
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Davin menatap tajam Aldi yang masih menggenggam erat tangan Nitami, istri pertamanya tersebut. Davin geram dan tidak suka melihat keintiman itu.
'Beraninya dia menggenggam tangan istriku.' Gumam Davin di dalam hatinya, dia sungguh garam saat ini.
Davin tidak rela, tangan istri pertamanya di sentuh oleh pria lain. Walaupun itu sahabatnya sekalipun, ingin rasanya Davin menarik tangan itu dan menggenggamnya erat. Davin ingin menarik tubuh Nitami datang dan berada di sisinya, agar tidak ada lagi yang berani mendekatinya.
Pengancaman yang di katakan oleh Davin yang ingin memecat dirinya, hanya di tanggapi secara santai oleh Aldi. Sekalipun dia harus di pecat dan berhenti bekerja di rumah sakit Golden Healthy, dia tidak di rugikan sama sekali. Setidaknya dia masih memiliki sebuah klinik kesehatan yang lumayan cukup terkenal.
Klinik yang ia bangun dengan hasil jirih payahnya sendiri. Klinik yang tidak terlalu besar, namun memiliki fasilitas yang lumayan lengkap dan sudah di akui oleh masyarakat serta pemerintah setempat. Jadi Aldi tidak takut sama sekali akan ancaman Davin kepadanya.
"Ya, sekalipun aku harus di pecat dari rumah sakit ini. Aku bersedia. Setidaknya aku membela orang yang benar, dan memperjuangkan hak orang yang seharusnya tidak kau renggut." Balas Aldi dengan raut wajah yang tenang, namun seketika berubah menjadi datar kembali.
Davin tidak suka mendengar jawaban dari Aldi, dia tambah meradang akan jawaban itu. Aldi benar-benar serius untuk melawan dan menentang dirinya. Davin harus menggunakan cara dan trik yang lainnya.
Membuat tunduk Nitami, tidak mudah untuk kali ini. Nitami mendapatkan sebuah dukungan kuat dari Aldi sahabatnya sendiri.
'Kau benar-benar tidak mengerti diriku Aldi. Kau rela menentang dan melawanku hanya karena membela Nitami. Sebenarnya ada hubungan apa kau dan Nitami?' Gumam Davin di dalam hatinya.
Davin mulai curiga kepada mereka berdua, terlihat Nitami juga tidak menolak akan perlakukan lembut Aldi padanya. Itu semakin membuat Davin bertambah geram dan juga curiga kepada mereka berdua.
Max yang juga cukup mengenal siapa Aldi sebenarnya? Tahu sedang apa Aldi sekarang? Hanya sungguh di sayangkan sekali, tuannya tidak mengerti dan tidak mengetahui maksud dari sahabatnya itu. Seorang sahabat yang hanya ingin membantu Davin, agar tuannya sadar akan tindakan salahnya tersebut.
'Tuan Aldi, semoga anda berhasil. Tuan Davin anda seharusnya sadar, jika jalan dan tindakan anda ini sudah salah.' Gumam Max di dalam hatinya melihat sang tuan dan Aldi secara bergantian.
'Maafkan aku Davin, maaf jika harus menentang dan melawanku seperti ini. Aku hanya ingin kau sadar, jika kau sudah salah dalam bertindak. Tidak seharusnya kau bersikap dan melakukan semua ini, hanya untuk membuat Nitami takluk padamu. Kau harus cepat sadar sebelum semuanya terlambat.' Gumam Aldi di dalam hatinya, menatap datar sang sahabat yang terlihat jelas geram dan kecewa padanya.
'Apa yang sedang terjadi di sini? Aku tidak suka situasi seperti ini. Lihatlah raut wajah Davin, apa dia benar-benar marah karena aku dan Aldi bergandengan tangan? Apa benar dia suka dan sudah jatuh cinta padaku? Tapi kenapa? kenapa baru sekarang, di saat perpisahan kami sudah mulai dekat. Apa ini hanyalah perasaanku saja, atau inilah yang sebenarnya?' Gumam Nitami di dalam hatinya, memandang intens ke arah Davin yang terlihat jelas memasang wajah geram dan tidak sukanya.
