengalah.


Davin tersenyum mengejek. Fransisca mengerutkan keningnya menatap Davin seolah pria itu tidak akan pernah percaya pada perkataannya.


"Usia kandungan mu hampir dua bulan, sedangkan kecelakaan yang aku alami hampir 4 bulan. Ingat Fransisca, setelah kecelakaan itu terjadi. Kita tidak pernah tidur bersama, satu kalipun juga. Jadi bagaimana bisa anak itu adalah anakku? Apa kau pikir aku sebodoh itu akan percaya dengan apa yang kau katakan?" Ucap Davin dengan penekanan beberapa kata-katanya.


Fransisca menelan salivanya mendengar penjelasan Davin, ternyata dia masih mengingat semuanya dengan jelas. Apa yang di katakan oleh Davin? adalah kebenaran tentang mereka. Jadi benar anak yang Fransisca kandung bukanlah anak Davin, tetapi anak Ghani Sachio.


'Jadi Davin sudah tahu dan curiga akan anak ini.' Gumam Fransisca di dalam hatinya.


"Apa…!" Ucap tuan Markus dengan nada yang terdengar ketus.


Beberapa orang yang ada di sana melihat tuan Markus akan keterkejutannya, terkejut akan penuturan yang Davin katakan. Anak yang di harapkan menjadi keturunan keluarga Fardhan, bukanlah anak milik Davin Attala Fardhan.


Tuan Markus melangkah dengan sangat cepat, dan mencengkeram lengan kanan Fransisca.


"Katakan anak siapa yang kau kandung?" Tanya tuan Markus sembari menekan genggaman tangannya, sehingga Fransisca meringis kesakitan.


Wajahnya kini terlihat takut akan tatapan tajam membunuh tuan Markus. Fransisca berusaha menelan salivanya, tubuhnya bergetar akan aura gelap mertuanya tersebut.


"Tentu saja anak Davin Pa…!!" Jawab Fransisca terbata-bata.


Tuan Markus menatap intens mata Fransisca, sangat terlihat jelas ada tersirat rasa takut dan kebohongan di dalam sorot mata Fransisca.


Semua orang terkejut akan hal itu, namun mereka hanya bisa terdiam saja. Ujung bibir Fransisca mengeluarkan darah segar, sakit dan kebas yang Fransisca rasakan. Dia pun perlahan menatap tuan Markus sembari memegangi pipinya yang terasa sakit.


"Kau berani membohongi kami." Ucap tuan Markus menghempaskan keras tubuh Fransisca.


Tubuhnya yang tidak seimbang oleng dan membentur sofa tunggal yang ada di belakangnya. Fransisca kesakitan karena benturan itu, namun ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah, karena sudah di pastikan tidak akan ada yang akan membantu dan membelanya saat ini.


Kepalan kuat kedua tangannya menahan rasa sakit karena benturan dan rasa sakit hatinya. Fransisca muak terus di sudutkan seperti ini.


Diapun perlahan bangkit sembari terus menahan sakit di bagian perutnya. Fransisca menatap tajam serta dingin ke arah seluruh anggota keluarga Fardhan.


Tanpa ia sadari, apa yang kini ia rasakan? Itulah yang dulu Nitami rasakan. Semua tekanan, hinaan, dan tuduhan serta siksaan terus Nitami dapatkan setiap ada kesempatan. Kini Fransisca pun merasakannya.


Tidak ada lagi yang perlu di tutupi, semua hanya percuma. Fransisca akan cepat menyelesaikan masalah ini dan pergi dari tempat itu.


"Iya. Semua bukti itu benar, dan anak yang aku kandung memang benar bukan anak Davin. Apa kalian puas…!!" Ucap lantang dan keras Fransisca pada akhirnya mengakui semuanya.


Semua anggota keluarga Fardhan marah, terlihat dari mimik wajah mereka yang melihat benci ke arah Fransisca.


'Plak.' Tamparan dari tuan Markus kembali melayang pada pipi Fransisca yang sudah sembab. Darah segar kembali mengalir pada ujung bibirnya.

