
…Season 2…
***Mansion Keluarga Orlando***
Tatapan mata Lily terlihat mengiba dan memohon agar panggilan itu tidak terputus. Ada rasa takut akan kehilangan pria yang selama ini masih setia bertahta di hatinya. Pria yang sangat ia rindukan dan cintai.
"Jangan…tolong jangan tutup panggilan itu…!!" Ucap Lily terlihat takut. Perubahan pada wajahnya begitu cepat, dari yang tadinya penuh akan amarah kini berubah penuh akan ketakutan.
Nitami menyadari itu dan dapat mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Lily tidak ingin merasakan kehilangan lagi.
"Panggilan ini tidak akan cukup untuk mu membuktikan semua kebenaran." Balas Nitami. Lily tidak mengerti maksud perkataan Nitami, ia pun mengerutkan keningnya melihat ke arah wanita yang sedang fokus memegangi ponsel milik Alvira.
"Apa maksudmu…?" Tanya Lily tidak mengerti.
"Jika kau mau, Asisten Teo bisa datang ke sini sekarang juga." Saran Nitami untuk menjadikan situasi mereka lebih baik lagi.
"Apa itu bisa terjadi?" Tanya Lily tidak percaya akan ucapan Nitami.
"Tentu bisa. Kebetulan hari ini, aku memiliki jadwal untuk bertemu dengannya. Tetapi, waktu dan tempatnya sepertinya harus berubah." Ucapnya.
"Itu tidak masalah, jika kau mau…asisten Teo akan datang sekarang juga. Sepertinya kalian harus berbicara secara langsung."
Lily diam tidak bergeming, posisinya hampir tidak bergerak ataupun berubah sama sekali. Masih setia pada senjata api yang ada di tangannya dan mengarah kepada Nitami.
"Sayang…turunkan senjata mu…kita bicarakan ini baik baik…!" Bujuk Sarah mulai mendekati Lily secara perlahan.
Lily tidak bergeming. Tatapan matanya melihat ke arah sang mama yang terlihat sedih dan khawatir melihat kondisinya.
"Mama mohon sayang…kendalikan dirimu…semua akan baik baik saja…!" Sarah masih membujuk dengan melangkah perlahan.
"Semuanya akan jelas setelah kau bertemu langsung dengan asisten Teo…!" Ungkap Nitami ingin terus meyakinkan Lily.
"Jika kau tidak percaya. Ambil ponsel ini, kau bisa menghubungi asisten Teo kapan pun kau mau." Bujuk Nitami mendekati Lily tanpa rasa takut. Dia yakin jika Lily sekarang sudah dapat di ajak untuk berbicara secara tenang.
Nitami menyerahkan ponsel milik Alvira ke tangan Lily yang tidak memegang apapun. Tidak ada rasa takut sama sekali pada todongan Lily padanya, Nitami hanya ingin semuanya membaik begitu juga untuk hidup Lily.
"Semuanya akan baik baik saja." Ucap Nitami meyakinkan Lily yang melihatnya dengan tatapan seriusnya kali ini.
Lily tidak menjawab, pandangan matanya melihat ke arah ponsel yang di serahkan Nitami ke tangannya. Diapun menghela nafasnya secara perlahan, sebelum akhirnya menurunkan senjata apinya lalu melangkah mendekati Nitami.
Beberapa bodyguard yang ada di belakang Lily, masih setia pada kewaspadaan mereka dengan menodongkan senjata api mereka ke arah Lilyana Massimo.
"Untuk saat ini kau aman. Jika ini semua hanya kebohongan mu, aku pastikan saat itu kau tidak akan selamat, NASA Angel." Ucap Lily menekankan beberapa kalimatnya.
"Aku tahu." Balas Nitami tanpa rasa takut.
Beberapa detik kemudian Lily sendiri melangkah mendekati Alvira yang terlihat waspada. Lily kini berdiri tegak di hadapan Alvira.
"Jika kau memang ingin membuktikan sebuah kebenaran padaku. Setidaknya buktikan jika itu memang kebenarannya." Ucap Lily melihat serius ke arah Alvira yang ada tepat di hadapannya.
"Tentu saja, bukti apa yang anda inginkan." Balas Alvira dengan nada sopan, dia masih sadar untuk bersikap sopan pada orang yang lebih tua darinya.
__ADS_1
"Duduk bersama ku." Balasnya, kemudian berlalu duduk pada sofa panjang yang tadi di tempati oleh Alvira dan Levi.