Mereka mempunyai dugaan dan pikiran mereka masing-masing di dalam hatinya. Begitu juga pada semua orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut. Mereka juga dapat merasakan situasi yang mencekam dari tiga orang yang ada di hadapan mereka.
Banyak dugaan dan kecurigaan mereka melihat ke arah tiga orang yang sedang berselisih. Namun untuk membuka suara sekedar bertanya ataupun mengkritik, tidak berani mereka lakukan. Mereka hanya bisa melihat dan menyaksikan pertunjukan tersebut dengan tenang dan bersikap diam saja.
"Apa sebenarnya maumu Aldi dengan berbuat seperti ini?" Tanya Davin ingin memperjelas maksud Aldi, namun tatapan matanya melihat ke arah Nitami dengan tatapan tajam menusuk. Terlihat jelas Davin menahan amarahnya, rahangnya mengeras dan satu tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
__ADS_1
"Aku hanya ingin anda tahu dan sadar, jika tindakan anda ini salah, tuan Davin Attala Fardhan." Balas Aldi dengan menekan nama panjang Davin yang dia sebutkan.
Davin menatap serius dan tajam ke arah Aldi.
"Tidak seharusnya anda berbuat seperti ini, tuan. Aku tahu apa tujuan anda memutuskan semua ini. Aku hanya tidak ingin anda menyesal di kemudian hari, tuan Davin." Ucap Aldi kembali, namun raut wajahnya kini sedikit melunak. Dia berharap Davin dapat mengerti maksud dari kata-katanya.
"Tidak ada yang akan aku sesali. Kecuali aku mendapatkan apa yang aku inginkan? Sudah aku katakan tadi pagi di hadapan kalian berdua, semua ini bisa berubah jika seseorang yang aku harapkan dapat bekerjasama denganku." Jawabnya, namun tatapan Davin mengarah pada Nitami yang masih setia pada diamnya.
Nitami kini mengingat apa yang tadi pagi Davin katakan. Dia sedikit mengerti maksud, tujuan dan keinginan Davin berbuat seperti ini.
"keputusan masih bisa di rubah, jika kita memiliki kesepakatan." ucap Davin pada akhirnya. Itulah ingatan Nitami akan obrolan mereka tadi pagi.
Davin terlihat tidak puas akan tindakan diam dan menyerah Nitami pada keputusannya.
Saat itu Nitami terdiam tanpa mau membalik tubuhnya kembali. "lakukan semua yang ingin anda lakukan tuan." Balasan Nitami tanpa membalik tubuhnya dan melihat ke arah Davin.
Itulah sepenggal ingatan obrolan mereka tadi pagi di lantai dua. Nitami juga mengingat bagaimana raut wajah Davin yang berharap padanya, sebelum dia membalikkan tubuhnya untuk pergi meninggalkan tempat itu?
Setelah ingatan itu terniang di kepalanya, Nitami kini menatap intens dan datar Davin. Davin benar-benar berharap Nitami mengikuti semua keinginannya tersebut. Davin benar-benar berharap jika Nitami mendukung semua yang Davin inginkan. Apakah itu keegoisan Davin? ataukah itulah cara Davin mengungkapkan perasaan hatinya terhadap Nitami?
Aldi menatap cepat ke arah wajah Nitami yang ada di sampingnya. Nitami tahu jika dirinya sedang di tatap oleh Aldi, sehingga diapun juga ikut menoleh ke arah samping. Tatapan mata Nitami yang teduh kepada Aldi, seakan mengatakan jika semua ini akan baik-baik saja, dan dia sudah mulai mengerti akan maksud Davin saat ini.
Aldi tahu dan mengerti akan tatapan teduh Nitami padanya, setidaknya mereka memang benar-benar teman dekat selama beberapa tahun ini. Jadi mereka dapat saling mengerti.
Nitami sendiri yang akan mencoba untuk menguji Davin dan perasaannya tersebut. Nitami harus melakukan ini, agar rasa penasaran di hatinya terjawab semua.
"Maaf tuan Davin." Ucap Nitami kini menatap intens wajah Davin. Namun raut wajahnya yang selalu datar dan dingin jika melihat ke arah Davin, dia ubah sedikit melunak dengan tatapan matanya yang teduh dan hangat.