__ADS_1


"Anda tidak berhak menampar saya tuan Markus." Ucap murka Fransisca tidak terima tamparan tuan Markus padanya.


"Kau sudah berani berkata keras padaku." Ucap tuan Markus terlihat merah padam.


"Wanita j*l*Ng." Ucapnya sembari menunjuk ke arah Fransisca.


Namun tiba-tiba tuan Markus memegangi dadanya, terlihat tubuh tuan Markus akan tumbang karena tidak dapat menahan rasa sakit yang teramat pada dadanya. Tuan Markus tumbang terkena serangan jantung.


"Papa…!!" Panggil nyonya Sandra, Davin dan Diana secara bersamaan.


Davin yang berada dekat dengan tuan Markus dapat menahan tubuh papanya, sehingga tidak sampai jatuh menyentuh lantai. Tuan Markus kesakitan sembari memegangi dadanya, lalu tidak sadarkan diri.


Walaupun Nitami sangat membenci keluarga Fardhan, dia tetap seorang dokter. Tidak akan bisa melihat seorang yang sedang sekarat dan kesakitan di hadapannya. Dengan segera Nitami mendekati tuan Markus, dan segera melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apa yang terjadi?


Nyonya Sandra dan Diana sudah menangis dan mengelilingi tuan Markus yang tidak sadarkan diri di atas pangkuan Davin.


"Bagaimana?" Tanya Davin melihat pada Nitami yang sigap dan cepat mengambil tindakan.


"Max Ambilkan peralatan ku di dalam mobil." Tanpa menjawab pertanyaan Davin, Nitami malah memberikan perintah pada Max.


Max mengerti dan segera berlari melakukan perintah Nitami.


"Rebahkan tuan Markus." Ucap Nitami melihat ke arah Davin.


Davin dengan perlahan meletakkan kepala tuan Markus di atas lantai. Nitami segera memompa bagian dada tuan Markus, karena dia tidak merasakan detak jantung tuan Markus. Nitami terus melakukan beberapa gerakan memompa, hingga Max datang membawa tas peralatan dokternya.


Nitami segera mengambil sebuah botol bening dan jarum suntik, dia menyuntikkan cairan obat tersebut pada lengan tuan Markus.


"Telpon ambulans, cepat." Perintah Nitami.


Max segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Nitami? Sedangkan Nitami terus memompa dan sesekali memeriksa detak jantung tuan Markus, suasana begitu tegang. Nitami terus berusaha memberikan pertolongan pertama, hingga detak jantung tuan Markus kembali lagi, walaupun terasa lemah.


"Dia kembali. Terima kasih Tuhan." Ucap Nitami bersyukur sembari terengah-engah, karena terus berusaha memompa dada tuan Markus dengan kekuatan yang penuh, sesekali Nitami menelan salivanya.


Tatapan Nitami kini melihat ke arah nyonya Sandra yang terlihat sangat cemas dan shock. Lalu beralih melihat sekilas ke arah Davin dan Diana yang terlihat tidak kalah cemasnya. Nitami kembali melihat ke arah nyonya Sandra, lalu mengangguk untuk memberikan sebuah ketenangan bagi wanita paruh baya tersebut.


"Tuan Markus, mulai stabil. Kita harus membawanya ke rumah sakit, karena dia mendapat serangan jantung hingga detak jantungnya terhenti sejenak." Ucap Nitami apa yang sebenarnya terjadi pada tuan Markus?


"Terima kasih." Balas nyonya Sandra terlihat tulus di sela sela isak tangisnya.


Nitami hanya mengangguk, lalu dia dengan segera memasangkan cairan infus yang kebetulan dia bawa di dalam tas peralatan dokternya. Sekiranya itu pertolongan pertama yang dapat Nitami berikan saat ini, sampai ambulans datang. Dia juga bukan dokter ahli spesialis jantung, jadi tidak ada hak atas pasien dengan penyakit jantung.


...****************...


...                                                                         ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2