Alvira mengerti maksud Lily. dia pun mengikuti apa yang Lily inginkan. Alvira duduk dengan patuh di samping Lily seperti yang wanita itu inginkan.
Semua orang melihat ke arah Lily yang terlihat cukup tenang pada duduknya. Walaupun mereka masih tetap waspada dan khawatir pada kondisi Lily yang cepat berubah-ubah.
"Duduk lah…kita nikmati dulu hidangan teh pagi ini…!" Ajak Lily dengan raut wajahnya yang terlihat benar-benar tenang tanpa dapat di tebak sama sekali.
Lily dengan anggun meraih secangkir teh hangat milik Alvira yang belum tersentuh. Meminum teh itu dengan menikmati setiap cita rasa di dalam teh hangat tersebut.
Semua orang kembali pada duduk mereka masing-masing. Suasana sepi dan tenang, walaupun masih sedikit tegang. Lily tidak melepaskan sedikitpun pandangan matanya dari arah Nitami yang tengah duduk berdampingan dengan saudara sepupunya Nicolas.
"Sepertinya kau telah menemukan wanita idamanmu, Nicolas…!" Ucap Lily dengan tiba-tiba, wanita itu cukup pintar melihat situasi yang ada di hadapannya.
Melihat bagaimana cara Nicolas yang terlihat tenang duduk berdampingan dengan seorang wanita. Tidak seperti Nicolas yang Lily kenal selama ini. Nicolas tidak akan suka berada dekat dengan wanita manapun, kecuali wanita itu spesial di mata Nicolas.
"Iya. Aku sudah menemukannya, jika kau sadar pada hubungan kami. setidaknya kendalikan dirimu mulai sekarang." Balas Nicolas dengan raut wajahnya yang serius. Jujur dia masih kesal akan tindakan Lily yang berani menodongkan senjata api ke arah Nitami.
Lily tersenyum mendengar perkataan Nicolas. Wanita itu tahu jika Nicolas begitu menghargai dan melindungi miliknya.
"Tentu saja aku bisa mengendalikan diri, tetapi itu tergantung situasi yang ada. Walaupun harus berhadapan dengan mu, aku tidak peduli." Balas Lily terdengar menentang Nicolas.
Nicolas sangat mengenal bagaimana keras dan tegasnya seorang Lilyana Massimo. Wanita cerdas dan tegas pada setiap tindakannya.
"Setidaknya jadilah seperti yang dulu. Melihat semuanya dengan mata dan hatimu. Bukan dengan mata hati yang berusaha kau tutupi." Balas Nicolas terdengar tidak puas akan jawaban Lily.
Kembali Lily tersenyum. Kemudian raut wajahnya berubah datar.
"Sudah cukup…Lily kendalikan dirimu…!!" Perintah Alex cukup geram mendengar perdebatan antara Lily dan Nicolas.
Lily melihat ke arah papanya, kini dia baru sadar akan situasi yang ada di dalam keluarganya. Dia baru menyadari, bagaimana bisa dua anggota Shadow World ada di tengah tengah keluarga mereka.
Anehnya lagi, sang papa yang menjadi kepala keluarga bangsawan Massimo terlihat tenang akan kehadiran Alvira dan Nitami. Lily melihat ke arah Alvira, Nitami dan Alex secara bergantian.
"Papa…ada hubungan apa papa dengan dua wanita ini?" Tanya Lily. Dia wanita yang cukup cerdas dalam menangkap sesuatu yang mencurigakan.
Alex terdiam dengan raut wajahnya yang terlihat serius. Pria paruh baya itu tahu jika tidak akan mudah untuk menyembunyikan apapun dari putrinya tersebut.
"Papa dan nona Nitami memiliki kesepakatan dan sedang bekerja sama." Balas Alex jujur.
Lily tersenyum tidak percaya akan kejujuran papanya.
"Kalian bekerja sama. Bagaimana bisa, aku yakin papa tahu siapa sebenarnya wanita ini?" Balas Lily sembari melirik tidak suka ke arah Nitami.
Tidak ada sama sekali keramahan Lily terhadap sosok Nitami.
"Papa tahu semuanya tentangnya. Jadi papa harap, kau bisa mengendalikan diri mulai sekarang." Balasnya dengan tenang.
"Apa karena masalah ini papa memanggilku datang ke sini?" Tanya Lily terlihat serius dan ingin tahu.