Dia ingin tahu apakah Davin, mengerti dan tahu akan perubahan raut wajahnya tersebut? Nitami ingin tahu, apakah Davin benar benar bisa mengerti dirinya?
Davin menatap lekat wajah Nitami yang kini melunak dengan tatapan mata teduh dan hangatnya melihat ke arahnya. Davin tiba-tiba merasakan sesuatu menghangat di dalam hatinya akan tatapan Nitami yang teduh dan hangat kepadanya. Ini untuk pertama kalinya Davin melihat tatapan itu.
Davin seketika menelan salivanya, dia tiba-tiba gugup dan seketika rahangnya yang tadi mengeras melunak seperti sedia kala. Kepalan kuat tangannya terlepas. Dia sungguh menikmati tatapan teduh dan hangat itu kepadanya, untuknya dari wanita yang kini berhasil masuk ke relung hatinya.
Davin berusaha keras mengontrol rasa gugup pada dirinya. Aldi dan Max yang lebih peka melihat perubahan Davin saat ini. Aldi dan Max menahan senyum dan tawanya melihat Davin sedang berusaha mengontrol dirinya yang terlihat gugup dan salah tingkah akan tatapan Nitami.
__ADS_1
"Apa perkataan anda tadi pagi serius? Apa kita masih bisa membuat kesepakatan yang anda bicarakan tadi pagi?" Tanya Nitami dengan tatapan yang intens melihat ke arah Davin.
"mmm…" Ucap Davin berdehem untuk mengontrol dirinya agar terlihat tidak gugup dan salah tingkah di hadapan Nitami.
"Tentu saja. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kesepakatan itu juga kesempatan kedua bukan." Jawab Davin dengan wajah yang sudah tidak datar dan dingin seperti biasanya.
Semua orang yang hadir di dalam ruangan tersebut, heran melihat perubahan Davin yang begitu cepat. Secepat orang membalikkan telapak tangannya.
Nitami menghela nafasnya sebelum dia menjawab perkataan Davin.
"Baiklah, Apakah bisa kita bicarakan kesepakatan itu? Aku masih berharap, kita bisa mendapatkan kesepakatan yang sama sama baik untuk semua orang. Setidaknya apa kita bisa bicarakan ini dengan sebaik mungkin?" tanya Nitami dengan wajah yang dia buat penuh harap ke arah Davin.
Davin menelan salivanya melihat wajah Nitami yang penuh harap, terlihat menggemaskan di matanya. Ingin rasanya dia mencakup wajah cantik wanita yang ada di hadapannya tersebut. Lalu mencium gemas wajah itu tanpa terlewat seincipun.
"Ten…tu…jika itu yang kau inginkan." Jawab Davin dengan sikapnya yang sedikit gugup, lalu dengan cepat terlihat tenang kembali, namun tatapan matanya tidak lepas dari wajah cantik Nitami.
'Davin sikapmu memalukan.' Gumam Aldi malu melihat sikap Davin yang terlihat memalukan di matanya. Aldi menunduk dan menekan pangkal hidungnya, dia sungguh malu akan sikap Davin yang berubah memalukan.
Apakah itu sikap dari seseorang yang sedang jatuh cinta, atau sedang menyukai seseorang? Max pun sama seperti Aldi.
'Tuan, anda bukannya membuat nyonya Nitami tunduk kepada anda. Tetapi sebaliknya, andalan yang benar-benar sudah tunduk pada nyonya Nitami.' Gumam Max di dalam hatinya melihat tingkah laku tuannya yang melunak dan memalukan di matanya.
Nitami melihat perubahan Davin yang begitu drastis. Nitami kini tahu dan percaya, jika Davin memang benar memiliki perasaan terhadapnya. Apakah harus Nitami manfaatkan sikap Davin yang sudah melunak kepadanya itu? Nitami yang sekarang malah berada pada posisi yang sulit untuk menempatkan dirinya sendiri.
Nitami antara percaya dan tidak percaya akan perubahan sikap Davin yang berubah dengan cepat saat ini. Tetapi itulah kenyataannya, Davin melunak padanya. Semua amarahnya tadi menghilang begitu saja. Inilah kesempatan Nitami untuk membujuk Davin agar membatalkan semua keputusannya hari ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1