"Iya." Balas Alex singkat. Alex telah menjelaskan beberapa hal pada Lily kemarin, dan dia meminta Lily datang untuk membantu dirinya dan juga Nitami yang kemarin ia maksudkan.
__ADS_1
"Jadi wanita ini…!" Tunjuk Lily ke arah Nitami. Sontak mendapatkan tatapan tajam dan tidak suka dari Nicolas.
"Wanita ini adalah putri yang tersembunyi…!" Ungkap Lily sembari masih menujuk ke arah Nitami.
Lily tidak percaya akan situasinya saat ini. Kembali ia mengingat semua yang di katakan sang papa kemarin kepadanya.
Alex meminta Lily untuk membantunya dalam rencana mengungkapkan jati diri Nitami sebagai ahli waris dari keluarga Damaresh. Jati diri Nitami yang sebenarnya adalah seorang keturunan putri bangsawan tertinggi.
Lily melihat serius ke arah Nitami. Dia belum sepenuhnya percaya akan kebenaran itu, tetapi dia tahu jika papanya tidak akan berkata bohong atau main main tentang hal sepenting ini.
"Papa tahu, kamu adalah wanita yang cerdas dan tahu bagaimana seharusnya bersikap. Jadi, tolong lakukan seperti yang telah kita sepakati kemarin." Ucap Alex mengingatkan perjanjian di antara mereka.
Lily terdiam melihat ke arah sang papa, dan beralih kembali melihat ke arah Nitami.
"Itu tergantung bagaimana dia bersikap. Apakah aku harus dan pantas untuk membantunya." Balas Lily. Tatapan matanya yang tajam tidak lepas dari wajah Nitami.
Alex hanya bisa menghela nafasnya secara perlahan. Pria itu tahu jika putrinya sangat keras kepala pada pendirian yang ada di dalam hatinya. Cukup sulit untuknya saat ini meyakinkan Lily untuk mendukungnya, kecuali ada bukti yang membuat Lily percaya dan ada di pihaknya dengan suka rela.
"Lakukan seperti yang kau inginkan, nona Lily…" Balas Nitami dengan tenang. Dia tahu jika Lily tidak akan mudah berada di pihaknya sekarang.
Lily kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah cangkir yang ada di tangannya. Menyeruput teh hangatnya dan meletakkan cangkir itu kembali.
Suasana cukup terkendali untuk beberapa saat. Tidak ada berbincangan, hanya ada beberapa gerakkan kecil pada beberapa orang yang hadir di sana, mereka masih terlihat gelisah akan situasi mereka saat ini.
Beberapa menit telah berlalu dengan cukup hening dan sedikit tidak nyaman bagi mereka. Tidak lama terdengar suara langkah kaki yang menandakan seseorang tengah melangkah masuk ke dalam ruang keluarga mansion Orlando.
Lily berdiri seketika melihat seseorang yang sangat tidak asing baginya, datang mendekati mereka.
Langkah kaki yang terlihat teratur dan anggun kini melangkah mendekati mereka. Kedatangan Alesha membuat semua orang cukup terkejut, tidak lupa di belakang wanita cantik dan anggun itu ada asisten Teo. Seorang pria yang sedang Lily tunggu kehadirannya.
Alesha datang dengan senyuman di wajahnya. Melihat tajam ke arah Lily, wanita yang sudah meresahkan hidupnya beberapa tahun belakangan ini.
"Akhirnya kita bertemu lagi, nona Lily…!" Sapa Alesha, kali ini senyum di wajahnya hilang.
Lily cukup terkesan melihat kehadiran Alesha yang datang tanpa rasa takut. Dia masih sadar siapa Alesha yang sebenarnya? Seorang ketua mafia wanita yang cukup di takuti dan di segani oleh beberapa kelompok mafia lainnya.
"Senang dapat melihat mu kembali, Alesha…!" Balas Lily sembari melangkah mendekati Alesha.
Sedangkan asisten Teo masih diam di belakang Alesha. Menatap teduh penuh kerinduan wanita yang masih setia bertahta di dalam hatinya.
Semua orang yang hadir di sana sontak ikut berdiri, suasana kembali tegang akan situasi itu. Apa yang akan terjadi di antara dua wanita yang sama-sama memiliki aura kuat dengan kharismanya masing-masing?
Inilah pertemuan pertama Alesha, Teo, dan Lily setelah sekian lamanya mereka berpisah.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.